Adam

Apakah kau ingat orang pertama yang berani melawan ketidakmungkinan?
Ia yang tukar nikmat surga demi derita cinta
Ia yang berjalan terpincang di muka bumi
Ia yang cinta dan pincangnya menjadi sinonim bagi manusia

Namanya Adam.

Advertisements
Posted in Puisi, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Ujung-Ujungnya Jualan

Indonesia pecah. Indonesia pecah menjadi Jokowi-Anti Jokowi, Wahabi-Tradisional-Liberal, Pribumi-Non Pribumi, Zaman Now-Zaman Old, Traveler -Wisatawan -Flaneur, Musik Indie-Mainstream, Ahok-Anies, Tere Liye-Mojok, Bobotoh-The Jak, Stand Up Comedy -OVJ, Ika Natassa-@Infotwitwor, KPK-PKS bahkan Perokok-Anti Rokok.

Ketika memilih kubu, seseorang secara natural menyesuaikan dengan selera-selera yang ada pada dirinya. Selera, atau bisa kita sebut sebagai nilai, konon terbentuk dari paparan-paparan informasi dan (terkadang) interaksinya dengan pengalaman. Kata terbentuk, menyimbolkan bahwa selera atau nilai yang dianut manusia itu hadir secara natural. Paparan informasi dan pengalaman, datang sesuai arus takdir dan ketentuan semesta ke hadapan manusia.

Tapi apakah betul bahwa takdir (atau bagi yang tidak percaya, randomness) yang membawa informasi dan pengalaman itu kepada manusia?. Apakah juga takdir yang menghendaki manusia pada akhirnya memilih kubu-kubu yang sesuai dengan selera?. Saya termasuk yang tidak percaya dengan itu semua. Kelindan antara nilai, informasi dan pengalaman (yang siklikal, terus begitu) pasti memiliki distorsi.

Ketika bayi, manusia mendasarkan pilihannya pada pengalaman-pengalaman fisik. Secara natural, manusia hanya dibekali kemampuan fisik dasar seperti menangis dan meronta. Perlahan, manusia mengetahui bahwa susu, yang bisa menuntaskan rasa lapar, ada di payudara ibu, dan untuk mengeluarkannya, mulut harus menghisap. Tenggorokan lalu belajar menelan, usus belajar mencerna, dan saluran pembuangan belajar mengeluarkan sisa. Natural. Ketika sudah ada kesadaran, bayi mulai mengenal banyak informasi dari manusia lain lewat cinta, obrolan, dan nyanyian. Ia pun melihat manusia dewasa untuk tahu cara berjalan, cara menyanyi, cara bertepuk tangan.

Ketika si bayi menjadi anak-anak, banyak informasi lain yang masuk dari orang tua, nilai-nilai seperti makanan yang harus dihabiskan, tidak berlari di ruang sempit, tidak berteriak di depan umum, sampai kewajiban untuk beribadah. Ketika itu kelindan antara informasi dan pengalaman mulai menjadi rumit. Beruntung anak-anak memiliki masa emas, tahun-tahun di mana kemampuan otak mereka sangat tinggi dan terus berkembang. Dipuji, dimarahi, dipeluk, bahkan dikasari, menjadi pengalaman yang diterima dengan sangat baik untuk dikolaborasikan dengan informasi-informasi nilai yang diajarkan sebelumnya.

Sang bayi masuk sekolah, interaksi dengan kawan-kawan, guru, dan materi (serta media) belajar, berarti informasi dan pengalaman yang didapat semakin deras dan kadang arusnya tidak searah dengan informasi “rumah”. Perbenturan-perbenturan juga makin rumit dengan interaksi anak dengan media seperti televisi, buku, game dan internet. Anak pun mulai menjadi target pasar dari para pebisnis. Pariwara mainan, mainan edukatif, serial kartun, pertunjukkan boneka, tempat rekreasi, sampai makanan manis mulai menjamah mereka. Tak cukup dari situ, para orang tua pun menjadi target pasar dari pebisnis pakaian anak, kereta dorong, biskuit, psikolog anak, dokter anak, popok, dan sekolah.

