Maafkan Saya, Datuk..

Rabu minggu lalu saya keluar dengan lesu dari sebuah gedung yang tak begitu keren untuk ukuran Jakarta, namun penting karena merupakan kantor pusat dari sebuah bank BUMN. Suasana peringatan kemerdekaan masih sangat terasa. Di seantero lantai satu digantungkan banyak sekali poster, yang uniknya, berisikan foto tokoh-tokoh zaman pergerakan serta kutipan khas dari tokoh tersebut. Satu per satu saya amati, tanpa mengindahkan petugas keamanan yang juga mengamati saya dengan curiga. Sampai saya bilang “masih nunggu meeting sama Pak N di treasury lantai 10.”, Barulah ia menjauhi saya.

Dekat meja penerima tamu, tergantung poster bergambar Tan Malaka, tokoh super dari Sumatera Barat. Penasaran membaca kutipan apa yang dicantumkan, saya pun merapat ke meja penerima tamu, diiringi pandangan heran dari seorang bapak yang berjaga. Entah kenapa banyak orang terheran melihat saya membaca poster dengan serius, apa mereka memajang poster-poster itu hanya untuk dilewati?. Setelah bersandar sedikit, akhirnya terbaca juga. Tapi seketika hati saya remuk ketika selesai membaca.

” Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”. Demikian Datuk yang luarbiasa itu rupanya pernah menulis. Saya ingat, beliau merupakan salah satu penentang keras jalan diplomasi yang ditempuh beberapa perdana menteri era revolusi untuk menghadapi Belanda. Kegagalan demi kegagalan diplomasi, yang berujung pada Indonesia yang nyaris dikuasai lagi oleh sekutu. Puncaknya adalah ketika Sukarno dan Mohammad Hatta beserta seluruh aparatur negara harus mengungsi ke Yogyakarta. Meninggalkan ibukota Jakarta untuk dikuasai sekutu.

Yang membuat saya seketika kecut adalah motif saya ada di gedung tersebut. Meeting yang baru saya selesaikan adalah salah satu dari rangkaian koordinasi perusahaan temoat saya bekerja dengan bank tersebut dalam memuluskan program Tax Amnesty yang dicanangkan pemerintah. Sekedar penjelasan, program tersebut secara garis besar adalah mengkondisikan orang-orang atau badan usaha yang berdomisili di Indonesia, yang melakukan pengemplangan pajak dengan cara menyimpan asetnya di negara-negara dengan pajak yang murah atau bahkan gratis, untuk membawa kembali aset-aset tersebut ke Indonesia, atau setidaknya melakukan deklarasi aset, dengan iming-iming pembebasan dari denda dan hukuman, bahkan diskon atas pajak yang dikenakan kepada aset tersebut. Target aset yang terepatriasi (dibawa pulang kembali) mencapai ribuan triliun rupiah. 

Di sini terjadi perbenturan pemikiran yang berseteru di kepala saya. Tan Malaka yang moralis dan filosofis, dengan Joko Widodo yang realistis dan pragmatis. Kepala saya pun mendadak pusing. Mual memikirkan daftar nama pengemplang pajak, besaran aset yang disimpan di luar negeri, program dan proyek yang kami rancang agar mereka tertarik kembali menaruh uang di Indonesia, dan berbagai macam standar servis lain yang akan kami berikan kepada mereka, maling-maling itu.

Saya pun membuka kunci layar pada ponsel, masuk ke aplikasi Whatsapp, dan mengirim pesan ke istri saya : “Doain aku ya..”.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s