Menikmati Pagi di Menteng

Sabtu dan minggu biasanya kami sekeluarga habiskan untuk bermalasan di kamar. Sebenarnya ada keinginan untuk mengajak Fizha dan Maminya untuk berjalan-jalan di Jakarta, namun saya masij agak khawatir tentang adaptasi mereka dengan suhu Jakarta, terutama mami yang sedang hamil anak kedua kami. Maklum, kami tidak punya kendaraan pribadi plus tidak punya budget untuk naik taksi jauh-jauh hehehe.

Tapi pagi tadi, maminya Fizha terlihat sehat, Fizha juga terlihat ceria. Maka saya beranikan mengajak mereka berwisata ke daerah Menteng. Kenapa Menteng, nggak Kota Tua?. Menteng cukup adem, banyak pohon. Itu saja alasannya :).

Pukul 08:30 kami sudah duduk manis di Stasiun Duren Kalibata. Menunggu kereta jurusan Jakarta Kota. Ketika naik kereta, Fizha dengan matanya yang berbinar riang langsung melahap habis seluruh pengalaman baru ini. Tempat duduk yang nyaman, AC yang dingin, serta jadwal yang cukup ketat. Ternyata jika kosong, KRL Commuter Line kita ini keren dan asyik juga. Sayang citranya sering rusak oleh kepadatan penumpang serta kebobrokan infrastruktur.

image

Kami turun di Stasiun Gondangdia, sengaja kami turun di Gondangdia agar bisa jalan ke Suropati, tujuan pertama kami, dengan naik bajaj. Kebetulan Fizha dan Maminya belum pernah naik bajaj sebelumnya. Maklum urang Bandung ti leleutik. 15 menit perjalanan bajaj Gondangdia-Teuku Umar-Imam Bonjol pun jadi pengalaman yang asyik untuk kami. Getar brow.

image

Kami turun di depan rumah duta besar India. Yang bersebelahan dengan Rumah Dinas Gubernur DKI Jakarta. Kedua rumah ini saya sudah kagumi sekian lama sebagai contoh rumah terbaik di Menteng. Tadinya sempat terpikir untuk mengetuk rumah gubernur, karena mami ngefans sama Pak Basuki Tjahaja Purnama alias Koh Ahok, dan ngidam foto bersama. Tapi takut dimarahi ajudan hehe.

Masuk areal Taman Suropati, pret-pret-pret dan ngak-ngik-ngok suara instrumen musik seperti menyambut. Beberapa berlatih violin, ada pula yang berlatih akordeon, bahkan saksofon. Kata orang inilah salah satu khas Taman Suropati. Entah kenapa, mata saya langsung tertuju pada tukang tahu gejrot. Mengalahkan ketertarikan pada enam buah karya seni rupa dari enam seniman ASEAN yang menghias taman ini. Tahu gejrot dan minuman dari mas-mas “starlink” alias Starbuck Kelilink akhirnya menemani Fizha melihat burung merpati.

image

Mami rupanya punya ketertarikan lain. Dia mengaku melihat tukang cilok. Tapi ketika dicari si tukang cilok hilang entah kemana. Saya pun bantu mencari. Ketika kembali lagi di tempat duduk, saya malah menemukan mami dan Fizha sedang diwawancara SCTV, dimintai tanggapan mengenai kasus pembunuhan dan mutilasi anak di Riau. Hahaha.

image

Taman Suropati, untuk ukuran Jakarta, adalah tempat yang sangat adem dan nyaman. Kebersihan dan tanaman yang tertata baik, menjadikan taman ini ruang interaksi publik yang kondusif.

Perjalanan kami lanjutkan ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Saya nggak akan cerita banyak, saya sudah tuliskan sebelumnya, hehehe.

Keluar dari museum, sudah pukul 11:10, sambil menunggu waktu dzuhur, sepertinya mantap jika kita makan dulu di Sentra Kuliner Masjid Agung Sunda Kelapa. Kami pun duduk manis dan mulai kalap memesan. Mami pesan soto mie (enak sekali, Rp.13.000) dan tambah batagor, sementara saya makan bihun bakso (enak saja, Rp.13.000) semangkuk berdua dengan Fizha (meskipun akhirnya Fizha yang lebih banyak makan sih). Plus satu gelas jumbo es kelapa muda (enak sekali, Rp.8.000). Kenyang, murah dan enak.

Pas ketika selesai makan, adzan berkumandang. Kami pun masuk bergegas ke Masjid Agung Sunda Kelapa. Masjid ini dibangun dengan desain oleh Ir. Gustaf Abbas akhir tahun 1960-an dan diresmikan tahun 1971. Konon ketika dibangun, masjid ini memiliki desain yang sama revolusionernya dengan Masjid Salman di Bandung. Dibangun tanpa terpengaruh bentuk umum masjid Indonesia saat itu (kubah bawang ala Turki dan berbagai simbol Timur Tengah lain).

image

image

Setelah selesai shalat, kami pun bergegas pulang karena Aki dan Uti nya Fizha akan datang dari Bandung (sebetulnya tidak terlalu bergegas karena mami sempat beli buah potong). Kami kembali jalan ke depan Gedung BAPPENAS, eks Gedong Setan alias Loji Bintang Tomur, markas gerakan Freemasonry di Jakarta. Dari depan BAPPENAS kami naik taksi menuju Stasiun Sudirman. Menunggu kereta jurusan Bogor yang akan membawa kami pulang.

Perjalanan memang cukup singkat, hanya sekitar tiga jam. Namun kami sangat menikmati sisi indah dari Jakarta ini. Sisi dimana Jakarta terasa begitu ideal, begitu rapi seperti kota beradab di Eropa atau negara-negara maju lain.

image

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Catatan Perjalanan, Jakarta, Keluarga, Kuliner, Masjid, Taman and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Menikmati Pagi di Menteng

  1. mami fizha says:

    nanti jalan2 gini lagi ya pi.. seneng banyak cerita dan pengalaman baru.. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s