Pengalaman Menjadi Anak Vintage

Diambil dari Lauren Apfel : Confession of a Name Snob


Tahun-tahun pertama bersentuhan dengan dunia komunitas adalah masa-masa yang paling menarik sepanjang hidup saya. Saya menyaksikan banyak orang-orang berusia muda yang aktif dengan kegiatan-kegiatan dengan sudut pandang yang berbeda dengan kehidupan kompetitif khas kapitalisme yang menjadi dasar kehidupan di sebagian besar Indonesia. Kepala saya yang terbiasa dengan dogma kapitalis bertemu dengan hal-hal aneh yang dilakukan banyak sekali orang lain. 
Diantara seabrek hal aneh itu, yang paling berkesan adalah ketika di Bandung saya bertemu dengan komunitas-komunitas penggemar sejarah dan bangunan tua, komunitas cosplay (costume playing), busana jaman dulu (jadul), komunitas pecinta sepeda onthel, komunitas belajar membaca huruf Sunda dan Jawa Kuno, dan komunitas musik yang bergaya dan berbunyi seperti musik-musik populer di masa lalu. Saya pun tak urung mengenal kata kunci yang beratus kali terdengar : vintage. Bagi saya yang belum terpikir untuk mencari tahu lebih lanjut, kedua kata itu adalah perlambang untuk melihat, mengambil, dan memuja hal-hal dari masa lalu. 

Saya mulai bergaya vintage, dimulai dengan cerita indah Jalan Braga tahun 1920-an, menikmati es krim yang konon tidak pernah berubah resep sejak hampir seratus tahun lalu di Restoran Sumber Hidangan, memandangi relief ala Amerika Tengah di lobi Hotel Grand Preanger sambil berucap “art deco!”, bersepeda onthel dengan baju ala inspektur perkebunan Belanda di foto-foto Tropenmuseum, sampai mendengarkan sebuah kelompok keroncong yang menyajikan lagu “Als de Orchideen Bloeien” yang konon adalah gubahan Ismail Marzuki saat masih bermain band bersama Lief Java. Dengan melakukan semua hal itu, dan membaca beberapa literatur singkat, saya merasa sudah sebagai “buaya sejarah”. 

Namun pemahaman baru saya akan terminologi vintage kini membawakan saya perasaan geli sendiri pada diri saya yang ada di masa-masa itu. Masa-masa itu ketika saya refleksikan kembali, adalah masa-masa yang sangat norak. Saya merasa berbeda dengan orang lain yang seragam dalam berpakaian, berpengetahuan, menyantap makanan, dan menikmati seni. Saya mengambil jenis pakaian, mengambil foto-foto, memandangi gedung, mencuri bunyi, dan mengkoleksi pengetahuan, tanpa merasa perlu tahu konteks, urgensi, baik-buruk, relevansi. 

Ide vintage sendiri berasal dari satu istilah pada proses pemilihan dan pembuatan wine. Konteks umum vintage yang paling terkenal (meskipun kaprah) adalah kepercayaan bahwa wine yang berumur tua, adalah wine dengan kualitas yang tinggi. Terminologi tersebut dimasukkan ke kajian humaniora, dan memiliki makna percaya bahwa sesuatu yang terjadi di masa lalu, atau tua, lebih baik dari hal serupa di masa kini.

Saya sadar, bahwa saya dulu hanya seorang pemulung. Bukan pemulung mulia yang menghidupi dengan memulung, tapi pemulung yang sombong dengan hanya memulung barang bekas yang belum tentu punya harga di pengepul. Saya memulung unsur budaya dan informasi dari masa lalu, dan memandangnya dengan sudut pandang terbaru saat itu. Saya memuja barang-barang bekas itu, menempatkannya sebagai pujaan yang bisa mengangkat kekerenan saya sebagai seorang anak muda “hipster”. 

Akhirnya barang-barang (budaya-budaya) bekas pakai itu hanya seperti pajangan museum yang tidak ada label informasi di bawahnya. Tidak dikenali, dipahami, direvitalisasi, apalagi dikembangkan. Singkatnya, saya penggemar “sejarah” yang ahistoris. Semua yang saya lakukan adalah bentuk derivatif dari snobbery. Saya tetap menjadi salah satu dari mereka yang dicuci otak oleh tren. Tidak berbeda dengan orang-orang yang saya pandang rendah karena tetap makan di gerai makanan cepat saji, berwisata ke Bali dan Borobudur, dan memakai pakaian distro. Saya merayakan itu semua sebagai turis yang berlibur sejenak dari keseragaman dan ketatnya kompetisi dalam bertahan hidup. 

Terdengar menyedihkan. Tapi tanpa berusaha membela diri dan mengarang-ngarang, apa yang saya lakukan saat itu adalah cerminan dari sudut pandang umum generasi muda bangsa ini tentang masa lalu. Tidak perlu strategi metode penelitian sejarah, bahkan yang sederhana, tak perlu tahu asbabun nuzul. Yang penting saya konsumsi, dan voila! : I am cooler than you. 

Semoga tidak banyak lagi kawan-kawan yang harus mengalami masa-masa itu.


Advertisements
Posted in Pemikiran, Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Minggu ini sebenarnya kurang cocok untuk bernostalgia. Jiwa raga saya banyak tersita untuk urusan masa depan. Membuat banyak perencanaan, untuk rumah tangga dan terutama untuk kepentingan perusahaan. Angka-angka dalam konteks pendapatan, biaya, cicilan, sampai ke perjanjian penjualan dan rebate fee klien, hadir sejak Senin pagi. Yang saya lakukan persis seperti apa yang saya kritisi di tulisan sebelumnya tentang “Manusia Jakarta” yang hidupnya banal dan sempit waktu. Tidak cukup waktu dan/atau kemampuan untuk membaca, baik buku, ataupun kehidupan. Pergi pagi pulang malam, tidur sebentar untuk kemudian berangkat lagi pagi hari berikutnya.