Pubertas menambah nelangsa anak dalam mengelaborasikan dirinya dengan dunia. Keresahan seksual, pintu pengalaman yang makin terbuka, serta kedalaman yang makin hebat akan informasi. Jarak yang sudah mulai cukup jauh dengan nilai rumah menjadikan rentang usia ini menjadi medan pertempuran nilai, informasi dan pengalaman yang hebat. Sehingga tak jarang terjadi masalah psikologis yang cukup ekstrim di usia-usia ini. Media remaja, fesyen, teknologi, restoran, gaya hidup, musik pop, sampai puisi-puisi romantis merongrong lagi agar dibeli.

Di usia dewasa muda, puncak keresahan terjadi. Tuntutan berkarya (uang), paparan metode belajar pendidikan tinggi, aktivisme, menjadi input-input bagi pemikiran dan preferensi. Namun perbenturan dengan gaji pertama, keinginan untuk mandiri secara finansial, kebutuhan sandaran kepercayaan, menjadi celah masuk untuk fatwa-fatwa bijak tenaga pemasar asuransi, investasi, properti, sampai voucher-voucher belanja di gerai-gerai Mitra Adi Perkasa.

Begitu seterusnya selera, atau nilai, atau preferensi manusia terbentuk. Tidak banyak faktor yang bersifat takdir, kebetulan, atau natural di proses panjang itu. Kebanyakan bahkan berupa informasi-informasi pemasaran yang dijejalkan secara halus melalui media. Pemasaran dalam hal ini tentu bukan hanya dari pebisnis berbadan hukum resmi, namun juga dari para tokoh-tokoh bidang tertentu seperti sastrawan, musisi, pemuka agama, politisi, budayawan, seniman, sejarawan, sampai para influencer.

Karena banyak dipahami sebagai sesuatu yang natural, akhirnya secara “natural” pula manusia akhirnya mengikuti semua arus ini dengan sukarela dan pasrah. Apa pun yang datang di depan muka, itu lah yang diserap. Manusia menjadi yakin terhadap selera yang dianut, terhadap dirinya sendiri, dan pada titik tertentu, akhirnya merasa puas dan cukup. Merasa ajeg. Padahal jika merujuk tahapan-tahapan di atas, pasrah pada arus sebenarnya bukan karakteristik manusia. Manusia dibekali kapasitas otak yang besar, terlalu besar jika hanya dibutuhkan untuk mengelaborasikan apa yang datang saja.

Ada manusia seperti Socrates. Dia tidak terlena dengan arus utama Yunani Kuno yang mencintai “suara rakyat” dan kedamaian semu. Ia mengajak puluhan anak muda ke suatu tempat, bercerita tentang kemungkinan-kemungkinan lain. Yang harus didapat dari sebuah rangkaian sikap kritis, pertanyaan, rasa ingin tahu, pencarian, perenungan, dan berujung pada pendobrakan arus selera utama. Rangkaian yang tidak akan disukai orang-orang status quo seperti para penguasa dan pemuka agama yang mengagungkan ketenteraman dan kedamaian. Socrates pun mati mengenaskan.

Kubu-kubu dalam pertentangan horizontal dan vertikal di Indonesia, masing-masing memiliki orang-orang yang akan paling diuntungkan atau dirugikan dalam menang-kalah. Mereka harus memiliki basis massa untuk bisa menyokong. Maka dari itu, mereka membuat strategi pemasaran. Membuat doktrin, menyampaikannya secara halus sehingga diterima tanpa sadar sebagai si “takdir” tadi, membuat dan merawat basis massa fanatik, lalu mempertentangkannya dengan kubu lawan. Mereka membuat orang seakan memiliki kepentingan yang sangat dengan kubu-kubu itu. Strategi itu akhirnya membentuk pola pemikiran manusia Indonesia selalu terpaku pada pemikiran kolektif, yang tidak jarang justru elitis (kultus tokoh).

Hanya dengan berpikir kritis lah, kita tahu bahwa semua pertentangan ini, adalah UUJ. Ujungujungnya Jualan.

