Palembang #1 : Menara Ledeng, Politik Etis, dan Simon Snuyf

Dalam rangka perjalanan dinas, saya terbang ke Palembang pada tanggal 3 Desember 2014. Saya kebetulan menjadi salah satu pembicara dalam pelatihan agen produk unit-link dari AJB Bumiputera 1912. Melihat ada sedikit jadwal kosong pada malam hari, saya pun tertarik untuk ngaleut sedikit di Palembang. Saya pun mulai mencari objek-objek menarik di Palembang. Terdapatlah beberapa titik menarik; Jembatan Ampera, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Kawasan Beteng Kuto Besak, Kompleks Olahraga Jakabaring, dan Kampong Kapitan.

Perjalanan saya akhirnya dimulai di malam hari setelah mendarat. Saya ditemani oleh supir taksi Blue Bird yang bernama Adriansyah, masih muda dan pengetahuannya mengenai sejarah Palembang cukup detail. Saya pun berkeliling Palembang; mulai dari Jembatan Ampera, Kompleks Jakabaring, Menara Ledeng, Beteng Kuto Besak, lalu berakhir di Museum Sultan Badaruddin II. Karena perjalanan ini cukup menarik untuk diceritakan, mungkin saya akan bercerita per objek saja.

Salah satu objek menarik yang paling ingin saya tulis di Palembang adalah Menara Ledeng. Saat pertama kali mencari informasi di internet mengenai bangunan ini, gambaran awal saya adalah sebuah menara air, seperti yang terdapat di Cirebon. Namun setelah melihat gambarnya, apalagi setelah melihat langsung, ternyata agak jauh dari bayangan tersebut.

Awal abad ke-20, politik etis mulai diadopsi secara formal dalam kebijakan-kebijakan Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah mulai menaruh perhatian pada kesejahteraan rakyat secara umum. Nyaris seluruh bidang, mulai dari bidang pendidikan, ketahanan pangan, hingga perencanaan pengembangan daerah. Salah satu kebijakan etis untuk permasalahan pengembangan daerah adalah Decentralitatiewet (kebijakan desentralisasi pembangunan) yang disahkan tahun 1903. Kebijakan ini memungkinkan pemerintah daerah merencanakan sendiri pola pengembangan wilayahnya.

Dalam mengembangkan daerahnya, pemerintah daerah seringkali menunjuk ahli planologi untuk membantu mereka membuat rancangan pengembangan. Salah satu ahli desain wilayah yang paling banyak mendapat proyek dari pemerintah-pemerintah daerah adalah Ir.Thomas Karsten, seorang insinyur, arsitek, dan planolog asal Amsterdam. Pada akhir 1920-an, Karsten mendapat mandat dari pemerintah untuk mendesain pengembangan Kota Palembang. Karsten, yang pada saat itu telah sukses mendesain pengembangan Kota Semarang dan Kota Bogor, nampaknya memiliki visi bahwa pengembangan Palembang akan mengikuti gaya pengembangan wilayah pada masa Kesultanan Palembang, yaitu dengan membangun daerah tepi Sungai Musi.

Herman Thomas Karsten

Salah satu agenda Karsten di Palembang adalah menyediakan sumber air bersih bagi pemukiman Belanda di pinggiran Musi. Saat itu, kualitas air Sungai Musi dianggap tidak layak pakai, mengingat aliran Musi menjadi “one stop water activities” bagi warga. Mandi, mencuci pakaian, mencuci makanan, bahkan hingga kegiatan buang air dilaksanakan warga di Sungai Musi. Salah satu ide tentang penampungan air bersih ini adalah membuat menara penampung air bersih.

Ide ini diwujudkan oleh Ir. Simon Snuyf, arsitek yang menjadi Kepala Seksi Arsitektur BOW (Burgerlijke Openbare Werken), dinas pembangunan sipil Hindia Belanda. Snuyf memilih sebuah lahan di antara Sungai Kapuran dan Sungai Sekanak, dua buah sungai kecil di pinggir Musi, yang kini sudah ditimbun untuk dijadikan jalan dan jembatan. Bangunan ini dirancang tidak sekedar menjadi penampungan air, namun dibawah menara penampungan terdapat pula perkantoran untuk pemerintah kota. Tinggi bangunan dirancang 35 m dengan kapasitas air yang bisa ditampung mencapai 1.200m³dan dengan luas menara dan bangunan ini adalah 250 m². Target pendistribusian air bersih adalah warga Belanda di sekitar Jalan Tasik sekarang dan daerah Pasar 16 Ilir. Saat Jepang datang, ruang perkantoran dipakai sebagai kantor Syuco-kan (residen). Tahun 1956 dipakai sebagai kantor Walikota Palembang hingga sekarang.

