Ujung-Ujungnya Jualan

Indonesia pecah. Indonesia pecah menjadi Jokowi-Anti Jokowi, Wahabi-Tradisional-Liberal, Pribumi-Non Pribumi, Zaman Now-Zaman Old, Traveler -Wisatawan -Flaneur, Musik Indie-Mainstream, Ahok-Anies, Tere Liye-Mojok, Bobotoh-The Jak, Stand Up Comedy -OVJ, Ika Natassa-@Infotwitwor, KPK-PKS bahkan Perokok-Anti Rokok.

Ketika memilih kubu, seseorang secara natural menyesuaikan dengan selera-selera yang ada pada dirinya. Selera, atau bisa kita sebut sebagai nilai, konon terbentuk dari paparan-paparan informasi dan (terkadang) interaksinya dengan pengalaman. Kata terbentuk, menyimbolkan bahwa selera atau nilai yang dianut manusia itu hadir secara natural. Paparan informasi dan pengalaman, datang sesuai arus takdir dan ketentuan semesta ke hadapan manusia.

Tapi apakah betul bahwa takdir (atau bagi yang tidak percaya, randomness) yang membawa informasi dan pengalaman itu kepada manusia?. Apakah juga takdir yang menghendaki manusia pada akhirnya memilih kubu-kubu yang sesuai dengan selera?. Saya termasuk yang tidak percaya dengan itu semua. Kelindan antara nilai, informasi dan pengalaman (yang siklikal, terus begitu) pasti memiliki distorsi.

Ketika bayi, manusia mendasarkan pilihannya pada pengalaman-pengalaman fisik. Secara natural, manusia hanya dibekali kemampuan fisik dasar seperti menangis dan meronta. Perlahan, manusia mengetahui bahwa susu, yang bisa menuntaskan rasa lapar, ada di payudara ibu, dan untuk mengeluarkannya, mulut harus menghisap. Tenggorokan lalu belajar menelan, usus belajar mencerna, dan saluran pembuangan belajar mengeluarkan sisa. Natural. Ketika sudah ada kesadaran, bayi mulai mengenal banyak informasi dari manusia lain lewat cinta, obrolan, dan nyanyian. Ia pun melihat manusia dewasa untuk tahu cara berjalan, cara menyanyi, cara bertepuk tangan.

Ketika si bayi menjadi anak-anak, banyak informasi lain yang masuk dari orang tua, nilai-nilai seperti makanan yang harus dihabiskan, tidak berlari di ruang sempit, tidak berteriak di depan umum, sampai kewajiban untuk beribadah. Ketika itu kelindan antara informasi dan pengalaman mulai menjadi rumit. Beruntung anak-anak memiliki masa emas, tahun-tahun di mana kemampuan otak mereka sangat tinggi dan terus berkembang. Dipuji, dimarahi, dipeluk, bahkan dikasari, menjadi pengalaman yang diterima dengan sangat baik untuk dikolaborasikan dengan informasi-informasi nilai yang diajarkan sebelumnya.

Sang bayi masuk sekolah, interaksi dengan kawan-kawan, guru, dan materi (serta media) belajar, berarti informasi dan pengalaman yang didapat semakin deras dan kadang arusnya tidak searah dengan informasi “rumah”. Perbenturan-perbenturan juga makin rumit dengan interaksi anak dengan media seperti televisi, buku, game dan internet. Anak pun mulai menjadi target pasar dari para pebisnis. Pariwara mainan, mainan edukatif, serial kartun, pertunjukkan boneka, tempat rekreasi, sampai makanan manis mulai menjamah mereka. Tak cukup dari situ, para orang tua pun menjadi target pasar dari pebisnis pakaian anak, kereta dorong, biskuit, psikolog anak, dokter anak, popok, dan sekolah.

