Kiamat Sudah Dekat

Mungkin semenjak zaman meme, kita makin sering melihat kredo “the end is near” alias kiamat sudah dekat. Dituliskan dalam secarik kertas yang dibawa Homer Simpson. Biasanya ditujukan untuk mengejek sebuah kondisi yang sama sekali tidak lazim dan tidak pernah disangka akan terjadi, namun ternyata terjadi, sampai bisa dianggap seperti pertanda akhir jaman. Seperti ketika Nicklas Bendtner mencetak gol, status Facebook Jonru Ginting dibagikan ribuan kali, ketika referendum memutuskan Inggris Raya keluar dari Uni Eropa, dan puncaknya ketika Donald Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bagi kaum berkepercayaan yang mempercayai adanya hari kiamat, kiamat bisa disebut sudah dekat ketika orang-orang sudah tidak percaya akan Tuhan dan kepercayaan, atau ketika penyimpangan-penyimpangan menjadi sesuatu yang sudah lumrah dan dilumrahkan oleh umat manusia. Misalnya konon dalam beberapa agama, makin banyaknya manusia berorientasi non heteroseksual, rumah ibadah yang banyak tapi sepi, munculnya kejadian alam yang di luar pola, dan lain sebagainya. 

Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan setiap manusia dengan unik. Buktinya setiap manusia punya rekening pahala dan dosa masing-masing, manusia diturunkan ke dunia dan dibesarkan oleh Tuhan dalam kondisi lingkungan yang berbeda satu sama lain, diberi kesempatan yang berbeda-beda untuk belajar, memahami, dan menginterpretasi dunia (dan akhirat), serta diberi kondisi penyebab kematian yang juga berbeda-beda. 

Maka itu, jika tanda hari akhir identik dengan kondisi manusia yang sudah menyimpang dari kodratnya, maka bagi saya tanda kiamat yang paling jelas adalah keseragaman manusia dalam berpikir dan bertindak. Bagaimana tidak, keseragaman yang terjadi pada ribuan, jutaan orang, adalah penghinaan paling besar terhadap tugas manusia di muka bumi. Keseragaman biasanya adalah akibat dari teror. Beberapa manusia menciptakan ketakutan-ketakutan dengan banyak dalih, agar ribuan lainnya mau mengikuti pemikiran dan kemauan mereka. Para teroris itu mengharapkan terciptanya (atau langgengnya) sebuah hierarki manusia. Ada pemimpin, ada yang dipimpin. 

Padahal hierarki bukanlah pola hubungan yang seharusnya dilakukan manusia. Hierarki (by power) adalah pola yang khas dari komunitas hewan-hewan, atau bolehlah, komunitas manusia pra-modern. Siapa yang kuat, mereka yang menjadi pemimpin gerombolan. Struggle for power tidaklah cocok untuk manusia yang dibekali otak super cerdas dan perasaan, plus kemampuan mengembangkan teknologi, pada khususnya, dan budaya pada umumnya. Manusia, terutama di zaman modern, seharusnya bisa hidup dalam kondisi yang jauh lebih egaliter daripada nenek moyang yang hidup pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan.

Maka rajin-rajinlah berdoa, ketika melihat keseragaman di sekitarmu.

Posted in Agama, Budaya, Pemikiran, Politik | 1 Comment

Saudi 2030 sekarang.

Lagi rame pertemuan Trump dan Raja Salman di Saudi. Waktu di Dubai kemarin saya meeting sama NBD Asset Management (asset management BUMN nya Dubai). Fund managernya si Yong Wei Lee (orang Singapura) cerita bahwa next big thing in financial world adalah ketika Arab Saudi benar-benar membuka diri dan merealisasikan rencana-rencana Saudi 2030. Dia percaya bahwa di waktu yang tidak lama lagi, akan banyak kejutan dari ekonomi Saudi. Kondisi cadangan devisa yang hanya cukup untuk 5 tahun lagi (versi IMF) tentunya membuat Saudi harus gerak lebih cepat.

Pertama, Saudi sudah mulai mengkaji peluang untuk berinvestasi di beberapa negara, terutama di China, dengan jumlah yang besar (sekitar USD 65 Milyar di China). Amerika Serikat menjadi sasaran berikutnya. Potensi return Investasi langsung maupun pasar modal menjadi pilihan utama Saudi untuk menjauhkan diri dari ketergantungan terhadap minyak bumi. Defisit budget Saudi tahun ini saja sebesar USD 53 Milyar.

Kedua, rencana dibukanya gerbang bursa Saudi, yang selama ini cenderung tertutup untuk investor asing. Upaya ini sudah dimulai dengan penerbitan surat utang (sukuk) pada kuartal pertama 2017 oleh pemerintah Saudi sejumlah USD 9  Milyar. Penawaran yang masuk untuk penerbitan ini sejumlah USD 33  Milyar. Total sudah ada USD 13.75 Milyar surat utang dari Saudi yang terjual, dengan menghitung sukuk yang dikeluarkan Islamic Development Bank, DAAR, dan Aramco. Jika tren nya seperti ini, Saudi akan menjadi issuer besar di perdagangan sukuk dunia, bergabung dengan Indonesia dan Malaysia.

