Palembang #2 : Melancong Bersama Adriansyah

Bagian kedua dari cerita saya di Palembang ini mungkin akan lebih ringan. Saya tulis seperti catatan perjalanan saja.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat halus di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Sekedar informasi, saya naik ke atas pesawat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta yang mati total jaringan listriknya. Alhasil semua penumpang naik dengan bersimbah peluh, hasil dipanggang di rumah kaca boarding room.

Namun Bandara SMB II ini cukup bagus. Desain bangunan terasa kekinian, dengan ruang tunggu yang modern. Baru saya tahu kemudian Angkasa Pura II memang cukup fokus menata SMB II. Memang belum sespektakuler Bandara Kualanamu, namun tetap terasa keseriusan manajemen disini.

Saya kemudian dijemput oleh dua orang pegawai AJB Bumiputera 1912. Bapak Tarmady dan Bapak Wartono. Kedua bapak paruh baya yang baik hati ini kemudian tanpa basa-basi mengajak saya makan Pempek. Tapi ternyata bukan pempek sembarang pempek. Melainkan pempek ikan gabus dengan karakter cuko (bumbu cair) yang lebih pedas dan menyengat. Nama warung pempek ini adalah Cek Tasya, yang berlokasi di Jalan Sosial KM 5. Warung ini juga menjual pempek panggang. Pempek lenjer yang dibelah dua, lalu ditengah kedua bagian dimasukkan cabai rawit endapan dari cuko. Bentuknya seperti burger. Lalu pempek dipanggang dengan bara kecil. Pengolahan dengan cara dipanggang ini membuat keluar rasa yang mungkin bagi awam lebih identik dengan otak-otak. Namun sayang, pempek bakar ini tidak bisa dijadikan oleh-oleh karena hanya tahan beberapa jam.

Pempek merupakan ikon dari Palembang. Pempek secara antropologis merupakan akulturasi dari kebudayaan China dan Melayu. Terdapat sebuah versi yang menyatakan bahwa asal mula kata pempek adalah dari kata “Apek”, yang biasa dipakai untuk memanggil laki-laki tua Hokkian. Para Apek ini yang dipercaya mulai membuat pempek pada abad ke-17. Ada beberapa jenis ikan yang biasa diolah ke dalam adonan pempek. Yaitu ikan tenggiri, ikan gabus, dan ikan kakap. Pempek ikan tenggiri yang terkenal adalah merk Candy dan Pak Raden (Pempek Candy memiliki banyak cabang di Palembang, sedang Pak Raden sudah membuka cabang di banyak tempat di Indonesia). Sedangkan untuk pempek kakap bisa didapat di Warung Pempek Nony yang terletak di Jalan Sudirman.

Setelah ditraktir makan pempek. Saya pun diantar ke hotel. Hotel yang saya tempati adalah Hotel Sanjaya. Hotel ini adalah salah satu hotel berbintang pertama di Palembang. Didirikan tahun 1958 oleh seorang pengusaha bernama Ibu Nellywati sebagai Djaja Hotel sebalum akhirnya berkembang menjadi hotel berbintang empat. Namun sayang, hotel ini nampaknya enggan mengadaptasikan diri dengan desain interior terkini. Sehingga terasa agak jadul.

Sehabis shalat magrib, saya meminta hotel memesankan taksi Blue Bird. Sebetulnya di depan hotel banyak taksi lokal yang bersedia mengantar dengan tarif sesuai kesepakatan. Tapi saya memang merasa lebih tenang jika memakai taksi argo, apalagi dengan label burung biru. Tak sampai 10 menit, taksi yang dipesan datang. Supirnya turun menyambut. Masih muda, saya taksir usianya masih dibawah 25 tahun. Saya minta dia untuk mengantar saya ke tempat-tempat yang sudah saya petakan sebelumnya.

