Agama Anak Komplek

Doel dan Mandra berdiri di depan pagar rumah besar itu. Doel menekan tombol interkom, berbicara dengan penjaga rumah. Mandra terheran-heran, melihat telepon yang begitu kecil. Sejurus kemudian, pagar besar itu terbuka secara otomatis. Mandra terkaget, melompat dan ngibrit ke belakang punggung Doel. “Doel, ada setannya kali Doel..”, serunya ketakutan. Lalu saat mereka akhirnya masuk, mereka disambut Roy, eksekutif muda penggemar berat Sarah, pacar Doel. Sambil berkacak pinggang, si plontos itu berkata : “Ini dia orang-orang primitif. Ngeliat pager kebuka sendiri aja heran. Melek bung, ini zaman modern”. Masterpiece.

Dikotomi primitif (tradisional, kampungan, konservatif) dan modern memang salah satu ide brilian dari serial Si Doel Anak Sekolahan. Rano Karno sang sutradara sengaja mempertajam konflik horizontal tersebut. Doel, yang lahir dan tinggal di lingkungan dan keluarga yang masih memegang teguh adat Betawi, hidup di kampung (gusuran), Islam tradisional, mistisme, narik oplet, dan miskin. “Melawan” Sarah, Hans, Roy yang sudah pandai berbahasa Inggris, anak kompleks perumahan, mempunyai telepon genggam, bergaya kebarat-baratan, tidak terlalu terikat agama dan adat, dan kaya. Rano mencuplik konflik yang sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun sebelumnya di Indonesia itu dengan sangat brilian.

Modernitas datang ke Indonesia nyaris dengan sekonyong-konyong. Gemericiknya dimulai dari para priyayi muda yang menikmati tetes-tetes ampas pendidikan barat lewat politik etis. Segelintir dari segelintir priyayi muda itu lalu mulai menjadi modern. Mereka menyukai sains, mereka mengagungkan pemikiran manusia, mereka mengerti bahwa hidup itu sebab-akibat dan transaksional, mereka mengerti bahwa mencari kebenaran (yang paling benar), adalah kewajiban dalam hidup manusia. Namun pasca 1969, baru modernitas bisa berangsur masuk dengan cukup masif ke sendi-sendi kehidupan kebanyakan masyarakat Indonesia. Kiblat kini tegap berdiri di barat, kepada para pemenang Perang Dunia II.

Sejarah mencatat, tak banyak waktu bagi Indonesia untuk menemukan akar modernitasnya sendiri. Indonesia yang begitu kaya ini belum banyak berpikir untuk merumuskan sejarahnya, budayanya, pemikiran-pemikiran uniknya. Alhasil, modernitas yang masuk adalah modernitas imitasi dari barat. Mana yang dipakai barat, kita harus pakai. Tak usah banyak pikir tentang cocok atau tidak, Amerika negara maju, pasti produknya sudah berkualitas tinggi. Tak hanya material, cara berpikir pun plek-tuplek mencomot the rejection of tradition; the prioritization of individualism, freedom and formal equality; faith in inevitable social, scientific and technological progress and human perfectibility; rationalization and professionalization; a movement from feudalism (or agrarianism) toward capitalism and the market economy; industrialization, urbanization and secularization; the development of the nation-state and its constituent institutions (e.g. representative democracy, public education, modern bureaucracy) and forms of surveillance (menurut Wikipedia).

 Di sisi lain, ada sebuah produk “primitif” yang masih bisa bertahan di era modern Indonesia, yaitu agama. Menarik juga, mengingat modernitas hadir untuk “membasmi” kebodohan dan pembodohan, kekuasaan korup, dan segala macam efek negatif agama (yang berkelindan dengan nafsu berkuasa) pada masa Medieval. Agama akhirnya kembali hanyut pada arus, kali ini pada arus modernitas, untuk bisa bertahan. Pada masa modernitas berkembang di era Soeharto, ia memiliki love and hate relationship yang aneh dengan agama. Soeharto, sebagai mana diktator pada umumnya, takut jika agama akan jadi gangguan pada kekuasaannya. Ia akhirnya mengambil ilham (entah sengaja atau tidak), dari strategi Snouck Hurgronje di Aceh yang dibangun ulang dengan kerangka modernisme. Agama diperalat sedemikian rupa agar tetap memberlakukan sifat elitis dan feodal, namun juga ditambahkan pola pikir plek-tuplek modern diatas, yang menyukai hal-hal praktis, transaksional, metodis, saintifik, bersandar pada sebab-akibat, dan berdikotomi benar-salah. Penggiringan pola pikir tersebut berakhir sama seperti masa Medieval, agama hanya menjadi alat pelanggeng kekuasaan, termasuk kekuasaan para tokoh dan otoritas-otoritas agama.

Pola pemahaman agama serupa dengan pemahaman fisika, matematika, ataupun statistik. Jika hendak mencapai surga, pahala kita>dosa. Dosa > pahala = neraka. Amalan tertentu = 27(pahala), sehingga akan memudahkan surplus kita. Dosa akan dibayar tuntas sampai Break Even Point, baik di dunia maupun di alam setelah kematian. ((Tx33)x(menyebut nama Tuhan)) + Y rupiah bersedekah = 3 kali rezeki. Atau kepercayaan >50% penghuni neraka adalah perempuan, karena perempuan = pemicu dosa. Begitu pula dalam menentukan sebuah perbuatan itu berpahala atau tidak, haruslah ada sebuah sumber pustaka dan sumber informasi yang memiliki kualitas saintifik tertentu, tafsir kitab dari penafsir tertentu, atau pendapat para “ilmuwan” agama. Dan ujungnya terdapat banyak aliran pemikiran dengan pertentangan benar-salah yang rigid atas suatu amalan. Ketika ada kubu dengan definisi benar dan salah yang berbeda, ditambah karakteristik kelompok beragama di Indonesia yang ironisnya masih feodal dan elitis, tentunya akan terjadi perbenturan yang hebat. Coba bayangkan, seorang pemuka agama memiliki pandangan yang saintifik, yang tentunya akan dia pegang teguh. Lalu dengan kekuasaan feodalnya, ia menanamkan kepada massa pendukungnya, bahwa itulah yang betul. Yang lain salah. Massa pendukung tentunya akan tertutup dari pemikirannya sendiri, yang mana menyalahi “aturan” modernisme sendiri.

Modernisme, sebagaimana zaman Medieval, memang menakutkan. Ketika zaman Medieval hak-hak individu dikekang, pada zaman modern justru individu dikekang dari identitasnya. Individu dipaksa melihat dalam kacamata yang seragam, dipaksa hidup dalam praktisitas (akibat ketergesa-gesaan), dan dalam jarak dengan intangible things seperti cinta, kasih, sayang, maaf, dan ketulusan. Padahal Tuhan sudah menjelaskan dalam berpuluh kitabnya bahwa Dia tidak bisa dihitung.

“Wahai Tuhanku, Bilamana daku menyembah-Mu karena takut neraka, jadikanlah neraka kediamanku. Dan bilamana daku menyembah-Mu karena gairah nikmat di surga, maka tutuplah pintu surga selamanya bagiku

Tetapi apabila daku menyembah-Mu demi Dikau semata, maka jangan larang daku menatap keindahan-Mu yang abadi.”

-Rabi’ah al-‘Adawiyyah-

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Budaya, Pemikiran and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s