Raden Dadang sang Bangsawan

Saya tidak ingat nama lengkapnya. Yang saya ingat namanya Raden Dadang. Jika melihat silsilah panjang yang ada di Masjid Al Atiqiyah, Karadenan Kaum, Kabupaten Bogor, namanya hanya hanya satu dari ribuan raden yang terkait dengan sejarah panjang daerah itu. Bukan garis keturunan utama, bukan pula tokoh yang berpengaruh. Raden Dadang sepintas seperti saya, memanggul gelar raden di depan nama karena “kewajiban” turun temurun. Yang bahkan tidak akan dicantumkan di paspor. 

Namun bergaul dengan Raden Dadang, setidaknya selama empat jam keberadaan saya dan teman-teman NgoJak di Karadenan Kaum, memukau saya. Orang ini betul-betul bangsawan, saya pikir. Raden Dadang adalah motor di balik “konsep” baru Karadenan Kaum dalam mempertahankan warisan yang bisa dipertahankan, dari sejarah panjang leluhur mereka.

Raden Dadang adalah orang yang berusaha menyusun kembali silsilah Karadenan, yang menghasilkan tabel panjang dan lebar yang mencantumkan 50 generasi leluhur dan keturunan Karadenan. Selama dua tahun, Raden Dadang bergerak ke sana-sini, untuk mengambil fragmen-fragmen silsilah yang tersebar di berbagai tempat sepanjang Bogor hingga Jakarta. Mulai dari keluarga lama di Kampung Pisang, hingga jauh ke Jatinegara Kaum, Jakarta.

Raden Dadang pula yang memprakarsai pembuatan Museum Keris di Karadenan Kaum. Masing-masing keluarga asli Karadenan Kaum tak hanya memiliki sejarah panjang, namun juga memiliki senjata-senjata pusaka keluarga. Beberapa dapat diurus dengan baik oleh keluarga, namun beberapa tidak terurus, bahkan berpindah tangan ke kolektor. Akhirnya ia meminta ijin untuk memakai satu ruangan di menara masjid, untuk dijadikan “penitipan” senjata pusaka keluarga yang tidak terurus, atau ditakutkan tidak akan terurus. Atau untuk keluarga yang mau berbagi keberadaan senjata tersebut kepada khalayak.

Raden Dadang yang sama dengan yang menyambut kami dengan bersemangat. Menjelaskan kisah oral sejarah Karadenan selama nyaris satu jam penuh, membawa kami dengan santai ke Makam Keramat Raden Syafei, tanpa mensyaratkan yang aneh-aneh, dan bercerita tanpa bumbu mistik. Memandu kami ke sisi Ci Liwung, dimana ia nampaknya cukup hanyut dengan kenangan masa kecilnya. Dan dengan sangat repot mengorganisir pemutaran film features tentang tradisi maulud di Karadenan Kaum yang direkam oleh Pemda Kabupaten Bogor.

Raden Dadang yang menolak amplop rasa terimakasih kami, dan menyarankan untuk memasukkannya ke kotak amal masjid.

Pengorbanan dan kecintaan Raden Dadang pada “negerinya” sangat memukau. Ini persis seperti bayangan ideal saya tentang seorang bangsawan. Orang yang mencintai tanah dan kaumnya lebih dari apapun, termasuk kepentingan pribadi. Lupakan soal metodologi apa yang ia pakai dalam menyusun silsilah, lupakan sumber tertulis apa yang ia pakai saat menjelaskan sejarah, lupakan bahwa ia kesulitan menerangkan limimasa Pajajaran, Galuh, dan Banten. Lupakan itu semua. 

Saya teringat saat Novi bilang bahwa R(.) di depan nama bukan lagi hanya dimaknai sebagai “raden”, namun wajib dimaknai sebagai “rem”. Nov, contohnya ada di depanmu. Kamu berhadapan dengan mahluk yang langka. Seorang bangsawan.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Catatan Perjalanan, NgoJak, Tokoh. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s