Ruang Tunggu : Zona Nyaman Yang Harus Diakhiri.

Mendengar album ini dan berita-berita yang meliputi pengerjaan dan peluncurannya, saya jadi teringat kondisi diri saya sendiri beberapa bulan lalu. Saat itu saya merasa sangat jenuh, pada jenis dan level pekerjaan yang saya lakoni, hierarki birokrasi yang menghambat, dan gaji yang tak kunjung naik. Semua pekerjaan yang ada di pipeline saya kerjakan. Semua selesai, namun tidak sesuai dengan kualitas yang dituntutkan kepada saya. Berangkat kerja dengan ogah-ogahan, hanya memenuhi kewajiban pada mereka yang menggaji saya. Saya bekerja hanya sebatas profesionalisme, tanpa semangat, tanpa kegembiraan.

Saya tidak tahu sampai level apa kegelisahan Istiqomah Djammad atas kondisi Payung Teduh. Wawancara emosionalnya dengan Rolling Stone Indonesia menyiratkan (dan untuk beberapa hal, menyuratkan) ketidakpuasan atas kondisi berkarya di Payung Teduh. Kelelahan, kejenuhan, kerinduan akan semangat, serta rasa terasing dari orang-orang di sekitarnya. Emosi sebenarnya, tidak ada yang bisa menebak. Apakah Is, panggilan akrabnya, sedang tantrum, ataukah memang benar bahwa sudah lama ia rasakan.

Namun semua emosi Is sebagai komposer tunggal di Payung Teduh, tentunya bisa terasa dalam Ruang Tunggu. Album terbaru Payung Teduh dan konon, album terakhir yang menyertakan Is. Album ini terasa sangat paralel dengan semua yang dikatakan Is kepada Rolling Stone Indonesia (yang juga sudah tidak akan beroperasi per 1 Januari 2018). Menjenuhkan, melelahkan, sangat bisa ditebak, dan nyaris tidak ada perkembangan berarti secara musikal dari album Dunia Batas tiga tahun lalu. 

Album ini sebenarnya dibuka dengan cukup baik oleh “Akad”. Seakan kita dibawa menuju Payung Teduh yang lebih bertenaga seperti pada “Live at Yamaha Live and Loud”. Setelah sekian banyak lagu mereka coba untuk menjadi seperti Sore, akhirnya di lagu inilah Payung Teduh mampu menjadi murid Sore (era Mondo) yang baik. Masih jadi pertanyaan saya juga mengapa Is sepertinya punya rasa hormat yang berlebihan kepada Mondo dan Sore. Seksi alat tiup dan alat gesek menempati ruang-ruang yang tepat, tempo yang menggairahkan, membuat kita bisa membayangkan sepasang manusia yang sedang dimabuk cinta. Berlari ke sana kemari dan tertawa, ada sedikit keraguan untuk menikah, tapi yo wis ben. Mari bercinta!.

Ekspektasi tinggi itu sayangnya tidak terbukti. “Di Atas Meja”  adalah Payung Teduh seperti biasanya. Tempo lambat diiringi petikan nilon, lalu sedikit naik tempo di reffrain, untuk kemudian meratap lagi. Meskipun ada hook yang cukup menarik di bagian “..tak bisa lagi bercerita apa adanya..”. “Selalu Muda” adalah pemberi harapan palsu. Dibuka dengan cukup groovy, malah berlanjut ke tempo dan pilihan mood yang harus dipertanyakan, karena sangat kontradiktif dengan judul lagu. “Mari Bercerita” dengan vokalis tamu Ichamalia juga tidak menawarkan sesuatu yang baru, kecuali bagi mereka yang sangat asing dengan pop Amerika 40-60 an atau dikenal dengan”Adult Contemporary”. 

“Muram” lagi-lagi adalah Centralismo dosis rendah. Bunyi isian gitar, dekorasi elektronik, sampai sound drum yang dipakai sangat sulit untuk didengar secara independen. “Puan Bermain Hujan” seharusnya bisa menjadi basis yang baik untuk eksplorasi musikal. Pendekatan pop keroncong dengan flute yang dimainkan secara pas. Sebagian bunyi dan tekstur memang sudah lebih dulu dieksplorasi oleh Cozy Street Corner, tapi Payung Teduh terdengar lebih segar di track ini. Namun kesegaran dari “Puan Bermain Hujan” segera dikeringkan lagi oleh “Sisa Kebahagiaan” yang amat mudah ditebak, tidak ada sama sekali kejutan ataupun detail menarik. “Kita Hanya Sebentar” menawarkan gaya Show Tunes era Perang Dunia II, namun Is menampilkan performa vokal yang kurang baik di lagu ini. Beberapa bagian terdengar terlalu rendah untuk suaranya. Album ini pun ditutup oleh nomor yang tidak istimewa. “Kerinduan” tidak memiliki sesuatu yang menarik. 

Namun secara komersial, Payung Teduh yang mellow, easy listening, dan menenangkan tentu masih sangat bisa untuk dijual sebagai musik industri. Plus, diluar musik, kekuatan komersial Payung Teduh juga ada di lirik. Lirik-lirik Is mungkin bisa menjadi pengganti puisi-puisi Sapardi atau cuplikan-cuplikan Tere Liye. Seperti nama band, album ini terdengar menyukai berada di zona nyaman. 

Menarik melihat keluarnya Is. Baik Is dan Payung Teduh untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir akan dipaksa keluar dari zona nyaman. Semoga tidak ada lagi yang terlalu teduh..

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s