Menyambangi Kampung Para Bangsawan : Karadenan Kaum

Frustrasi rasanya. Sebegitu sulit bagi saya menemukan loket 7-8 Stasiun Bojong Gede. Dimana beberapa kawan yang akan ikut NgoJak hari ini sudah berkumpul. Saya bertanya ke dua petugas keamanan yang berjaga di peron. Keduanya menunjuk arah yang berbeda. Dua-duanya salah. Saya terpaksa membayar dua ribu rupiah untuk masuk lagi ke stasiun. Tiga puluh menit habis percuma. Semoga kawan-kawan memaafkan sesampainya nanti.

Stasiun Bojong Gede

Sampai ke tempat berkumpul, sudah ada Ali, Mbak Diella, Mas Bimo, Risa, Harry, Gafi, Dodo, Arie, Juwita, dan Jeni. Duh telat. Beberapa di antaranya sudah sempat berkenalan. Mbak Diella dan Mas Bimo adalah alumni perjalanan Komunitas Aleut ke Cirebon tahun 2009, yang kini bermukim di Jakarta. Risa adalah jurnalis dari majalah sejarah populer paling keren di Indonesia, Majalah Historia. Harry dulu pernah aktif juga di Aleut sebelum kuliah lagi di Universitas Indonesia.

NgoJak di Titik Kumpul. (Foto : Ali Zaenal)

Akhirnya kami berangkat terlambat ke Karadenan. Kami bagi rombongan menjadi dua. Rombongan pertama dipimpin Arie memenuhi satu angkot. Sedangkan rombongan kedua berangkat dua puluh menit kemudian. Menunggu Yudha yang terjebak rombongan Presiden Joko Widodo menjelang Stasiun Bogor. Perjalanan menggunakan angkutan kota nomor 31. Melintasi beberapa perumahan di Bojong Gede, dan keluar ke Jalan Pemda. Kami turun di pertigaan Jalan Pemda-Jalan Kaum. Lalu menyeberang ke Jalan Kaum III dekat Alfamart Karadenan. Masuk menyusuri jalan yang tidak begitu besar, kami pun tiba di Masjid Al Atiqiyah, tujuan utama NgoJak perdana ini.

Masjid Al-Atiqiyah.

Kami disambut Bapak Raden Dadang. Dia adalah salah satu warga yang perhatian dengan kekayaan sejarah dan budaya di Karadenan. Kami dipersilahkan istirahat sejenak di aula masjid yang sejuk, bahkan diizinkan untuk membuka “bekal” yang dibeli di perjalanan : kacang, pisang, dan singkong rebus. Di aula terdapat tiga buah pigura besar yang masing-masing menyimpan cetakan silsilah. Kami terbengong-bengong di depan pigura-pigura itu, mencoba mengenali ratusan nama yang tercantum. Kebanyakan dari kami hanua mengenali nama-nama tenar seperti Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sultan Hasanuddin dari Banten. Saya sendiri hanya bisa mengenali beberapa lainnya, Prabu Surawisesa (Mundinglaya di Kusumah), Pangeran Cakrabuana (putra Prabu Siliwangi, pendiri Kesultanan Cirebon), Nyi Rara Santang (putri Prabu Siliwangi, ibu Syarif Hidayatullah), dan Pangeran Jayakarta (bupati ke-3 Sunda Kelapa/Jayakarta zaman Banten). Sisanya gelap.

Silsilah Hasil Telusuran Raden Dadang.

Akhirnya Raden Dadang datang. Setelah sedikit berbasa-basi, beliau mulai menjelaskan panjang lebar. Menurut cerita turun-temurun, leluhur Karadenan Kaum adalah Raden Syafe’i, seorang bangsawan cum ulama keturunan Cirebon. Raden Syafe’i juga merupakan menantu dari Pangeran Sageri/Sugiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa, yang bertahta di Banten tahun 1631-1683. Konon pula, Raden Syafe’i mendirikan masjid ini tahun 1667 sebagai pusat dari syiar Islam yang ia usahakan sepanjang Bojong Gede hingga Depok sekarang. Keturunan beliau pun turun temurun menghuni daerah ini selama lebih dari empat ratus tahun. Masjid ini konon dulu memiliki ukiran arab gundul di salah satu soko guru yang bertuliskan tahun Hijriyah yang kalau dihitung dalam tahun masehi, semasa dengan tahun 1667. Namun ukiran tersebut hilang saat masjid direnovasi (menurut Raden Dadang : secara kurang bertanggungjawab) oleh generasi diatas Raden Dadang. Renovasi itu kemudian disesali warga, karena menghilangkan ornamen lama dan bukti sejarah di Al-Atiqiyah.

