Pemimpin, Perlukah?.

Buat sebagian pecinta film horror, pasti pernah menonton beberapa film yang bertemakan kesurupan (exorcism). Pola yang umum adalah roh jahat memasuki seseorang, lalu mulai membuat sengsara hidip orang itu (medium) dan keluarganya. Si medium diterbangkan, dibuat sakit dan berteriak-teriak kepada pendeta yang mengacung-acungkan salib di depan wajahnya. Si roh kini memiliki kontrol sempurna atas si medium. Kita tahu kisah legendaris Emily Rose yang tidak ada angin tidak ada hujan, disurupi oleh roh jahat yang menyiksanya dari dalam, sampai akhirnya membunuh Emily.

Manusia secara saintifik didesain untuk memiliki kontrol penuh atas dirinya sendiri. Tuhan membekali manusia dengan kualitas otak yang jauh lebih brilian dari mahluk hidup manapun. Fisik manusia juga didesain mudah untuk beradaptasi di kebanyakan habitat yang disediakan alam. Bisa makan daging maupun tumbuhan. Bisa berenang, berjalan, memanjat, dan untuk beberapa saat, menyelam. Jikapun fisiknya tidak mampu, kapabilitas otak manusia memungkinkannya untuk membuat teknologi yang membantunya bertahan di lingkungan-lingkungan yang tak bisa diatas secara fisik belaka. Otak manusia juga memungkinkannya untuk mengatur emosi dan insting-insting kebinatangan, yang tidak mungkin dilakukan mahluk lain.

Singkatnya manusia adalah mahluk yang paling sempurna yang pernah diciptakan. Sampai hukum rimba berkembang dan berkembang jutaan tahun dan melahirkan politik, seni manusia untuk mengendalikan manusia lain demi keinginannya, persis seperti roh jahat kepada Emily Rose. Insting bertahan hidup manusia di tengah sumber daya yang terbatas, membuat otaknya memikirkan sebuah aturan main yang diharapkan dapat mempermudah bertahan hidup, dengan beberapa manusia yang dianggap lebih baik dari yang lain, sebagai regulator. Orang-orang ini bertugas memajukan orang-orang lain dalam kelompoknya, dan memastikan semua mereka bisa bertahan hidup dan atau hidup dengan lebih mudah dengan “bayaran” berupa previlege sebagai manusia dengan kedudukan yang lebih tinggi, dan terutama, hidupnya ditanggung oleh kelompok. Kepala kawanan, kepala keluarga, kepala suku, tokoh masyarakat, raja, penasihat, perdana menteri, dewan legislatif, hingga konsep presiden adalah perkembangan fungsi ini. Namun sifat tamak memang seringkali hadir dalam interaksi manusia dengan kelompoknya. Sifat yang kebinatangan ini seringkali hadir dalam bentuk perebutan posisi pemimpin kelompok. Previlege yang didapatkan ternyata juga menarik bagi anggota kelompok yang lain. Jadilah perebutan posisi pemimpin ini menjadi perang abadi antar beberapa manusia.

