Cak Munir dan Mas Boby

Kata orang, Indonesia sekarang adalah bangsa yang pengecut. Kalah sama asing, dan aseng. Tidak punya wibawa di mata dunia. Tidak ada sosok berani seperti Erdogan, Putin, atau Duterte. Anak-anak mudanya senang berhura-hura, tidak paham hal-hal kemasyarakatan. Semua kebarat-baratan. Katanya begitu.

Sudah empat hari belakangan, pikiran saya tersita oleh dua nama. Dua orang ini adalah dua orang yang akan membantah teori abal-abal paragraf satu itu. Mereka sama-sama berani dan mempunyai perhatian lebih kepada masyarakat, dan samasekali tidak kebarat-baratan.

Yang pertama adalah Munir Said Thalib. Akrab disapa Cak Munir. Beliau adalah (bagi yang belum tahu saja), aktivis HAM terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Yang bisa menandingi kontribusi beliau terhadap masalah HAM di Indonesia mungkin hanya Yap Thiam Hien dan Adnan Buyung Nasution. 

Pemikiran Munir berkembang dengan cukup unik. Saat menempuh pendidikan tinggi di Universitas Brawijaya, ia terkenal sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pemikiran Munir konon pernah sangat “kanan jauh”. Namun begitu pemikirannya terbuka, ia berjalan seakan tanpa henti. Besar kecil lawannya, tidak ia pedulikan. Ia mulai dari membela Fernando de Araujo, yang ditahan karena dianggap memperjuangkan kemerdekaan Timor-Timur, Marsinah, warga Nipah, warga korban Tragedi Tanjung Priok, keluarga aktivis-aktivis yang dihilangkan paksa periode 1997-1998, keluarga korban Tragedi Semanggi. Ia juga mengadvokasi korban penindasan militer Indonesia di Aceh dan Papua.

Perjuangan Munir akhirnya terhenti saat ia tewas diracun Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda Indonesia dalam perjalanan menuju Amsterdam dari Jakarta tanggal 7 September 2004. Arsenik ditemukan dalam sistem darah jenazah Munir oleh Institut Forensik Belanda. Hari kematian Munir kemudian diperingati tiap tahun sebagai lamentasi gagalnya penegakan HAM di Indonesia.

Tokoh yang kedua adalah Boby Febrik Sedianto. Boby adalah mahasiswa Universitas Indonesia, sekaligus aktivis dari Gema Pembebasan, sebuah organisasi pengusung ide negara Islam yang berbasis Khilafah. 

Nama Boby mencuat setelah akun Facebook Gema Pembebasan Jakarta, mengunggah video orasi Boby tentang Pilkada Jakarta 2017. Boby dalam orasinya memaparkan bahwa Ahok (Basuka Tjahaja Purnama), gubernur incumbent, tidak layak dipilih karena merupakan seorang yang kafir dan lalim. Tanpa ragu Boby menyebut bahwa pada masa kepemimpinan Ahok, kejahatan dan kemiskinan melonjak, juga mencuat beberapa kontroversi seperti kasus RS Sumber Waras dan reklamasi pesisir utara Jakarta.

Video orasi Boby menjadi viral. Pro dan kontra berdatangan. Popularitas Ahok dan preferensi politik sebagian besar penggunan sosial media di Indonesia akhirnya memukul Boby. Universitas Indonesia mencap tindakan Boby ilegal karena menggunakan jaket almamater dan Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia sebagai properti. Beberapa hari kemudian, muncul surat pernyataan maaf yang ditandatangani Boby diatas materai enam ribu rupiah, yang konon dibuat dalam todongan surat perintah Drop Out.

Di luar ideologi serta level kualitas yang berbeda, bagi saya Munir dan Boby memiliki kesamaan. Di saat kecuekan politik menjalar di kehidupan masyarakat sejak Orde Baru hingga sekarang, mereka tampil, menunjukkan preferensi politik mereka. Menunjukkan kepedulian mereka pada masyarakat. 

Munir, pada awal karirnya, dianggap komunis, pembangkang dan subversif karena berani melawan kekuasaan yang nampak bisa abadi. Namun jaman berganti, berganti pula pemahaman masyarakat tentang pemikiran dan pergerakan Munir. Munir kini adalah dewa bagi para pemerhati isu HAM, baik yang serius atau tidak serius. 

Kini Boby, yang mungkin belum mencapai usia 23 tahun, hanya karena berpolitik sebagai oposisi, harus mendapatkan opresi sebegitu hebat. Ia dihabisi oleh ribuan orang di internet, dan yang paling menyesakkan, ia diredam oleh kampusnya sendiri. Ide khilafahnya dilawan dengan “ini negara Demokratis Pancasilais, kalau tidak suka pergi saja!”, oleh orang-orang justru tidak mengerti dan tidak begitu perhatian akan makna demokrasi dan Pancasila itu sendiri. 

Salah satu hak utama manusia yang diperjuangkan Munir adalah kebebasan dalam berpendapat. Kini, di saat yang sama saat kita meratapi kematian Munir (sambil menoleh kanan-kiri dan saling tunjuk siapa yang mau meneruskan perjuangannya), kita membunuh Boby.

Orde Baru!.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Politik, Tokoh and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s