Namun obrolan di grup pegiat inti Ngojak, atau tertasbihkan dengan nama Grup Komisaris Ngojak, akhirnya sukses menjadi rem yang pakem untuk saya, manusia Jakarta yang meluncur mengikuti arus deras yang memabukkan ini. Obrolan membuat saya merasa harus kembali ke 12 November 2016. Tepatnya ke Ngojak #3, yang berjudul Jakarta, Sebuah Awalan. Perjalanan ini ternyata belum tercatatkan oleh siapapun.

Rute ini kami desain untuk menceritakan tentang bagaimana Jakarta tercatatkan sebelum datangnya orang Eropa dan historiografinya yang sok positivistik tapi tetap memihak itu. Sederhananya, Jakarta di awalnya banget. Siapa yang menghuni, seperti apa tata kota yang berlaku, dan seperti apa daerah ini dijalankan oleh mereka. Dan utamanya, kami ingin bercerita tentang sejarah hubungan Jakarta dengan Ibunya, yaitu sungai Ci Liwung.

Hari itu kami seharusnya berkumpul di Stasiun Jakarta Kota pukul 9 pagi. Namun apa lacur, gangguan sinyal masuk Stasiun Pasar Minggu membuat teman-teman yang datang menggunakan KRL jalur Bogor-Kota datang terlambat satu jam. Itu belum ditambah dengan jam berangkat yang memang sudah terlambat kira-kira setengah jam. Walhasil baru pukul 10.30 kami bisa memulai perjalanan. Tercatat ada 32 pejalan yang ikut belajar hari itu. Banyak muka-muka baru, entah downline dari siapa saja. Some of them stays, some of them kapok nantinya.

Bermaksud menjadi warga pejalan kaki yang taat aturan, kami berjalan mengular melewati jalur bawah tanah. Beberapa teman, yang mungkin masih ingin lebih lama lagi menjadi warga negara berkembang, meloncati pagar pembatas dan menyeberang langsung ke tujuan kami; Gedung OLVEH.

Gedung OLVEH ini sebenarnya jauh dari cerita utama. Gedung ini baru dibangun oleh firma Schoemaker yang digawangi Charles Prosper Wolff dan Richard Arnold dari keluarga Schoemaker (asal Banyubiru) pada 1921, dan diresmikan tahun berikutnya. Namun gedung ini menyimpan dua simbol yang sangat penting buat siapapun yang berminat mempelajari sejarah tata ruang Jakarta.

Pertama, gedung ini adalah simbol bergeraknya ide revitalisasi Kota Tua Jakarta.¬†Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) besutan Pak Lin Che Wei dan konsultan Bhirawa Architects telah sukses menjadikan gedung ini sebagai tonggak awal proyek ambisius revitalisasi ini. Terlihat nanti, beberapa gedung sedang dikurung seng dalam rangka revitalisasi. Meskipun saya dalam menyikapi rencana revitalisasi Kota Tua, selalu tercegat pada pertanyaan yang disalurkan Bang Ridwan Hutagalung (@pamanridwan) yang belum bisa saya jawab; “buat apa revitalisasi Kota Tua?”. Wisata? berapa duit yang bisa dihasilkan Kota Tua, apakah bisa menghasilkan, bahkan untuk mencapai level impas?. Konservasi budaya (aristektur)? budaya siapa yang kita konservasi di sini?. Budaya kapitalis londo!.

Simbol kedua yang ditawarkan gedung ini sebenarnya jauh lebih penting. Saat renovasi, tim arsitek menemukan level lantai asli gedung ini sebelum diratakan dan ditimpa oleh Schoemaker bersaudara. Level lantai asli ini berangka tahun 1879 dan terletak nyaris satu meter di bawah permukaan jalan sekarang. Kondisi ini menunjukkan bawah dalam 138 tahun, permukaan jalan sudah dinaikkan sembilan puluh centimenter lebih!. Jadi satu hal penting yang bisa kita pelajari, bahwa Jakarta dibangun dengan timbun menimbun tanah selama ratusan tahun. Tentunya pola ini bisa dimaklumi jika kita melihat siapa musuh besar Jakarta. Tak lain tak bukan, banjir Ci Liwung dan Krukut yang perkasa.

Setelah berjuang mendengarkan pemaparan Daan tentang OLVEH karena distorsi polusi suara dari lalu lintas, 32 orang beruntung lalu berjalan lagi, tentu beriringan dan penuh tawa, ke arah Gedung Museum Bank Indonesia. Bukan, kami bukan akan masuk dan mengagumi karya Cuypers yang diwakili Marius Hulswit itu. Namun kami pergi ke bagian belakang komplek gedung untuk melihat sisa tembok Kota Batavia. Sisa tembok dari abad ke-18 ini terjaga dengan baik sehingga kami bisa bercerita banyak mengenai perkembangan batas Kota Batavia sejak kedatangan VOC, juga yang terpenting, cerita tentang Geger Pecinan 1740 yang bermula di area tempat kami berdiri. Di mana mayat-mayat bergelimpangan dan hanyut di sungai. Berawal dari sini, Geger Pacinan akhirnya berefek domino dan menimbulkan goncangan konstelasi politik Jawa secara masif, serta melahirkan juga stereotip-stereotip horizontal yang melibatkan warga keturunan Cina, yang ajaibnya masih bertahan hingga saat ini.

Kami lalu berjalan lagi menuju Jalan Kali Besar Barat. Sempat mampir sebentar di depan Toko Merah milik Gubernur-Jenderal Van Imhoff, kami terus berjalan menyusuri Sungai Ci Liwung yang akan segera bermuara. Kami berhenti di satu titik menarik dengan banyak penceritaan; Jembatan Kota Intan. Kami pun duduk-duduk setelah membayar retribusi masuk. Daan pertama kali melayangkan pandangan ke Timur, lalu menunjuk pertemuan Jalan Nelayan Timur dan Jalan Cengkeh nun jauh di sana. Di tempat yang dimaksud Daan itu, ditemukan salah satu artefak tertua sejarah Jakarta, Padrao Sunda Kelapa.