Pemimpin kelompok seharusnya juga memiliki misi membina dan memberdayakan seluruh anggota kelompoknya untuk berperan aktif dalam proses bertahan hidup. Namun ketakutan akan diambilnya previlege sebagai pemimpin oleh orang lain justru tak jarang membuat seorang pemimpin harus putar otak lebih banyak daripada tujuan kelompok sendiri. Dalam kawanan binatang tentunya jauh lebih simpel. Duel sampai salah satu mati, dan beres. Hewan yang hidup menjadi pemimpin. Namun dengan melibatkan otak, hati, dan tambahan nilai dan norma yang berkembang, lama-lama terumuskanlah seni mengekang calon pengganti bagi si pemimpin. Mungkin bisa diingat saat Thomas Hobbes menjabarkan bahwa negara (versi si pemimpin) harus menjadi Leviathan, seekor monster laut menakutkan, bagi rakyatnya. Dibuatlah kontrak-kontrak sosial, dimana negara (bentuk kelompok manusia yang menjadi tren belakangan), mengatur pola interaksi dan nilai-nilai yang berlaku untuk setiap rakyatnya. Atau lebih gamblang lagi diungkapkan oleh Nicollo Machiavelli, bahwa kejayaan dan kebertahanan seorang pemimpin, bisa menjustifikasi pemakaian imoralitas dalam prosesnya. Atau bentuk lain yang tidak kalah menakutkan : dogma agama.
Pemimpin, atau para pemegang previlege lain dalam masyarakat, akhirnya cenderung untuk meredam keberkembangan masyarakatnya secara individual. Karena dianggapnya, individu-individu yang berkualitas dan berpikir serta bergerak dengan kualitas yang baik pula, hanya akan menimbulkan keresahan bagi mereka yang lain, dalam tetap mempercayakan previlege kepada para pemimpin. Lihatlah bagaimana di banyak sekolah di banyak belahan bumi, dimana anak-anak diajar dengan metode dikte dan hapalan, dengan standar moral yang sudah dikonstruksi sebelumnya, agar ketika lulus nanti, dapat menjadi “anggota masyarakat yang baik”. Pada perkembangannya, pendidikan modern banyak ketahuan belangnya sebagai pabrik pengikut bagi para pemimpin. Kondisi ini diperparah dengan hadirnya golongan lain yang juga memiliki previlege secara sosial, yaitu para pemegang modal di masa Kapitalisme berlaku. Kita mungkin ingat bagaimana dominannya bad ending bagi kisah individu-individu yang “tercerahkan”.

Di Indonesia, sebuah negara dengan gap literasi yang tinggi dan mistisme yang masih sangat kental terasa, bahasan ini amat sangat relevan. Indonesia memiliki masa lalu dengan sistem feodal-agama yang sangat kental pada kerajaan-kerajaan pra-kolonial. Lalu secara bertahap selama tiga abad, dicengkeram oleh penjajah yang memperlakukan masyarakat sebagai “pahlawan devisa”. Diberlakukannya politik etis memang salah satu episode terang, dimana tujuan menjadikan pendidikan sebagai pabrik pangreh praja gagal total dan melahirkan generasi Sukarno, Hatta, dan Tan Malaka. Ketika kemerdekaan dicapai, ternyata Sukarno terlalu yakin bahwa previlege yang ia dapat selama menjabat sebagai presiden adalah bayaran yang setimpal untuk beberapa bulan kurungan di Banceuy dan Sukamiskin, serta beberapa tahun pengasingan di Bengkulu dan Ende. Rakyat Indonesia pun mendapat indoktrinasi “Paduka Jang Mulia”, “Penyambung Lidah Rakyat”, hingga “Putra Sang Fajar” merupakan Heru Tjokro, messiah tanah Jawa. Akhirnya masalah keberlangsungan hidup pula yang menggulingkan semua tirani Sukarno. Krisis ekonomi membawa momentum bagus bagi Suharto dan sepupu-sepupu Paman Sam untuk mengambil previlege Sukarno. Sukses besar. Selama 32 tahun akhirnya rakyat Indonesia dididik untuk menjadi pemuja “Bapak Pembangunan”, sekaligus menjadi buruh Astra dan perusahaan-perusahaan Sembilan Naga lainnya. Siapa berani berpikir bebas, stempel lambang palu-arit. Beres. Suharto dan kelompoknya nampak hanya bisa dikalahkan oleh maut. Namun Tuhan adil, diberikannya momentum bagi manusia-manusia Indonesia yang tercerahkan : Emha Ainun Nadjib, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, untuk mengantarkan Megawati putri Sukarno dan Amien Rais ke puncak kekuasaan atas Indonesia. Kisah lama yang tak akan berhenti berulang. Segagah apapun Susilo B.Y. mengatakan tidak untuk korupsi berulang kali selama 10 tahun.