Salah Satu Ornamen Yang Konon Merupakan Artefak Tertua Yang Masih Bisa Dipertahankan Dari Masjid Al-Atiqiyah

Berdasarkan literatur yang saya baca sebelumnya, Karadenan adalah bekas ibukota Kerajaan Muara Beres, kerajaan bawahan Sunda Pakuan. Nama Muara Beres memang tidak banyak tercatat di literatur sejarah, saya hanya menemukan Muara Beres “tercatat” dalam dongeng Mundinglaya Di Kusumah dan naskah kontroversial, Naskah Wangsakerta. Setelah era Raden Syafe’i, daerah ini dikenal dengan nama Kaum Pandak/Kawung Pandak. Kemungkinan karena terdapat masjid (kaum) di sana. Sebelum diputuskan berubah nama menjadi Karadenan saat mengikuti proses administrasi daerah pasca kemerdekaan.

Sebagai daerah lama, tentu banyak peninggalan khas yang masih bertahan di Karadenan Kaum.

Raden Dadang mengajak kami mengunjungi peninggalan yang pertama, yaitu kompleks pemakaman leluhur Karadenan Kaum, yang terletak di sebelah barat masjid. Di kompleks tersebut terdapat makam Pangeran Syafe’i dan istrinya, Ratu Edok, lalu berturut-turut ke barat adalah keturunan-keturunan mereka hingga saat ini. Raden Dadang menjelaskan bagaimana makam-makam ini sering diziarahi oleh para peziarah yang tak jarang datang dari jauh. Ia juga menjelaskan bagaimana ia menemukan dua buah batu berukir, yang menurut badan arkeologi Kabupaten Bogor, bergaya Cirebonan. Ia memaknai kedua batu itu sebagai penanda makam Ratu Edok, yang sebelumnya tidak diketahui letak pastinya. Juga bercerita tentang preferensi warga keturunan Karadenan akan nisan batu tanpa nama dan ukiran apapun.

Makam Raden Syafe’i , Ratu Edok, dan leluhur Karadenan. (Foto: Ali Zaenal).

Peninggalan kedua lebih unik. Raden Dadang bercerita, sebagaimana lazimnya keluarga-keluarga dengan sejarah panjang, warga Karadenan Kaum pun memiliki banyak pusaka keluarga. Kebanyakan berupa senjata tajam. Untuk mengantisipasi pusaka-pusaka yang tidak terurus atau berpindah tangan, tahun 2015 warga berinisiatif membuat museum kecil di salah satu ruangan masjid, yang dinamakan Musium Keris Masjid Al-Atiqiyah. Koleksi museum ini beragam, mulai dari kujang (menurut istilah setempat, kudi), keris, tombak, parang, hingga gobang (yang identik dengan para jawara Betawi). Tak hanya senjata, museum ini memiliki koleksi dua buah fragmen sisa lantai masjid terdahulu. Yang diduga paling tua adalah berupa pecahan batu datar, dan yang satunya berupa lantai keramik. Kami pun cukup lama mengapresiasi museum ini, beberapa kawan bahkan mencoba menganalisis senjata-senjata yang ada di sana.

NgoJak dan Raden Dadang di Musium Keris.

Raden Dadang lalu mengajak kami ke sisi Sungai Ci Liwung. Ci Liwung terletak kurang lebih dua ratus meter dari Masjid Al-Atiqiyah. Ia bercerita bahwa ada seorang peneliti (ia lupa nama peneliti tersebut) yang berspekulasi bahwa masjid pertama yang didirikan di Karadenan adalah tepat di sisi Ci Liwung tahun 1550-an. Raden Dadang tidak ingat sumber literatur yang dijabarkan peneliti tersebut, namun salah satu faktor pendukung teori tersebut adalah toponimi Kedung Masigit, yang menjadi nama lama sisi Ci Liwung yang kami tapaki ini. Tak lupa, ia pun bercerita mengenai kondisi Ci Liwung saat ia kecil hingga remaja dulu. Ia bercerita bahwa di tahun 70-an, air Ci Liwung memang berwarna cokelat, namun belum banyak sampah rumah tangga yang menghiasi sungai itu seperti saat kami ada di sana. Novi menambahkan dengan penjelasan kondisi geologis daerah aliran Ci Liwung yang memang berbeda-beda, sehingga warna cokelat Ci Liwung di sini bukan berarti kotor.

NgoJak di Sisi Ci Liwung.