Awal abad 16, Kalapa (nama lama Jakarta), merupakan salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda Pajajaran selain Banten. Jarak yang tidak terlalu jauh dari ibukota kerajaan dan pengawasan yang baik dari Raja Tanjung Barat (kerajaan bawahan Pajajaran), menjadikan Kalapa anak emas bagi bisnis lada Pajajaran. Namun serangan dari koalisi Islam yang digawangi Demak dan Cirebon tak urung mengganggu kenyamanan Pajajaran dalam berbisnis dan berkuasa. Tahun 1521 Pangeran Surawisesa diutus oleh ayahandanya untuk meminta bantuan pada pelaut-pelaut Portugis yang bercokol di Malaka setelah menaklukkan tuan rumahnya.

Kisah perjalanan Surawisesa ini diabadikan (dan didramatisir) dalam Kisah Mundinglaya Dikusumah. Dimana Surawisesa/Mundinglaya melalui drama keluarga dan diutus menyusuri Ci liwung mencari Jimat Layang Salaka Domas di Jabaning Langit untuk membuat kerajaan kembali tentram dan tenang. Mundinglaya juga harus mengalahkan Guriang Tujuh, siluman sakti yang memiliki Layang Salaka Domas. Salaka Domas sendiri banyak ditafsirkan sebagai pertolongan dari Portugis, dan otomatis Jabaning Langit adalah Malaka, dan Guriang Tujuh tak lain adalah Portugis.

Kembali ke sejarah, Surawisesa ternyata tidak berhasil pada kesempatan pertama. Armada Portugis tidak langsung datang memberikan bantuan. Portugis baru datang ke Kalapa pada 1522 dan memancangkan Padrao di sebuah lahan tak jauh dari tepi pantai, dengan disaksikan pejabat-pejabat lokal. Portugis akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Pajajaran setelah mengamati potensi bisnis lada yang menggiurkan. Mereka berencana untuk setahap demi setahap mengumpulkan pasukan untuk ditempatkan di Kalapa. Rencana yang terbukti merugikan, karena lima tahun setelahnya, Portugis yang belum juga berkekuatan penuh di Kalapa, gagal membantu Pajajaran menahan serangan Demak yang dimotori Fadhillah Khan alias Fatahillah.

Sebuah ilustrasi menyebutkan garis pantai pada abad ke-16 di Kalapa adalah sekitar jembatan yang kami duduki, yang bergaris lurus dengan lokasi ditemukannya Padrao. Aktivitas vulkanik dari Gunung Gede dan Pangrango, juga Gunung Salak yang dilewati Ci Liwung, menghasilkan reklamasi alami yang menaikkan garis pantai Kalapa ke arah utara.

Daan kini menunjuk dengan mantap ke arah barat. Ke sebuah bangunan besar yang difungsikan sebagai hotel. Daan menceritakan rujukan Adolf Heuken yang berspekulasi bahwa kompleks keraton Jayakarta (nama Kalapa setelah diduduki koalisi Islam) terletak di area hotel tersebut. Setelah pendudukan Demak dan Cirebon, yang diwakili pejabat dari Banten, Jayakarta makin pesat berkembang sebagai pusat dagang. Proses de-Pajajaran-isasi yang merangsek habis ke ara hulu Ci Liwung, membuat mereka ganti menguasai bisnis lada.

Namun kebodohan dagang mereka pula yang nantinya berakibat fatal. Penguasa Jayakarta membuka ruang untuk dua korporat merkantilis terbesar dan terlicik dunia saat iti, VOC asal Belanda dan EIC dari Inggris. Keduanya diberi gudang di masing-masing sisi Ci Liwung dekat keraton. EIC di sebelah timur, dan VOC di sebelah barat. Penguasa Jayakarta yamg bermaksud memperluas perdagangan, malah harus berurusan dengan kelicikan VOC yang diam-diam memperluas gudang, dan tawuran antara kroco VOC dan EIC.

Setelah banyak cerita mengenai periode awal, kini kami akan beranjak ke periode berikutnya, yaitu tiga abad pendudukan VOC dan Belanda atas Jakarta. Untuk itu, rombongan berjalan pelan ke arah Galangan VOC. Sembari berfoto-foto di bengkel kapal abad 17 ini, Saya dan Daan bergantian bercerita tentang proses penguasaan Jayakarta oleh J.P Coen dari VOC. Setelah diizinkan menempati gudang di timur keraton, VOC memperluas gudangnya, baik secara ilegal maupun legal. Puncaknya adalah ketika mereka mendapatkan hak guna tanah seluas 1.5 hektar, masih di timur Ci Liwung, untuk dijadikan gudang. Di lahan baru itu, yang dinamai Nassau Huis, dan dikembangkan lagi pada 1618 menjadi berupa benteng, VOC diam-diam mempersiapkan tentara dan senjata.

Dari basis benteng ini, pada 1619 Coen dan pasukan VOC menyerang keraton dan membumihanguskannya. Pasukan VOC mengejar para pemimpin lokal sampai ke batas-batas selatan dan timur kota. Dari basis benteng ini pula, Coen merenovasinya menjadi sebuah benteng besar pada 1621 yang dinamai Benteng Kota Batavia, sesuai dengan keputusan De Heeren Zeventien, kelompok aristokrat Belanda yang memegang saham VOC. Wilayah ini pula yang menjadi medan pertarungan antara VOC dan Mataram beberapa tahun setelahnya.