Ada di mana manusia-manusia Indonesia selama itu?. Tentunya masih ada di posisi sebagai pengikut, pemuja, sekaligus buruh bagi para pemimpin. Ratusan juta kepala menjadi komoditas dan statistik yang diperebutkan untuk banyak kepentingan pemimpin. Tentunya setiap lima tahun kepala voters dibutuhkan sebagai anak tangga menuju puncak kepemimpinan. Juga ada target-target yang disimplifikasi seperti pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, dan Produk Domestik Bruto yang tentunya butuh statistik untuk bisa dibilang valid secara positivistik. Tak lupa juga sebagai tenaga kerja, sekaligus konsumen dari para pemegang modal.

Melihat semua kenyataan ini, tak urung saya jadi meragukan semua konstruksi arus utama tentang bagaimana sebuah kelompok manusia dikelola. Saya mengetahui Marxisme dan segala derivatifnya, Kapitalisme plus Liberalisme, Monarki, Negara Agama, hingga rezim-rezim transnasional. Tapi di semuanya saya masih menemukan apa yang saya caci sepanjang tulisan ini. Semua secara praktikal masih dalam tema besar yang mempertentangkan antara pemimpin dengan perkembangan kualitas orang yang dipimpinnya. Selama ada pemimpin, disitulah ada label subversif bagi anggota masyarakatnya yang berusaha memenuhi segala macam potensinya sebagai manusia secara individual.

Pernah membayangkan bagaimana hidup tanpa pemimpin?.

Pics : Distro of the Libertarian Left

Posted in Budaya, Ekonomi, Pemikiran, Politik, Sejarah | Tagged , , , , | Leave a comment

Apa Yang Benar

Mengkilap
Dalam jangkauan
Kosong
Dalam jamuan
Lubang
Dalam dalam

Benar,
Lebih baik tak ada.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tak Butuh Tanda Jasa

Alexander Jacob Patty. Jurnalis pendiri Sarekat Ambon (1909). Salah satu tokoh nasionalis Indonesia pertama dari Maluku, saat Mollucans saat itu sangat identik dengan sikap pro-Belanda. Dibuang ke Boven Digoel, menyeberang ke Australia, menjaga kemerdekaan saat Masa Revolusi di Medan, dan kemudian menutup usia di Bandung. 

Nama dan kisah ini kembali berkelindan di kepala saat saya membaca artikel berita (di kanal berita online tentunya), bahwa makam Patty akan dipindahkan dari Permakaman Pandu di Bandung, ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kapahaha Kecamatan Sirimau Kota Ambon, Maluku, pada tanggal 22 Maret 2017. Patty nantinya akan diusulkan menjadi pahlawan nasional oleh Pemerintah Provinsi Maluku. Kini Patty akan menghuni taman makam pahlawan, dengan nisan yang akan lebih bagus, pemeliharaan yang rutin, dan lagi, Patty akan diusulkan menjadi pahlawan nasional. Hal yang sama mungkin juga akan segera terjadi kepada Bapak Bangsa Indonesia, Tan Malaka, yang “makamnya” akan segera dipindah dari pedalaman Selopanggung ke Lima Puluh Kota.  

64 tahun sudah Patty menghuni Pandu. Makamnya di Pandu sangat sulit diidentifikasi karena tidak diberi nama. Konon itu adalah permintaan Patty sendiri, karena ia ingin berbaring seperti orang Indonesia kebanyakan, tanpa perlu nisan megah, tanpa perlu pula dituliskan “pahlawan nasional” di nisannya. Permintaan yang mirip dengan salah satu tokoh terbesar Indonesia, Mohammad Hatta. Sebuah ironi atas kejadian yang dialami Patty sekarang.