Ketiga, rencana IPO 5% saham Aramco, yang konon nilainya akan jauh lebih besar daripada Alibaba (sekitar USD 100 Milyar). Jika Aramco sukses, akan menjadi acuan untuk beberapa perusahaan lain, baik milik pemerintah ataupun milik swasta mengingat jumlah IPO Aramco saja masih sangat jauh dari kebutuhan devisa Saudi sampai mencapai level stabil. Broker-broker dunia dan para investor sudah bersiap membuka cabang di Saudi. Dan jika rencana itu terjadi dan bursa Saudi masuk ke dalam indeks Morgan Stanley (MSCI) untuk negara berkembang, maka makin deras pula aliran dana asing yang masuk ke Saudi.

Keempat, simplifikasi perusahaan-perusahaan milik negara. Saudi berencana melakukan beberapa merger perusahaan besarnya. Upaya pertama adalah dengan rencana merger HSBC Saudi British Bank dengan Allawal Bank. Tren merger ini sedang menjalar di negara-negara yang memiliki kondisi mirip dengan Saudi, seperti sudah dilakukan oleh Abu Dhabi dan Qatar. Merger ini diharap bisa menurunkan biaya perekonomian dan menjadi katalis efisiensi dunia finansial Saudi.

Kelima, menjaring pendapatan lebih besar melalui wisata, green card, umrah, dan haji. Pemerintah Saudi berencana membuat museum tentang perkembangan Islam di Riyadh, sebagai pilot project wisata bagi wisatawan non-muslim di Saudi. Juga memberi akses lebih mudah untuk green card, terutama bagi eksekutif-eksekutif asing perusahaan yang berbasis di Saudi. Lalu upaya peningkatan kapasitas penerimaan jemaah haji hingga mencapai 30 juta jemaah, dari kapasitas sekarang yang hanya mencapai 8 juta jemaah. Peningkatan kapasitas ini dilakukan dengan cara peningkatan kapasitas bandara, akomodasi, transportasi, dan perluasan kawasan haji.

Posted in Ekonomi | Leave a comment

Catatan Perjalanan Dubai : Hari ke-1

Meeting point kami adalah di Old Town Coffee terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten. Kami dan seluruh peserta akan datang pukul 11.00. Tim travel and tour mengurus visa kami semua, kecuali satu peserta yang terlambat datang karena baru selesai memeriksakan diri ke rumah sakit.
Pukul 00.40 Emirates Boeing 777 yang kami tumpangi mulai bergerak. Waktu perjalanan dipilih malam karena memungkinkan peserta untuk beristirahat sepanjang perjalanan. Saya sendiri hanya tidur kurang lebih 2.5 jam. Saya menonton film dokumenter “The Music of Strangers” yang menceritakan usaha cellist terkemuka Amerika Yo Yo Ma, untuk mengkolaborasikan bunyi-bunyi tradisional dari banyak wilayah di dunia. Yo Ma mengumpulkan musisi-musisi yang kuat akar tradisi dari berbagai wilayah, seperti Iran, Galicia, China, India, Balkan, dan masih banyak lagi. Mereka mengadakan workshop untuk ide gila Yo Ma, membentuk satu “musik baru” yang bisa dikategorikan sebagai musik dunia. Akhirnya kolaborasi ini dinamai Silk Road Music. Film ini juga menceritakan latar belakang kultural beberapa musisi yang terlibat. Secara sinematografi sangat standar, tapi sangat berisi dari segi konten.

Setelah 1 jam 58 menit menonton The Music of Strangers, saya berusaha tidur, dan akhirnya berhasil. Namun tak sampai satu jam kemudian, saya dibangunkan oleh tepukan seorang pramugari bule yang membawa sarapan. “Fried rice or Omelette?”, tanyanya ramah. Saya lihat jam di monitor hiburan, baru jam 3.15 waktu Jakarta. Sesi sarapan ini mungkin dimaksudkan Tuhan sebagai latihan kami untuk sahur pertama beberapa hari lagi. Nasi goreng yang ditawarkan cukup enak, apalagi disajikan dalam keadaan panas. Kami juga mendapatkan roti dingin, salad buah, dan makanan penutup berupa cookies. Alhasil saya pun tidak tidur lagi setelah itu. Saya bolak-balik ke toilet untuk pipis dan menonton beberapa video musik hingga tiba di Dubai.

