Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya. 

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja.

Manusia Jakarta (termasuk yang bersiang-hari di Jakarta) memiliki segalanya; gaji yang bagus, apartemen berkamar dua, mobil Jepang keluaran baru, dan akun toko daring. Namun minim waktu. Agresi yang tak tersalurkan membuat klub-klub malam, komunitas futsal kantor, pusat kebugaran, dan spa esek-esek tak pernah kekurangan peserta. Juga wisata rohani seperti ceramah keagamaan di Youtube, belanja di toko daring, menyukai foto wisata kawan di Instagram, sampai menyimak, dan lalu berpartisipasi, di perdebatan politik di Twitter dan Facebook.

Jika yang menanti pertanggungjawaban manusia di alam nanti adalah Locke, David Ricardo, Keynes, Fukuyama, Soros, sampai Janet Yellen dan geng Harvard di Wall Street, niscaya mereka pasti akan puas ketika manusia Jakarta menyampaikan hasil penjualan yang mencapai target, sertifikat pelatihan motivasi, persentase kenaikan gaji yang meningkat sejalan dengan inflasi, dan beberapa blok properti dalam portfolio aset. 

Lalu terdapat pertanyaan mendasar. Bagaimana manusia Jakarta nantinya harus bertanggung jawab di hadapan Ibrahim, Muhammad, Nietzsche dan Sartre?. Bagaimana mereka menghadapi pertanyaan; “apa saja yang sudah kamu lakukan sepanjang hidupmu?”. Dengan waktu yang sulit diperoleh, sulit pula manusia Jakarta belajar untuk merumuskan, dan lalu menjalani, esensi dari eksistensinya. Apakah bangun pagi, mandi, berkendara satu jam, bekerja empat jam, makan siang satu jam, bekerja kembali empat jam, berkendara satu-dua jam untuk pulang, dan kemudian mandi dan tidur kembali, cukup?. Bahkan untuk mengenali dirinya sendiri?.

Proses tarik menarik atas kondisi-kondisi dan ide-ide di atas akhirnya berujung pada budaya tekstual. Waktu yang sempit tidaklah cocok untuk menggali makna-makna di balik kata-kata yang terpampang di running texts televisi, status Facebook tokoh idola, satu bingkai foto Instagram dengan puluhan tagar, cuplikan video pidato seorang tokoh politik, unggahan berbayar selebtwit, ayat atau ceramah pemuka agama. Sempitnya peluang untuk menggapai konteks, membuat mereka akhirnya membuat ketetapan sendiri hanya melalui teks. Satu teks, bukan interteks. Satu teks dibaca, dipercaya literal, dan dipertunjukkan. Terlalu sempit pula waktu untuk berdialektika ketika ditemukan teks dengan tone yang berbeda. Maka lebih baik disingkirkan dari konsiderasi. 

Padahal konteks adalah manusiawi, konteks adalah natural, konteks butuh pembacaan yang lebih. Teks bisa dilahirkan oleh sistem komputer atau artificial intellegence lain. Tapi konteks hanya bisa lahir dari manusia; sifat-sifat, relasi interpersonal, persentuhan dengan jaman dan alam. Ketika konteks sudah tercerabut oleh eight to five, ketika itu pula kemanusiaan tercerabut dan manusia hanya tinggal statistik. 

Padahal Jakarta adalah ibukota. Manusia-manusia Jakarta sejatinya (masih) menjadi penanggung beban sebagai pelontar program-program untuk setiap jengkal Indonesia. Ekonomi, sosial, politik, hukum, dan budaya Indonesia ditentukan oleh manusia Jakarta. Apa jadinya Indonesia ketika dipandu oleh manusia-manusia yang sudah tercerabut dari akan kemanusiaannya?. Jangan sampai ide dari Jakarta adalah melulu bel kematian bagi lokalitas, karifan manajemen alam, budaya, dan hal-hal manusiawi lain.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Budaya, Ekonomi, Pemikiran, Politik and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s