Kasus Patty merupakan kasus yang sangat umum di Indonesia. Berpuluh-puluh gelar kepahlawanan disematkan dan diusulkan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa untuk Indonesia, dari orang-orang yang bahkan belum punya bayangan apa itu republik dan nasionalisme seperti Sultan Agung dari Mataram, Sultan Hasanuddin dari Makassar, sampai orang seperti Soeharto, yang sangat bisa diperdebatkan jasa dan dosanya bagi republik. Banyak sekali usaha, proyek, simposium, seminar, sosialisasi, spanduk, baligo, debat, buku, brosur, dan publikasi yang dilakukan untuk mem-pahlawan-kan tokoh-tokoh. Hasilnya bisa berupa gelar pahlawan nasional, tokoh perintis, pahlawan revolusi, pahlawan reformasi, bintang jasa, sampai dijadikan nama gedung,tempat atau nama jalan.

Ketika nama tersebut sudah menjadi nama gedung, jalan, dan masuk daftar penerima gelar, lalu berhenti seakan semua itu adalah tujuan perjuangan si tokoh. Bagi saya, pentingnya mengetahui seorang tokoh adalah untuk memahami peran yang ia lakoni selama hidup, yang tentunya bukan sembarang peran. Saya menulis ini di Gedung Direktorat Jenderal Pajak, yang berada di Jalan M.Ridwan Rais. Sebuah jalan yang besar yang menghubungkan Kawasan Tugu Tani dengan Stasiun Gambir dan Masjid Istiqlal. Tapi tanpa perlu penelitian mendetail dan statistik, saya bisa simpulkan tak banyak orang yang melalui, bahkan beraktivitas di jalan ini, mengetahui siapa Ridwan Rais. 

Nyaris di setiap kota ada taman makam pahlawan yang bersih, dan terurus. Nyari di setiap kota pula terdapat Jalan Setiabudi, Gatot Subroto, T.B Simatupang, Oto Iskandar Dinata (Otista), Tjipto Mangunkusumo, Pierre Tendean, Dewi Sartika, M.T Haryono, Ahmad Yani. Dan nyaris di setiap sekolah dasar negeri, terdapat poster Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Teuku Umar, Diponegoro, Kartini, dan Ketut Jelantik. Tapi apakah dengan semua itu orang-orang Indonesia bisa paham siapa mereka itu, apa jasanya, atau lebih jauh, ada atau tidak jasanya bagi republik selain mati dan terkenal. Jargon “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya” terasa sangat kosong. Dengan cara-cara diatas mungkin lebih tepat disebut “menjilat” para pahlawan agar kita diberikan gelar “Bangsa Yang Besar”. Dan mungkin tidak banyak juga yang tahu bahwa jargon itu tercetak pertama kali di kaki Patung (Tugu) Tani. 

Bangsa yang besar tentunya tahu persis sejarah bangsanya, siapa-siapa saja pahlawannya, tanpa perlu dikompori oleh politisi, tanpa perlu patung, tugu, makam mewah, nama jalan. Masyarakat bangsa yang besar juga tentunya tahu bahwa perjuangan tak cuma memakai baju loreng dan menggondol senjata. Masyarakat bangsa yang besar tentunya juga bisa mengkritisi kenapa ada makam seorang mantan Kapolda di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan berapa banyak orang harus membayar agar bisa dimakamkan di taman makam pahlawan. Bangsa yang besar adalah yang mampu mengambil yang baik dan buuk dari masa lalu untuk kepentingan masa kini, dan terutama, masa depan. Bangsa yang besar tahu bahwa pahlawan tak butuh tanda jasa.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Jaman Baru?

Dunia sedang riuh rendah menyambut datangnya jaman baru. Post-Truth mereka menyebutnya. Pasca Kebenaran. Diasosiasikan dengan makin ditinggalkannya cita-cita pencerahan (Barat) ; jarak manusia dengan pola pikir, dan utamanya, upaya pencarian kebenaran secara positivistik. Pola pikir positivistik, atau dikenal dalam manifes Modernisme, seperti kita tahu, hadir di Barat sebagai pemberontakan dari kebohongan-kebohongan agama yang bekerjasama dengan monarki, untuk melakukan korupsi atas banyak hak hidup manusia, terutama kebebasan berpikir, bertindak, dan berpendapat. Dalam kurun waktu yang berbeda, pola serupa juga terjadi di peradaban Hindustan, Afrika Timur, dan Timur-Tengah.