Posted in Agama, Budaya, Pemikiran, Politik, Uncategorized | Leave a comment

Mengapa Buzzer Adalah Pengabdi Setan

Menjelang Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 1940, Franklin Delano Roosevelt dan kubu Demokrat ketar-ketir. Roosevelt, di periode kedua memimpin Amerika Serikat, dianggap gagal dalam mengangkat kembali Amerika dari Great Depression. Harapan untuk kali ketiga menduduki kursi ruang oval Gedung Putih nampaknya semakin tipis. Apalagi dengan lawan Wendell Wilkie, seorang Republikan konservatif yang punya banyak sponsor dari kalangan konglomerat, terutama konglomerat media. Sementara Roosevelt, yang lebih melirik dampak Great Depression yang terjadi pada kelas pekerja, tentu tidak seksi di mata para taipan media.

Namun kemenangan 9.9% Roosevelt atas Wilkie pun terjadi. Roosevelt, yang tidak punya banyak media massa besar untuk mencorongkan namanya, bisa terpilih. Paul Lazarsfield, Bernard Berelson, dan Hazel Gaudet, sebuah tim yang didanai Rockefeller Foundation, menemukan sebuah pola komunikasi politik yang dianggap berhasil memenangkan Roosevelt. Dari 2400 responden, mereka menemukan fakta bahwa tim media Roosevelt, selain berkampanye langsung, juga berkampanye melalui tokoh-tokoh yang nantinya disebut “opinion leaders”. Mereka adalah orang-orang yang dianggap lebih “mumpuni” secara pengetahuan (terutama politik) dan dipercaya oleh masyarakat. Mereka inilah yang menyebarkan kampanye politik kepada masyarakat yang lebih rendah tingkat pengetahuannya. Hasil dari studi ini kemudian melahirkan sebuah teori yang dikenal dengan nama the Two-Step Flow of Communications. 

Elihu Katz, salah satu pengembang teori ini, dalam Personal Influence (1957), mendefinisikan tiga faktor yang membuat seseorang bisa menjadi, atau dijadikan, opinion leaders. Pertama, dia memiliki ekspresi “baik” atas nilai-nilai yang dianut masyarakat luas yang menjadi target pengaruh. Kedua, ia memiliki (atau setidaknya dianggap memiliki) kompetensi atas bidang yang akan dikampanyekan. Yang terakhir adalah memiliki pola hubungan sosial yang cocok dengan masyarakat target pengaruh. 

Teori ini terbukti bisa bertahan lama, bahkan hingga era keterbukaan informasi pasca internet. Meningkatnya level pengetahuan masyarakat membuat komunikasi massa tidak lagi menjadi sesuatu yang efektif. Mudahnya menelanjangi proses kerja media massa, membuat masyarakat tidak lagi mudah dikibuli seperti jaman kejayaan Goebbels. Opinion Leaders, atau kini dikenal dengan julukan Buzzer atau Influencer, adalah “dewa-dewa” dalam pola komunikasi Gen Y dan Millenial, generasi mayoritas dalam demografi usia masyarakat dunia. Banjir informasi yang terus mendesak masuk ke ponsel dan komputer, membuat mereka merindukan sosok yang mampu “menyelamatkan” mereka agar tidak hanyut dalam “kesesatan”. 

Sebagai pengembangan dari Katz, Ed Keller dan John Barry pada The Influentials (2003), mengidentifikasi atribut-atribut utama yang dibutuhkan seorang Buzzer/Influencer untuk masyarakat “melek internet” ini; pertama, ia dikenal sebelumnya sebagai seorang aktivis swadaya, terutama dalam aksi-aksi sosial dan amal. Kedua, dia memiliki pergaulan sosial yang luas. Lalu dia haruslah orang yang memiliki pengikut (otoritatif) dan “umat pengiman”, yang mungkin bisa hadir dari kiprahnya sebagai aktivis yang “independen”. Keempat, dia baiknya adalah seorang yang dikenal aktif dan memiliki pengetahuan yang luas (meskipun hanya di permukaan). Yang terakhir, dan mungkin yang terpenting, dia haruslah seorang trendsetter, mengadaptasi dan meninggalkan semua hal lebih cepat dari masyarakat.

Secara tingkatan ekonomi di dekade ini, Gen Y dan Millenial sebagai mayoritas di dunia, dan juga Indonesia, hadir dari kelas menengah bawah dan kelas pekerja. William Thompson dan Joseph Hickey (2005) menggambarkan kelas menengah bawah sebagai kelas yang menghidupi diri dengan bisnis/pekerjaan yang cukup otonomus dan mampu membiayai rata-rata kebutuhan mendasar, serta mendapat pendidikan tinggi. Sedangkan kelas pekerja didefinisikan sebagai kelas yang belum mendapat keamanan dan kenyamanan posisi kerja, serta berpendidikan sekolah menengah atas. Keadaan ekonomi yang serba terbatas bagi kedua kelas ini, tentunya membuat kehidupan kelas atas (yang dapat terakses via internet), menjadi kondisi ideal, mungkin cenderung utopis.

