Panduan Abal-Abal Menuju Pilgub DKI : Cerita 3A

Tak lama lagi, Daerah Khusus Ibukota Jakarta akan ramai dengan satu tema : pemilihan gubernur. Tak terasa sudah hampir lima tahun Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terpilih mengalahkan petahana Fauzi Bowo. Pemilihan gubernur 2012 tersebut menandai munculnya karakter-karakter baru bagi proses demokrasi di Indonesia. Tingkat partisipasi meningkat. Ditambah dengan mulainya era politik sosial media, dimana proses interaksi pikiran dan pilihan, ramai diperbincangkan. Para calon, politisi partai pendukung, dan (yang baru), para buzzer politik, meramaikan kolam Twitter, Blog, portal jurnalisme warga, dan Facebook.

Pemilihan politik di Jakarta, dengan segala macam fakta konstituennya : tingkat penghasilan, tingkat pendidikan, agama, suku, dan ras, banyak disebut (secara serampangan) mewakili peta politik level nasional. Indonesia yang Jakarta-sentris tentunya tidak bisa membantah anggapan itu. Apa yang terjadi di Jakarta, salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto Indonesia, pasti akan tersiar dan membias di daerah.

Pemilihan gubernur kali ini dianggap jauh lebih seru. Ada tiga karakter berbeda dari tiga pasangan calon yang mendaftar di Komisi Pemilihan Umum minggu lalu. Calon pertama adalah petahana, Ahok dan Djarot Saiful Hidayat. Ahok adalah orang yang memiliki kemampuan teknis yang lebih dari cukup untuk membenahi, bahkan membangun Jakarta sebagai sebuah kota raksasa. Ahok cerdas, taktis, berani, dan tak banyak bertele-tele. Namun minus dalam hal komunikasi massal dan interpersonal, juga pemahaman filsafat, budaya dan sosiologis. Ia mengelola Jakarta bagai mengelola sebuah perusahaan. Banyak deal resiprokal, manajemen sumber daya manusia yang ketat, dan sikap sangat dingin dalam menyingkirkan lawan. Djarot mungkin memiliki karakter lebih mirip Joko Widodo, tidak setaktis dan seefektif Ahok namun bisa menjadi penyeimbang dalam hal komunikasi publik, andaikata tidak terlalu terikat pada PDI Perjuangan. 
Pasangan kedua yang mendaftar adalah Mayor Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana. Mayor Agus, yang sebentar lagi akan mengambil pensiun dini dari Angkatan Darat, adalah sosok prajurit yang sangat akademis. Menyelesaikan pendidikan di beberapa lembaga prestisius dalam dan luar negeri. Sama seperti perjalanan karir ayahnya, Jenderal (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono, yang dikenal sebagai tentara di balik meja yang mumpuni. Kemunculan Agus yang tiba-tiba di kancah politik banyak membuat buyar prediksi para pengamat. Namun sebetulnya Agus pun sangat predictable, langkah-langkah yang ia akan ambil tidak akan jauh dari supervisi Yudhoyono. Sepuluh tahun Indonesia mengenal gaya kepemimpinan Yudhoyono yang mengedepankan kepercayaan kepada lingkar dalam dan manajemen risiko yang berlebihan serta pencitraan pembawaan yang elegan dan ningrat. Saya percaya Agus akan menjadi versi muda dari itu. Namun Agus akan sangat terbantu untuk menganalisis Jakarta lewat Sylvia, salah satu deputi Gubernur DKI Jakarta. Sylvia bisa jadi sangat tahu Jakarta, dan bisa jadi pula meniru apa yang baik dari Joko Widodo dan Ahok.

Pasangan injury time pun tak kalah mengejutkan. Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Uno. Mendaftar di jam-jam terakhir akibat lobi politik yang intens antara Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera, pasangan gado-gado ini nyata dipilih karena faktor pasar. Sandiaga Uno, salah seorang pebisnis tangguh Indonesia, dengan ketampanan dan kemapanannya, rupanya masih belum bisa masuk ke pasar pemilih Jakarta. Maka dipilihlah Anies, seorang sosok akademis yang filosofis dan naif, namun dikagumi karena senyumnya yang tulus serta perangainya yang santun, dan juga sumbangsihnya yang cukup baik di bidang pendidikan, agama, sosial, dan budaya. Ditambah dengan militansi kader Gerindra dan PKS yang terkenal itu, pasti akan menguntungkan untuk Anies dan Sandiaga.

Tiga opsi ini menawarkan kekuatan yang segar, namun juga kelemahan yang bervariasi. Ahok, seperti diutarakan di awal, memiliki kemampuan komunikasi yang buruk. Citra temperamentalnya bagi beberapa pihak tentunya bisa menghalangi objektivitas atas kinerja pemerintahannya. Belum lagi kecenderungannya untuk dekat dengan beberapa grup usaha, meskipun belum tentu terjadi sesuatu yang tidak baik, bisa menimbulkan persepsi yang kurang baik. “Hubungan baik” PDI-P dengan Golkar sebagai pendukung utama pasangan ini pun kelihatannya masih rapuh. Bukan rahasia bahwa kunci hubungan PDI-P dan Golkar hanya ada di Jokowi.

Pencalonan Agus Yudhoyono, plus konferensi pers penuh air mata saat menyatakan akan mengundurkan diri dari militer, makin menyimbolkan Agus sebagai “anak ayah” yang meneruskan bisnis keluarga. Agus tentunya memiliki lebih sedikit pengalaman politik dibandingkan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), adiknya, yang sudah satu dasawarsa nyemplung di dunia politik. Kombinasi politik praktis dan target pembangunan fisik bisa jadi akan cukup mengagetkan untuk Agus, yang baru cakap berbicara di bidang geopolitik internasional. Popularitas Yudhoyono dan Partai Demokrat yang makin jauh dari sorot lampu utama pasti tidak akan menjadi bantuan yang berarti bagi elektabilitas Agus.

Terakhir, tersingkirnya Anies dari Kabinet Kerja adalah bukti bahwa menurut standar Jokowi, Anies tidak cukup gesit dalam mengejar target. Ini adalah nilai minus Anies dibandingkan Ahok. Anies secara pribadi mungkin juga tidak memiliki kemampuan tawar menawar politik dengan legislatif kelak, tapi sejauh ini masih aman karena Gerindra dan PKS memiliki porsi cukup besar di DPRD DKI Jakarta. Anies harus lebih lihai lagi berpolitik, karena ia bukan kader Gerindra maupun PKS, dan terbuka kemungkinan konflik internal koalisi, mengingat rekam preferensi pemikiran Anies nampaknya menunjukkan perbedaan dengan kedua partai tersebut. Dari eksternal, dikhawatirkan dukungan dari kader-kader militan PKS akan terpecah, mengingat Anies lebih dekat dengan pemikiran-pemikiran Islam Liberal, yang mana adalah musuh ideologis utama kader-kader militan PKS.

Kira-kira begitu. Selamat memilih!.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Jakarta, Politik, Tokoh and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s