Trump, Brexit, dan Wabah “Nasionalisme”

CLv-5wTWIAE83Dj_750x410

Foto : Middle East News Service.

Sore ini saya membaca sebuah album foto di Facebook yang isinya adalah captured pics cuitan-cuitan yang mengkisahkan mulai terjadinya tindakan-tindakan diskriminatif terhadap warga negara keturunan asing dan pekerja asing di Inggris. Tindakan-tindakan diskriminatif tersebut terjadi pasca pengumuman hasil referendum yang menyatakan United Kingdom (UK) akan keluar dari Uni Eropa. Plus komentar Donald Trump, salah satu bakal calon presiden Amerika Serikat, yang menyatakan kebahagiaannya atas hasil tersebut.

Trump dan Brexit (istilah untuk pilihan UK keluar dari Uni Eropa), adalah sinyal masih kuatnya perlawanan dari pemikiran-pemikiran nasionalisme di tengah 50 tahun kepungan konsep borderless world. Era Neo Liberal dimana konsep Perdagangan Bebas, Regionalisme dan Globalisasi, Komunitas Ekonomi dan Humanitarianisme yang diperkuat oleh internet adalah raja. Sekaligus era dimana Nasionalisme, Xenofobia dan prasangka rasial dianggap sangat irasional, dan hambatan-hambatan adalah gangguan bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi.

Tahun 2014 Amerika memiliki jumlah pekerja migran sebesar 42,3 juta jiwa, yang secara proporsi adalah 13.3% dari total populasi. Persentase terbesar sepanjang sejarah. Dan hanya 53% diantaranya mendapat naturalisasi. American Dream rupanya kini adalah impian juga bagi warga kelas bawah dari Meksiko, India, China, Kanada dan Filipina. Jurnal Immigration and American Worker karya George Borjas, ekonom imigrasi ternama dari Columbia University memaparkan bahwa bagi pekerja asli Amerika, imigrasi adalah kebijakan yang meredistribusi penghasilan. Distribusi penghasilan menjadi lebih luas, dan penghasilan rata-rata menjadi lebih rendah. Model yang dibuat Borjas pada 2013, menyatakan bahwa penghasilan dari pekerja migran, legal dan ilegal, mampu memberikan tambahan 11% bagi PDB Amerika per tahun. Menandakan besarnya perputaran uang yang melibatkan pekerja migran.

Kondisi UK tidak jauh berbeda. Data Immigration Observatory yang dihimpun Dr.Cinzia Rienzo dari University of London tahun 2014 menyatakan bahwa jumlah pekerja migran di  UK mencapai 6.6 juta jiwa pada 2014 atau setara dengan 16.7% dari total tenaga kerja di UK. Kebijakan migrasi Uni Eropa, membuat pertumbuhan pekerja migran di UK sangat pesat dalam 10 tahun terakhir. Pada 1993, tercatat populasi pekerja migran hanya 7.3% dari total tenaga kerja. Data tersebut menghasilkan penambahan PDB sebesar 0.2% pada tahun tersebut.

Dari data-data tersebut, terlihat bahwa kedatangan para pekerja migran justru merupakan katalis positif bagi ekonomi Amerika dan UK. Namun data tinggal data. Data pemilih pada referendum UK Jumat lalu memperlihatkan sesuatu yang menarik : daerah pendukung Brexit terbesar justru adalah daerah-daerah dengan tingkat pekerja migran terendah. Namun sekaligus dengan rataan penghasilan terendah. Sama seperti daerah-daerah pendukung rencana anti imigran Trump (membuat dinding di perbatasan Amerika-Meksiko dan menghentikan imigran Muslim masuk ke Amerika). Wilayah-wilayah tersebut juga memiliki dua kesamaan lain : konservativisme dan usia mayoritas pemilih adalah berusia di atas 45 tahun . Pandangan umum kaum tua konservatif ini adalah kecemasan akan tekanan ekonomi dari globalisasi. Kecemasan ini membuat mereka mengabaikan data dan mencari kambing hitam atas ketidakmampuan mereka bersaing secara individual : imigran dan pasar bebas.

Terlihat bahwa Nasionalisme yang diusung Trump dan UKIP (United Kingdom Independence Party), partai yang paling gencar mendukung Brexit, adalah konsep nasionalisme yang menunggangi kecemasan warga konservatif akan kemampuan bersaing secara ekonomi. Para politisi golongan ini rajin membawa isu rasial dalam kampanye mereka dengan mengaitkan dengan kondisi ekonomi yang kurang baik. Namun di sisi lain, Neo Liberalisme memang belum bisa memberi jawaban atas ketimpangan distribusi penghasilan akibat dari Perdagangan Bebas dan Regionalisme. Politisi Boris Johnson, mewakili kaum konservatif UK, tidak pernah habis pikir bagaimana negara mereka bisa terus “membantu” Yunani dan Spanyol, sementara tingkat penghasilan mereka masih sangat rendah. Juga kaum Redneck Amerika yang enggan menerima pekerja migran saat krisis properti 2008 dirasa masih saja mencekik. Kini yang patut disimak adalah bagaimana wabah ini akan berkembang. Salah satu kunci adalah pertarungan Trump dengan Hillary Clinton di Pemilihan Presiden Amerika tahun 2017. Brexit adalah pelatuk bagi kaum konservatif di Uni Eropa untuk menentang Neo Liberalisme. Patut diingat, Perancis masih memiliki Marie Le Pen, Belanda masih memiliki Geert Wilders dan Viktor Orban dengan Partai Jobbik sedang menikmati kekuasaan dan popularitas di Hungaria. Jangan lupa, Indonesia pun masih memiliki nasionalis sejati dalam diri Kivlan Zein.

 

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s