Dengan kondisi inilah, masuk para Buzzer, (dengan karakteristik hasil definisi Keller dan Barry di atas) sebagai sosok penyambung lidah antar kelas-kelas mayoritas dengan mereka yang selected few. Di beberapa tahun terakhir, baik di dunia, khususnya di Indonesia, kita mengenal julukan Brand Ambassador, selebtwit, seleb IG dan Youtubers. Mereka secara konsisten : memotivasi dengan biografi pebisnis-pebisnis besar masa lalu, menceritakan transformasi hidupnya (menjadi lebih baik), berjalan-jalan ke tempat-tempat eksotis di penjuru-penjuru dunia (dan mengambil foto yang bagus), makan makanan-makanan eklektik, membuat snob review atas sebuah karya seni, menganalisis ketahanan sebuah produk makeup, berpose dengan itemitem busana terdepan (yang bahkan belum, dan belum tentu menjadi tren), mengutip kata-kata penuh pembebasan diri dari filsuf dan sastrawan jaman Beatnik, serta membuat statementstatement yang menunjukkan (secara amat sangat gamblang) preferensi politik tertentu.

Konten-konten tersebut tentunya akan sangat menarik bagi orang-orang yang sedang berhimpitan di gerbong kereta, dengan kemeja lusuh setelah 8-10 jam di depan komputer. Atau bagi para petugas pembersih ruangan yang sedang menikmati kopi sachet dalam gelas plastik di istirahat sore. Orang-orang ini bagaikan menemukan tujuan, atau setidaknya pedoman, hidup mereka dalam konten para Buzzer. Mereka tidak punya waktu untuk membaca, mencerna, dan mengkritisi sebuah pesan dari sumber pertama. Maka dengan pasrah mereka mempercayakan pengetahuan mana yang akan mereka pakai pada konten-konten itu. Mereka juga kekurangan waktu untuk menyadari bahwa tak satu konten pun dari para Buzzer yang tidak dimaksudkan untuk “berjualan”. Terjebak kamuflase dengan pencitraan rutin bahwa dia (Buzzer) adalah anggota masyarakat biasa yang kebetulan lebih aktif, lebih cool, lebih punya akses ke level atas, dan lebih berpengetahuan.

Maka tak heran banyak orang biasa berlomba menjadi Buzzer, yang tidak hanya menawarkan pendapatan, namun juga kenaikan status sosial di masyarakat. Mereka berlomba menjadi penyampai pesan, baik politik, kultural, maupun komersial. Persis dengan pola Roosevelt di 1940, pesan asli dari klien dikemas ulang, lalu disebarkan ke pengikut dalam kemasan yang less hard selling, seringkali berupa pengalaman atau pemikiran yang palsu, yang meyakinkan pengikutnya bahwa pesan itu datang langsung darinya. Yang sebagaimana disampaikan sebelumnya, berupa foto objek wisata, makanan, sampai kiprah politik seorang politisi. 

Buzzer adalah seorang tenaga penjual yang tidak jujur bahwa ia berjualan. Ia datang berlagak seperti teman yang sudah lebih berhasil. Ia datang ke kantor kita dengan baju santai. Mentraktir makan siang sambil bercerita ini-itu tentang sesuatu yang indah, intelek, dan eksotis. Ia tahu betul kejenuhan kita. Meyakinkan kita bahwa hidup kita tidaklah indah. Bahwa kita butuh perubahan, butuh sesuatu yang baru. Ketika kita sudah yakin bahwa kita perlu sesuatu yang baru, dikeluarkanlah dagangan-dagangan dari tasnya. Kita pun mengeluarkan dompet. Jualan cara setan. Buzzer tak ubahnya pengabdi setan!.