Hujan tak menghalangi kami untuk menuju objek berikutnya, bangunan tertua yang masih bertahan di Jakarta, sebuah kompleks pergudangan yang kini difungsikan sebagai Museum Bahari. Kami pun kembali duduk-duduk dan bercerita di gedung yang mulai dibangun tahun 1650 ini. Kami pun sambung menyambung mengaitkan Kalapa dengan peristiwa-peristiwa dan konstelasi politik di Jawa. Mulai dari masa Hindu-Buddha, pergeseran kekuatan ke arah Demak, bubarnya Demak, munculnya VOC, munculnya kekuatan lokal baru di Mataram dan Banten, Geger Pecinan, sampai reformasi di masa Daendels dan Raffles. Obrolan dengan tema ini tidak terasa begitu berat karena disampaikan dalam situasi yang tidak formal, bahasa yang santai, serta mood yang mendukung karena penceritaan-penceritaan di objek-objek sebelumnya.

Tak terasa lebih dari satu jam kami berteduh di Museum Bahari. Setelah foto keluarga, kami pun berjalan menuju titik terakhir  perjalanan kali ini, sebuah kompleks gudang yang berada di sebelah selatan Kampung Tongkol. Langkah kami yang mulai lelah terseok saat melewati jalan inspeksi Ci Liwung di Kampung Tongkol. Jalan ini terbentuk atas kesadaran warga yang memundurkan hunian mereka 2-3 meter ke arah selatan sungai. Sebenarnya kesadaran yang dibayangi oleh ketakutan akan penggusuran. Senja ini terasa cukup ramai di Tongkol, karena teman-teman pegiat komunitas-komunitas peduli Ci Liwung akan menggelar layar tancap di kampung. Terlihat anak-anak kecil berbedak harum setelah mandi. Beberapa bapak menuju ke masjid sebelum adzan berkumandang.

Kami jalan ke arah selatan kampung, berkumpul lagi di depan sebuah gudang yang terlihat sangat tua, yang dijadikan tempat penyimpanan pasir yang entah milik siapa. Gudang ini seharusnya berusia lebih muda dari Museum Bahari. Namun tak seperti Museum Bahari yang terus mengoleskan gincu, gudang ini memilih untuk menyerah pada usia dan perkembangan lingkungannya. Gudang ini adalah salah satu gudang awal Batavia. Mengingat lokasinya yang berada lebih dekat ke laut, bisa jadi gudang ini dulu berisi komoditas-komoditas utama perdagangan Batavia dengan volume besar.

Didera lelah dan dikejar beberapa acara lain, perjalanan pun kami sudahi dengan tak banyak seremoni. Seorang pegiat Ci Liwung sempat menyambut kami, dan berbagi perspektif terkini tentang relasi manusia dan sungai. Dimana manusia dan sungai kini seakan-akan didesain sebagai musuh. Yang tak bisa lagi saling memakmurkan satu sama lain dan harus mengorbankan salah satu agar tak terjadi bencana.

Perspektif ini tentu menjadi ending yang ironis bagi cerita sejarah panjang Jakarta yang kami dapatkan sebelumnya. 5 abad Ci Liwung adalah sekutu utama manusia dalam upayanya mendapatkan kekuasaan dan kemakmuran di Jakarta. Ia disayang, dirias, dan arusnya disenangi. Diakui sebagai Ibu dari beberapa peradaban agung dan hulu dari kisah-kisah besar di tanah Jawa. Kini dia hanya selokan besar, mengalir sendu dalam kekeruhan, dipasung beton, dan dimusuhi oleh manusia Jakarta yang banal dan selalu tak punya waktu itu.

Dasar manusia Jakarta!.

Posted in Budaya, Catatan Perjalanan, Jakarta, Museum, NgoJak, Sejarah | Leave a comment

Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya. 

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja.

Manusia Jakarta (termasuk yang bersiang-hari di Jakarta) memiliki segalanya; gaji yang bagus, apartemen berkamar dua, mobil Jepang keluaran baru, dan akun toko daring. Namun minim waktu. Agresi yang tak tersalurkan membuat klub-klub malam, komunitas futsal kantor, pusat kebugaran, dan spa esek-esek tak pernah kekurangan peserta. Juga wisata rohani seperti ceramah keagamaan di Youtube, belanja di toko daring, menyukai foto wisata kawan di Instagram, sampai menyimak, dan lalu berpartisipasi, di perdebatan politik di Twitter dan Facebook.

Jika yang menanti pertanggungjawaban manusia di alam nanti adalah Locke, David Ricardo, Keynes, Fukuyama, Soros, sampai Janet Yellen dan geng Harvard di Wall Street, niscaya mereka pasti akan puas ketika manusia Jakarta menyampaikan hasil penjualan yang mencapai target, sertifikat pelatihan motivasi, persentase kenaikan gaji yang meningkat sejalan dengan inflasi, dan beberapa blok properti dalam portfolio aset. 

Lalu terdapat pertanyaan mendasar. Bagaimana manusia Jakarta nantinya harus bertanggung jawab di hadapan Ibrahim, Muhammad, Nietzsche dan Sartre?. Bagaimana mereka menghadapi pertanyaan; “apa saja yang sudah kamu lakukan sepanjang hidupmu?”. Dengan waktu yang sulit diperoleh, sulit pula manusia Jakarta belajar untuk merumuskan, dan lalu menjalani, esensi dari eksistensinya. Apakah bangun pagi, mandi, berkendara satu jam, bekerja empat jam, makan siang satu jam, bekerja kembali empat jam, berkendara satu-dua jam untuk pulang, dan kemudian mandi dan tidur kembali, cukup?. Bahkan untuk mengenali dirinya sendiri?.

Proses tarik menarik atas kondisi-kondisi dan ide-ide di atas akhirnya berujung pada budaya tekstual. Waktu yang sempit tidaklah cocok untuk menggali makna-makna di balik kata-kata yang terpampang di running texts televisi, status Facebook tokoh idola, satu bingkai foto Instagram dengan puluhan tagar, cuplikan video pidato seorang tokoh politik, unggahan berbayar selebtwit, ayat atau ceramah pemuka agama. Sempitnya peluang untuk menggapai konteks, membuat mereka akhirnya membuat ketetapan sendiri hanya melalui teks. Satu teks, bukan interteks. Satu teks dibaca, dipercaya literal, dan dipertunjukkan. Terlalu sempit pula waktu untuk berdialektika ketika ditemukan teks dengan tone yang berbeda. Maka lebih baik disingkirkan dari konsiderasi. 

