Mengintip Dapur Proklamasi : Rumah Maeda.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 untuk saya pribadi adalah sesuatu yang sangat sakral. Meskipun terjadinya proklamasi tak lantas secara de facto dan de jure membuat Indonesia diakui sebagai negara-bangsa (nation-state), namun saya berani bertaruh, tanpa proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia kemungkinan besar kembali jatuh ke tangan Belanda, dan mungkin akan bernasib sama seperti Antilles Belanda kini.

Oleh sebab itu saya memiliki sedikit obsesi terhadap kronik dari proklamasi. Mulai dari keberangkatan Soekarno-Hatta-Radjiman ke Dalat, Penculikan Rengasdengklok, hingga perumusan naskah proklamasi.

Sabtu ini akhirnya saya ditemani anak istri kesampaian mengunjungi satu artefak terpenting dalam konteks proklamasi, yaitu Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat.

Kami sampai di museum sekitar pukul 09:30. Di halaman museum sudah ramai oleh anak-anak seusia SMP, ada yang memakai baju pasukan pengibar bendera, ada pula yang memakai seragam sekolah biasa. Sempat khawatir juga, jangan-jangan museum ditutup karena ada kegiatan. Namun ternyata satpam museum dengan ramah menyatakan museum buka seperti biasa.

Namun setelah masuk dan mendatangi meja penjualan tiket, kami pun tahu bahwa ada yang tidak biasa di museum hari itu, ternyata pihak museum menggratiskan tiket masuk, spesial untuk menyambut 17 Agustus. Kami pun diberi tiga buah buku komik biografi tokoh nasional : Iwa Kusumasumantri, I Gusti Ketut Pudja, dan Ahmad Soebardjo. Plus satu buah buklet panduan museum.

image

Kami pun mulai berkeliling, istri saya sangat terpana dengan desain rumah ini. Elegan dengan halaman depan dan belakang yang luas. Memang desain rumah seperti ini adalah template dari rumah-rumah di kawasan garden city Menteng yang didesain awal oleh P.A Mooijen. Desain rumah-rumah di Menteng mengadopsi gaya-gaya rumah abad 19 di daerah.Weltevreden, gaya rumah Jawa, dengan karakter utama adalah rumah utama dikelilingi halaman, sebagai pemberi jarak dengan tetangga kiri-kanan-belakang dan jalan depan. Desain ini tentunya berbeda dengan desain pemukiman di Kota Tua Batavia, dimana rumah-rumah disusun berdempet seperti di kota-kota Eropa abad 16-17.

image

Ruang depan rumah Maeda luas, dengan satu buah meja panjang dan belasan kursi. Meja ini, dan satu set meja tamu kecil di timur, dulu dipakai para tokoh yang hadir pada malam perumusan proklamasi. Sayang, seperti semua furnitur lain yang dipajang, meja dan kursi ini adalah replika.

image

Lalu kami masuk ke ruang makan, disinilah Soekarno, Moh.Hatta, dan Ahmad Soebardjo membuat draft naskah proklamasi. Naskah ini disusun secara hati-hati, bahkan sempat terdapat tiga kali perubahan kata.

Naskah yang sudah jadi lalu dibawa ke sebuah ruang di bawah tangga, dimana terdapat sebuah mesin ketik buatan Jerman. Pemuda Sayuti Melik kemudian mengetik naskah tulisan tangan Soekarno dengan mesin ketik tersebut. Setelah naskah hasil ketik selesai, Hatta menawarkan kepada semua yang hadir malam itu untuk menandatanganinya. Namun mayoritas menolak, dan mengusulkan Soekarno-Hatta saja yang menandatanganinya sebagai wakil bangsa Indonesia. Sikap ini cukup mengecewakan bagi Hatta yang tidak habis pikir mengapa orang-orang tersebut menolak mencantumkan namanya di sejarah terbesar bangsa ini. Akhirnya Soekarno dan Hatta menandatangi naskah tersebut. Penandatanganan dilakukan diatas sebuah piano klasik buatan Jerman.

image

Demikianlah bagaimana lantai satu rumah Maeda menjadi saksi bagi peristiwa paling bersejarah bangsa Indonesia.

Kami pun naik ke lantai dua. Dimana Maeda dan ajudannya menunggu para kawannya menyelesaikan tugas mereka. Ruangan yang dulu menjadi kamar Maeda cukup luas, dengan kamar mandi yang modern; kloset duduk, wastafel, dan bathtub. Juga terdapat dua kamar kecil di sebelah selatan kamar Maeda.

Lantai dua museum kini menjadi ruang pajang linimasa sejarah Indonesia sebelum dan pasca proklamasi. Sejujurnya, materi yang ditampilkan di lantai dua ini terkesan sepotong-sepotong. Maksudnya mungkin hendak merangkum secara garis besar sejarah pergerakan, tetapi bagi yang awam, ditambah ketiadaan pemandu, agak membingungkan.

Ada beberapa materi yang cukip menarik di display lantai dua yang harusnya mungkin bisa digarap lebih serius. Yaitu satu display berisikan profil Tadashi Maeda, dan satu ruangan khusus berisi profil dan benda-benda peninggalan beberapa tokoh yang terlibat aktif pada malam perumusan proklamasi. Meskipun masih terkesan tebang pilih.

Daripada memuat banyak info tanpa konteks, ada baiknya materi yang ditampilkan di lantai dua dipersempit dengan konteks penyusunan naskah. Misalnya materi tentang mengapa Tadashi Maeda (dan kebanyakan angkatan laut Jepang) bersimpati pada pergerakan Indonesia, atau bagaimana Wikana bisa menjalin kontak dengan Maeda untuk meminjam rumahnya sebagai tempat rapat tanpa bisa diketahui pihak angkatan darat Jepang. Detail-detail seputar peristiwa proklamasi sudah banyak sekali dikupas dalam banyak sekali buku, dan dengan sendirinya, banyak sekali sudut pandang.

Di halaman belakang rumah sedang diselenggarakan lomba cerdas cermat sejarah antar sekolah dasar se Jakarta. Sambil beristirahat, kami pun menonton jalannya lomba. Mengagetkan sekali, pertanyaan-pertanyaan trivial yang cukup sulit bisa anak-anak itu jawab. Mereka bisa menjawab siapa saja tokoh yang diperintahkan Soekarno untuk menyebarluaskan berita proklamasi, berapa kata yang dirubah di naskah asli proklamasi, siapa Burhanudin Muhammad Diah, dan beberapa pertanyaan lain yang sulit. Apakah di sekolah dasar diajarkan materi sedetail itu?. Meskipun keren, sebenarnya saya kurang sepaham dengan metode belajar sejarah dengan pertanyaan-pertanyaan trivia.

Kesan saya untuk museum ini masih kurang baik. Meskipun disuguhi visual yang memukau dari rumah Maeda, AC yang dingin, serta pengaturan pajangan yang baik, namun museum ini miskin akan upaya mengajak pengunjung untuk menginterpretasi semua informasi yang terpajang. Semua hanya paparan dan paparan. Fakta dan fakta. Sama saja dengan lomba cerdas cermat sejarah di halaman belakang. Jika seperti ini terus, saya takut keinginan masyarakat memahami dan mendekati sejarah akan tinggal sejarah. Hanya berhenti pada simbol. Seperti saat saya menulis tulisan ini, dimana listrik Kalibata City harus dimatikan untuk mensyahdukan malam renungan di Taman Makam Pahlawan.

image

Advertisements

About oomindra

Marketing, antusias terhadap sejarah, musik, dan beberapa hal lain
This entry was posted in Jakarta, Museum, Sejarah and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s