Jaman Baru?

Dunia sedang riuh rendah menyambut datangnya jaman baru. Post-Truth mereka menyebutnya. Pasca Kebenaran. Diasosiasikan dengan makin ditinggalkannya cita-cita pencerahan (Barat) ; jarak manusia dengan pola pikir, dan utamanya, upaya pencarian kebenaran secara positivistik. Pola pikir positivistik, atau dikenal dalam manifes Modernisme, seperti kita tahu, hadir di Barat sebagai pemberontakan dari kebohongan-kebohongan agama yang bekerjasama dengan monarki, untuk melakukan korupsi atas banyak hak hidup manusia, terutama kebebasan berpikir, bertindak, dan berpendapat. Dalam kurun waktu yang berbeda, pola serupa juga terjadi di peradaban Hindustan, Afrika Timur, dan Timur-Tengah.

Namun naas, nampaknya salah satu “anak” Jaman Pencerahan ditakdirkan memakan ibunya sendiri. Kapitalisme namanya. Kapitalisme hadir sebagai alternatif atas hegemoni ekonomi kaum agamis, aristokrat, dan monarki atas rakyat golongan lain. Kapitalisme memungkinkan siapapun yang memiliki modal, apapun bentuknya, untuk berusaha menjadi sekaya mungkin. Otoritas, hanya menjadi penjaga menara, yang hanya dibutuhkan dalam hal menengahi sengketa, dan memungut biaya keamanan. Tanpa pernah benar-benar terlibat di dalam pasar yang bebas tersebut. Otoritas kadang memaksakan peran lebih sebagai pengadil, namun ternyata banyak harus menyerah, karena kekuatan ekonominya yang jarang sekuat para petarung utama.

Kapitalisme lambat laun menjadi sumber kegelapan yang baru. Individu kembali hanya menjadi statistik belaka bagi para penguasa baru : pemodal. Paling banter, sebagian individu menjadi pekerja dalam gurita para pemodal. Otoritas, yang sudah kalah di awal, sulit untuk mengambil peran sebagai penengah hubungan industrial yang baik. Akhirnya, para pekerja menjadi lebah pemburu yang melayani si ratu. Menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk bekerja. Pagi berangkat bekerja, menjelang malam pulang, melakukan perjalanan panjang menuju rumah, tidur, untuk kemudian berangkat lagi.

Bukan membaca, berdiskusi, bercinta, berfilsafat, berdialog, berkesenian, bersastra, berinovasi, dan melakukan hal-hal yang adiluhung (secara individual) lainnya, melainkan pola kerja-upah-konsumsi yang tak pernah putus. Tak ayal, makin lama makin jauh jarak antara cita-cita kaum tercerahkan dengan realita. Mimpi yang ditaburkan Kapitalisme bahwa kejayaan adalah milik mereka yang bekerja keras akhirnya mengunci manusia dalam angka-angka target jumlah aset. Positivistik memang, angka nilai sekolah, jumlah jam belajar anak, lalu angka upah, berapa banyak properti, kontribusi pajak, keuntungan investasi, asuransi, dan tumpukan aset lancar. Tapi kalau boleh jujur, nyaris tak manusiawi. 

Modernisme memakai pendekatan positivistik untuk mencapai objektivitas, dimana manusia dihargai segala sesuatunya secara proporsional. Manusia dihargai sebagai individu, dalam pencapaiannya, bukan karena asosiasinya dengan garis keturunan, kelompok masyarakat, atau kepercayaan tertentu. Feodalisme dan korupsi atas nama agama yang dianggap sebagai akar dari abad kegelapan Barat, dicoba diganti dengan sistem penilaian baru yang luas, terbuka dan bersifat individualistis. Setiap suara dihargai, hak manusia didefinisikan secara luas dan universal.

Namun apa lacur. Para lebah pekerja terlalu tumpul untuk memenuhi kodratnya. Jangankan menjadi manusia unggul, untuk bertahan hidup saja kadang sulit. Jika pun ada waktu berpikir, mungkin akan lebih baik merancang strategi konsumsi dibanding dengan menghayati kehidupan. Jika ada waktu berbincang, lebih baik berbincang hal trivial atau bernostalgia mengenang mas kecil yang merdeka. Jika ada waktu membaca, memilih membaca suplemen dibanding tajuk rencana. Berkesenian berarti pertunjukkan tubuh perempuan atas nama Feminisme Gelombang Kedua yang disukai. Bersastra adalah mengapresiasi di permukaan kisah cinta dua manusia muda berbeda jenis kelamin yang diberi dekorasi pilihan kata yang tak umum dipakai sehari-hari. Menulis adalah tugas para jurnalis. Titik.

Maka muncullah para residivis : para tokoh agama dibantu para fasis. Sepanjang sejarah, mereka selalu sukses menimbulkan, sekaligus menghancurkan sebuah kebudayaan yang agung. Baghdad, Hindustan, Arab, Skandinavia, Batak, dan Roma. Tokoh agama dan para fasis selalu punya tempat di kebudayaan yang berkualitas rendah. Asosiasi keduanya dengan sifat takdir dan pseudo sains akan mudah memasuki benak, hati, dan terutama ego manusia yang kelelahan dengan dunia. Dunia yang sulit digenggam, kemapanan finansial yang tak kunjung ada, serta ketumpulan dalam belajar, merumuskan masalah, dan beraksi, akhirnya membutuhkan kambing hitam : kebebasan individu dan dunia modern. Berhala-berhala kembali dihadirkan dalam bentuk sekelompok orang dengan mempromosikan ketakutan, kekhawatiran akan nafkah dunia dan dunia pasca kematian, dan tebang pilih fakta. Manusia digiring, digembalakan seperti ternak, menuju tempat yang mereka mau. Di dunia nyata maupun alam pikiran. Sembarang premis dimasukkan ke kepala banyak manusia sebagai “kebenaran”, dibumbui dengan larangan untuk kritik seolah datang dari Tuhan. 

Di atas, para tokoh agama, fasis, dan pemodal terus berinovasi, berpikir, membaca, berfilsafat, dan berkesenian. Mencoba jadi yang terunggul sebagai gembala, bahkan peternak. Untuk mendapatkan sebanyak mungkin gembalaan. Cuci otak, iklan, propaganda, kampanye, tentunya tinggal beradu efektivitas untuk menggaet ternak. Serupa tapi tidak sama dengan Eropa abad pertengahan, Arab Wahabbi, Afganistan jaman Taliban, Iran jaman Khomeini, Jepang era Hirohito, dan negara-negara Magribi pasca Arab Spring. Jadi kurang tepat rasanya jika Post-Truth kita sebut sebagai jaman baru. Lebih tepat disebut sebagai kebodohan manusia secara massal yang berulang.

Selamat berjuang, kawan-kawan. Sulit sekali, bahkan peluang kita untuk selamat sangatlah kecil. Namun seperti yang kita percaya, setiap manusia itu harus menjadi super, di kondisi masyarakat seperti apapun.

Salam super.

Credit gambar kepada kreatornya.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Budaya, Pemikiran, Politik, Sejarah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s