Pandangan Karen Amstrong Akan Kekerasan “Beragama”

Kasus penyerbuan brutal kantor majalah satire Charlie di Perancis beberapa minggu lalu menjadi headline, sekaligus sebagai penebal sejarah panjang kekerasan yang ditengarai bermotifkan agama. Kita akan dengan mudah mengidentikkan agama sebagai sumber kekerasan.

Kekerasan dengan corak agama adalah fenomena yang selalu berulang dengan berbagai manifestasi. Mulai dari skala mikro seperti dibunuhnya Galileo Galilei karena mengemukakan pendapat yang berbeda dengan otoritas gereja, hingga skala masif seperti rangkaian Perang Salib. Para pemikir pencetus enlightment di Eropa, yang secara idiosinkratik adalah pihak yang tertindas oleh otoritas agama, menarik kesimpulan bahwa agama harus dipisahkan dengan politik untuk menemukan suatu kedamaian. Kemudian lahirlah modernisme, dimana sekularisme menjadi pola politik yang wajib.

Namun apakah beralasan jika agama bersinonim dengan kekerasan?. Karen Amstrong rupanya memiliki pendapat sendiri tentang hal ini. Amstrong, seperti biasa, mengambil sudut pandang historis untuk identifikasi di atas. Dalam karya terbarunya, Fields of Blood, Amstrong menjabarkan pola historis dari kekerasan dengan motif agama. Amstrong memulai bukunya dengan menyatakan bahwa agama (iman) adalah kambing hitam.

Amstrong berpendapat bahwa agama dan perkembangan peradaban manusia tumbuh bersama. Namun ada satu titik peradaban yang membuat hubungan agama dan peradaban menjadi lebih rumit. Saat periode manusia berburu dan mengumpulkan makanan, pola interaksi interpersonal disebut Amstrong masih sangat egaliter dan anarkis. Namun ketika manusia mulai memasuka peradaban agraris, kelompok-kelompok manusia mulai tinggal menetap dan mulai terjadi interaksi yang rumit karena sistem kepemilikan sumber daya. Manusia pun mulai membentuk organisasi komunitas dengan stratifikasi. Setiap komunitas memiliki kepentingan, juga dari setiap entitas di dalam struktur komunitas. Menandai terbentuknya sebuah interaksi politik yang sistemik.

Satu hal yang penting diingat adalah dalam proses “membumi”, agama memiliki para penafsir. Dalam kondisi tidak ada yang bisa mengontrol latar belakang dan kapasitas para penafsir ini. Perbedaan penafsiran tidak dapat dihindari. Juga penggunaan agama untuk kepentingan politik suatu komunitas.

Komunitas lambat laun menemukan bentuknya sebagai sebuah bangsa. Masing-masing mengembangkan rezim. Dalam menancapkan sebuah rezim, agama, yang dianggap adalah set panduan menuju kehidupan ideal (surgawi), banyak dipakai dan dimodifikasi oleh para penafsir authority-sponsored sebagai legitimasi langkah-langkah politis otoritas. Bersamaan dengan peran baru tersebut, agama mulai menjadi simbol untuk setiap kekerasan yang ditimbulkan oleh ambisi politis sebuah bangsa.

Amstrong mengambil contoh para prajurit Perang Salib. Upaya pendudukan wilayah, sebagai upaya pengembangan imperium, yang masing-masing pihak yang terlibat memakai bendera agama. Atau belasan abad sebelum itu, Kekaisaran Byzantium yang memakai image kristen dalam mengokupasi wilayah lain.

Agama menjadi sangat identik dengan otoritas. Padahal jika dilihat dari pola sejarah kelahiran agama-agama besar, agama lahir sebagai kritik atas status quo, otoritas dan stratifikasi sosial. Agama memandang orang per orang, bahwa siapapun yang menganut dengan baik, bisa menikmati kehidupan surgawi, terlepas dari stratifikasi sosial. Pendapat ini disimbolkan dengan latar belakang para messenger; Yesus, yang lahir bukan dari kelas masyarakat atas (bahkan tanpa ayah), Siddharta Gautama, yang justru meninggalkan istana, atau Muhammad, yang buta huruf dan miskin.

Namun pada perjalanannya, ketika ide-ide agama telah disetujui, agama kemudian menjadi sesuatu yang dipercayai oleh mayoritas anggota komunitas, namun ternyata tidak serta-merta bisa mengubah sifat stratifik dari otoritas komunitas tersebut. Agama hanya menjadi sebuah set nilai yang kemudian diadaptasikan kepada rezim yang telah ada. Kita bisa baca bagaimana Dinasti Abbasiyah mengubah sistem pemerintahan Mekkah dengan mengadopsi sistem pemerintahan Persia. Agama menjadi justifikasi.

Persilangan antara agama dan politik (yang penuh kekerasan), pada perkembangannya membuat wajah baru bagi agama. Wajah yang konfliktual, otoriter dan mengekang. Ribuan tahun pola tersebut terulang. Hingga ide sekularisme akhirnya muncul. Dimulai pada abad 16, pemikiran untuk memisahkan agama dan politik mulai banyak didengungkan dan mencapai kemenangannya pada masa Rennaisance dan kemudian Revolusi Amerika Serikat dan Perancis.

Bulan madu sekularisme ternyata pun tidak berlangsung lama. Berbagai tragedi kemanusiaan besar ternyata tetap terjadi tanpa ada embel-embel agama. Kekerasan antar nation-state terus terulang, dan mencapai puncaknya pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Ketiadaan agama pun ternyata tidak menghalangi Stalin membantai rakyatnya sendiri dan tidak juga menghalangi Hitler melakukan Holocaust. Kondisi tersebut membuat banyak orang mempertanyakan kembali modernisme, kebebasan berpendapat dan sekularisme sebagai sebuah solusi perdamaian. Dekade 50an di Amerika Serikat lahir generasi Beatniks, dan kemudian generasi Hippies yang mencari sesuatu yang spiritual sebagai sebuah jawaban. Kemudian kemunculan tokoh-tokoh seperti Gandhi, Luther King, Paus Paulus II, Dalai Lama XIV, dan yang terkini Paus Franciscus, seakan menjadi jawaban agama atas sekularisme.

Dari kasus demi kasus yang ia bongkar, akhirnya Amstrong akhirnya tiba ke kesimpulan, yang juga pernyataan awalnya, bahwa agama adalah kambing hitam atas banyak kekerasan yang dilakukan kelompok manusia.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Agama, Diskusi, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s