Revolusi Mental?.

Mungkin perlu ada disclaimer sebelumnya : tulisan ini adalah pemikiran yang utopis dalam konteks Indonesia kita sekarang. Tak perlu dipikirkan serius penerapannya. Tapi tolong tetap diambil hati.

Era Presiden Jokowi, Indonesia pelan-pelan bertransformasi secara kultur manajemen negara. Jokowi dan orang-orang kepercayaannya, mengelola negara seperti mengelola perusahaan. Maunya selalu cepat, efisien secara waktu dan biaya, serta bisa tanpa ampun menggeser menteri (profesional) yang dianggap tidak menunjukkan performa baik. 

Tak heran, cepat sekali proyek-proyek pembangunan infrastruktur dijalankan. Jalan-jalan tol, pembangkit listrik, bandara, pelabuhan, pelabuhan kering, jalur kereta api, termasuk renegosiasi kontrak dengan perusahaan-perusahaan asing “penambang” energi dan sumber daya alam Indonesia. Industri-industri penyokong seperti semen, baja, beton, precast, telekomunikasi, dan konstruksi tak ayal ikut ngebut bersama pengusaha mebel asal Surakarta tersebut.

Tujuannya terlihat jelas. Infrastruktur yang baik akan menurunkan biaya distribusi barang dan jasa. Sehingga harga produk akhir dapat ditekan. Harga produk akhir sangatlah krusial bagi Indonesia, yang ekonominya bertumpu pada konsumsi domestik. Daya beli bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Kesejahteraan meningkat. Angka PDB meningkat, pertumbuhan ekonomi maju baik namun bukan secara cost-push, melainkan karena permintaan yang meningkat.

Namun ada hal besar yang merisaukan saya. Jokowi dan orang-orangnya bukanlah negarawan sekaliber Gus Dur. Jokowi terlihat tidak banyak memahami hal-hal yang bersifat non-tangible seperti ideologi, filsafat, dan kebudayaan. Jokowi sepertinya tidak banyak ambil pusing dengan kasus 1965, kasus Tanjung Priuk, Munir, penghilangan paksa aktivis di 1996-1998, kasus kekerasan beragama dan rasial. Penggusuran dan pengorbanan lain untuk pembangunan dilakukan dengan pendekatan yang positivistik (“korbankan satu demi yang banyak”).

Satu yang terpenting namun luput dari Jokowi (dan tentunya juga dari presiden-presiden sebelumnya), adalah pembangunan mental manusia Indonesia. Revolusi Mental yang ditahbiskan sebagai jargon utama ternyata hanya mencakup efisiensi kerja, disiplin kerja, anti korupsi, dan tidak boros. Revolusi Mental nampaknya hanya dikhususkan kepada para pekerja, khususnya pekerja pemerintahan, dan para calon pekerja dan calon enterpreneur.

Tidak ada gebrakan berarti dari Jokowi dan menteri-menteri pendidikannya dalam perumusan satu kurikulum pendidikan yang komprehensif. Yang mempersiapkan anak-anak Indonesia menjadi lebih dari sekedar enterpreneur, apalagi dari sekedar pekerja yang baik. Yang mempersiapkan manusia Indonesia yang sadar, yang pemikir, yang kritis, yang siap menjadi pemimpin, yang berkeprimanusiaan. 

Pendidikan kewirausahaan, pendidikan untuk lulusan siap kerja, menjadi idola baru. Anak-anak dan para pemuda-pemudi kini mengidolakan Bob Sadino, Teddy Rachmat, Michael Hartono, bahkan Steve Jobs dan Jack Ma. Padahal ada sosok-sosok seperti Chairil Anwar, Emha Ainun Nadjib, Gus Dur, Prof.Sartono sampai Albert Camus, yang cocok menjadi “idola” di tengah masyarakat kita yang sangat majemuk secara horizontal ini. Kita semakin jauh dari sastra, dari politik, dari filsafat, dari sejarah dan budaya, baik di sekolah, maupun di kehidupan sehari-hari.

Akankah Revolusi Mental menggiring kita menjadi bangsa dengan pertumbuhan ekonomi double-digit tapi tidak mengetahui bahwa ada yang lain pada manusia selain hitung-menghitung untung-rugi?.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s