Catatan Perjalanan Dubai : Hari ke-1

Meeting point kami adalah di Old Town Coffee terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten. Kami dan seluruh peserta akan datang pukul 11.00. Tim travel and tour mengurus visa kami semua, kecuali satu peserta yang terlambat datang karena baru selesai memeriksakan diri ke rumah sakit.
Pukul 00.40 Emirates Boeing 777 yang kami tumpangi mulai bergerak. Waktu perjalanan dipilih malam karena memungkinkan peserta untuk beristirahat sepanjang perjalanan. Saya sendiri hanya tidur kurang lebih 2.5 jam. Saya menonton film dokumenter “The Music of Strangers” yang menceritakan usaha cellist terkemuka Amerika Yo Yo Ma, untuk mengkolaborasikan bunyi-bunyi tradisional dari banyak wilayah di dunia. Yo Ma mengumpulkan musisi-musisi yang kuat akar tradisi dari berbagai wilayah, seperti Iran, Galicia, China, India, Balkan, dan masih banyak lagi. Mereka mengadakan workshop untuk ide gila Yo Ma, membentuk satu “musik baru” yang bisa dikategorikan sebagai musik dunia. Akhirnya kolaborasi ini dinamai Silk Road Music. Film ini juga menceritakan latar belakang kultural beberapa musisi yang terlibat. Secara sinematografi sangat standar, tapi sangat berisi dari segi konten.

Setelah 1 jam 58 menit menonton The Music of Strangers, saya berusaha tidur, dan akhirnya berhasil. Namun tak sampai satu jam kemudian, saya dibangunkan oleh tepukan seorang pramugari bule yang membawa sarapan. “Fried rice or Omelette?”, tanyanya ramah. Saya lihat jam di monitor hiburan, baru jam 3.15 waktu Jakarta. Sesi sarapan ini mungkin dimaksudkan Tuhan sebagai latihan kami untuk sahur pertama beberapa hari lagi. Nasi goreng yang ditawarkan cukup enak, apalagi disajikan dalam keadaan panas. Kami juga mendapatkan roti dingin, salad buah, dan makanan penutup berupa cookies. Alhasil saya pun tidak tidur lagi setelah itu. Saya bolak-balik ke toilet untuk pipis dan menonton beberapa video musik hingga tiba di Dubai.

Tiba di Dubai, kami dijemput oleh salah satu awak tour leader kami yang sudah bersiap di Dubai satu hari sebelum kami berangkat. Kami naik satu bus besar yang mengantar kami ke Westin Hotel Al-Habtoor, tempat kami akan menginap. Pengemudi kami adalah seorang paruh baya bernama Tahir dan guide kami yang sangat informatif, bernama Samir. Samir ini lebih senang dipanggil dengan nama bule “Sam”. Samir bercerita banyak tentang Dubai selama 20 menit perjalanan kami dari bandara ke Westin. Ia bercerita tentang struktur pemerintahan di Uni Emirat Arab, apa itu emirat, bagaimana emirat-emirat di Uni Emirat Arab dipersatukan dan dikelola hingga kini, sampai cerita singkat mengapa Dubai bisa berkembang menjadi salah satu hub bisnis utama dunia.

Emirat Dubai dipimpin oleh Keluarga Al-Maktoum. Dalam dua dekade terakhir, mereka mengubah Dubai dari sekedar kota pelabuhan dagang dan pengekspor sedikit minyak, menjadi kota hub ekonomi di regional. Dubai disulap menjadi free economic zone, dimana setiap transaksi, usaha, pembangunan, kegiatan pelabuhan (udara dan laut), dan investasi, tidak dikenakan bea dan pajak. Emirat hanya memodali pembangunan infrastruktur dasar dan tata letak, sedangkan pembangunan lainnya, usaha-usaha, dibuka selebar mungkin untuk swasta. Selain beberapa pemukiman di dekat pelabuhan, Dubai tadinya hanya merupakan padang pasir dengan beberapa juta penduduk. Pemerintah bersama swasta menyulap Dubai menjadi kota baru yang megah. Gedung-gedung perkantoran, atraksi eksklusif, pusat perbelanjaan, mereka bikin sebagai yang terbaik di dunia. Ada Burj Khalifa, menara 860 meter yang merupakan gedung tertinggi di muka bumi, Dubai Mall, mall terbesar di dunia yang juga memiliki akuarium air asin terbesar di dalam mall manapun di dunia, atraksi air mancur menari, arena main bersalju, mobil-mobil mewah, pantai buatan (hasil reklamasi) di Jumairah, sampai membuat sungai sendiri sebagai gimmick properti.