Namun naas, nampaknya salah satu “anak” Jaman Pencerahan ditakdirkan memakan ibunya sendiri. Kapitalisme namanya. Kapitalisme hadir sebagai alternatif atas hegemoni ekonomi kaum agamis, aristokrat, dan monarki atas rakyat golongan lain. Kapitalisme memungkinkan siapapun yang memiliki modal, apapun bentuknya, untuk berusaha menjadi sekaya mungkin. Otoritas, hanya menjadi penjaga menara, yang hanya dibutuhkan dalam hal menengahi sengketa, dan memungut biaya keamanan. Tanpa pernah benar-benar terlibat di dalam pasar yang bebas tersebut. Otoritas kadang memaksakan peran lebih sebagai pengadil, namun ternyata banyak harus menyerah, karena kekuatan ekonominya yang jarang sekuat para petarung utama.

Kapitalisme lambat laun menjadi sumber kegelapan yang baru. Individu kembali hanya menjadi statistik belaka bagi para penguasa baru : pemodal. Paling banter, sebagian individu menjadi pekerja dalam gurita para pemodal. Otoritas, yang sudah kalah di awal, sulit untuk mengambil peran sebagai penengah hubungan industrial yang baik. Akhirnya, para pekerja menjadi lebah pemburu yang melayani si ratu. Menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk bekerja. Pagi berangkat bekerja, menjelang malam pulang, melakukan perjalanan panjang menuju rumah, tidur, untuk kemudian berangkat lagi.

Bukan membaca, berdiskusi, bercinta, berfilsafat, berdialog, berkesenian, bersastra, berinovasi, dan melakukan hal-hal yang adiluhung (secara individual) lainnya, melainkan pola kerja-upah-konsumsi yang tak pernah putus. Tak ayal, makin lama makin jauh jarak antara cita-cita kaum tercerahkan dengan realita. Mimpi yang ditaburkan Kapitalisme bahwa kejayaan adalah milik mereka yang bekerja keras akhirnya mengunci manusia dalam angka-angka target jumlah aset. Positivistik memang, angka nilai sekolah, jumlah jam belajar anak, lalu angka upah, berapa banyak properti, kontribusi pajak, keuntungan investasi, asuransi, dan tumpukan aset lancar. Tapi kalau boleh jujur, nyaris tak manusiawi. 

Modernisme memakai pendekatan positivistik untuk mencapai objektivitas, dimana manusia dihargai segala sesuatunya secara proporsional. Manusia dihargai sebagai individu, dalam pencapaiannya, bukan karena asosiasinya dengan garis keturunan, kelompok masyarakat, atau kepercayaan tertentu. Feodalisme dan korupsi atas nama agama yang dianggap sebagai akar dari abad kegelapan Barat, dicoba diganti dengan sistem penilaian baru yang luas, terbuka dan bersifat individualistis. Setiap suara dihargai, hak manusia didefinisikan secara luas dan universal.

Namun apa lacur. Para lebah pekerja terlalu tumpul untuk memenuhi kodratnya. Jangankan menjadi manusia unggul, untuk bertahan hidup saja kadang sulit. Jika pun ada waktu berpikir, mungkin akan lebih baik merancang strategi konsumsi dibanding dengan menghayati kehidupan. Jika ada waktu berbincang, lebih baik berbincang hal trivial atau bernostalgia mengenang mas kecil yang merdeka. Jika ada waktu membaca, memilih membaca suplemen dibanding tajuk rencana. Berkesenian berarti pertunjukkan tubuh perempuan atas nama Feminisme Gelombang Kedua yang disukai. Bersastra adalah mengapresiasi di permukaan kisah cinta dua manusia muda berbeda jenis kelamin yang diberi dekorasi pilihan kata yang tak umum dipakai sehari-hari. Menulis adalah tugas para jurnalis. Titik.

