Pemimpin, Perlukah?.

Buat sebagian pecinta film horror, pasti pernah menonton beberapa film yang bertemakan kesurupan (exorcism). Pola yang umum adalah roh jahat memasuki seseorang, lalu mulai membuat sengsara hidip orang itu (medium) dan keluarganya. Si medium diterbangkan, dibuat sakit dan berteriak-teriak kepada pendeta yang mengacung-acungkan salib di depan wajahnya. Si roh kini memiliki kontrol sempurna atas si medium. Kita tahu kisah legendaris Emily Rose yang tidak ada angin tidak ada hujan, disurupi oleh roh jahat yang menyiksanya dari dalam, sampai akhirnya membunuh Emily.

Manusia secara saintifik didesain untuk memiliki kontrol penuh atas dirinya sendiri. Tuhan membekali manusia dengan kualitas otak yang jauh lebih brilian dari mahluk hidup manapun. Fisik manusia juga didesain mudah untuk beradaptasi di kebanyakan habitat yang disediakan alam. Bisa makan daging maupun tumbuhan. Bisa berenang, berjalan, memanjat, dan untuk beberapa saat, menyelam. Jikapun fisiknya tidak mampu, kapabilitas otak manusia memungkinkannya untuk membuat teknologi yang membantunya bertahan di lingkungan-lingkungan yang tak bisa diatas secara fisik belaka. Otak manusia juga memungkinkannya untuk mengatur emosi dan insting-insting kebinatangan, yang tidak mungkin dilakukan mahluk lain.

Singkatnya manusia adalah mahluk yang paling sempurna yang pernah diciptakan. Sampai hukum rimba berkembang dan berkembang jutaan tahun dan melahirkan politik, seni manusia untuk mengendalikan manusia lain demi keinginannya, persis seperti roh jahat kepada Emily Rose. Insting bertahan hidup manusia di tengah sumber daya yang terbatas, membuat otaknya memikirkan sebuah aturan main yang diharapkan dapat mempermudah bertahan hidup, dengan beberapa manusia yang dianggap lebih baik dari yang lain, sebagai regulator. Orang-orang ini bertugas memajukan orang-orang lain dalam kelompoknya, dan memastikan semua mereka bisa bertahan hidup dan atau hidup dengan lebih mudah dengan “bayaran” berupa previlege sebagai manusia dengan kedudukan yang lebih tinggi, dan terutama, hidupnya ditanggung oleh kelompok. Kepala kawanan, kepala keluarga, kepala suku, tokoh masyarakat, raja, penasihat, perdana menteri, dewan legislatif, hingga konsep presiden adalah perkembangan fungsi ini. Namun sifat tamak memang seringkali hadir dalam interaksi manusia dengan kelompoknya. Sifat yang kebinatangan ini seringkali hadir dalam bentuk perebutan posisi pemimpin kelompok. Previlege yang didapatkan ternyata juga menarik bagi anggota kelompok yang lain. Jadilah perebutan posisi pemimpin ini menjadi perang abadi antar beberapa manusia.

Pemimpin kelompok seharusnya juga memiliki misi membina dan memberdayakan seluruh anggota kelompoknya untuk berperan aktif dalam proses bertahan hidup. Namun ketakutan akan diambilnya previlege sebagai pemimpin oleh orang lain justru tak jarang membuat seorang pemimpin harus putar otak lebih banyak daripada tujuan kelompok sendiri. Dalam kawanan binatang tentunya jauh lebih simpel. Duel sampai salah satu mati, dan beres. Hewan yang hidup menjadi pemimpin. Namun dengan melibatkan otak, hati, dan tambahan nilai dan norma yang berkembang, lama-lama terumuskanlah seni mengekang calon pengganti bagi si pemimpin. Mungkin bisa diingat saat Thomas Hobbes menjabarkan bahwa negara (versi si pemimpin) harus menjadi Leviathan, seekor monster laut menakutkan, bagi rakyatnya. Dibuatlah kontrak-kontrak sosial, dimana negara (bentuk kelompok manusia yang menjadi tren belakangan), mengatur pola interaksi dan nilai-nilai yang berlaku untuk setiap rakyatnya. Atau lebih gamblang lagi diungkapkan oleh Nicollo Machiavelli, bahwa kejayaan dan kebertahanan seorang pemimpin, bisa menjustifikasi pemakaian imoralitas dalam prosesnya. Atau bentuk lain yang tidak kalah menakutkan : dogma agama.
Pemimpin, atau para pemegang previlege lain dalam masyarakat, akhirnya cenderung untuk meredam keberkembangan masyarakatnya secara individual. Karena dianggapnya, individu-individu yang berkualitas dan berpikir serta bergerak dengan kualitas yang baik pula, hanya akan menimbulkan keresahan bagi mereka yang lain, dalam tetap mempercayakan previlege kepada para pemimpin. Lihatlah bagaimana di banyak sekolah di banyak belahan bumi, dimana anak-anak diajar dengan metode dikte dan hapalan, dengan standar moral yang sudah dikonstruksi sebelumnya, agar ketika lulus nanti, dapat menjadi “anggota masyarakat yang baik”. Pada perkembangannya, pendidikan modern banyak ketahuan belangnya sebagai pabrik pengikut bagi para pemimpin. Kondisi ini diperparah dengan hadirnya golongan lain yang juga memiliki previlege secara sosial, yaitu para pemegang modal di masa Kapitalisme berlaku. Kita mungkin ingat bagaimana dominannya bad ending bagi kisah individu-individu yang “tercerahkan”.