Padahal konteks adalah manusiawi, konteks adalah natural, konteks butuh pembacaan yang lebih. Teks bisa dilahirkan oleh sistem komputer atau artificial intellegence lain. Tapi konteks hanya bisa lahir dari manusia; sifat-sifat, relasi interpersonal, persentuhan dengan jaman dan alam. Ketika konteks sudah tercerabut oleh eight to five, ketika itu pula kemanusiaan tercerabut dan manusia hanya tinggal statistik. 

Padahal Jakarta adalah ibukota. Manusia-manusia Jakarta sejatinya (masih) menjadi penanggung beban sebagai pelontar program-program untuk setiap jengkal Indonesia. Ekonomi, sosial, politik, hukum, dan budaya Indonesia ditentukan oleh manusia Jakarta. Apa jadinya Indonesia ketika dipandu oleh manusia-manusia yang sudah tercerabut dari akan kemanusiaannya?. Jangan sampai ide dari Jakarta adalah melulu bel kematian bagi lokalitas, karifan manajemen alam, budaya, dan hal-hal manusiawi lain.

Posted in Budaya, Ekonomi, Pemikiran, Politik | Tagged , , | Leave a comment

Subuh Terakhir Sebelum Syawal

Aku terseok
Kedinginan
Aku sesat
Keinginan
Aku sesal
Kegagalan

Adakah dia berulang
Atau dia hanya awal
Dari jalan panjang
Menuju Dia

Posted in Agama, Puisi | Leave a comment

Kiamat Sudah Dekat

Mungkin semenjak zaman meme, kita makin sering melihat kredo “the end is near” alias kiamat sudah dekat. Dituliskan dalam secarik kertas yang dibawa Homer Simpson. Biasanya ditujukan untuk mengejek sebuah kondisi yang sama sekali tidak lazim dan tidak pernah disangka akan terjadi, namun ternyata terjadi, sampai bisa dianggap seperti pertanda akhir jaman. Seperti ketika Nicklas Bendtner mencetak gol, status Facebook Jonru Ginting dibagikan ribuan kali, ketika referendum memutuskan Inggris Raya keluar dari Uni Eropa, dan puncaknya ketika Donald Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bagi kaum berkepercayaan yang mempercayai adanya hari kiamat, kiamat bisa disebut sudah dekat ketika orang-orang sudah tidak percaya akan Tuhan dan kepercayaan, atau ketika penyimpangan-penyimpangan menjadi sesuatu yang sudah lumrah dan dilumrahkan oleh umat manusia. Misalnya konon dalam beberapa agama, makin banyaknya manusia berorientasi non heteroseksual, rumah ibadah yang banyak tapi sepi, munculnya kejadian alam yang di luar pola, dan lain sebagainya. 

Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan setiap manusia dengan unik. Buktinya setiap manusia punya rekening pahala dan dosa masing-masing, manusia diturunkan ke dunia dan dibesarkan oleh Tuhan dalam kondisi lingkungan yang berbeda satu sama lain, diberi kesempatan yang berbeda-beda untuk belajar, memahami, dan menginterpretasi dunia (dan akhirat), serta diberi kondisi penyebab kematian yang juga berbeda-beda. 

Maka itu, jika tanda hari akhir identik dengan kondisi manusia yang sudah menyimpang dari kodratnya, maka bagi saya tanda kiamat yang paling jelas adalah keseragaman manusia dalam berpikir dan bertindak. Bagaimana tidak, keseragaman yang terjadi pada ribuan, jutaan orang, adalah penghinaan paling besar terhadap tugas manusia di muka bumi. Keseragaman biasanya adalah akibat dari teror. Beberapa manusia menciptakan ketakutan-ketakutan dengan banyak dalih, agar ribuan lainnya mau mengikuti pemikiran dan kemauan mereka. Para teroris itu mengharapkan terciptanya (atau langgengnya) sebuah hierarki manusia. Ada pemimpin, ada yang dipimpin. 

Padahal hierarki bukanlah pola hubungan yang seharusnya dilakukan manusia. Hierarki (by power) adalah pola yang khas dari komunitas hewan-hewan, atau bolehlah, komunitas manusia pra-modern. Siapa yang kuat, mereka yang menjadi pemimpin gerombolan. Struggle for power tidaklah cocok untuk manusia yang dibekali otak super cerdas dan perasaan, plus kemampuan mengembangkan teknologi, pada khususnya, dan budaya pada umumnya. Manusia, terutama di zaman modern, seharusnya bisa hidup dalam kondisi yang jauh lebih egaliter daripada nenek moyang yang hidup pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan.

Maka rajin-rajinlah berdoa, ketika melihat keseragaman di sekitarmu.

Posted in Agama, Budaya, Pemikiran, Politik | 1 Comment

Saudi 2030 sekarang.

Lagi rame pertemuan Trump dan Raja Salman di Saudi. Waktu di Dubai kemarin saya meeting sama NBD Asset Management (asset management BUMN nya Dubai). Fund managernya si Yong Wei Lee (orang Singapura) cerita bahwa next big thing in financial world adalah ketika Arab Saudi benar-benar membuka diri dan merealisasikan rencana-rencana Saudi 2030. Dia percaya bahwa di waktu yang tidak lama lagi, akan banyak kejutan dari ekonomi Saudi. Kondisi cadangan devisa yang hanya cukup untuk 5 tahun lagi (versi IMF) tentunya membuat Saudi harus gerak lebih cepat.

Pertama, Saudi sudah mulai mengkaji peluang untuk berinvestasi di beberapa negara, terutama di China, dengan jumlah yang besar (sekitar USD 65 Milyar di China). Amerika Serikat menjadi sasaran berikutnya. Potensi return Investasi langsung maupun pasar modal menjadi pilihan utama Saudi untuk menjauhkan diri dari ketergantungan terhadap minyak bumi. Defisit budget Saudi tahun ini saja sebesar USD 53 Milyar.