Maka muncullah para residivis : para tokoh agama dibantu para fasis. Sepanjang sejarah, mereka selalu sukses menimbulkan, sekaligus menghancurkan sebuah kebudayaan yang agung. Baghdad, Hindustan, Arab, Skandinavia, Batak, dan Roma. Tokoh agama dan para fasis selalu punya tempat di kebudayaan yang berkualitas rendah. Asosiasi keduanya dengan sifat takdir dan pseudo sains akan mudah memasuki benak, hati, dan terutama ego manusia yang kelelahan dengan dunia. Dunia yang sulit digenggam, kemapanan finansial yang tak kunjung ada, serta ketumpulan dalam belajar, merumuskan masalah, dan beraksi, akhirnya membutuhkan kambing hitam : kebebasan individu dan dunia modern. Berhala-berhala kembali dihadirkan dalam bentuk sekelompok orang dengan mempromosikan ketakutan, kekhawatiran akan nafkah dunia dan dunia pasca kematian, dan tebang pilih fakta. Manusia digiring, digembalakan seperti ternak, menuju tempat yang mereka mau. Di dunia nyata maupun alam pikiran. Sembarang premis dimasukkan ke kepala banyak manusia sebagai “kebenaran”, dibumbui dengan larangan untuk kritik seolah datang dari Tuhan. 

Di atas, para tokoh agama, fasis, dan pemodal terus berinovasi, berpikir, membaca, berfilsafat, dan berkesenian. Mencoba jadi yang terunggul sebagai gembala, bahkan peternak. Untuk mendapatkan sebanyak mungkin gembalaan. Cuci otak, iklan, propaganda, kampanye, tentunya tinggal beradu efektivitas untuk menggaet ternak. Serupa tapi tidak sama dengan Eropa abad pertengahan, Arab Wahabbi, Afganistan jaman Taliban, Iran jaman Khomeini, Jepang era Hirohito, dan negara-negara Magribi pasca Arab Spring. Jadi kurang tepat rasanya jika Post-Truth kita sebut sebagai jaman baru. Lebih tepat disebut sebagai kebodohan manusia secara massal yang berulang.

Selamat berjuang, kawan-kawan. Sulit sekali, bahkan peluang kita untuk selamat sangatlah kecil. Namun seperti yang kita percaya, setiap manusia itu harus menjadi super, di kondisi masyarakat seperti apapun.

Salam super.

Credit gambar kepada kreatornya.

Posted in Budaya, Pemikiran, Politik, Sejarah | Tagged , , , , , | Leave a comment

(Utamanya) Catatan Untuk Diri Sendiri

“Post-truth politics is a political culture in which debate is framed largely by appeals to emotion, disconnected from the details of policy, and by the repeated assertion of talking points to which factual rebuttals are ignored. Post-truth differs from traditional contesting and falsifying of truth by rendering it of “secondary” importance.”

Nanti, ketika cucu kita mempelajari kultur generasi kita. Mereka akan menemukan kakeknya berasal dari generasi yang berjarak dengan metode pencarian kebenaran, memilih dengan emosional, dan berjarak dengan logika dalam hal-hal yang duniawi. Generasi yang dikuasai keinginan untuk bersuara, tapi memiliki kemauan literasi yang memprihatinkan. Generasi yang tidak mengenal falsifikasi sederhana, generasi yang berjarak dengan statistik dan pembacaannya. Generasi buta dan tuli tentang sastra, filsafat, dan seni, tapi begitu cerewet untuk segala hal. Generasi yang tidak bisa membedakan cinta dengan perzinahan, ekonomi bebas dengan perdagangan adil, pesta dengan kemabukan, tokoh agama dengan agama, sains dan teori konspirasi, dan terutama, dunia dan alam pasca-kematian. Generasi yang begitu positivistik untuk hal-hal mistik tapi begitu mistik untuk hal-hal tangible. Generasi yang saking parahnya bahkan tidak bisa merumuskan masalah-masalah sosialnya sendiri, sehingga hanya berdoa tanpa henti akan kedatangan seorang messiah yang akan membawa mereka keluar dari kesulitan.