Tiba di Dubai, kami dijemput oleh salah satu awak tour leader kami yang sudah bersiap di Dubai satu hari sebelum kami berangkat. Kami naik satu bus besar yang mengantar kami ke Westin Hotel Al-Habtoor, tempat kami akan menginap. Pengemudi kami adalah seorang paruh baya bernama Tahir dan guide kami yang sangat informatif, bernama Samir. Samir ini lebih senang dipanggil dengan nama bule “Sam”. Samir bercerita banyak tentang Dubai selama 20 menit perjalanan kami dari bandara ke Westin. Ia bercerita tentang struktur pemerintahan di Uni Emirat Arab, apa itu emirat, bagaimana emirat-emirat di Uni Emirat Arab dipersatukan dan dikelola hingga kini, sampai cerita singkat mengapa Dubai bisa berkembang menjadi salah satu hub bisnis utama dunia.

Emirat Dubai dipimpin oleh Keluarga Al-Maktoum. Dalam dua dekade terakhir, mereka mengubah Dubai dari sekedar kota pelabuhan dagang dan pengekspor sedikit minyak, menjadi kota hub ekonomi di regional. Dubai disulap menjadi free economic zone, dimana setiap transaksi, usaha, pembangunan, kegiatan pelabuhan (udara dan laut), dan investasi, tidak dikenakan bea dan pajak. Emirat hanya memodali pembangunan infrastruktur dasar dan tata letak, sedangkan pembangunan lainnya, usaha-usaha, dibuka selebar mungkin untuk swasta. Selain beberapa pemukiman di dekat pelabuhan, Dubai tadinya hanya merupakan padang pasir dengan beberapa juta penduduk. Pemerintah bersama swasta menyulap Dubai menjadi kota baru yang megah. Gedung-gedung perkantoran, atraksi eksklusif, pusat perbelanjaan, mereka bikin sebagai yang terbaik di dunia. Ada Burj Khalifa, menara 860 meter yang merupakan gedung tertinggi di muka bumi, Dubai Mall, mall terbesar di dunia yang juga memiliki akuarium air asin terbesar di dalam mall manapun di dunia, atraksi air mancur menari, arena main bersalju, mobil-mobil mewah, pantai buatan (hasil reklamasi) di Jumairah, sampai membuat sungai sendiri sebagai gimmick properti.

Bersamaan dengan selesainya Samir bercerita, kami pun tiba di Westin. Hotel ini terletak persis di samping sungai buatan, yang dinamai Dubai Canal. Setibanya di hotel dan melakukan proses check-in, kami yang kelaparan langsung pergi sarapan di lantai 1. Sarapan dengan rasa standar pun kami tandaskan juga karena rasa lapar yang tak tertahan. Lepas sarapan, kami beristirahat sebentar di kamar. Kamar yang bagus dengan fasilitas selayaknya bintang lima. Saya mendapat kamar di lantai 30, dimana balkon kamar saya menghadap ke dua menara tinggi yang sedang dibangun, dan hotel ke-2 tertinggi di dunia, J.W. Marriott Dubai.

Tak lama istirahat, kami pergi dengan baju formal pukul 11.30. Jas, blazer dan batik menjadi dress code kami hari itu karena akan ada dua meeting setelah makan siang. Bis bergerak untik mengantar kami makan siang di salah satu hotel terbaik di dunia, Burj Al-Arab. Hotel ini terletak di Jumairah, pada sebuah pantai hasil reklamasi. Restoran di Burj Al-Arab buka tepat pukul 12.00, maka kami yang sampai 20 menit sebelumnya menyempatkan diri untuk berfoto di Jumairah Beach, lengkap dengan jas dan blazer. Jumairah beach sendiri sangat unik secara kultural. Dubai menerapkan Islam sebagai agama resmi negara, namun praktiknya sangat terbuka terhadap pluralitas. Mungkin sebagai prasyarat untuk menjadi hub ekonomi internasional. Di pantai Jumairah, beberapa turis memakai bikini, beberapa turis memakai baju serba tertutup dan bercadar, juga ada yang berjas. Semua berjalan begitu saja.

Akhirnya kami tiba di lobi Burj Al-Arab. Hotel mewah ini berbentuk mirip layar perahu layar single. Dengan lapangan tenis legendaris di atasnya, dimana pernah menjadi venue eksebisi antara Roger Federer dan Rafael Nadal. Kami menunggu reservasi kami melalui proses konfirmasi di lobi. Hotel ini memiliki arsitektur yang menarik, baik dalam interior maupun eksterior. Yang tentunya sangat menggoda sebagai latar belakang swafoto. Reservasi kami sudah berhasil dikonfirmasi, maklum, restoran ini sangat ramai namun memiliki tempat yang terbatas, sehingga diperlukan reservasi jauh-jauh hari, apalagi untuk rombongan besar seperti kami.

Menu yang ditawarkan adalah menu-menu tradisional Dubai. Nasi Briyani dengan kambing bakar, sup-sup minim bumbu, seafood dengan yoghurt dan keju kambing, serta kue-kue tradisional yang sangat manis. Saya yang sebelumnya pernah mencicipi makanan Arab ala Indonesia, merasa semua makanan yang disajikan terlalu minim bumbu. Poin positifnya adalah daging kambing yang tidak berbau serta empuk sekali, selain fakta bahwa restoran ini sangat eksklusif dan mahal sehingga tidak semua orang bisa menikmati rezeki seperti saya ini.

