Kiamat Sudah Dekat

Mungkin semenjak zaman meme, kita makin sering melihat kredo “the end is near” alias kiamat sudah dekat. Dituliskan dalam secarik kertas yang dibawa Homer Simpson. Biasanya ditujukan untuk mengejek sebuah kondisi yang sama sekali tidak lazim dan tidak pernah disangka akan terjadi, namun ternyata terjadi, sampai bisa dianggap seperti pertanda akhir jaman. Seperti ketika Nicklas Bendtner mencetak gol, status Facebook Jonru Ginting dibagikan ribuan kali, ketika referendum memutuskan Inggris Raya keluar dari Uni Eropa, dan puncaknya ketika Donald Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bagi kaum berkepercayaan yang mempercayai adanya hari kiamat, kiamat bisa disebut sudah dekat ketika orang-orang sudah tidak percaya akan Tuhan dan kepercayaan, atau ketika penyimpangan-penyimpangan menjadi sesuatu yang sudah lumrah dan dilumrahkan oleh umat manusia. Misalnya konon dalam beberapa agama, makin banyaknya manusia berorientasi non heteroseksual, rumah ibadah yang banyak tapi sepi, munculnya kejadian alam yang di luar pola, dan lain sebagainya. 

Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan setiap manusia dengan unik. Buktinya setiap manusia punya rekening pahala dan dosa masing-masing, manusia diturunkan ke dunia dan dibesarkan oleh Tuhan dalam kondisi lingkungan yang berbeda satu sama lain, diberi kesempatan yang berbeda-beda untuk belajar, memahami, dan menginterpretasi dunia (dan akhirat), serta diberi kondisi penyebab kematian yang juga berbeda-beda. 

Maka itu, jika tanda hari akhir identik dengan kondisi manusia yang sudah menyimpang dari kodratnya, maka bagi saya tanda kiamat yang paling jelas adalah keseragaman manusia dalam berpikir dan bertindak. Bagaimana tidak, keseragaman yang terjadi pada ribuan, jutaan orang, adalah penghinaan paling besar terhadap tugas manusia di muka bumi. Keseragaman biasanya adalah akibat dari teror. Beberapa manusia menciptakan ketakutan-ketakutan dengan banyak dalih, agar ribuan lainnya mau mengikuti pemikiran dan kemauan mereka. Para teroris itu mengharapkan terciptanya (atau langgengnya) sebuah hierarki manusia. Ada pemimpin, ada yang dipimpin. 

Padahal hierarki bukanlah pola hubungan yang seharusnya dilakukan manusia. Hierarki (by power) adalah pola yang khas dari komunitas hewan-hewan, atau bolehlah, komunitas manusia pra-modern. Siapa yang kuat, mereka yang menjadi pemimpin gerombolan. Struggle for power tidaklah cocok untuk manusia yang dibekali otak super cerdas dan perasaan, plus kemampuan mengembangkan teknologi, pada khususnya, dan budaya pada umumnya. Manusia, terutama di zaman modern, seharusnya bisa hidup dalam kondisi yang jauh lebih egaliter daripada nenek moyang yang hidup pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan.

Maka rajin-rajinlah berdoa, ketika melihat keseragaman di sekitarmu.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Agama, Budaya, Pemikiran, Politik. Bookmark the permalink.

One Response to Kiamat Sudah Dekat

  1. naraws says:

    Pernah denger/baca tentang konsep “edge of chaos” ndra?

    menurut konsep ini, sebuah sistem kompleks akan berada dalam kondisi puncak dan memiliki tingkat adaptivitas tinggi ketika berada pada “tepi kekacauan”.. ketika sistem melewati tepian itu, maka kekacauan terjadi dan semua berantakan, tetapi ketika menjaga jarak aman terlalu jauh dari tepian, maka yang terjadi adalah stagnansi dan berhentinya proses adaptasi sistem tersebut..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s