Aku dan Cintaku

Ada perasaan yang aneh saat Indonesia Raya versi Twilight Orchestra tadi diperdengarkan di upacara bendera kantor. Mengawali dengan megah, Addie MS tiba-tiba merubah mood di bagian bridge. Terdengar mengalir sangat lembut, tidak ada hentakan di sana, nada-nada dimainkan secara sustain. Di situ saya merasa melankolis, tanpa sadar menyanyikan lirik “hiduplah tanahku, hiduplah negeriku. Bangsaku, rakyatku, semuanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”.

Beberapa tahun belakangan, saya merasa ada perubahan di hubungan saya dengan Indonesia.

Saat kecil hingga masa kuliah awal, hubungan ini berlangsung sangat romantis. Saya dididik, dan berkembang, sebagai anak yang cinta buta dengan segala sesuatu yang berbau nasion Indonesia. Mulai dari yang umum, seperti dengan emosional mendukung tim badminton dan sepakbola nasional, menikmati, bersyukur, dan berdoa untuk Indonesia setiap kali berwisata ke tempat-tempat spektakuler di Indonesia, hingga yang paling ekstrim seperti menganggap pembunuhan Munir dan Theys Eluay itu hal yang wajar, karena mereka bekerjasama dengan pihak asing untuk membongkar keburukan Indonesia.
Namun waktu berjalan, saya makin dewasa, makin kritis, sedangkan Indonesia makin menampakkan busuknya. Panca indera saya mulai menyerap Indonesia yang korup, Indonesia yang Jawa sentris, Indonesia yang diisi eksekutif dan legislatif licik, Indonesia yang kaya akan kaum puritan, Indonesia yang pembantai massal, Indonesia yang enggan mendidik masyarakatnya untuk lebih cerdas, dan Indonesia yang penuh koreng.

Selama itu, secara paralel mata saya terbuka, bahwa nasionalisme bukanlah satu-satunya gadis cantik di kompleks. Ada gadis-gadis blasteran bernama globalisme, regionalisme, dan individualisme. Juga ada gadis pribumi bernama kearifan lokal. Juga bahwa nasionalisme dipilih para founding fathers dengan konteks semangat jaman, kompromi, dan waktu persiapan yang sempit.

Saya kini lebih mencintai masyarakat Indonesia. Orang-orang yang sama seperti saya, bedanya cuma sadar atau tidak, hanya dianggap oleh Indonesia sebagai angka dalam perhitungan suara, sebagai peserta pawai partai politik dan ormas, sebagai statistik dalam data-data pajak, dan sebagai konsumen bagi produk dan media. Tak perduli mereka dari kelas atas, menengah, maupun bawah. Semua tidak luput dari pemerasan oleh Indonesia. Kelas atas adalah sapi perah pendanaan untuk kontes politik. Kelas menengah lebih parah, bekerja keras dengan penghasilan sederhana, sibuk dengan gaya hidup, dikuasai oleh sikap kritis dan tak acuh yang bergantian, tapi dibuat merasa paling keren. Dan kelas bawah, mereka yang tidak tahu dan tidak diberi tahu kenapa mereka harus ada di posisi itu.

Saya ingin bermanfaat bagi orang-orang ini. Saya sayang dengan orang-orang ini. Saya ingin seperti Gus Dur, seperti Soe Hok Gie, seperti Emha. Saya ingin membuat orang-orang ini memikirkan kembali cinta mereka pada Indonesia. Aku ingin menghidupi tanahku, bangsaku, rakyatku, semuanya. Membangun jiwa dan badannya. Tak peduli untuk Indonesia Raya atau bukan.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s