Selesai makan siang, Tahir dan Samir menjemput kami kembali di lobi. Mereka akan antar kami ke kantor NASDAQ, salah satu dsri bursa efek di Dubai. NASDAQ adalah salah satu bursa acuan dunia, karena transaksinya yang ramai dan volume transaksi yang besar, serta dianggap cukup mewakili perilaku investor Timur-Tengah. Di NASDAQ kami sudah ditunggu oleh Tahir Mahmood, Head of Business Development NASDAQ. Kami akan mendapatkan pemaparan dari Tahir mengenai karakteristik perdagangan Sukuk (surat utang syariah) di Timur-Tengah. Volume perdagangan Sukuk di Dubai adalah salah satu yang terbesar di dunia, dan mungkin hanya kalah dari Inggris dalam hal penerbitan dan perdagangan. Kebutuhan akan efek-efek investasi syariah mulai tumbuh sejak tumbuhnya pasar ekonomi syariah di dunia. Dunia kini jauh lebih terbuka pada produk-produk asuransi, financing, leasing, dan dana pensiun yang berbasiskan aturan syariah. Maka dari itu, banyak negara atau perusahaan yang membutuhkan pendanaan, menerbitkan surt utang syariah, yang bisa dibeli oleh asuransi, financing, leasing, dan dana pensiun yang berbasis syariah. Sebut saja Inggris, Afrika Selatan, Indonesia, Hongkong, dan Malaysia. Jika nanti ada kemauan, akan saya paparkan mengenai prinsip-prinsip ekonomi syariah seperti murabahah, ijarah, dan istijna. Pemaparan dari Tahir membuka mata kami akan tumbuh pesatnya ekonomi dan efek-efek syariah. Berita baik untuk pelaku investasi Indonesia, dimana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggodok aturan yang membolehkan reksa dana atau Kontrak Investasi Kolektif (KIK) syariah, membeli efek syariah dari luar Indonesia. Mengingat minimnya suplai efek syariah dalam negeri yang membuat likuiditas cukup kecil.

Setelah Tahir menutup pintu lift untuk kami turun, kami naik kembali bus menuju kantor Bloomberg Dubai. Platform penyedia database, analisa, dan berita tentang ekonomi ini memang terkenal akan desain kantornya yang unik. Tidak ada tujuan formal akan kedatangan kami, melainkan untuk mengenalkan lebih jauh para peserta, yang notabene adalah para pengguna platform ini, untuk bertandang langsung dan melihat bagaimana platform ini dikelola. Kami diterima oleh Tom Robson dan Pau, mereka mengajak kami melihat proses kerja Bloomberg, seperti pemilahan dan penyuntingan konten serta analisis dari para kontributor, hingga melihat strategi pemasaran Bloomberg Dubai. Tak lama berkeliling, kunjungan kami tutup dengan berfoto bersama di akuarium air asin yang menjadi ciri khas kantor Bloomberg di seluruh dunia, meskipun bagi saya, kantor Bloomberg di Jakarta jauh lebih keren.

Dengan kondisi yang lelah lagi mengantuk, kami kembali ke hotel untuk berganti pakaian. Agenda selanjutnya cukup menyenangkan, yaitu sesi belanja bebas di Dubai Mall. Berbeda dengan keberangkatan sesi meeting tadi pagi, kali ini seluruh peserta sudah berkumpul di lobi bahkan 10 menit sebelum waktu yang ditentukan. Bus kembali mengantar kami, diiringi oleh wanti-wanti dari Samir akan luasnya Dubai Mall ini, sehingga banyak kasus wisatawan asing yang tersesat dan kesulitan menemukan rombongan. Setelah turun bis dan berjalan masuk, Samir menentukan dengan sangat tegas bahwa kami harus berkumpul di Star Atrium di lantai Lower Ground Dubai Mall pada pukul 20.00 tepat.

Setelah Samir menutup dengan “Happy shopping!”, seluruh peserta serentak membubarkan diri. Saya menemani geng Bapak-bapak yang mencari oleh-oleh simpel untuk kolega di kantor dan keluarga di rumah. Kami pun memilih toko Discover Dubai, tak jauh dari Star Atrium. Toko ini tampak memiliki banyak pilihan suvenir dengan desain-desain yang menarik. Saya membeli beberapa hiasan kulkas, beberapa set cangkir kopi, dan dua pak pulpen. Total belanja saya 219 Dirham (1 Dirham = 3750 Rupiah). Setelah bapak-bapak selesai membayar, kami pun pergi ke arah supermarket. Supermarket memang menjadi opsi yang baik untuk membeli oleh-oleh, terutama dalam bentuk snack, karena tentu harganya adalah standar harga lokal.

