You Can’t Win Anything With Kids. But…

Alan Hansen harus rela menanggung simbol ketidakberuntungan para pundit selama sisa hidupnya, ketika ia menyebut Manchester United, yang memulai musim 1995-1996 dengan kekalahan 3-1 dari Aston Villa, tidak akan bisa menjuarai apapun dengan anak-anak kecil di skuad. Saat itu Sir Alex Ferguson baru saja menjual Paul Ince dan Andrei Kanchelkis. Alih-alih membeli bintang baru, Fergie malah menaikkan pemain-pemain muda ke skuad utama. Diantaranya adalah David Beckham, Paul Scholes, Nicky Butt, dan Gary Neville. Kekalahan dari Villa menguatkan keraguan bahwa United akan sukses di musim itu. Namun di penghujung musim, United justru meraih Double, menjuarai Liga Inggris dan Piala FA. Beckham rupanya bisa merubah gaya sayap kanan konvensional Kanchelkis dengan crossing dari dalam, sementara Butt nampak seperti partner ideal Roy Keane dalam menebas serangan lawan. Neville malah membuat fans melupakan Paul Parker.

Kisah sukses Class of 92 memang membuat Hansen, eks bek legendaris Liverpool, terlihat bodoh. Tapi sesungguhnya, secara historis, memang sulit untuk sukses di industri sepakbola level Eropa dengan mengandalkan anak-anak muda sebagai tulang punggung tim. Industri, sejak tahu 1970-an, telah membuat sepakbola semakin kejam. Tim yang tidak berprestasi semakin rentan kehilangan peluang pemasukan dari hadiah, sponsor, dan hak siar. Kehilangan pemasukan, berarti potensi juga untuk keterpurukan lebih lanjut karena berkurangnya budget operasional tim. Lingkaran setan industri sejauh ini telah berhasil menenggelamkan tim juara macam Nottingham Forest, Sampdoria, Blackburn Rovers, Parma, Leeds United, Fiorentina, dan Glasgow Rangers.

Bermain dengan skuad muda tentunya menjadi perjudian yang berbahaya bagi sebuah tim, apalagi tim besar. Bermain dengan skuad berpengalaman di atas kertas tentunya akan memudahkan kerja manajer dalam mengarungi kompetisi yang padat dan sangat kompetitif. Kemudahan mendatangkan pemain asing, plus tuntutan pemilik modal akan prestasi, tentunya membuat klub makin enggan membina dan mempromosikan pemain muda ke tim utama. Win-win solution adalah dengan meminjamkan pemain muda untuk menimba pengalaman di klub-klub yang lebih kecil, untuk kemudian dipanggil lagi apabila kemampuan dan pengalaman bertanding sang pemain dianggap sudah cukup. di Eropa, kondisi seperti ini banyak terjadi di Inggris. Dimana selain arus modal yang harus berputar dan berkembang secara cepat, peraturan ketenagakerjaan lokal juga mempersulit rekrutmen dan pembinaan pemain muda.

Dalam kondisi serba sulit, sedikit pelatih/manajer yang secara konstan, mengorbitkan pemain-pemain usia muda di skuad utama. Louis Van Gaal tidak memiliki rasio trofi per tahun sebaik Fergie, Josep Guardiola atau Jose Mourinho, namun memiliki rasio “memperdebutkan” pemain muda yang sangat baik. 6 tahun Van Gaal di Ajax Amsterdam, ia memperkenalkan nama-nama seperti Edwin van Der Sar, Michael Reiziger, Edgar Davids, Clarence Seedorf, hingga Patrick Kluivert dan Nwankwo Kanu. Periode pertama menangani Barcelona, ia memberi debut pada Xavi Hernandez dan Carles Puyol. Sedangkan periode kedua, ia mengorbitkan Andres Iniesta dan Victor Valdes. Pada periode kejutan di AZ Alkmaar, ia pun memberi kesempatan pada Sergio Romero, Mousa Dembele, dan Hector Moreno (yang kelak mematahkan kaki Luke Shaw kemudian mencetak gol kemenangan PSV Eindhoven atas United yang ditangani Van Gaal). Saat dipercaya menangani “FC Hollywood” Bayern Munich, Van Gaal mempercayakan tempat di skuad utama kepada Thomas Muller, Holger Badstubber, Toni Kroos, dan David Alaba.

Van Gaal kini menangani United yang ditinggalkan Fergie dan Moyes dalam kondisi skuad tua dan tidak berimbang. Ditambah badai cedera yang dahsyat, Van Gaal berjudi dengan kembali mempercayakan tempat bagi para pemain muda. Total sudah 18 pemain dari tim cadangan dan akademi United diberi debut oleh Van Gaal. Musim 2014-2015, Tyler Blackett dan Paddy McNair cukup mampu mengisi peran Marcos Rojo dan Phil Jones yang tidak kunjung bisa bermain. Musim ini lebih eksperimental lagi, Van Gaal memberi debut pada 16 pemain muda. Itu belum termasuk memberi kepercayaan kembali kepada Jesse Lingard dan Guilermo Varela. Akhirnya para fans mendapatkan kembali sensasi melihat pemain muda binaan sendiri bersinar. Varela, Lingard, Marcus Rashford, Cameron Borthwick-Jackson, dan Timothy Fosu-Mensah bahkan tampil lebih memukau dari Matteo Darmian, Wayne Rooney, Marcos Rojo, dan bahkan Memphis Depay. Rashford bahkan sudah menjadi kesayangan fans sehingga mereka begitu marah saat Van Gaal mengganti Rashford dengan Ashley Young saat United akhirnya dibantai 3-1 oleh Tottenham Hotspurs pada 10 April 2016.

Namun melihat kondisi sekarang, Van Gaal tidak akan bisa memenangi apapun dengan anak-anak ini sebagai tim. Rashford mungkin sudah bisa menaklukkan Demichelis, tapi di hari berikutnya masih kebingungan menghadapi James Collins. Fosu-Mensah dan Borthwick-Jackson masih rentan cedera. Lingard pun masih terlalu banyak salah pass. Class of 92 mungkin hanya hadir 100-200 tahun sekali, dan Gaal’s Babes is not anywhere near them. Leicester berintikan perpaduan bakat, determinasi, dan pengalaman, Spurs didominasi pemain u-23 terbaik dari seantero dunia. Arsenal, Manchester City, dan Chelsea, seburuk apapun, adalah tim mapan dengan skuad berkualitas dan berpengalaman tinggi. Dan Van Gaal tidak akan bisa berbuat banyak.

Tapi, diluar sana pasti ada sebagaian die hard fans yang menikmati melihat debut pemain akademi, atau melihat mata Rashford dan Lingard yang menyala dengan semangat dan kebanggaan berseragam setan merah. Dibanding dengan melihat penampilan loyo Darmian, Rojo, Herrera dan Rooney yang mungkin terlalu sibuk memikirkan klausul apa yang akan ditambahkan pada perpanjangan kontrak berikutnya. Di tengah hancurnya prestasi dan bayang-bayang menjadi Liverpool berikutnya, tidak ada yang tahu apakah Rashford akan menjadi pemain sekelas Muller, atau Fosu-Mensah bisa mencapai level Puyol. Van Gaal memberi kesempatan itu kepada United. Kesempatan bagi United memiliki pemain seharga 200 juta Poundsterling dengan gratis, seperti saat Fergie menilai Scholes yang kembali dari cedera.

#LVGStay

 

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Sepakbola and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s