Posted in Budaya, Ekonomi, Pemikiran, Politik, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Pengalaman Menjadi Anak Vintage

Diambil dari Lauren Apfel : Confession of a Name Snob


Tahun-tahun pertama bersentuhan dengan dunia komunitas adalah masa-masa yang paling menarik sepanjang hidup saya. Saya menyaksikan banyak orang-orang berusia muda yang aktif dengan kegiatan-kegiatan dengan sudut pandang yang berbeda dengan kehidupan kompetitif khas kapitalisme yang menjadi dasar kehidupan di sebagian besar Indonesia. Kepala saya yang terbiasa dengan dogma kapitalis bertemu dengan hal-hal aneh yang dilakukan banyak sekali orang lain. 
Diantara seabrek hal aneh itu, yang paling berkesan adalah ketika di Bandung saya bertemu dengan komunitas-komunitas penggemar sejarah dan bangunan tua, komunitas cosplay (costume playing), busana jaman dulu (jadul), komunitas pecinta sepeda onthel, komunitas belajar membaca huruf Sunda dan Jawa Kuno, dan komunitas musik yang bergaya dan berbunyi seperti musik-musik populer di masa lalu. Saya pun tak urung mengenal kata kunci yang beratus kali terdengar : vintage. Bagi saya yang belum terpikir untuk mencari tahu lebih lanjut, kedua kata itu adalah perlambang untuk melihat, mengambil, dan memuja hal-hal dari masa lalu. 

Saya mulai bergaya vintage, dimulai dengan cerita indah Jalan Braga tahun 1920-an, menikmati es krim yang konon tidak pernah berubah resep sejak hampir seratus tahun lalu di Restoran Sumber Hidangan, memandangi relief ala Amerika Tengah di lobi Hotel Grand Preanger sambil berucap “art deco!”, bersepeda onthel dengan baju ala inspektur perkebunan Belanda di foto-foto Tropenmuseum, sampai mendengarkan sebuah kelompok keroncong yang menyajikan lagu “Als de Orchideen Bloeien” yang konon adalah gubahan Ismail Marzuki saat masih bermain band bersama Lief Java. Dengan melakukan semua hal itu, dan membaca beberapa literatur singkat, saya merasa sudah sebagai “buaya sejarah”. 

Namun pemahaman baru saya akan terminologi vintage kini membawakan saya perasaan geli sendiri pada diri saya yang ada di masa-masa itu. Masa-masa itu ketika saya refleksikan kembali, adalah masa-masa yang sangat norak. Saya merasa berbeda dengan orang lain yang seragam dalam berpakaian, berpengetahuan, menyantap makanan, dan menikmati seni. Saya mengambil jenis pakaian, mengambil foto-foto, memandangi gedung, mencuri bunyi, dan mengkoleksi pengetahuan, tanpa merasa perlu tahu konteks, urgensi, baik-buruk, relevansi. 

Ide vintage sendiri berasal dari satu istilah pada proses pemilihan dan pembuatan wine. Konteks umum vintage yang paling terkenal (meskipun kaprah) adalah kepercayaan bahwa wine yang berumur tua, adalah wine dengan kualitas yang tinggi. Terminologi tersebut dimasukkan ke kajian humaniora, dan memiliki makna percaya bahwa sesuatu yang terjadi di masa lalu, atau tua, lebih baik dari hal serupa di masa kini.

Saya sadar, bahwa saya dulu hanya seorang pemulung. Bukan pemulung mulia yang menghidupi dengan memulung, tapi pemulung yang sombong dengan hanya memulung barang bekas yang belum tentu punya harga di pengepul. Saya memulung unsur budaya dan informasi dari masa lalu, dan memandangnya dengan sudut pandang terbaru saat itu. Saya memuja barang-barang bekas itu, menempatkannya sebagai pujaan yang bisa mengangkat kekerenan saya sebagai seorang anak muda “hipster”. 

Akhirnya barang-barang (budaya-budaya) bekas pakai itu hanya seperti pajangan museum yang tidak ada label informasi di bawahnya. Tidak dikenali, dipahami, direvitalisasi, apalagi dikembangkan. Singkatnya, saya penggemar “sejarah” yang ahistoris. Semua yang saya lakukan adalah bentuk derivatif dari snobbery. Saya tetap menjadi salah satu dari mereka yang dicuci otak oleh tren. Tidak berbeda dengan orang-orang yang saya pandang rendah karena tetap makan di gerai makanan cepat saji, berwisata ke Bali dan Borobudur, dan memakai pakaian distro. Saya merayakan itu semua sebagai turis yang berlibur sejenak dari keseragaman dan ketatnya kompetisi dalam bertahan hidup. 