Selepas dari supermarket, kami yang tujuan belanjanya sudah tercapai, memutuskan naik ke lantai Ground untuk melihat akuarium air laut yang konon terbesar di dunia yang ada di dalam mall. Karena mall ini sangat luas, mungkin luasnya 3-4 kali Kota Kasablanka, kami berjalan cukup lama untuk menemukan akuarium. Setelah bertemu, kami takjub sendiri dengan semua hal “wah” yang bisa terjadi jika aliran kapital masuk dengan lancar. Bayangkan, akuarium ini lebih besar daripada akuarium utama yang ada di S.E.A Aquarium Singapura. Ada 4-5 hiu berukuran besar, Sting Ray, Manta Ray, hingga banyak ikan-ikan lain yang berukutan lebih kecil.

Setelah dari akuarium, kami memutuskan untuk berjalan mengelilingi mall. Kami merasa percaya diri karena Samir sudah membekali kami dengan peta mall agak kami tidak tersesat. Namun ternyata bukan nyasar yang jadi masalah kami, namun stamina yang terkuras. Kami tahu kemana harus berjalan menuju meeting point, tetapi jaraknya sudah terlanjur jauh. Akhirnya kami beristirahat sejenak sambil membaca-baca peta. Setelah dirasa cukup, kami berjalan sampai akhirnya menemukan Star Atrium lantai LG.

Setelah semua peserta berkumpul, kami dibawa menuju Restoran Al-Hallab. Restoran makanan Lebanon ini memiliki view jelas ke arah Burj Khalifa dan Dancing Fountain. Kami duduk di meja yang terletak di balkon. Kedatangan kami langsung disambut oleh Dancing Fountain yang spektakuler. Kami pun berebutan lapak untuk mengabadikan. Menu-menu yang dipesan datang dengan jarak waktu yang cukup jauh satu sama lain, mungkin karena restoran sedang dalam kondisi full-seat. Makanan-makanan ini jauh lebih cocok di lidah kami daripada makanan di Burj Al-Arab siang tadi. Menu kambing, sapi, ayam, ikan, dan udang yang dibakar sungguh menggugah selera. Belum lagi cocolan keju kambing yang jauh lebih tasty. Kami makan cukup banyak malam itu.

Setelah makan, kami pun kembali lagi ke hotel. Istirahat hari itu sungguh terasa sebagai agenda termewah, mengingat esok harinya ada dua agenda meeting dan agenda desert safari.

Posted in Catatan Perjalanan | Tagged | Leave a comment

Apeiron

Tak akan pernah usai
Tak ada yang akan usai

Manusia,manusia
Serigala,serigala

Bunga, bendera, kepala
Pahala dan dosa.

Posted in Budaya, Pemikiran, Puisi, Uncategorized | Leave a comment

Sekantung Kentut Dari Kampungku

Panggil aku
Aku ingin melihat batas mataku
Di sampingmu

Jemput aku
Akan kubawa sekantung kentut
Dari kampungku

Maafkan aku
Hanya itu yang kami punya

Posted in Pemikiran | Leave a comment

Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok

Foto : rmol.co

Ahok kalah. Sosok yang setahun lalu nampak sebagai calon tak terkalahkan ini harus menerima nasib menjadi warga DKI biasa selama lima tahun kedepan setelah ia dan Djarot Saeful Hidayat kalah suara oleh Anies Baswedan dan pasangannya, Sandiaga Uno. Ibarat sepakbola, Ahok adalah Real Madrid era 2003-2005, sadis dalam menyerang, tapi sering melakukan blunder. Blunder tersebut, disikat habis oleh lawan-lawannya. Ahok terbantai oleh kesalahannya sendiri.

Kekalahan di DKI tentunya sangat merugikan posisi politik Jokowi. Jokowi terpilih dalam posisi penguasa-oposisi yang 50-50. Sama kuat antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Partai-partai in between kubu Jokowi dan kubu Prabowo bergerak cenderung random diantara kedua polar tersebut, harap maklum, untuk mencari makan diantara porsi-porsi PDIP, Gerindra, dan Golkar. Sebagaimana teori atas bipolaritas politik, akan selalu ada perang dingin antara dua kubu, dan dalam diam, keduanya kasak-kusuk mencari sekutu untuk menjadi satu tahap lebih kuat dibanding musuhnya.

Jawa adalah kunci, begitu dialog palsu Aidit di film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu tayang di tanggal 30 September malam saat Orde Baru. Tak salah, Jawa, meskipun tak mutlak, adalah salah satu kunci pokok untuk memenangkan persaingan politik tingkat nasional. Jokowi, sembari kerja keras membangun infrastruktur, pasti tidak akan luput dari plot penguasaan Jawa. 2014 kedua kubu cenderung seimbang di Jawa, dan Jokowi justru memiliki keunggulan suara di Indonesia Timur. Namun jika bisa menguasai Jawa, tentunya akan jauh lebih mudah bagi Jokowi untuk menang di 2019.