Di Indonesia, sebuah negara dengan gap literasi yang tinggi dan mistisme yang masih sangat kental terasa, bahasan ini amat sangat relevan. Indonesia memiliki masa lalu dengan sistem feodal-agama yang sangat kental pada kerajaan-kerajaan pra-kolonial. Lalu secara bertahap selama tiga abad, dicengkeram oleh penjajah yang memperlakukan masyarakat sebagai “pahlawan devisa”. Diberlakukannya politik etis memang salah satu episode terang, dimana tujuan menjadikan pendidikan sebagai pabrik pangreh praja gagal total dan melahirkan generasi Sukarno, Hatta, dan Tan Malaka. Ketika kemerdekaan dicapai, ternyata Sukarno terlalu yakin bahwa previlege yang ia dapat selama menjabat sebagai presiden adalah bayaran yang setimpal untuk beberapa bulan kurungan di Banceuy dan Sukamiskin, serta beberapa tahun pengasingan di Bengkulu dan Ende. Rakyat Indonesia pun mendapat indoktrinasi “Paduka Jang Mulia”, “Penyambung Lidah Rakyat”, hingga “Putra Sang Fajar” merupakan Heru Tjokro, messiah tanah Jawa. Akhirnya masalah keberlangsungan hidup pula yang menggulingkan semua tirani Sukarno. Krisis ekonomi membawa momentum bagus bagi Suharto dan sepupu-sepupu Paman Sam untuk mengambil previlege Sukarno. Sukses besar. Selama 32 tahun akhirnya rakyat Indonesia dididik untuk menjadi pemuja “Bapak Pembangunan”, sekaligus menjadi buruh Astra dan perusahaan-perusahaan Sembilan Naga lainnya. Siapa berani berpikir bebas, stempel lambang palu-arit. Beres. Suharto dan kelompoknya nampak hanya bisa dikalahkan oleh maut. Namun Tuhan adil, diberikannya momentum bagi manusia-manusia Indonesia yang tercerahkan : Emha Ainun Nadjib, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, untuk mengantarkan Megawati putri Sukarno dan Amien Rais ke puncak kekuasaan atas Indonesia. Kisah lama yang tak akan berhenti berulang. Segagah apapun Susilo B.Y. mengatakan tidak untuk korupsi berulang kali selama 10 tahun.

Ada di mana manusia-manusia Indonesia selama itu?. Tentunya masih ada di posisi sebagai pengikut, pemuja, sekaligus buruh bagi para pemimpin. Ratusan juta kepala menjadi komoditas dan statistik yang diperebutkan untuk banyak kepentingan pemimpin. Tentunya setiap lima tahun kepala voters dibutuhkan sebagai anak tangga menuju puncak kepemimpinan. Juga ada target-target yang disimplifikasi seperti pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, dan Produk Domestik Bruto yang tentunya butuh statistik untuk bisa dibilang valid secara positivistik. Tak lupa juga sebagai tenaga kerja, sekaligus konsumen dari para pemegang modal.

Melihat semua kenyataan ini, tak urung saya jadi meragukan semua konstruksi arus utama tentang bagaimana sebuah kelompok manusia dikelola. Saya mengetahui Marxisme dan segala derivatifnya, Kapitalisme plus Liberalisme, Monarki, Negara Agama, hingga rezim-rezim transnasional. Tapi di semuanya saya masih menemukan apa yang saya caci sepanjang tulisan ini. Semua secara praktikal masih dalam tema besar yang mempertentangkan antara pemimpin dengan perkembangan kualitas orang yang dipimpinnya. Selama ada pemimpin, disitulah ada label subversif bagi anggota masyarakatnya yang berusaha memenuhi segala macam potensinya sebagai manusia secara individual.

Pernah membayangkan bagaimana hidup tanpa pemimpin?.

Pics : Distro of the Libertarian Left

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Budaya, Ekonomi, Pemikiran, Politik, Sejarah and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s