Kedua, rencana dibukanya gerbang bursa Saudi, yang selama ini cenderung tertutup untuk investor asing. Upaya ini sudah dimulai dengan penerbitan surat utang (sukuk) pada kuartal pertama 2017 oleh pemerintah Saudi sejumlah USD 9  Milyar. Penawaran yang masuk untuk penerbitan ini sejumlah USD 33  Milyar. Total sudah ada USD 13.75 Milyar surat utang dari Saudi yang terjual, dengan menghitung sukuk yang dikeluarkan Islamic Development Bank, DAAR, dan Aramco. Jika tren nya seperti ini, Saudi akan menjadi issuer besar di perdagangan sukuk dunia, bergabung dengan Indonesia dan Malaysia.

Ketiga, rencana IPO 5% saham Aramco, yang konon nilainya akan jauh lebih besar daripada Alibaba (sekitar USD 100 Milyar). Jika Aramco sukses, akan menjadi acuan untuk beberapa perusahaan lain, baik milik pemerintah ataupun milik swasta mengingat jumlah IPO Aramco saja masih sangat jauh dari kebutuhan devisa Saudi sampai mencapai level stabil. Broker-broker dunia dan para investor sudah bersiap membuka cabang di Saudi. Dan jika rencana itu terjadi dan bursa Saudi masuk ke dalam indeks Morgan Stanley (MSCI) untuk negara berkembang, maka makin deras pula aliran dana asing yang masuk ke Saudi.

Keempat, simplifikasi perusahaan-perusahaan milik negara. Saudi berencana melakukan beberapa merger perusahaan besarnya. Upaya pertama adalah dengan rencana merger HSBC Saudi British Bank dengan Allawal Bank. Tren merger ini sedang menjalar di negara-negara yang memiliki kondisi mirip dengan Saudi, seperti sudah dilakukan oleh Abu Dhabi dan Qatar. Merger ini diharap bisa menurunkan biaya perekonomian dan menjadi katalis efisiensi dunia finansial Saudi.

Kelima, menjaring pendapatan lebih besar melalui wisata, green card, umrah, dan haji. Pemerintah Saudi berencana membuat museum tentang perkembangan Islam di Riyadh, sebagai pilot project wisata bagi wisatawan non-muslim di Saudi. Juga memberi akses lebih mudah untuk green card, terutama bagi eksekutif-eksekutif asing perusahaan yang berbasis di Saudi. Lalu upaya peningkatan kapasitas penerimaan jemaah haji hingga mencapai 30 juta jemaah, dari kapasitas sekarang yang hanya mencapai 8 juta jemaah. Peningkatan kapasitas ini dilakukan dengan cara peningkatan kapasitas bandara, akomodasi, transportasi, dan perluasan kawasan haji.

Posted in Ekonomi | Leave a comment

Catatan Perjalanan Dubai : Hari ke-1

Meeting point kami adalah di Old Town Coffee terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten. Kami dan seluruh peserta akan datang pukul 11.00. Tim travel and tour mengurus visa kami semua, kecuali satu peserta yang terlambat datang karena baru selesai memeriksakan diri ke rumah sakit.
Pukul 00.40 Emirates Boeing 777 yang kami tumpangi mulai bergerak. Waktu perjalanan dipilih malam karena memungkinkan peserta untuk beristirahat sepanjang perjalanan. Saya sendiri hanya tidur kurang lebih 2.5 jam. Saya menonton film dokumenter “The Music of Strangers” yang menceritakan usaha cellist terkemuka Amerika Yo Yo Ma, untuk mengkolaborasikan bunyi-bunyi tradisional dari banyak wilayah di dunia. Yo Ma mengumpulkan musisi-musisi yang kuat akar tradisi dari berbagai wilayah, seperti Iran, Galicia, China, India, Balkan, dan masih banyak lagi. Mereka mengadakan workshop untuk ide gila Yo Ma, membentuk satu “musik baru” yang bisa dikategorikan sebagai musik dunia. Akhirnya kolaborasi ini dinamai Silk Road Music. Film ini juga menceritakan latar belakang kultural beberapa musisi yang terlibat. Secara sinematografi sangat standar, tapi sangat berisi dari segi konten.

Setelah 1 jam 58 menit menonton The Music of Strangers, saya berusaha tidur, dan akhirnya berhasil. Namun tak sampai satu jam kemudian, saya dibangunkan oleh tepukan seorang pramugari bule yang membawa sarapan. “Fried rice or Omelette?”, tanyanya ramah. Saya lihat jam di monitor hiburan, baru jam 3.15 waktu Jakarta. Sesi sarapan ini mungkin dimaksudkan Tuhan sebagai latihan kami untuk sahur pertama beberapa hari lagi. Nasi goreng yang ditawarkan cukup enak, apalagi disajikan dalam keadaan panas. Kami juga mendapatkan roti dingin, salad buah, dan makanan penutup berupa cookies. Alhasil saya pun tidak tidur lagi setelah itu. Saya bolak-balik ke toilet untuk pipis dan menonton beberapa video musik hingga tiba di Dubai.

Tiba di Dubai, kami dijemput oleh salah satu awak tour leader kami yang sudah bersiap di Dubai satu hari sebelum kami berangkat. Kami naik satu bus besar yang mengantar kami ke Westin Hotel Al-Habtoor, tempat kami akan menginap. Pengemudi kami adalah seorang paruh baya bernama Tahir dan guide kami yang sangat informatif, bernama Samir. Samir ini lebih senang dipanggil dengan nama bule “Sam”. Samir bercerita banyak tentang Dubai selama 20 menit perjalanan kami dari bandara ke Westin. Ia bercerita tentang struktur pemerintahan di Uni Emirat Arab, apa itu emirat, bagaimana emirat-emirat di Uni Emirat Arab dipersatukan dan dikelola hingga kini, sampai cerita singkat mengapa Dubai bisa berkembang menjadi salah satu hub bisnis utama dunia.