Mereka akan menemukan bahwa generasi kakeknya mudah digerakkan oleh berita-berita palsu, iming-iming surga, tokoh-tokoh politik dan agama yang tidak berkualitas, demi kepentingan-kepentingan para politisi. Mereka nanti akan geleng-geleng kepala melihat bagaimana Donald Trump dan Rodrigo Duterte bisa terpilih jadi presiden, Britania Raya keluar dari Uni Eropa, dan Basuki Tjahaja Purnama tersangkut isu penistaan agama. Mereka akan terkekeh geli, atau bahkan mengelus dada begitu mengetahui sempat ada orang-orang yang begitu mudah tertipu televisi, surat kabar, atau bahkan lebih parah lagi, sebuah entri antah berantah yang tersebar di internet. Mereka akan mengenang Facebook, Twitter, dan Youtube sebagai museum kelicikan, manipulasi, dan aksi politik kotor, sekaligus sebagai gudang arsip hipokrisi, kedunguan, sekaligus pemujaan yang membabi buta.

Sudah terlambat kini untuk kita. Kegagalan ini sudah sampai di puncak yang baru. Tapi, masih ada harapan untuk cucumu : sembunyikan dirimu sendiri dari semua kedegilan ini.

Posted in Budaya, Pemikiran, Politik, Uncategorized | Leave a comment

Berhala

Bersimpuh kau padanya penuh.
Kau angkat tanganmu yang kanan.
Berseru
“Aku bersaksi!”.

Kau injak sandal jepitku yang kumuh.
Cubit pinggangku sampai merah.
Berbisik
“Ikuti aku!”.

Aku punya lutut, aku punya tangan kanan.
Aku punya sendal jepit, aku punya mulut.

Posted in Agama, Budaya, Jakarta, Pemikiran | Tagged , | Leave a comment

Apa Gunanya Wiji Thukul?.

Kata para filsuf abad 21, zaman ini cocok jika dinamakan zaman post-truth, atau terjemahannya, zaman pasca-kebenaran. Katanya lagi, “kebenaran” sudah kembali menjadi sesuatu yang sangat relatif, penuh subjektivitas, dan tidak bebas nilai. Manusia yang bersimbiosis dengan internet sudah akan terlalu lelah untuk menemukan kebenaran ala kaum positivis di tengah gempuran berita palsu, viralisasi, glorifikasi, framing, dan banyak lagi tipu daya media.

Salah satu tipu daya era sekarang yang paling melenakan adalah kebiasaan mencomot kutipan (“quotes”) para tokoh terkenal, untuk melegalisasi pandangan, aksi, atau bahkan omdo tertentu. Tokoh paling malang tentu Yesus dan Muhammad. Juga ada Ernesto Guevara, John F.Kennedy, Mohandas Gandhi, Soekarno, dan beberapa negarawan, politisi, akademisi, serta filsuf lain. Rata-rata adalah tokoh dengan sejarah besar, dengan kata-kata yang kuat, sehingga bisa memberikan dukungan moril yang kuat terhadap si pencomot.