Menara Ledeng. By : Indra Pratama.

Menara Ledeng. By : Indra Pratama.

Dengan desain bangunan yang unik, Menara Ledeng menjadi salah satu penanda yang unik dari Kawasan Kota Tua Palembang. Apalagi saat melam hari Menara Ledeng disorot oleh lampu sorot yang membuatnya terlihat megah dan eye catching.

Menara Ledeng Dilanda Banjir Besar tahun 1930-an, Setelah Sungai Kapuran Ditimbun Untuk Dijadikan Jalan dan Jembatan.

Menara Ledeng saat masih ada Sungai Kapuran

Menara Ledeng adalah salah satu karya unik dari Simon Snuyf. Karir Snuyf sendiri mulai menanjak setelah ia ditunjuk menjadi kepala seksi arsitektur BOW. BOW sendiri tadinya tidak memiliki seksi khusus arsitektural dalam perencaan dan pembangunan wilayah. Kondisi ini mendapat kritik pedas dari P.A.J Mooijen, arsitek, planolog, sekaligus pelukis asal Antwerpen, Belanda. Mooijen, yang kelak sukses membangun wilayah Menteng, pada tahun 1907 mengkritik bangunan-bangunan pemerintah karya BOW yang bergaya Empire Style sebagai “tiruan yang tak bernyawa atas Hellenisme yang telah lama mati”. Pada 1909 BOW akhirnya mendengar kritik Mooijen dan membentuk seksi arsitektur dengan Snuyf sebagai kepala dibantu Ir. J. van Hoytema.

Ir. J. van Hoytema (kiri) dan Ir. Simon Snuyf (kanan)

Beberapa hasil karya Snuyf pribadi selama berkarir di BOW terbukti menjadi hasil karya yang diakui secara arsitektural, dan menjadi era transisi antara Empire Style dan arsitektur modern. Beberapa karya tersebut antara lain :

  1. Kantor Pos Medan, karya Snuyf. Dibangun tahun 1909.
  2. Kantor Pusat NILLMIJ Batavia (sekarang Gedung Jiwasraya JL.Veteran, Jakarta Pusat), dibangun tahun 1909 atas desain Snuyf dan Mooijen.
  3. Kantor NILLMIJ Bandung (sekarang Gedung Jiwasraya Alun-Alun Bandung), didesain oleh Snuyf tahun 1909.
  4. Menara Ledeng Palembang (sekarang Kantor Walikota Palembang), didesain oleh Snuyf tahun 1928, dibangun tahun 1929-1930.

Kantor Pos Medan

Karya-karya seksi arsitektur BOW saat dipimpin Snuyf terbukti bisa keluar dari apa yang dikritik oleh Mooijen. Karya-karya arsitek yang tergabung dalam BOW (salah satunya adalah Ir. F.J.L Ghijsels, arsitek kelahiran Tulungagung yang tergabung di BOW 1910-1915, yang kelak terkenal dengan biro AIA yang didirikannya setelah keluar dari BOW), mampu menjadi karya-karya yang berkualitas secara arsitektur. Bahkan seksi arsitektur akhirnya berkembang menjadi divisi sendiri (Afdeeling Gebouwen).

Bahan Bacaan :

Nas, Peter J.M. dan Martin de Vletter (ed). 2009. Masa Lalu dan Masa Kini : Arsitektur di Indonesia. Jakarta : Gramedia. Hlm.131.

Silver, Christopher. 2008. Planning the Megacity : Jakarta in Twentieth Century. New York : Routledge. Hlm 50.

Hartono, Samuel dan Handinoto. ‘Arsitektur Transisi’ Di Nusantara Dari Akhir Abad 19 Ke Awal Abad 20 (Studi Kasus Komplek Bangunan Militer di Jawa pada Peralihan Abad 19 ke 20). Jakarta : Petra. Hlm. 89.

Handinoto. Studi Perbandingan Karya 3 Arsitek Belanda Kelahiran Jawa Di Indonesia. Jakarta : Petra. Hlm.4-5.

Jessup, Helen. 1988. Netherlands Architecture in Indonesia 1900-1942. Ph.D.Disertation. London : Courtloud Institute of Art.

Akihary, Huib. 1990. Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1970. Zuthpen : De Walburg Pers.

Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land, Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di sebuah Koloni. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Arsitektur, Catatan Perjalanan, Palembang, Sejarah. Bookmark the permalink.

One Response to Palembang #1 : Menara Ledeng, Politik Etis, dan Simon Snuyf

  1. Pingback: Palembang #2 : Melancong Bersama Adriansyah | oomindra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s