Angka dan Kebahagiaan

Apakah anda sudah berbahagia hari ini?. Nikmat apa yang anda dapatkan hari ini?. Dua pertanyaan yang jamak dikumandangkan para motivator, profesional maupun amatir, untuk mengingatkan kita, orang-orang urban yang terhimpit kehidupan, untuk senantiasa berpikir positif demi kesehatan mental dan moral masing-masing. Kita dengan giat menyuruh diri menggali-gali dan menggeser-geser definisi kebahagiaan, hikmah, dan nikmat. 

Pagi tadi saya membaca sebuah artikel dari laman Prospect Magazine, sebuah majalah di Inggris, yang berjudul Against Happiness : Why We Need a Philosophy of Failure. Artikel ini membongkar lagi mitos-mitos tentang kebahagiaan manusia. Kebahagiaan, dan juga ketidakbahagiaan manusia, ternyata tidak lepas dari struktur nilai dan moral tertentu, dan mengajak kita memahami lagi ketidakbahagiaan, dan apakah kita layak dengan ketidakbahagiaan tersebut. Salah satu contoh yang dijabarkan di artikel tersebut adalah dikotomi bahwa Hawaii adalah tempat dimana seorang Inggris seharusnya berbahagia, tidak seperti di Inggris, dimana layaklah seseorang merasa merana. Padahal jika ditelaah secara objektif, apa yang terjadi di Hawaii tentunya terjadi pula di Inggris dalam manifestasi yang lain. Demikian pula sebaiknya.

Di penghujung hari, saya mendapatkan lagi peristiwa yang membuat saya makin setuju dengan artikel tersebut. Seminggu sekali, kami para marketing harus duduk di depan sebuah pengadilan bernama meeting pipeline, dimana rencana kerja kami, proyek-proyek pemasaran yang kami jalankan, akan dikontrol kemajuannya oleh direktur marketing. Dimana biasanya banyak dari kami yang terkena keramas dari ibu direktur.

Di meeting sore tadi, kami menyampaikan semua yang kami kerjakan. Beberapa proyek, beberapa proposal proyek. Beberapa berhasil, beberapa gagal, dan beberapa masih menggantung. Secara kualitatif aman, namun kami pun tiba pada pertanyaan pamungkas ibu direktur : “berapa yang kami bisa dapat di akhir tahun?. Apa bisa penuhi target kita?”. Jika angka yang kami prognosakan mencapai target, ibu direktur pun akan tersenyum manis dan mengacungkan jempol. Namun jika tidak sampai, jangan harap bisa keluar ruangan dengan hati tenang.

Dari meeting tersebut,dan kontemplasi secara tenang dan bijak, terlihat bahwa salah satu ukuran kebahagiaan manusia, dan setelah dipikir-pikir lagi dan lagi merupakan yang utama, adalah angka. Angka secara kultural didesain sebagai simbol kuantitas objek dan subjek. Angka akan mempermudah ilustrasi penambahan, pengurangan, multiplikasi, dan distribusi objek dan subjek dalam kehidupan manusia.

Tapi sekarang, di dunia saintifik, angka menjerat manusia. Angka menjadi ukuran yang tidak melulu aplikatif, namun tetap dijadikan standar yang mengikat secara psikologis, yang mana berujung menjadi ukuran seorang manusia layak merasa bahagia atau tidak. 

Bayi yang sehat adalah yang berat badannya mencapai dua kali lipat berat lahir saat berusia delapan bulan dan jika tidak, orang tua akan sangat tertekan saat masuk ke Posyandu atau ruangan dokter anak. Syarat masuk sekolah dasar adalah bisa menjumlahkan dan mengurangi satu digit angka, sehingga seorang anak TK harus dikurangi jam main dan jam tidurnya untuk mempelajari (menghapal). Anak sekolah yang baik adalah anak yang tidak ada angka lima di rapor semesterannya, yang tidak akan membuat orang tuanya malu karena dipanggil oleh guru di saat kelas sudah kosong. Anak yang berhak mengenyam pendidikan tinggi adalah anak yang peringkat seratus besar dalam ujian masuk (dan keluarganya mampu membayar jutaan rupiah untuk uang pangkal). Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang memiliki Nilai Indeks Prestasi Kumulatif tidak kurang dari 2.75. Dibawah itu, apalagi nilai satu koma sekian (NaSaKom), adalah mahasiswa yang harus lebih mengorbankan waktu bermasyarakatnya untuk belajar (menghapal). Aktivis masyarakat yang berhasil adalah yang memiliki portofolio wawancara dengan beberapa media dan memiliki jumlah follower yang signifikan.

Ketika lulus dan bekerja, tingkat inflasi menekan untuk mencari pekerjaan yang upahnya minimal mampu membeli satu bungkus nasi dan satu buah lauk dua-tiga kali setiap harinya. Mampu membeli tiket untuk ke Labuan Bajo, Sempu, Raja Ampat. Juga untuk makan di Branche dan Sana-Sini. Tahun ketiga upahnya harus cukup untuk mempersunting (dan kemudian menghidupi) cintanya. Tahun kelima, harus cukup untuk membahagiakan orang tua (umroh, wisata, dll). Kemudian melahirkan dan mengurus anak, dan kemudian si anak akan mengulangi siklus dari awal.

Kesedihan kita adalah ketika tidak dapat memenuhi standar angka-angka tersebut. Kebahagiaan kita adalah ketika mencapai angka-angka tersebut. 

Tapi manusia adalah manusia, yang seharusnya mampu berdiri sendiri dalam hal pemikiran. Manusia seharusnya mampu merumuskan dengan penuh kesadaran apa yang ok dan not ok untuk dirinya sendiri. Manusia seharusnya bisa mengkaji kembali kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu. Apa betul manusia sedemikian seragamnya sampai harus memakai standar bilangan untuk berbahagia?. Apa betul digit yang tak cukup adalah penentu kesedihan kita?.

Apakah seharusnya kita semua, bisa melepas semua angka itu, memilahnya, dan baru mengenakannya kembali setelah semuanya dirasa cocok dengan diri kita?. 

Mari mencoba!.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Budaya, Pemikiran and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s