Bersamaan dengan selesainya Samir bercerita, kami pun tiba di Westin. Hotel ini terletak persis di samping sungai buatan, yang dinamai Dubai Canal. Setibanya di hotel dan melakukan proses check-in, kami yang kelaparan langsung pergi sarapan di lantai 1. Sarapan dengan rasa standar pun kami tandaskan juga karena rasa lapar yang tak tertahan. Lepas sarapan, kami beristirahat sebentar di kamar. Kamar yang bagus dengan fasilitas selayaknya bintang lima. Saya mendapat kamar di lantai 30, dimana balkon kamar saya menghadap ke dua menara tinggi yang sedang dibangun, dan hotel ke-2 tertinggi di dunia, J.W. Marriott Dubai.

Tak lama istirahat, kami pergi dengan baju formal pukul 11.30. Jas, blazer dan batik menjadi dress code kami hari itu karena akan ada dua meeting setelah makan siang. Bis bergerak untik mengantar kami makan siang di salah satu hotel terbaik di dunia, Burj Al-Arab. Hotel ini terletak di Jumairah, pada sebuah pantai hasil reklamasi. Restoran di Burj Al-Arab buka tepat pukul 12.00, maka kami yang sampai 20 menit sebelumnya menyempatkan diri untuk berfoto di Jumairah Beach, lengkap dengan jas dan blazer. Jumairah beach sendiri sangat unik secara kultural. Dubai menerapkan Islam sebagai agama resmi negara, namun praktiknya sangat terbuka terhadap pluralitas. Mungkin sebagai prasyarat untuk menjadi hub ekonomi internasional. Di pantai Jumairah, beberapa turis memakai bikini, beberapa turis memakai baju serba tertutup dan bercadar, juga ada yang berjas. Semua berjalan begitu saja.

Akhirnya kami tiba di lobi Burj Al-Arab. Hotel mewah ini berbentuk mirip layar perahu layar single. Dengan lapangan tenis legendaris di atasnya, dimana pernah menjadi venue eksebisi antara Roger Federer dan Rafael Nadal. Kami menunggu reservasi kami melalui proses konfirmasi di lobi. Hotel ini memiliki arsitektur yang menarik, baik dalam interior maupun eksterior. Yang tentunya sangat menggoda sebagai latar belakang swafoto. Reservasi kami sudah berhasil dikonfirmasi, maklum, restoran ini sangat ramai namun memiliki tempat yang terbatas, sehingga diperlukan reservasi jauh-jauh hari, apalagi untuk rombongan besar seperti kami.

Menu yang ditawarkan adalah menu-menu tradisional Dubai. Nasi Briyani dengan kambing bakar, sup-sup minim bumbu, seafood dengan yoghurt dan keju kambing, serta kue-kue tradisional yang sangat manis. Saya yang sebelumnya pernah mencicipi makanan Arab ala Indonesia, merasa semua makanan yang disajikan terlalu minim bumbu. Poin positifnya adalah daging kambing yang tidak berbau serta empuk sekali, selain fakta bahwa restoran ini sangat eksklusif dan mahal sehingga tidak semua orang bisa menikmati rezeki seperti saya ini.

Selesai makan siang, Tahir dan Samir menjemput kami kembali di lobi. Mereka akan antar kami ke kantor NASDAQ, salah satu dsri bursa efek di Dubai. NASDAQ adalah salah satu bursa acuan dunia, karena transaksinya yang ramai dan volume transaksi yang besar, serta dianggap cukup mewakili perilaku investor Timur-Tengah. Di NASDAQ kami sudah ditunggu oleh Tahir Mahmood, Head of Business Development NASDAQ. Kami akan mendapatkan pemaparan dari Tahir mengenai karakteristik perdagangan Sukuk (surat utang syariah) di Timur-Tengah. Volume perdagangan Sukuk di Dubai adalah salah satu yang terbesar di dunia, dan mungkin hanya kalah dari Inggris dalam hal penerbitan dan perdagangan. Kebutuhan akan efek-efek investasi syariah mulai tumbuh sejak tumbuhnya pasar ekonomi syariah di dunia. Dunia kini jauh lebih terbuka pada produk-produk asuransi, financing, leasing, dan dana pensiun yang berbasiskan aturan syariah. Maka dari itu, banyak negara atau perusahaan yang membutuhkan pendanaan, menerbitkan surt utang syariah, yang bisa dibeli oleh asuransi, financing, leasing, dan dana pensiun yang berbasis syariah. Sebut saja Inggris, Afrika Selatan, Indonesia, Hongkong, dan Malaysia. Jika nanti ada kemauan, akan saya paparkan mengenai prinsip-prinsip ekonomi syariah seperti murabahah, ijarah, dan istijna. Pemaparan dari Tahir membuka mata kami akan tumbuh pesatnya ekonomi dan efek-efek syariah. Berita baik untuk pelaku investasi Indonesia, dimana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggodok aturan yang membolehkan reksa dana atau Kontrak Investasi Kolektif (KIK) syariah, membeli efek syariah dari luar Indonesia. Mengingat minimnya suplai efek syariah dalam negeri yang membuat likuiditas cukup kecil.