Pubertas menambah nelangsa anak dalam mengelaborasikan dirinya dengan dunia. Keresahan seksual, pintu pengalaman yang makin terbuka, serta kedalaman yang makin hebat akan informasi. Jarak yang sudah mulai cukup jauh dengan nilai rumah menjadikan rentang usia ini menjadi medan pertempuran nilai, informasi dan pengalaman yang hebat. Sehingga tak jarang terjadi masalah psikologis yang cukup ekstrim di usia-usia ini. Media remaja, fesyen, teknologi, restoran, gaya hidup, musik pop, sampai puisi-puisi romantis merongrong lagi agar dibeli.

Di usia dewasa muda, puncak keresahan terjadi. Tuntutan berkarya (uang), paparan metode belajar pendidikan tinggi, aktivisme, menjadi input-input bagi pemikiran dan preferensi. Namun perbenturan dengan gaji pertama, keinginan untuk mandiri secara finansial, kebutuhan sandaran kepercayaan, menjadi celah masuk untuk fatwa-fatwa bijak tenaga pemasar asuransi, investasi, properti, sampai voucher-voucher belanja di gerai-gerai Mitra Adi Perkasa.

Begitu seterusnya selera, atau nilai, atau preferensi manusia terbentuk. Tidak banyak faktor yang bersifat takdir, kebetulan, atau natural di proses panjang itu. Kebanyakan bahkan berupa informasi-informasi pemasaran yang dijejalkan secara halus melalui media. Pemasaran dalam hal ini tentu bukan hanya dari pebisnis berbadan hukum resmi, namun juga dari para tokoh-tokoh bidang tertentu seperti sastrawan, musisi, pemuka agama, politisi, budayawan, seniman, sejarawan, sampai para influencer.

Karena banyak dipahami sebagai sesuatu yang natural, akhirnya secara “natural” pula manusia akhirnya mengikuti semua arus ini dengan sukarela dan pasrah. Apa pun yang datang di depan muka, itu lah yang diserap. Manusia menjadi yakin terhadap selera yang dianut, terhadap dirinya sendiri, dan pada titik tertentu, akhirnya merasa puas dan cukup. Merasa ajeg. Padahal jika merujuk tahapan-tahapan di atas, pasrah pada arus sebenarnya bukan karakteristik manusia. Manusia dibekali kapasitas otak yang besar, terlalu besar jika hanya dibutuhkan untuk mengelaborasikan apa yang datang saja.

Ada manusia seperti Socrates. Dia tidak terlena dengan arus utama Yunani Kuno yang mencintai “suara rakyat” dan kedamaian semu. Ia mengajak puluhan anak muda ke suatu tempat, bercerita tentang kemungkinan-kemungkinan lain. Yang harus didapat dari sebuah rangkaian sikap kritis, pertanyaan, rasa ingin tahu, pencarian, perenungan, dan berujung pada pendobrakan arus selera utama. Rangkaian yang tidak akan disukai orang-orang status quo seperti para penguasa dan pemuka agama yang mengagungkan ketenteraman dan kedamaian. Socrates pun mati mengenaskan.

Kubu-kubu dalam pertentangan horizontal dan vertikal di Indonesia, masing-masing memiliki orang-orang yang akan paling diuntungkan atau dirugikan dalam menang-kalah. Mereka harus memiliki basis massa untuk bisa menyokong. Maka dari itu, mereka membuat strategi pemasaran. Membuat doktrin, menyampaikannya secara halus sehingga diterima tanpa sadar sebagai si “takdir” tadi, membuat dan merawat basis massa fanatik, lalu mempertentangkannya dengan kubu lawan. Mereka membuat orang seakan memiliki kepentingan yang sangat dengan kubu-kubu itu. Strategi itu akhirnya membentuk pola pemikiran manusia Indonesia selalu terpaku pada pemikiran kolektif, yang tidak jarang justru elitis (kultus tokoh).

Hanya dengan berpikir kritis lah, kita tahu bahwa semua pertentangan ini, adalah UUJ. Ujungujungnya Jualan.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Agama, Budaya, Pemikiran, Politik, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s