Sepulang dari Ci Liwung, kami diundang mampir ke rumah Raden Suparta, ketua RT setempat, untuk menonton film dokumenter tentang tradisi keagamaan di Karadenan Kaum, yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. Ritual-ritual keagamaan di kampung-kampung lama memang menarik. Saat menjelang Maulid Nabi dan beberapa tanggal istimewa lain , terdapat beberapa ritual menarik seperti pemandian senjata pusaka, salawatan menghadap ke delapan penjuru mata angin, pemotongan rambut bayi, dan tradisi makan besar bersama, disebut Sedekah Kupat (yang tak mesti menyajikan kupat). Dimana saking besarnya porsi makanan yang disajikan, pintu-pintu masjid dan beberapa pintu rumah warga dilepas untuk dijadikan nampan.

Saat-saat seperti itu, warga keturunan Karadenan yang sudah menyebar ke banyak tempat, pulang ke Karadenan. Ditambah lagi dengan tamu-tamu dari daerah yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya seperti dari Kampung Kebon Pisang dan Bojong Gede dan para wisatawan. Konon besarnya skala perayaan-perayaan ini jauh lebih besar daripada saat merayakan Idul Fitri atau Idul Adha. Sebagaimana ritual di kampung-kampung lama lain, ritual seperti ini memang merupakan kekayaan yang tidak perlu diperdebatkan, apalagi diseragamkan.

NgoJak Menonton Film Dokumenter di Rumah Pak RT. (Foto : Diella Dachlan).

Beberapa tahun ke belakang, mulai besar kembali kepedulian warga akan kekayaan tradisi dan artefak di Karadenan Kaum. Tanpa harus menunggu bantuan pemerintah atau kedatangan para ilmuwan, warga berinisiatif melestarikan. Selain pembuatan Musium Keris dan renovasi kompleks makam Raden Syafe’i, warga, dipimpin oleh Bpk. Raden Dadang, secara swadaya mencoba menelusuri dan mencatatkan silsilah panjang dari leluhur mereka. Dua tahun penuh mereka habiskan untuk menyusun silsilah, mulai dari menghimpun keterangan dari para sesepuh, hingga mendatangi keluarga-keluarga dan daerah tua lain yang memiliki keterkaitan keturunan, seperti Batutulis, Bojong Gede, Jatinegara Kaum, Banten Lama, dan Cirebon.
Di akhir kegiatan, kami pun mengadakan sesi sharing, yang ingin kami jadikan sebagai kebiasaan NgoJak. Rata-rata kawan memiliki kesan yang sama, tidak menyangka bahwa di tempat yang justru kini tidak menjadi pusat keramaian, terdapat sejarah yang panjang dan penting. Itu memang misi NgoJak sejak awal, ingin mengajak kawan-kawan “menyeruput” kisah lain dari Jakarta dan daerah lain yang menyangganya. Syukurlah nampaknya misi itu terjalani dengan baik hari itu.

Kami pun pamit sembari menyerahkan donasi seikhlasnya untuk keperluan Masjid Al-Atiqiyah dan Musium Keris (karena Raden Dadang dan Raden Munip menolak donasi kami diserahkan kepada mereka pribadi). Tak lupa, kami berfoto bersama Raden Dadang dan Raden Suparta di depan Masjid Al-Atiqiyah. Perjalanan ditutup dengan makan siang bersama di Bakso Raden, yang terletak di seberang Jalan Kaum III. Bakso dan mie ayamnya cukup enak dan tidak mahal.

Ngopi di Bakso Raden. (Foto : Daan).

Saya kira hal paling menarik yang bisa kami “seruput” adalah sifat gotong-royong, kebersamaan, dan kegigihan warga Karadenan Kaum dalam menjaga tradisi leluhur. Tanpa perlu mistifikasi, dan tanpa perlu menunggu bantuan siapapun, apalagi mengkomersilkan tradisi. Sebuah pelajaran bagi kami, warga kota besar yang kosmopolit yang secara kultural sudah sangat jauh tercerabut dari akar budaya kita. Harapan saya adalah NgoJak bisa se-bergotong-royong, segigih, dan sekonsisten warga Karadenan Kaum dalam mengajak kawan-kawan lain untuk belajar bersama, ngobrol, ngoprek, dan ngopi Jakarta.

Foto Bersama Raden Dadang dan Raden Suparta. (Foto : Ali Zaenal).

Sampai ketemu lagi!.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Catatan Perjalanan, Jakarta, Masjid, Museum, NgoJak and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Menyambangi Kampung Para Bangsawan : Karadenan Kaum

  1. Yazid says:

    Saya sebagai orang karadenan bangga dengan kalian yg udh perduli dengan sejarah karadenan, dan berterima kasih yg se banyak”nya atas artikel yg di buat untuk bisa menjadi pengetahuan bukan hanya untuk orng karadenan saja tp semua orang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s