Setelah Ahok habis, kini Jokowi dan koalisinya ada baiknya segera move on dan beralih ke Jawa Barat dan Jawa Timur. Jawa Barat sudah 10 tahun dikuasai PKS lewat Ahmad Heryawan, dan Jawa Timur 10 tahun dikuasai Demokrat melalui Pakde Karwo. Sejak jauh hari sebenarnya bukan tidak ada persiapan dari kubu Jokowi. Di Jawa Barat, si golden boy Ridwan Kamil sudah merapat, meskipun melalui “tim satelit” Nasional Demokrat (Nasdem). Di Jawa Timur, PDIP memiliki tabungan di diri Tri Rismaharini, sosok yang sangat populer di Surabaya.

Ridwan Kamil, dalam waktu empat tahun, mampu memenangkan hati kebanyakan warga Bandung, dan sebagian warga Jawa Barat. Citranya yang muda, gaul, komunikatif, dan sekaligus seakan kaya dengan ide kreatif akan gimmick kota, menjadikannya sosok yang sangat populer. Namun ada faktor lain yang mesti dicermati koalisi penguasa pada Ridwan Kamil. Saat maju menjadi Walikota Bandung, Ridwan Kamil disokong oleh Gerindra dan PKS. PKS adalah partai yang sudah lebih dari satu dekade menguasai Jawa Barat. Budaya Islam ala Hizbut Tahrir yang menghiasi PKS rupanya sangat berkenan di sanubari warga Jawa Barat pasca reformasi yang mungkin cukup berjarak dengan Islam tradisional ala Jawa Timur yang diusung PKB/NU, ataupun nasionalisme kerakyatan yang diusung PDIP. Bandung sebagai barometer budaya intelektual di Jawa Barat secara sejarah sangat dekat dengan PKS, yang lahir dari pergerakan aktivis Islam kampus saat Orde Baru. Budaya yang sama juga bisa ditemui di basis suara besar lain : Kota dan Kabupaten Bekasi, Depok, Bogor, dan Sukabumi. Sehingga mulus bagi Kang Aher untuk bisa melaju dua periode sebagai gubernur. Jika pada perkembangannya Ridwan Kamil memilih merapat pada Kubu Jokowi secara total dan meninggalkan PKS, akan jadi perjuangan berat bagi Ridwan Kamil, apalagi pasca sentimen anti-Ahok yang terasa betul merambat hingga ke kaum muslim di kota-kota besar Jawa Barat. Bila benar gosip bahwa Netty Heryawan dan Dedi Mulyadi akan maju pula di 2018, masing-masing via koalisi Prabowo dan sisa kekuatan Golkar, sangat mungkin mereka, terutama Netty, yang akan mendulang untung dari pencitraannya seperti Anies Baswedan.

Di Jawa Timur posisi Jokowi juga masih belum aman. Pakde Karwo, yang tidak terhentikan selama dua periode, bahkan oleh badai yang melanda Demokrat sekalipun, membuktikan bahwa politik Jawa Timur tak melulu soal PKB dan NU. Kinerja kinclong Risma di Surabaya kemungkinan besar akan membentur kembali budaya pemilih Jawa Timur, yang belum beranjak dari pengaruh besar dogma agama. Setelah Ahok dilibas, Jokowi sebaiknya jangan dulu berjudi menempatkan Risma, yang seorang minoritas (via jenis kelaminnya) sebagai ujung tombak. Kunci Jokowi di Jawa Timur adalah sosok bernama Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul. Gus Ipul adalah seorang pembelot bagi PDIP, namun merupakan sosok yang sangat populer di mata kaum muslim tradisional Jawa Timur. Jika Jokowi menginginkan Risma menang di Jawa Timur, salah satu cara terbaik mungkin adalah dengan membonceng Gus Ipul. Gus Ipul menjadi calon gubernur, dan Risma menjadi wakil.  Peluang kombinasi ini memiliki faktor penentu utama, yaitu bagaimana PDIP dan Jokowi berkomunikasi dengan Muhaimin Iskandar. Cak Imin adalah seorang politisi hebat, yang tak segan merebut PKB dari keluarga Wahid, meliuk-liuk di antara pemain-pemain besar, dan menang besar, di Pemilu parlemen 2014, mengambil publikasi-publikasi beresiko (ingat Rhoma Irama?), dan bermain api dengan banyak pihak, seperti pasca Jokowi naik sebagai presiden. Gus Ipul mungkin adalah satu-satunya kekuatan PKB di level provinsi, sehingga tidak akan mudah bagi Cak Imin untuk melepas Gus Ipul ke sembarang tawaran. Apalagi juga ada kemungkinan bagi Cak Imin untuk mengorbitkan Abdullah Azwar Anas, yang kian mengkilap di ujung Jawa.