Emirat Dubai dipimpin oleh Keluarga Al-Maktoum. Dalam dua dekade terakhir, mereka mengubah Dubai dari sekedar kota pelabuhan dagang dan pengekspor sedikit minyak, menjadi kota hub ekonomi di regional. Dubai disulap menjadi free economic zone, dimana setiap transaksi, usaha, pembangunan, kegiatan pelabuhan (udara dan laut), dan investasi, tidak dikenakan bea dan pajak. Emirat hanya memodali pembangunan infrastruktur dasar dan tata letak, sedangkan pembangunan lainnya, usaha-usaha, dibuka selebar mungkin untuk swasta. Selain beberapa pemukiman di dekat pelabuhan, Dubai tadinya hanya merupakan padang pasir dengan beberapa juta penduduk. Pemerintah bersama swasta menyulap Dubai menjadi kota baru yang megah. Gedung-gedung perkantoran, atraksi eksklusif, pusat perbelanjaan, mereka bikin sebagai yang terbaik di dunia. Ada Burj Khalifa, menara 860 meter yang merupakan gedung tertinggi di muka bumi, Dubai Mall, mall terbesar di dunia yang juga memiliki akuarium air asin terbesar di dalam mall manapun di dunia, atraksi air mancur menari, arena main bersalju, mobil-mobil mewah, pantai buatan (hasil reklamasi) di Jumairah, sampai membuat sungai sendiri sebagai gimmick properti.

Bersamaan dengan selesainya Samir bercerita, kami pun tiba di Westin. Hotel ini terletak persis di samping sungai buatan, yang dinamai Dubai Canal. Setibanya di hotel dan melakukan proses check-in, kami yang kelaparan langsung pergi sarapan di lantai 1. Sarapan dengan rasa standar pun kami tandaskan juga karena rasa lapar yang tak tertahan. Lepas sarapan, kami beristirahat sebentar di kamar. Kamar yang bagus dengan fasilitas selayaknya bintang lima. Saya mendapat kamar di lantai 30, dimana balkon kamar saya menghadap ke dua menara tinggi yang sedang dibangun, dan hotel ke-2 tertinggi di dunia, J.W. Marriott Dubai.

Tak lama istirahat, kami pergi dengan baju formal pukul 11.30. Jas, blazer dan batik menjadi dress code kami hari itu karena akan ada dua meeting setelah makan siang. Bis bergerak untik mengantar kami makan siang di salah satu hotel terbaik di dunia, Burj Al-Arab. Hotel ini terletak di Jumairah, pada sebuah pantai hasil reklamasi. Restoran di Burj Al-Arab buka tepat pukul 12.00, maka kami yang sampai 20 menit sebelumnya menyempatkan diri untuk berfoto di Jumairah Beach, lengkap dengan jas dan blazer. Jumairah beach sendiri sangat unik secara kultural. Dubai menerapkan Islam sebagai agama resmi negara, namun praktiknya sangat terbuka terhadap pluralitas. Mungkin sebagai prasyarat untuk menjadi hub ekonomi internasional. Di pantai Jumairah, beberapa turis memakai bikini, beberapa turis memakai baju serba tertutup dan bercadar, juga ada yang berjas. Semua berjalan begitu saja.

Akhirnya kami tiba di lobi Burj Al-Arab. Hotel mewah ini berbentuk mirip layar perahu layar single. Dengan lapangan tenis legendaris di atasnya, dimana pernah menjadi venue eksebisi antara Roger Federer dan Rafael Nadal. Kami menunggu reservasi kami melalui proses konfirmasi di lobi. Hotel ini memiliki arsitektur yang menarik, baik dalam interior maupun eksterior. Yang tentunya sangat menggoda sebagai latar belakang swafoto. Reservasi kami sudah berhasil dikonfirmasi, maklum, restoran ini sangat ramai namun memiliki tempat yang terbatas, sehingga diperlukan reservasi jauh-jauh hari, apalagi untuk rombongan besar seperti kami.

Menu yang ditawarkan adalah menu-menu tradisional Dubai. Nasi Briyani dengan kambing bakar, sup-sup minim bumbu, seafood dengan yoghurt dan keju kambing, serta kue-kue tradisional yang sangat manis. Saya yang sebelumnya pernah mencicipi makanan Arab ala Indonesia, merasa semua makanan yang disajikan terlalu minim bumbu. Poin positifnya adalah daging kambing yang tidak berbau serta empuk sekali, selain fakta bahwa restoran ini sangat eksklusif dan mahal sehingga tidak semua orang bisa menikmati rezeki seperti saya ini.

Selesai makan siang, Tahir dan Samir menjemput kami kembali di lobi. Mereka akan antar kami ke kantor NASDAQ, salah satu dsri bursa efek di Dubai. NASDAQ adalah salah satu bursa acuan dunia, karena transaksinya yang ramai dan volume transaksi yang besar, serta dianggap cukup mewakili perilaku investor Timur-Tengah. Di NASDAQ kami sudah ditunggu oleh Tahir Mahmood, Head of Business Development NASDAQ. Kami akan mendapatkan pemaparan dari Tahir mengenai karakteristik perdagangan Sukuk (surat utang syariah) di Timur-Tengah. Volume perdagangan Sukuk di Dubai adalah salah satu yang terbesar di dunia, dan mungkin hanya kalah dari Inggris dalam hal penerbitan dan perdagangan. Kebutuhan akan efek-efek investasi syariah mulai tumbuh sejak tumbuhnya pasar ekonomi syariah di dunia. Dunia kini jauh lebih terbuka pada produk-produk asuransi, financing, leasing, dan dana pensiun yang berbasiskan aturan syariah. Maka dari itu, banyak negara atau perusahaan yang membutuhkan pendanaan, menerbitkan surt utang syariah, yang bisa dibeli oleh asuransi, financing, leasing, dan dana pensiun yang berbasis syariah. Sebut saja Inggris, Afrika Selatan, Indonesia, Hongkong, dan Malaysia. Jika nanti ada kemauan, akan saya paparkan mengenai prinsip-prinsip ekonomi syariah seperti murabahah, ijarah, dan istijna. Pemaparan dari Tahir membuka mata kami akan tumbuh pesatnya ekonomi dan efek-efek syariah. Berita baik untuk pelaku investasi Indonesia, dimana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggodok aturan yang membolehkan reksa dana atau Kontrak Investasi Kolektif (KIK) syariah, membeli efek syariah dari luar Indonesia. Mengingat minimnya suplai efek syariah dalam negeri yang membuat likuiditas cukup kecil.

