Bra

Ia tidak ada di kiri, kanan, tidak juga di equilibrium.

Saat sedih, tangannya yang hitam ada untuk sedikit memaksa keningku menyandar di dadanya. Belasan kali mengusap air mataku, belasan kali pula ia berusaha menyudahinya. Terus begitu sepanjang sedihku, kadang semalaman, pernah pula hingga pagi berikutnya.

Ada momen ketika aku dilambungkan kebahagiaan, ia menangkapku, mengikatku dengan tali, dan menambatkan ujung tali satunya ke pergelangan tangannya. “Agar kau tidak terbawa ke tempat yang aku tidak bisa menyusulmu”.

Denganmu adalah aku tidak mungkin jatuh ataupun terbang tak terhingga. Karena kau selalu menyangga dan mengekangku. Kau selalu ada, di suatu titik tak bersifat.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s