Suapan, Dari Sudut Pandang Inside Out

Sudah beberapa minggu terakhir Fizha selalu minta saya suapi untuk makan malamnya. Dia menahan lapar menunggu saya sampai, hanya untuk makan dari tangan saya. Fizha sebenarnya tidak pernah bermasalah dengan makan sendiri, karena sejak usia enam bulan, dia sudah kami latih makan sendiri. Maminya bilang bahwa Fizha kangen, dan selalu kangen tiap harinya untuk disuapi.

Namun bukan parenting namanya jika semua berjalan mulus. Karena saya selalu ditunggu, saya tadinya merasa akan punya otoritas penuh, atau paling tidak posisi tawar yang kuat, dalam kegiatan makan Fizha, terutama dalam pemilihan menu. Fizha tidak suka dengan tahu dan tempe, dan kebetulan malam ini ada tempe goreng yang menemani ayam goreng kesukaan Fizha. Saya pun masukkan secuil ke dalam paket satu suap nasi-ayam-kremes favoritnya. Sip. Semua masuk. Tapi beberapa detik kemudian, ia melepeh sebagian besar, lalu protes : “Papii, Fizha gak suka tempenya..”.

Saya termasuk yang percaya bahwa balita adalah sampel yang paling tepat untuk mengamati sifat-sifat manusia yang murni, yang belum terpengaruh nilai-nilai, moral-moral dan dogma-dogma. Dalam kasus Fizha, dan saya yakin dalam kebanyakan kasus balita lain, manusia adalah mahluk yang sering suka disuapi, namun tetap memiliki otoritas atas dirinya untuk menentukan apa yang akan ia ijinkan masuk. Mengambil teori dari film Inside Out, ada Disgust dan Fear dalam proses penyuapan, yang membentengi tubuh dan psikologisnya dari ketidaknyamanan, yang akan mengusik Joy, dan akan mengaktifkan Sadness dan/atau Anger.

Namun tentunya berbeda dengan para manusia dewasa. Manusia dewasa adalah manusia yang sudah tercemar beragam nilai, moral dan dogma. Nilai, moral dan dogma ternyata bisa mempengaruhi Disgust dan Fear dalam kepala. Ada manusia dewasa yang disuapi oleh pemuka agamanya bahwa ada darah yang halal untuk ditumpahkan. Kekaguman dan kepercayaan kepada pemberi pesan, dan juga pesan itu sendiri, membuat Disgust dan Fear dalam kepalanya melemah, ia menerima suapan itu tanpa perlawanan, membiarkannya masuk bulat-bulat. Di banyak kasus, bahkan sampai menyalakan si Anger.

Ada juga pola lain, dimana suapan yang diterima, juga ditelan bulat-bulat. Silahkan tanya pada para narapidana kasus suap. Suapan itu menyentuh langsung pada Joy, sehingga memaksanya mematikan Disgust, Fear, Sadness, bahkan Anger dalam kepalanya. Ketika namanya sudah masuk media, barulah Disgust, Fear, Sadness, dan Anger-nya aktif kembali, mengiba mengusahakan pengampunan.

Setiap agama dan kebudayaan memiliki kisah kepahlawanan sendiri-sendiri tentang manusia yang memiliki otoritas penuh atas dirinya di tengah nilai-nilai yang berlaku umum. Kisah Kumbakarna yang selalu timbul tenggelam di antara hal-hal ksatria dan dosa, Siddartha Gautama yang keluar dari nyamannya istana demi menemukan siapa dirinya, Abraham yang bersusah payah mencari sendiri sembahannya, Isa yang tak gentar berdakwah walaupun tahu akan terbunuh, Muhammad yang tetap bersikap welas asih pada orang-orang yang mencacinya, Galileo yang kekeuh bumi itu bulat meskipun ditentang gereja, Ernesto yang meninggalkan sertifikat dokter untuk mati di tengah hutan, dan Tan Malaka yang tak pernah membayangkan bahwa Madilog masih sangat jauh untuk dipahami rakyat Indonesia di 2016.

Orang-orang tersebut membentengi diri dengan Disgust dan Fear. Untuk menyaring suapan mana yang akan mereka ijinkan masuk untuk mengaktifkan Sadness, Anger, dan (jika ada), Joy mereka. Orang-orang ini adalah orang-orang seperti Fizha, yang akan membuka mulutnya, namun mengeluarkan apa yang mereka tidak mau, dan menelan apa yang mereka mau.

Tetaplah seperti itu, Fizha.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Agama, Budaya, Film, Keluarga and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s