Jelas kedua misi ini tidak akan mudah untuk Jokowi. Apalagi pada kondisi Ganjar Pranowo di Jawa Tengah yang belum memperoleh publikasi yang baik selama memimpin Jawa Tengah, serta ambiguitas politik Sri Sultan Hamengkubuwono X. 2019 harus dimulai dari nol lagi oleh koalisi Jokowi setelah hari ini. Tidak boleh ada lagi blunder besar di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Posted in Pemikiran, Politik, Tokoh | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Pemimpin, Perlukah?.

Buat sebagian pecinta film horror, pasti pernah menonton beberapa film yang bertemakan kesurupan (exorcism). Pola yang umum adalah roh jahat memasuki seseorang, lalu mulai membuat sengsara hidip orang itu (medium) dan keluarganya. Si medium diterbangkan, dibuat sakit dan berteriak-teriak kepada pendeta yang mengacung-acungkan salib di depan wajahnya. Si roh kini memiliki kontrol sempurna atas si medium. Kita tahu kisah legendaris Emily Rose yang tidak ada angin tidak ada hujan, disurupi oleh roh jahat yang menyiksanya dari dalam, sampai akhirnya membunuh Emily.

Manusia secara saintifik didesain untuk memiliki kontrol penuh atas dirinya sendiri. Tuhan membekali manusia dengan kualitas otak yang jauh lebih brilian dari mahluk hidup manapun. Fisik manusia juga didesain mudah untuk beradaptasi di kebanyakan habitat yang disediakan alam. Bisa makan daging maupun tumbuhan. Bisa berenang, berjalan, memanjat, dan untuk beberapa saat, menyelam. Jikapun fisiknya tidak mampu, kapabilitas otak manusia memungkinkannya untuk membuat teknologi yang membantunya bertahan di lingkungan-lingkungan yang tak bisa diatas secara fisik belaka. Otak manusia juga memungkinkannya untuk mengatur emosi dan insting-insting kebinatangan, yang tidak mungkin dilakukan mahluk lain.

Singkatnya manusia adalah mahluk yang paling sempurna yang pernah diciptakan. Sampai hukum rimba berkembang dan berkembang jutaan tahun dan melahirkan politik, seni manusia untuk mengendalikan manusia lain demi keinginannya, persis seperti roh jahat kepada Emily Rose. Insting bertahan hidup manusia di tengah sumber daya yang terbatas, membuat otaknya memikirkan sebuah aturan main yang diharapkan dapat mempermudah bertahan hidup, dengan beberapa manusia yang dianggap lebih baik dari yang lain, sebagai regulator. Orang-orang ini bertugas memajukan orang-orang lain dalam kelompoknya, dan memastikan semua mereka bisa bertahan hidup dan atau hidup dengan lebih mudah dengan “bayaran” berupa previlege sebagai manusia dengan kedudukan yang lebih tinggi, dan terutama, hidupnya ditanggung oleh kelompok. Kepala kawanan, kepala keluarga, kepala suku, tokoh masyarakat, raja, penasihat, perdana menteri, dewan legislatif, hingga konsep presiden adalah perkembangan fungsi ini. Namun sifat tamak memang seringkali hadir dalam interaksi manusia dengan kelompoknya. Sifat yang kebinatangan ini seringkali hadir dalam bentuk perebutan posisi pemimpin kelompok. Previlege yang didapatkan ternyata juga menarik bagi anggota kelompok yang lain. Jadilah perebutan posisi pemimpin ini menjadi perang abadi antar beberapa manusia.

Pemimpin kelompok seharusnya juga memiliki misi membina dan memberdayakan seluruh anggota kelompoknya untuk berperan aktif dalam proses bertahan hidup. Namun ketakutan akan diambilnya previlege sebagai pemimpin oleh orang lain justru tak jarang membuat seorang pemimpin harus putar otak lebih banyak daripada tujuan kelompok sendiri. Dalam kawanan binatang tentunya jauh lebih simpel. Duel sampai salah satu mati, dan beres. Hewan yang hidup menjadi pemimpin. Namun dengan melibatkan otak, hati, dan tambahan nilai dan norma yang berkembang, lama-lama terumuskanlah seni mengekang calon pengganti bagi si pemimpin. Mungkin bisa diingat saat Thomas Hobbes menjabarkan bahwa negara (versi si pemimpin) harus menjadi Leviathan, seekor monster laut menakutkan, bagi rakyatnya. Dibuatlah kontrak-kontrak sosial, dimana negara (bentuk kelompok manusia yang menjadi tren belakangan), mengatur pola interaksi dan nilai-nilai yang berlaku untuk setiap rakyatnya. Atau lebih gamblang lagi diungkapkan oleh Nicollo Machiavelli, bahwa kejayaan dan kebertahanan seorang pemimpin, bisa menjustifikasi pemakaian imoralitas dalam prosesnya. Atau bentuk lain yang tidak kalah menakutkan : dogma agama.
Pemimpin, atau para pemegang previlege lain dalam masyarakat, akhirnya cenderung untuk meredam keberkembangan masyarakatnya secara individual. Karena dianggapnya, individu-individu yang berkualitas dan berpikir serta bergerak dengan kualitas yang baik pula, hanya akan menimbulkan keresahan bagi mereka yang lain, dalam tetap mempercayakan previlege kepada para pemimpin. Lihatlah bagaimana di banyak sekolah di banyak belahan bumi, dimana anak-anak diajar dengan metode dikte dan hapalan, dengan standar moral yang sudah dikonstruksi sebelumnya, agar ketika lulus nanti, dapat menjadi “anggota masyarakat yang baik”. Pada perkembangannya, pendidikan modern banyak ketahuan belangnya sebagai pabrik pengikut bagi para pemimpin. Kondisi ini diperparah dengan hadirnya golongan lain yang juga memiliki previlege secara sosial, yaitu para pemegang modal di masa Kapitalisme berlaku. Kita mungkin ingat bagaimana dominannya bad ending bagi kisah individu-individu yang “tercerahkan”.