Tapi kutipan “Hanya ada satu kata, lawan!” sedikit berbeda. Kalimat yang sangat banal terasa akhir-akhir ini. Dicomot oleh mahasiswa yang berdemo, atau sebagian gerakan buruh yang ditunggangi kekuatan-kekuatan tertentu, dan tak lupa, para analis politik Facebook. Kutipan ini datang dari seorang buruh pelitur dengan ijazah SMP. Seorang anak tukang becak katolik miskin di Solo, Wiji Thukul. Puisi-puisi Thukul adalah realita yang dilihatnya sehari-hari. Olehnya hadirlah pemilihan kata yang umum, deskriptif, cenderung tidak puitik. Namun semua karakter itu membuat karya Thukul sangat kontekstual. Dunia Thukul bukan dunia yang merasa perlu mengapresiasi pilihan kata-kata dalam puisi. Dunia Thukul lebih perlu mengapresiasi rasa cemas akan ada tidaknya makanan besok hari. Silahkan baca “Kesaksian” untuk meyakinkan.

Oleh karena itu, keberadaan film “Istirahatlah, Kata-Kata” mungkin bisa ¬†ditempatkan sebagai sebuah fenomena ke-Wiji Thukul-an yang menarik dari dua sudut pandang, sudut pandang film tersebut sebagai film, dan sudut pandang impact dari¬†film.

Film ini dikemas cukup baik oleh sutradara Anggi Noen. Saya rasa konsep besarnya adalah de-kultus-isasi Wiji Thukul. Wiji Thukul, dan Sipon, di sini tidak diceritakan sebagai penyair pemberani yang mengorganisir ribuan buruh, tidak pula digambarkan momen-momen heroik Thukul (yang tentunya bisa lebih marketable) seperti saat wajahnya dipopor senapan, atau saat nyaris buta karena kepalanya dihantamkan ke kap mobil. Melainkan seorang buron miskin yang takut tertangkap, takut menyusahkan orang-orang dekatnya, tapi kesepian, jauh, dan sangat rindu pada keluarga. Tidak ada ideologi, slogan pergerakan, manifes, atau bahkan orasi.  Penokohan, akting, dialog, adegan, simbol, sound, warna, dan jalan cerita menyatakan itu semua. Tidak ada scoring megah, hanya keheningan keheningan yang sepi, rindu, tapi kadang mencekam. Berulang kali kita bisa sangat jelas mendengar helaan nafas yang berat, hisapan ingus, dan isak tangis yang tertahan. Warna yang ditampilkan sangat minim kontras, dan bisa dibilang sangat realistis dalam konteks. Penonton pun banyak disuguhi gambar latar yang diam, membingkai para pemeran bermain emosi dan dialog-dialog kesepian, kerinduan, dan ketakutan dengan sangat baik.

Konsep seperti ini tentunya akan sangat baik impact-nya untuk masyarakat luas memahami Wiji Thukul secara utuh. Bahwa tak satu pun dari apa yang ia tulis, berjarak dengan realitas yang dia hadapi. Dia menulis tentang buruh, karena dia adalah buruh, atau setidaknya, memahami kondisi kaum buruh. Thukul menulis tentang ibunya, tentang ayahnya yang tukang becak, tentang adiknya yang tidak bisa bayar SPP, tentang anaknya, Fitri. Tidak hanya sebagai si “hanya ada satu kata : lawan!”, tapi juga Wiji Thukul yang manusia biasa. Manusia yang bisa lapar, bisa takut, bisa mabuk, bisa horny, bisa kesepian, tapi memutuskan berani melawan sesuatu kejahatan besar yang siap menelan siapapun yang merintangi. Bahwa tak perlu memiliki kekuatan super seperti Pius Lustrilanang, kemampuan sastrawi seperti Taufiq Ismail atau Sapardi Djoko Damono, pengetahuan politik setara Budiman Sujatmiko, atau trah bangsawan seperti Megawati Sukarnoputri, untuk menjadi Wiji Thukul. Seakan ditegaskan, apa gunanya Wiji Thukul, jika semua hanya mengutip terus menerus Wiji Thukul untuk menjadi Wiji Thukul.

Jadilah bunga-bunga dari biji yang disebar Wiji di tembok. Menghancurkan dinding yang ditabrak Wiji Thukul hingga mati.

Posted in Budaya, Film, Politik, Sejarah, Tokoh | Tagged , , | Leave a comment