Setelah Tahir menutup pintu lift untuk kami turun, kami naik kembali bus menuju kantor Bloomberg Dubai. Platform penyedia database, analisa, dan berita tentang ekonomi ini memang terkenal akan desain kantornya yang unik. Tidak ada tujuan formal akan kedatangan kami, melainkan untuk mengenalkan lebih jauh para peserta, yang notabene adalah para pengguna platform ini, untuk bertandang langsung dan melihat bagaimana platform ini dikelola. Kami diterima oleh Tom Robson dan Pau, mereka mengajak kami melihat proses kerja Bloomberg, seperti pemilahan dan penyuntingan konten serta analisis dari para kontributor, hingga melihat strategi pemasaran Bloomberg Dubai. Tak lama berkeliling, kunjungan kami tutup dengan berfoto bersama di akuarium air asin yang menjadi ciri khas kantor Bloomberg di seluruh dunia, meskipun bagi saya, kantor Bloomberg di Jakarta jauh lebih keren.

Dengan kondisi yang lelah lagi mengantuk, kami kembali ke hotel untuk berganti pakaian. Agenda selanjutnya cukup menyenangkan, yaitu sesi belanja bebas di Dubai Mall. Berbeda dengan keberangkatan sesi meeting tadi pagi, kali ini seluruh peserta sudah berkumpul di lobi bahkan 10 menit sebelum waktu yang ditentukan. Bus kembali mengantar kami, diiringi oleh wanti-wanti dari Samir akan luasnya Dubai Mall ini, sehingga banyak kasus wisatawan asing yang tersesat dan kesulitan menemukan rombongan. Setelah turun bis dan berjalan masuk, Samir menentukan dengan sangat tegas bahwa kami harus berkumpul di Star Atrium di lantai Lower Ground Dubai Mall pada pukul 20.00 tepat.

Setelah Samir menutup dengan “Happy shopping!”, seluruh peserta serentak membubarkan diri. Saya menemani geng Bapak-bapak yang mencari oleh-oleh simpel untuk kolega di kantor dan keluarga di rumah. Kami pun memilih toko Discover Dubai, tak jauh dari Star Atrium. Toko ini tampak memiliki banyak pilihan suvenir dengan desain-desain yang menarik. Saya membeli beberapa hiasan kulkas, beberapa set cangkir kopi, dan dua pak pulpen. Total belanja saya 219 Dirham (1 Dirham = 3750 Rupiah). Setelah bapak-bapak selesai membayar, kami pun pergi ke arah supermarket. Supermarket memang menjadi opsi yang baik untuk membeli oleh-oleh, terutama dalam bentuk snack, karena tentu harganya adalah standar harga lokal.

Selepas dari supermarket, kami yang tujuan belanjanya sudah tercapai, memutuskan naik ke lantai Ground untuk melihat akuarium air laut yang konon terbesar di dunia yang ada di dalam mall. Karena mall ini sangat luas, mungkin luasnya 3-4 kali Kota Kasablanka, kami berjalan cukup lama untuk menemukan akuarium. Setelah bertemu, kami takjub sendiri dengan semua hal “wah” yang bisa terjadi jika aliran kapital masuk dengan lancar. Bayangkan, akuarium ini lebih besar daripada akuarium utama yang ada di S.E.A Aquarium Singapura. Ada 4-5 hiu berukuran besar, Sting Ray, Manta Ray, hingga banyak ikan-ikan lain yang berukutan lebih kecil.

Setelah dari akuarium, kami memutuskan untuk berjalan mengelilingi mall. Kami merasa percaya diri karena Samir sudah membekali kami dengan peta mall agak kami tidak tersesat. Namun ternyata bukan nyasar yang jadi masalah kami, namun stamina yang terkuras. Kami tahu kemana harus berjalan menuju meeting point, tetapi jaraknya sudah terlanjur jauh. Akhirnya kami beristirahat sejenak sambil membaca-baca peta. Setelah dirasa cukup, kami berjalan sampai akhirnya menemukan Star Atrium lantai LG.

Setelah semua peserta berkumpul, kami dibawa menuju Restoran Al-Hallab. Restoran makanan Lebanon ini memiliki view jelas ke arah Burj Khalifa dan Dancing Fountain. Kami duduk di meja yang terletak di balkon. Kedatangan kami langsung disambut oleh Dancing Fountain yang spektakuler. Kami pun berebutan lapak untuk mengabadikan. Menu-menu yang dipesan datang dengan jarak waktu yang cukup jauh satu sama lain, mungkin karena restoran sedang dalam kondisi full-seat. Makanan-makanan ini jauh lebih cocok di lidah kami daripada makanan di Burj Al-Arab siang tadi. Menu kambing, sapi, ayam, ikan, dan udang yang dibakar sungguh menggugah selera. Belum lagi cocolan keju kambing yang jauh lebih tasty. Kami makan cukup banyak malam itu.

Setelah makan, kami pun kembali lagi ke hotel. Istirahat hari itu sungguh terasa sebagai agenda termewah, mengingat esok harinya ada dua agenda meeting dan agenda desert safari.

Posted in Catatan Perjalanan | Tagged | Leave a comment