Saat masuk mobil, saya ketahui namanya Adriansyah. Ketika mobil beranjak meninggalkan hotel, Adriansyah menyalakan audio mobil. Edan, dia menyetel lagu metal dari flashdisk. Saya tidak tahu pasti apa band yang dia putar. Tapi dari sound dan gaya musik, mirip dengan skena hardcore Ujungberung. Ketika saya mulai ikut menghentakkan kaki, dia bertanya “nggak papa ya pak, musiknya gini..”. Saya jawab “justru mantap bro”.

Objek pertama yang kami datangi adalah the famous one, Jembatan Ampera. Jembatan Ampera merupakan penghubung wilayah utara dan selatan Palembang. Menyeberangi Sungai Musi yang sejak jaman Sriwijaya telah menjadi urat nadi dan penentu pola perkembangan Palembang. Jembatan Ampera dibangun tahun 1962-1965. Dengan biaya USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00). Ide pembangunan jembatan yang bisa menghubungkanSeberang Ulu dan Seberang Ilir sebenarnya telah ada sejak zaman walikota Le Cocq de Ville. De Ville memperjuangkan ide pembangunan jembatan untuk “mempersatukan” Palembang pada tahun 1924. Namun hingga berakhirnya masa pendudukan Belanda, ide itu tidak kunjung terealisasikan.

Pasca kemerdekaan, gagasan itu kembali dicuatkan. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan isu pembangunan jembatan pada sidang pleno 29 Oktober 1956. Pada tahun 1957, akhirnya dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Tim ini kemudian melakukan lobi kepada pemerintah pusat agar mendukung rencana itu. Lobi ini kemudian membuahkan hasil. Presiden Soekarno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Jembatan ini menurut masterplan akan dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, tepat di pusat kota. Pembangunan jembatan dimulai pada April 1962. Biaya pembangunan diambil dari dana pampasan perang dari Jepang. Jepang juga menyumbang beberapa tenaga ahli sebagai konsultan.

Peresmian jembatan dilakukan pada tahun 1965, dengan nama Jembatan Bung Karno. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, saat gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Adriansyah menawarkan diri untuk memotret saya. “Biar masuk instagram, pak.. Sah masuk Palembang..” katanya. Dengan kaus Australia oleh-oleh kawan kantor, saya pun berpose kaku di Ampera.

Itenerary saya menyebutkan kami harus pergi ke area Beteng Kuto Besak. Namun karena arah mobil kadung menuju selatan, Adriansyah menawari saya untuk mengunjungi Kompleks Olahraga Jakabaring yang kata Adriansyah hanya berjarak lima kilometer perjalanan dari Jembatan Ampera ke arah selatan.

Wilayah Jakabaring berada di pinggir selatan Palembang. Kompleks ini dibangun awal tahun 2001. Bagi bobotoh Persib, Stadion Sepakbola Gelora Sriwijaya mungkin akan menjadi landmark yang tidak terlupakan, karena menjadi venue tempat Persib mengangkat lagi trofi Liga Indonesia 2014 setelah puasa gelar 19 tahun. Kompleks Olahraga Jakabaring memiliki standar yang mirip dengan Kompleks Olahraga Senayan, Jakarta. Venue untuk berbagai cabang dibangun dengan standar yang baik. Pertama kali dipakai untuk menggelar Pekan Olahraga Nasional tahun 2004.

Lagi-lagi Adriansyah memotret saya. Kali ini di depan Stadion Gelora Sriwijaya. Biar rada Bandung saeutik lah…

Perjalanan kami teruskan. Balik ke utara. Kami sempat mencoba bertandang ke Kampong Kapitan. Sebuah perkampungan Cina lama sejak masa kolonial. Namun rupanya sulit diakses dengan mobil, apalagi malam hari.

Kami pun beranjak menuju pusat kota. Kami berhenti di Monumen Perjuangan, samping selatan Masjid Agung Palembang di Jalan Merdeka. Monumen ini dibangun untuk memperingati perjuangan rakyat Palembang pada masa penjajahan dan masa revolusi. Sebenarnya monumen ini memiliki sebuah museum kecil. Namun karena datang malam hari, tentunya museum sudah tutup. Dengan pencahayaan yang bagus, monumen ini adalah objek foto yang bagus pada malam hari. Lagi-lagi saya minta dipotretkan oleh Adriansyah, yang setelah saya amati, memiliki sense of social media photography yang mantap.

