Ibrahim

“Sejak hari pertama aku bisa berbicara, yang kalian lakukan hanyalah menyuruhku untuk mendengarkan. Untuk itukah aku diciptakan tuhan-tuhan kita itu?”.

“Ayah pikir, kamu harus sedikit rileks, santai. Sekarang bukan waktu yang tepat”, ujar pria tua menjawab pertanyaan anaknya. “Aku mungkin kini renta, dan sejak dulu hingga sekarang tetap bodoh, namun lihatlah bagaimana bahagia dan nyamannya hidupku”.

Pria tua itu selalu menjalankan apa yang harus ia jalankan, membuat apa yang harus dibuat. Segenap hatinya percaya ada apa yang ayahnya percaya, sebagaimana ayahnya percaya dengan apa yang ayahnya percaya.

Namun kini, si anak harapan, yang cekatan, yang berbudi baik, yang kuat badannya, mulai bertingkah. Otaknya yang cerdas menjadi bumerang. Anak itu tidak mau mendengar dan percaya pada apa yang seharusnya itu. Ia mulai menyesali doa yang ia panjatkan di depan Mardukh empatbelas tahun lalu. Saat itu ia berdoa agar dikaruniai anak laki-laki yang cekatan, baik budi, kuat badannya, dan cerdas. Kini ia sangat menyesali telah meminta terlalu banyak.

Si anak udah menduga bahwa konflik itu akan terjadi dan sebetulnya sudah menyiapkan reaksi tadi. Paham betul bahwa argumentasinya hanya akan memperburuk situasi. Paham betul bahwa ia ada di sudut pandang yang tidak pernah terbersit sedikit pun di benak ayah, kakek, dan leluhurnya. Tapi tetap tak bisa paham bagaimana ayahnya bisa merasa paham dalam ketidakpahamannya.

Tuhan kedua yang ia tanya telah gagal menjawab.

Beberapa bulan lalu ia datang ke kuil membawa sesaji besar. Duduk bersemadi dalam diam selama beberapa jam. Di depan tuhan-tuhan ayahnya itu ia bertanya pertanyaan yang sama. Tidak menemukan jawaban, ia datang lagi hari berikutnya membawa sesaji yang lebih besar, dan bertanya dengan setengah berteriak. Namun dua jam kemudian, tuhan-tuhan itu masih saja membisu. Bahkan saat ia jatuh tertidur di kaki Mardukh, tak sekilas mimpi pun mereka menjawab.

Kekecewaan di kuil membuat anak itu akhirnya berani bertanya pada ayahnya, perwakilan tuhan yang secara fisik menjadikan dirinya ada. Namun, sekedar mengingatkan, hanya hembusan nafas berat jawaban yang ia terima.

Dihantui pertanyaan itu membuat langkahnya semakin jauh dan lebar. Total satu minggu ia berjalan menuju negeri tetangga. Negeri ini konon memiliki tuhan yang lain, tuhan yang ada, yang tidak dibuat dari resin oleh manusia, dan konon bisa secara ajaib menghidupi semua mahluk. Setelah istirahat seharian, akhirnya ia bergabung dengan para pemercaya. Melangkah tengah hari, menyembah tuhan mereka, matahari.

Matanya kembali berbinar, panca inderanya memaksanya untuk mengakui keagungan matahari. Teriknya menyampaikan energi yang dahsyat. Menerangi, menghidupi. Tuhan seperti ini yang kucari, batinnya.

Sambil merasakan keagungan energi matahari, ia menyembah. Namun dengan pamrih, jawaban. Lima jam lamanya ia bertanya. Mulai dari berdoa lirih dan khusyuk, sampai kembali berteriak. Namun makin keras ia bertanya, makin redup ia rasakan energi yang ia terima dari tuhan matahari. Dan puncaknya, ketika ia berteriak sekeras mungkin, tuhan matahari pergi seutuhnya, meninggalkannya dalam kegelapan yang pekat.

Ia tertegun, tak menyangka tuhan matahari sepicik itu. Bahkan Mardukh dan ayahnya tidak kabur ketika ia bertanya. Mereka hanya tidak bisa menjawab. Tak ayal, seteguh apapun niatnya, hancur pula perasaannya. Dalam kegelapan ia meraba-raba jalan pulang. Larut dalam keputusasaan, ia jatuh terjerembab. Berlinang air mata ia menggeliat sambil meneriakkan pertanyaannya beribu kali, menggantungkan harapan pada siapapun yang bisa menjawab, tak peduli itu bintang, bulan, atau ular derik gurun.

Tiga bulan kemudian,

Anak itu berada di atas tumpukan kayu bakar. Tangan dan kakinya diikatkan ke satu gelondong kayu yang ditegakkan. Tangis, tawa, doa, dan sumpah serapah terdengar bergantian. Di depannya, ayahnya menangis merangkul mata kaki para prajurit, memohon welas asih. Pria tua bodoh, prajurit itu lebih hina darimu, tak pantas kau memohon pada mereka, manusia yang tidak memiliki kehendak, batin si anak.

Jaksa, dikawal dua prajurit gagah, mendekati tumpukan kayu. Ia bertanya dengan suara keras : “Sekali lagi aku bertanya, apakah benar engkau, Ibrahim, yang melakukan ini semua pada tuhan-tuhan kita?”. Sedikit terdengar nada khawatir pada pertanyaan itu. Ah, mungkin sedikit banyak ia pun gatal untuk mencari, pikir si anak. Maka dengan suara yang sama keras ia menjawab, “Sudah kukatakan berulang kali, sebenarnya tuhanmu yang paling besar itu yang melakukannya, tanyakan padanya, jika ia dapat menjawabnya”.

Riuh rendah suara mencibir. Masa depan anak itu telah ditentukan. Ia akan tewas terpanggang, dan akan diingat sebagai si sesat penoda agama. Enam prajurit muda maju mendekat. Masing-masing membawa sebatang kayu dengan api merah menyala di ujungnya. Ah, prajurit, kalaulah kau tahu betapa kecilnya dirimu.

Anak itu secara ajaib tersenyum, lalu berujar pelan, ” silahkan, letakkan saja api itu, karena aku telah mencari dan menemukan Tuhanku, yang untuk apa aku ada dan untuk apa aku tiada”.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Agama and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s