Terdengar menyedihkan. Tapi tanpa berusaha membela diri dan mengarang-ngarang, apa yang saya lakukan saat itu adalah cerminan dari sudut pandang umum generasi muda bangsa ini tentang masa lalu. Tidak perlu strategi metode penelitian sejarah, bahkan yang sederhana, tak perlu tahu asbabun nuzul. Yang penting saya konsumsi, dan voila! : I am cooler than you. 

Semoga tidak banyak lagi kawan-kawan yang harus mengalami masa-masa itu.


Posted in Pemikiran, Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Minggu ini sebenarnya kurang cocok untuk bernostalgia. Jiwa raga saya banyak tersita untuk urusan masa depan. Membuat banyak perencanaan, untuk rumah tangga dan terutama untuk kepentingan perusahaan. Angka-angka dalam konteks pendapatan, biaya, cicilan, sampai ke perjanjian penjualan dan rebate fee klien, hadir sejak Senin pagi. Yang saya lakukan persis seperti apa yang saya kritisi di tulisan sebelumnya tentang “Manusia Jakarta” yang hidupnya banal dan sempit waktu. Tidak cukup waktu dan/atau kemampuan untuk membaca, baik buku, ataupun kehidupan. Pergi pagi pulang malam, tidur sebentar untuk kemudian berangkat lagi pagi hari berikutnya.

Namun obrolan di grup pegiat inti Ngojak, atau tertasbihkan dengan nama Grup Komisaris Ngojak, akhirnya sukses menjadi rem yang pakem untuk saya, manusia Jakarta yang meluncur mengikuti arus deras yang memabukkan ini. Obrolan membuat saya merasa harus kembali ke 12 November 2016. Tepatnya ke Ngojak #3, yang berjudul Jakarta, Sebuah Awalan. Perjalanan ini ternyata belum tercatatkan oleh siapapun.

Rute ini kami desain untuk menceritakan tentang bagaimana Jakarta tercatatkan sebelum datangnya orang Eropa dan historiografinya yang sok positivistik tapi tetap memihak itu. Sederhananya, Jakarta di awalnya banget. Siapa yang menghuni, seperti apa tata kota yang berlaku, dan seperti apa daerah ini dijalankan oleh mereka. Dan utamanya, kami ingin bercerita tentang sejarah hubungan Jakarta dengan Ibunya, yaitu sungai Ci Liwung.

Hari itu kami seharusnya berkumpul di Stasiun Jakarta Kota pukul 9 pagi. Namun apa lacur, gangguan sinyal masuk Stasiun Pasar Minggu membuat teman-teman yang datang menggunakan KRL jalur Bogor-Kota datang terlambat satu jam. Itu belum ditambah dengan jam berangkat yang memang sudah terlambat kira-kira setengah jam. Walhasil baru pukul 10.30 kami bisa memulai perjalanan. Tercatat ada 32 pejalan yang ikut belajar hari itu. Banyak muka-muka baru, entah downline dari siapa saja. Some of them stays, some of them kapok nantinya.

Bermaksud menjadi warga pejalan kaki yang taat aturan, kami berjalan mengular melewati jalur bawah tanah. Beberapa teman, yang mungkin masih ingin lebih lama lagi menjadi warga negara berkembang, meloncati pagar pembatas dan menyeberang langsung ke tujuan kami; Gedung OLVEH.

Gedung OLVEH ini sebenarnya jauh dari cerita utama. Gedung ini baru dibangun oleh firma Schoemaker yang digawangi Charles Prosper Wolff dan Richard Arnold dari keluarga Schoemaker (asal Banyubiru) pada 1921, dan diresmikan tahun berikutnya. Namun gedung ini menyimpan dua simbol yang sangat penting buat siapapun yang berminat mempelajari sejarah tata ruang Jakarta.