Setelah Tahir menutup pintu lift untuk kami turun, kami naik kembali bus menuju kantor Bloomberg Dubai. Platform penyedia database, analisa, dan berita tentang ekonomi ini memang terkenal akan desain kantornya yang unik. Tidak ada tujuan formal akan kedatangan kami, melainkan untuk mengenalkan lebih jauh para peserta, yang notabene adalah para pengguna platform ini, untuk bertandang langsung dan melihat bagaimana platform ini dikelola. Kami diterima oleh Tom Robson dan Pau, mereka mengajak kami melihat proses kerja Bloomberg, seperti pemilahan dan penyuntingan konten serta analisis dari para kontributor, hingga melihat strategi pemasaran Bloomberg Dubai. Tak lama berkeliling, kunjungan kami tutup dengan berfoto bersama di akuarium air asin yang menjadi ciri khas kantor Bloomberg di seluruh dunia, meskipun bagi saya, kantor Bloomberg di Jakarta jauh lebih keren.

Dengan kondisi yang lelah lagi mengantuk, kami kembali ke hotel untuk berganti pakaian. Agenda selanjutnya cukup menyenangkan, yaitu sesi belanja bebas di Dubai Mall. Berbeda dengan keberangkatan sesi meeting tadi pagi, kali ini seluruh peserta sudah berkumpul di lobi bahkan 10 menit sebelum waktu yang ditentukan. Bus kembali mengantar kami, diiringi oleh wanti-wanti dari Samir akan luasnya Dubai Mall ini, sehingga banyak kasus wisatawan asing yang tersesat dan kesulitan menemukan rombongan. Setelah turun bis dan berjalan masuk, Samir menentukan dengan sangat tegas bahwa kami harus berkumpul di Star Atrium di lantai Lower Ground Dubai Mall pada pukul 20.00 tepat.

Setelah Samir menutup dengan “Happy shopping!”, seluruh peserta serentak membubarkan diri. Saya menemani geng Bapak-bapak yang mencari oleh-oleh simpel untuk kolega di kantor dan keluarga di rumah. Kami pun memilih toko Discover Dubai, tak jauh dari Star Atrium. Toko ini tampak memiliki banyak pilihan suvenir dengan desain-desain yang menarik. Saya membeli beberapa hiasan kulkas, beberapa set cangkir kopi, dan dua pak pulpen. Total belanja saya 219 Dirham (1 Dirham = 3750 Rupiah). Setelah bapak-bapak selesai membayar, kami pun pergi ke arah supermarket. Supermarket memang menjadi opsi yang baik untuk membeli oleh-oleh, terutama dalam bentuk snack, karena tentu harganya adalah standar harga lokal.

Selepas dari supermarket, kami yang tujuan belanjanya sudah tercapai, memutuskan naik ke lantai Ground untuk melihat akuarium air laut yang konon terbesar di dunia yang ada di dalam mall. Karena mall ini sangat luas, mungkin luasnya 3-4 kali Kota Kasablanka, kami berjalan cukup lama untuk menemukan akuarium. Setelah bertemu, kami takjub sendiri dengan semua hal “wah” yang bisa terjadi jika aliran kapital masuk dengan lancar. Bayangkan, akuarium ini lebih besar daripada akuarium utama yang ada di S.E.A Aquarium Singapura. Ada 4-5 hiu berukuran besar, Sting Ray, Manta Ray, hingga banyak ikan-ikan lain yang berukutan lebih kecil.

Setelah dari akuarium, kami memutuskan untuk berjalan mengelilingi mall. Kami merasa percaya diri karena Samir sudah membekali kami dengan peta mall agak kami tidak tersesat. Namun ternyata bukan nyasar yang jadi masalah kami, namun stamina yang terkuras. Kami tahu kemana harus berjalan menuju meeting point, tetapi jaraknya sudah terlanjur jauh. Akhirnya kami beristirahat sejenak sambil membaca-baca peta. Setelah dirasa cukup, kami berjalan sampai akhirnya menemukan Star Atrium lantai LG.

Setelah semua peserta berkumpul, kami dibawa menuju Restoran Al-Hallab. Restoran makanan Lebanon ini memiliki view jelas ke arah Burj Khalifa dan Dancing Fountain. Kami duduk di meja yang terletak di balkon. Kedatangan kami langsung disambut oleh Dancing Fountain yang spektakuler. Kami pun berebutan lapak untuk mengabadikan. Menu-menu yang dipesan datang dengan jarak waktu yang cukup jauh satu sama lain, mungkin karena restoran sedang dalam kondisi full-seat. Makanan-makanan ini jauh lebih cocok di lidah kami daripada makanan di Burj Al-Arab siang tadi. Menu kambing, sapi, ayam, ikan, dan udang yang dibakar sungguh menggugah selera. Belum lagi cocolan keju kambing yang jauh lebih tasty. Kami makan cukup banyak malam itu.

Setelah makan, kami pun kembali lagi ke hotel. Istirahat hari itu sungguh terasa sebagai agenda termewah, mengingat esok harinya ada dua agenda meeting dan agenda desert safari.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Catatan Perjalanan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s