(Utamanya) Catatan Untuk Diri Sendiri

“Post-truth politics is a political culture in which debate is framed largely by appeals to emotion, disconnected from the details of policy, and by the repeated assertion of talking points to which factual rebuttals are ignored. Post-truth differs from traditional contesting and falsifying of truth by rendering it of “secondary” importance.”

Nanti, ketika cucu kita mempelajari kultur generasi kita. Mereka akan menemukan kakeknya berasal dari generasi yang berjarak dengan metode pencarian kebenaran, memilih dengan emosional, dan berjarak dengan logika dalam hal-hal yang duniawi. Generasi yang dikuasai keinginan untuk bersuara, tapi memiliki kemauan literasi yang memprihatinkan. Generasi yang tidak mengenal falsifikasi sederhana, generasi yang berjarak dengan statistik dan pembacaannya. Generasi buta dan tuli tentang sastra, filsafat, dan seni, tapi begitu cerewet untuk segala hal. Generasi yang tidak bisa membedakan cinta dengan perzinahan, ekonomi bebas dengan perdagangan adil, pesta dengan kemabukan, tokoh agama dengan agama, sains dan teori konspirasi, dan terutama, dunia dan alam pasca-kematian. Generasi yang begitu positivistik untuk hal-hal mistik tapi begitu mistik untuk hal-hal tangible. Generasi yang saking parahnya bahkan tidak bisa merumuskan masalah-masalah sosialnya sendiri, sehingga hanya berdoa tanpa henti akan kedatangan seorang messiah yang akan membawa mereka keluar dari kesulitan.

Mereka akan menemukan bahwa generasi kakeknya mudah digerakkan oleh berita-berita palsu, iming-iming surga, tokoh-tokoh politik dan agama yang tidak berkualitas, demi kepentingan-kepentingan para politisi. Mereka nanti akan geleng-geleng kepala melihat bagaimana Donald Trump dan Rodrigo Duterte bisa terpilih jadi presiden, Britania Raya keluar dari Uni Eropa, dan Basuki Tjahaja Purnama tersangkut isu penistaan agama. Mereka akan terkekeh geli, atau bahkan mengelus dada begitu mengetahui sempat ada orang-orang yang begitu mudah tertipu televisi, surat kabar, atau bahkan lebih parah lagi, sebuah entri antah berantah yang tersebar di internet. Mereka akan mengenang Facebook, Twitter, dan Youtube sebagai museum kelicikan, manipulasi, dan aksi politik kotor, sekaligus sebagai gudang arsip hipokrisi, kedunguan, sekaligus pemujaan yang membabi buta.

Sudah terlambat kini untuk kita. Kegagalan ini sudah sampai di puncak yang baru. Tapi, masih ada harapan untuk cucumu : sembunyikan dirimu sendiri dari semua kedegilan ini.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Budaya, Pemikiran, Politik, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s