Pertama, gedung ini adalah simbol bergeraknya ide revitalisasi Kota Tua Jakarta. Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) besutan Pak Lin Che Wei dan konsultan Bhirawa Architects telah sukses menjadikan gedung ini sebagai tonggak awal proyek ambisius revitalisasi ini. Terlihat nanti, beberapa gedung sedang dikurung seng dalam rangka revitalisasi. Meskipun saya dalam menyikapi rencana revitalisasi Kota Tua, selalu tercegat pada pertanyaan yang disalurkan Bang Ridwan Hutagalung (@pamanridwan) yang belum bisa saya jawab; “buat apa revitalisasi Kota Tua?”. Wisata? berapa duit yang bisa dihasilkan Kota Tua, apakah bisa menghasilkan, bahkan untuk mencapai level impas?. Konservasi budaya (aristektur)? budaya siapa yang kita konservasi di sini?. Budaya kapitalis londo!.

Simbol kedua yang ditawarkan gedung ini sebenarnya jauh lebih penting. Saat renovasi, tim arsitek menemukan level lantai asli gedung ini sebelum diratakan dan ditimpa oleh Schoemaker bersaudara. Level lantai asli ini berangka tahun 1879 dan terletak nyaris satu meter di bawah permukaan jalan sekarang. Kondisi ini menunjukkan bawah dalam 138 tahun, permukaan jalan sudah dinaikkan sembilan puluh centimenter lebih!. Jadi satu hal penting yang bisa kita pelajari, bahwa Jakarta dibangun dengan timbun menimbun tanah selama ratusan tahun. Tentunya pola ini bisa dimaklumi jika kita melihat siapa musuh besar Jakarta. Tak lain tak bukan, banjir Ci Liwung dan Krukut yang perkasa.

Setelah berjuang mendengarkan pemaparan Daan tentang OLVEH karena distorsi polusi suara dari lalu lintas, 32 orang beruntung lalu berjalan lagi, tentu beriringan dan penuh tawa, ke arah Gedung Museum Bank Indonesia. Bukan, kami bukan akan masuk dan mengagumi karya Cuypers yang diwakili Marius Hulswit itu. Namun kami pergi ke bagian belakang komplek gedung untuk melihat sisa tembok Kota Batavia. Sisa tembok dari abad ke-18 ini terjaga dengan baik sehingga kami bisa bercerita banyak mengenai perkembangan batas Kota Batavia sejak kedatangan VOC, juga yang terpenting, cerita tentang Geger Pecinan 1740 yang bermula di area tempat kami berdiri. Di mana mayat-mayat bergelimpangan dan hanyut di sungai. Berawal dari sini, Geger Pacinan akhirnya berefek domino dan menimbulkan goncangan konstelasi politik Jawa secara masif, serta melahirkan juga stereotip-stereotip horizontal yang melibatkan warga keturunan Cina, yang ajaibnya masih bertahan hingga saat ini.

Kami lalu berjalan lagi menuju Jalan Kali Besar Barat. Sempat mampir sebentar di depan Toko Merah milik Gubernur-Jenderal Van Imhoff, kami terus berjalan menyusuri Sungai Ci Liwung yang akan segera bermuara. Kami berhenti di satu titik menarik dengan banyak penceritaan; Jembatan Kota Intan. Kami pun duduk-duduk setelah membayar retribusi masuk. Daan pertama kali melayangkan pandangan ke Timur, lalu menunjuk pertemuan Jalan Nelayan Timur dan Jalan Cengkeh nun jauh di sana. Di tempat yang dimaksud Daan itu, ditemukan salah satu artefak tertua sejarah Jakarta, Padrao Sunda Kelapa.

Awal abad 16, Kalapa (nama lama Jakarta), merupakan salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda Pajajaran selain Banten. Jarak yang tidak terlalu jauh dari ibukota kerajaan dan pengawasan yang baik dari Raja Tanjung Barat (kerajaan bawahan Pajajaran), menjadikan Kalapa anak emas bagi bisnis lada Pajajaran. Namun serangan dari koalisi Islam yang digawangi Demak dan Cirebon tak urung mengganggu kenyamanan Pajajaran dalam berbisnis dan berkuasa. Tahun 1521 Pangeran Surawisesa diutus oleh ayahandanya untuk meminta bantuan pada pelaut-pelaut Portugis yang bercokol di Malaka setelah menaklukkan tuan rumahnya.

