Untuk Kawanku Para Pembaca

Saya awali tulisan ini dengan sebuah cerita yang kurang menyenangkan. Kawan satu tim di kantor cerita, bahwa dia baru memutuskan hubungan pertemanan di Facebook dengan kawan lamanya di Lampung dulu. Alasannya mungkin sekarang menjadi lumrah, karena debat mengenai sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terhadap Ketua DPR-RI Setya Novanto. Kawan saya berpendapat dengan keras bahwa transkrip rekaman yang diedarkan Detik.com adalah benar. Sedangkan kawannya berpendapat, juga dengan keras, bahwa rekaman tersebut belumlah terbukti kebenarannya, dan dia yakin kasus ini adalah upaya pembungkaman oposisi oleh pemerintah. Menarik sekali. Dua orang kawan lama, memutuskan untuk tidak saling berkomunikasi lagi akibat perbedaan interpretasi berita.

Menyenangkan sekali melihat bagaimana teks-teks berita dan opini (baik opini para pengamat, pakar, praktisi, maupun hanya simpatisan), bisa tersampaikan hingga ke level fanatisme seperti kawan saya dan kawannya itu. Proses komunikasi yang tentunya efektif sekali. Tentu efektivitas tersebut tidak hanya datang dari kekuatan teks, namun dipengaruhi juga oleh konteks yang meliputi proses komunikasi tersebut. Misalnya, percayalah, tanpa adanya pemilihan presiden tahun 2014, tidak mungkin seorang Jonru Ginting bisa memiliki jumlah penggemar maupun pembenci dengan jumlah begitu masif. Saya rasa cukup mudah membuat para pembaca menjadi kaum monodimensional garis keras.

Saya melihat langkanya kemampuan (atau kemauan?) analisis kritis atas teks adalah salah satu penyebab monodimensional-isme marak. Kemampuan analisis teks seharusnya sudah kita pelajari saat pertama kali guru kita di sekolah menyuruh kita mencantumkan sumber informasi yang kita pakai dalam paper kita. Baik dalam catatan akhir atau catatan kaki. Para teoris pendidikan modern percaya, bahwa sebuah teks merupakan suatu permutasian dari teks-teks lain yang sudah ada sebelumnya. Tidak ada teks yang sungguh-sungguh mandiri, tanpa kutipan dari masa lalu.

Seperti Barthes bilang, teks adalah sebuah rajutan. Membaca teks berarti wajib pula memahami bahwa ada tekstur, bahan, kode, formula penciptaan, serta proses pembacaan. Teks diibaratkan sebagai hasil rajutan dari kutipan teks yang lain dan yang lampau. Teks lain dan lampau itu pun tidak otomatis menjadi sumber, melainkan pula lahir dari sumber-sumber lain yang memiliki sumber-sumber pula, semua dengan klasifikasi kualitas, konteks, yang beragam. Intertekstualitas. Teori ini dalam perkembangan kontemporer secara longgar tentunya juga bisa diterapkan pada seluruh media informasi lain selain teks, seperti rekaman suara, video, dan foto.

Tulisan ini tidak akan mengajarkan dan menggurui bagaimana seharusnya analisis intertekstual dilakukan, karena bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan minimal setaraf SMA, sudah seharusnya bisa melakukan analisis intertekstualitas sederhana. Yang terpenting adalah bagaimana kita melakukannya, analisis kritis terhadap informasi yang kita terima. Plus kita meyakini bahwa hasil analisis kita pun belum tentu adalah sebuah kebenaran tunggal. Karena di waktu dan saat yang sama, lawan dialog kita selesai melakukan proses yang sama.

Semoga kecerewetan ini bisa mengingatkan teman-teman semua, dan khususnya diri khatib sendiri.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s