Kami melanjutkan perjalanan ke objek berikutnya. Objek yang menurut saya menarik sekali. Yaitu Menara Ledeng. Soal Menara Ledeng ini telah saya tuliskan detailnya disini.

Dari Menara Ledeng, kami meluncur lagi menyusuri Beteng Kuto Besak. Benteng ini merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke 18. Pembangunan Beteng Kuto Besak sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1780 dengan mandor seorang China. Dibangun untuk menggantikan Beteng Kuto Lamo yang letaknya lebih jauh dari Sungai Musi.

Beteng Kuto Besak sejak dulu selalu menjadi tempat nongkrong yang keren bagi warga Palembang. Pemandangan sisi Sungai Musi dengan Jembatan Ampera yang diterangi lampu terasa cocok untuk berlama-lama. Adriansyah merekomendasikan saya untuk makan di warung-warung terapung (di atas perahu), yang mana menurut dia memiliki rasio perbandingan harga dan rasa pempek yang baik. Tapi saya yang sudah kenyang makan terpaksa menolak rekomendasi itu.

Objek terakhir yang kami datangi adalah Gedung Museum Sultan Badaruddin II. Gedung ini sebetulnya tidak ada kaitan langsung dengan SMB II kecuali fakta bahwa gedung yang dibangun tahun 1823 ini, didirikan diatas reruntuhan Beteng Kuto Lamo yang dihancurkan pasca penangkapan SMB II oleh Belanda. Gedung ini dibangun sebagai rumah dinas komisaris dagang Belanda, Yohan Isaac van Sevenhoven. Tema museum ini adalah garis besar sejarah Palembang.

Akhirnya habis pula list objek di catatan saya. Saya pun minta diantar pulang ke hotel. Sepanjang perjalanan pulang Adriansyah banyak bertanya tentang gaya perjalanan saya yang lebih banyak datang ke gedung tua dan tempat-tempat bersejarah. Saya ceritakan tentang Komunitas Aleut di Bandung. Adriansyah pun balik bercerita bahwa dengan mengantar banyak wisatawan, ia pun makin giat menggali pengetahuan ekstra tentang pariwisata Palembang. Terjawablah mengapa dia bisa bercerita banyak tentang sejarah Jembatan Ampera, sejarah Kampung Assegaf, dan tempat-tempat makan murah yang (menurutnya) enak. Menyenangkan mengetahui ada orang muda yang memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan skill dalam bekerja.

Adriansyah menurunkan saya di lobi. Argo menunjukkan angka Rp.125.000 untuk tiga jam perjalanan. Terhitung murah daripada rental mobil atau tarif yang ditawarkan taksi lokal. Saya pun memberi uang lebih pada Adriansyah, yang tentunya tidak seharga dengan info-info dan obrolan menyenangkan dengannya sepanjang perjalanan.

“Kalau balik lagi, cari aku ya pak..” katanya dari balik kaca sambil mobilnya beranjak meninggalkan lobby hotel. “Pasti bro..”.

Sumber Bacaan :

Poesponegoro, M.D.; Notosusanto, N. 1992. Sejarah nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: PT Balai Pustaka.

Reid, Anthony. 2012. Sumatera Tempo Doeloe. Jakarta : Komunitas Bambu .

Resink, G.J. 2012. Bukan 350 Tahun Dijajah. Jakarta : Komunitas Bambu: Jakarta.

Ricklefs, M.C. 1993. A history of modern Indonesia since c. 1300. California: Stanford University Press.

Santun, Dedi Irwanto. 2011. Venesia Dari Timur: Memaknai Produksi Dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial. Jakarta : Ombak.

 

 

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Catatan Perjalanan, Palembang, Sejarah, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s