Aku Sayang Sekali Doraemon

Sejak kecil sampai kelas 1 SMA, setiap Minggu pagi pukul 08.00, saya selalu memaksakan diri untuk menonton serial kartun Doraemon di RCTI. Fujiko F.Fujio (dan kolaborator serta penerusnya) selalu membuat imajinasi saya menggila. Alat-alat ajaib seperti Pintu Ke Mana Saja, Baling-Baling Bambu, Mesin Waktu, Konyaku Penerjemah, Senter Pembesar/Pengecil, Set Pemadat Awan, dan lain-lain, tak ayal membuat saya berkhayal, apakah bisa alat-alat tersebut terwujud di dunia nyata.

Namun ada satu elemen lain di Doraemon yang juga sempat sangat serius saya khayalkan, yaitu sekolah tanpa seragam. Nobita bersekolah dengan polo shirt kuning dan celana pendek biru, Giant dengan sweater kuning dan celana biru dongker, dan Shizuka dengan terusan warna pink. Semua itu terlihat sangat berwarna dibandingkan seragam saya yang hanya putih-merah, yang divariasi seragam pramuka di hari Sabtu. 

Setelah besar, saya kok menangkap Doraemon memang mengkampanyekan sikap anti-keseragaman yang besar. Bukan hanya di soal baju sekolah, tetapi juga pada soal moralitas, kekerasan, kekakuan sistem pendidikan dan juga kekakuan sikap orangtua pada anak. Tak terhitung banyaknya Doraemon mengabulkan keinginan Nobita untuk lepas dari guru dan ibunya yang super galak, atau membalas bully dari Giant dan Suneo. Nobita, yang malas dan dianggap bodoh di sekolah, berubah menjadi super hero di setiap petualangannya bersama Doraemon. Ia menerjang resiko besar demi menyelamatkan dan merelokasi Hoi dan seluruh penduduk Desa Liliput yang tempat tinggalnya dimusnahkan oleh pembalak liar, menyelamatkan Pisuke, Moa dan Dodo dari kepunahan, dan menyemangati Sinbad tua yang kehilangan gairah. 

Keseragaman, baik itu dalam nilai, moral, dan budaya, berpotensi mematikan potensi seseorang. Bayangkan jika Nobita tanpa Doraemon, ia hanya akan mengulang siklus hariannya : bangun kesiangan, dihukum karena tidak mengerjakan PR, ikut ulangan, dapat nilai 0, pulang ke rumah, dimarahi ibunya dan dianggap bodoh, main ke lapangan, dibully oleh Giant dan Suneo hingga bajunya kotor atau compang-camping, pulang ke rumah, dimarahi lagi oleh ibunya karena bajunya kotor, dilarang makan malam, lalu tidur sambil menangis, dan bangun keesokan harinya untuk mengulang itu semua.

Tapi Doraemon dengan baik hati membukakan dunia-dunia baru untuk Nobita, dunia dengan standar moral dan nilai yang berbeda, meskipun tetap tidak ideal, dimana Nobita ternyata bisa menjadi sosok yang lain dengan yang ia perankan di dunianya. Yang tidak akan bisa ia temukan dalam represi di rumah, sekolah, dan lapangan bermain di Tokyo.

Kita tinggal di dunia yang sama dengan Nobita. Dunia yang mencoba membuat satu nilai universal untuk setiap manusia di penjurunya. Dunia dimana standardisasi ISO adalah mutlak, dunia dimana pakaian tradisional Arab Saudi dipakai harian di tempat yang ribuan kilometer jauhnya, dunia dimana setiap radio merasa wajib memutar Rihanna.

Jika kita mendengar hasil koleksi Alan Lomax, kita dapat mensimulasikan bagaimana tak sampai satu abad lalu, manusia masih bisa hidup dengan cara yang berbeda. Orang Negro Amerika menyanyikan not blue, para pendatang Perancis di Lousiana dan New Orleans membunyikan musik Cajun, di saat yang sama, Lampin masih jadi pengiring tidur anak di Riau, Ronggeng masih menjadi primadona, dan Wayang Orang masih dipentaskan untuk selamatan. Dimana semua itu ada secara “alamiah”, bukan ada sebagai sesuatu yang eksotis, sesuatu yang dikonservasi, apalagi jika semua itu dilakukan untuk tujuan pariwisata.

Tapi saya pun bukan seorang konservatif yang anti pada perubahan dan pergeseran nilai dan produk-produk budaya yang masuk. Budaya yang baru belum tentu lebih buruk daripada budaya yang lama. Yang saya takutkan adalah ketika kita melakukan proses karsa, cipta dan karya dengan pengaruh dan pengetahuan dan nilai-nilai yang seragam, dengan kualitas yang seadanya. Kondisi seperti itu tentunya berpeluang besar menghasilkan produk budaya yang seragam, yang akhirnya menciptakan banalitas.

Doraemon, tentunya tidak ingin Nobita menjadi orang yang hidup pada dunia yang tidak menguntungkan baginya. Ia pun mengajak Nobita untuk belajar, melihat dunia lain selain Tokyo, dunia yang menguntungkan untuk Nobita untuk berkembang. Dunia yang tidak mengagungkan keseragaman.

Take me with you, Doraemon.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Budaya and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s