Apa Betul #KamiTidakTakut ?

Serangan teroris di kawasan Jl.M.H. Thamrin pada 14 Januari 2016 lalu, mungkin adalah salah satu serangan teroris paling frontal dalam dua dekade terakhir. Para pelaku mendatangi tempat publik, dan setelah gagal meledakkan pusat keramaian, menembaki kerumunan. Sampai saat ini, belum jelas berapa korban jiwa sipil yang jatuh. Berapa kerugian yang ditimbulkan, dan apa efeknya bagi Jakarta dan Indonesia secara sentimental.

Namun satu hal yang menarik adalah reaksi masyarakat, baik di lapangan maupun sosial media. Di lapangan, warga yang mengerumuni pos polisi perempatan Thamrin-Wahid Hasyim yang diledakkan, hanya beberapa detik setelah ledakan, hingga warga yang berkerumun menyaksikan baku tembak aparat versus pelaku adalah fenomena yang menarik. Begitu juga dengan reaksi sosial media. Tagar #PrayForJakarta dan #KamiTidakTakut mencuat di berbagai media sosial. Disusul dengan foto-foto trivial seperti tukang sate yang tetap berjualan, beberapa aparat pertahanan yang membeli mangga, hingga tebak-tebak nama polisi rupawan yang tertangkap kamera menggunakan sepatu merk Gucci.

Reaksi-reaksi seperti itu menarik bagi saya untuk dicerna. Sudut pandang seperti itu sepertinya tidak lazim dipakai untuk mengapresiasi kasus terorisme yang terjadi hanya tiga kilometer jauhnya dari istana kepresidenan, satu pagar jauhnya dari gerai Starbucks dan Burger King dengan total kapasitas mendekati 100 orang, dan berjarak satu satpam teliti dari pusat perbelanjaan ramai. Jakarta Theater dan Sarinah, saya tahu persis, adalah tempat yang sangat ramai pada jam makan siang. Apabila teroris itu berencana meledakkan dan menembaki pengunjung pujasera Sarinah, atau Starbucks dan Burger King yang sedang dalam kondisi kapasitas penuh, it could be me, it could be one of us, it could be one of your beloved people.

Rasa tidak takut harusnya hadir ketika kekuatan dan potensi musuh sudah kita baca sepenuhnya. Berbeda dengan perasaan tidak takut karena tidak tahu, atau bahkan tidak peduli kekuatan dan potensi musuh kita. Berhadapan dengan terorisme jenis Islam radikal berarti berhadapan dengan sekumpulan pengecut yang bisa datang out of nowhere dan mengancam nyawa secara random untuk mencari sensasi, tanpa takut mati. It could be anytime, anywhere dan sekali lagi, it could be us, it could be our beloved people.

Semoga reaksi kita bukanlah reaksi yang hadir dari ketidaktahuan dan ketidakpedulian pada isu ini.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s