Di Indonesia, sebuah negara dengan gap literasi yang tinggi dan mistisme yang masih sangat kental terasa, bahasan ini amat sangat relevan. Indonesia memiliki masa lalu dengan sistem feodal-agama yang sangat kental pada kerajaan-kerajaan pra-kolonial. Lalu secara bertahap selama tiga abad, dicengkeram oleh penjajah yang memperlakukan masyarakat sebagai “pahlawan devisa”. Diberlakukannya politik etis memang salah satu episode terang, dimana tujuan menjadikan pendidikan sebagai pabrik pangreh praja gagal total dan melahirkan generasi Sukarno, Hatta, dan Tan Malaka. Ketika kemerdekaan dicapai, ternyata Sukarno terlalu yakin bahwa previlege yang ia dapat selama menjabat sebagai presiden adalah bayaran yang setimpal untuk beberapa bulan kurungan di Banceuy dan Sukamiskin, serta beberapa tahun pengasingan di Bengkulu dan Ende. Rakyat Indonesia pun mendapat indoktrinasi “Paduka Jang Mulia”, “Penyambung Lidah Rakyat”, hingga “Putra Sang Fajar” merupakan Heru Tjokro, messiah tanah Jawa. Akhirnya masalah keberlangsungan hidup pula yang menggulingkan semua tirani Sukarno. Krisis ekonomi membawa momentum bagus bagi Suharto dan sepupu-sepupu Paman Sam untuk mengambil previlege Sukarno. Sukses besar. Selama 32 tahun akhirnya rakyat Indonesia dididik untuk menjadi pemuja “Bapak Pembangunan”, sekaligus menjadi buruh Astra dan perusahaan-perusahaan Sembilan Naga lainnya. Siapa berani berpikir bebas, stempel lambang palu-arit. Beres. Suharto dan kelompoknya nampak hanya bisa dikalahkan oleh maut. Namun Tuhan adil, diberikannya momentum bagi manusia-manusia Indonesia yang tercerahkan : Emha Ainun Nadjib, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, untuk mengantarkan Megawati putri Sukarno dan Amien Rais ke puncak kekuasaan atas Indonesia. Kisah lama yang tak akan berhenti berulang. Segagah apapun Susilo B.Y. mengatakan tidak untuk korupsi berulang kali selama 10 tahun.

Ada di mana manusia-manusia Indonesia selama itu?. Tentunya masih ada di posisi sebagai pengikut, pemuja, sekaligus buruh bagi para pemimpin. Ratusan juta kepala menjadi komoditas dan statistik yang diperebutkan untuk banyak kepentingan pemimpin. Tentunya setiap lima tahun kepala voters dibutuhkan sebagai anak tangga menuju puncak kepemimpinan. Juga ada target-target yang disimplifikasi seperti pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, dan Produk Domestik Bruto yang tentunya butuh statistik untuk bisa dibilang valid secara positivistik. Tak lupa juga sebagai tenaga kerja, sekaligus konsumen dari para pemegang modal.

Melihat semua kenyataan ini, tak urung saya jadi meragukan semua konstruksi arus utama tentang bagaimana sebuah kelompok manusia dikelola. Saya mengetahui Marxisme dan segala derivatifnya, Kapitalisme plus Liberalisme, Monarki, Negara Agama, hingga rezim-rezim transnasional. Tapi di semuanya saya masih menemukan apa yang saya caci sepanjang tulisan ini. Semua secara praktikal masih dalam tema besar yang mempertentangkan antara pemimpin dengan perkembangan kualitas orang yang dipimpinnya. Selama ada pemimpin, disitulah ada label subversif bagi anggota masyarakatnya yang berusaha memenuhi segala macam potensinya sebagai manusia secara individual.

Pernah membayangkan bagaimana hidup tanpa pemimpin?.

Pics : Distro of the Libertarian Left

Posted in Budaya, Ekonomi, Pemikiran, Politik, Sejarah | Tagged , , , , | Leave a comment