Kisah perjalanan Surawisesa ini diabadikan (dan didramatisir) dalam Kisah Mundinglaya Dikusumah. Dimana Surawisesa/Mundinglaya melalui drama keluarga dan diutus menyusuri Ci liwung mencari Jimat Layang Salaka Domas di Jabaning Langit untuk membuat kerajaan kembali tentram dan tenang. Mundinglaya juga harus mengalahkan Guriang Tujuh, siluman sakti yang memiliki Layang Salaka Domas. Salaka Domas sendiri banyak ditafsirkan sebagai pertolongan dari Portugis, dan otomatis Jabaning Langit adalah Malaka, dan Guriang Tujuh tak lain adalah Portugis.

Kembali ke sejarah, Surawisesa ternyata tidak berhasil pada kesempatan pertama. Armada Portugis tidak langsung datang memberikan bantuan. Portugis baru datang ke Kalapa pada 1522 dan memancangkan Padrao di sebuah lahan tak jauh dari tepi pantai, dengan disaksikan pejabat-pejabat lokal. Portugis akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Pajajaran setelah mengamati potensi bisnis lada yang menggiurkan. Mereka berencana untuk setahap demi setahap mengumpulkan pasukan untuk ditempatkan di Kalapa. Rencana yang terbukti merugikan, karena lima tahun setelahnya, Portugis yang belum juga berkekuatan penuh di Kalapa, gagal membantu Pajajaran menahan serangan Demak yang dimotori Fadhillah Khan alias Fatahillah.

Sebuah ilustrasi menyebutkan garis pantai pada abad ke-16 di Kalapa adalah sekitar jembatan yang kami duduki, yang bergaris lurus dengan lokasi ditemukannya Padrao. Aktivitas vulkanik dari Gunung Gede dan Pangrango, juga Gunung Salak yang dilewati Ci Liwung, menghasilkan reklamasi alami yang menaikkan garis pantai Kalapa ke arah utara.

Daan kini menunjuk dengan mantap ke arah barat. Ke sebuah bangunan besar yang difungsikan sebagai hotel. Daan menceritakan rujukan Adolf Heuken yang berspekulasi bahwa kompleks keraton Jayakarta (nama Kalapa setelah diduduki koalisi Islam) terletak di area hotel tersebut. Setelah pendudukan Demak dan Cirebon, yang diwakili pejabat dari Banten, Jayakarta makin pesat berkembang sebagai pusat dagang. Proses de-Pajajaran-isasi yang merangsek habis ke ara hulu Ci Liwung, membuat mereka ganti menguasai bisnis lada.

Namun kebodohan dagang mereka pula yang nantinya berakibat fatal. Penguasa Jayakarta membuka ruang untuk dua korporat merkantilis terbesar dan terlicik dunia saat iti, VOC asal Belanda dan EIC dari Inggris. Keduanya diberi gudang di masing-masing sisi Ci Liwung dekat keraton. EIC di sebelah timur, dan VOC di sebelah barat. Penguasa Jayakarta yamg bermaksud memperluas perdagangan, malah harus berurusan dengan kelicikan VOC yang diam-diam memperluas gudang, dan tawuran antara kroco VOC dan EIC.

Setelah banyak cerita mengenai periode awal, kini kami akan beranjak ke periode berikutnya, yaitu tiga abad pendudukan VOC dan Belanda atas Jakarta. Untuk itu, rombongan berjalan pelan ke arah Galangan VOC. Sembari berfoto-foto di bengkel kapal abad 17 ini, Saya dan Daan bergantian bercerita tentang proses penguasaan Jayakarta oleh J.P Coen dari VOC. Setelah diizinkan menempati gudang di timur keraton, VOC memperluas gudangnya, baik secara ilegal maupun legal. Puncaknya adalah ketika mereka mendapatkan hak guna tanah seluas 1.5 hektar, masih di timur Ci Liwung, untuk dijadikan gudang. Di lahan baru itu, yang dinamai Nassau Huis, dan dikembangkan lagi pada 1618 menjadi berupa benteng, VOC diam-diam mempersiapkan tentara dan senjata.

Dari basis benteng ini, pada 1619 Coen dan pasukan VOC menyerang keraton dan membumihanguskannya. Pasukan VOC mengejar para pemimpin lokal sampai ke batas-batas selatan dan timur kota. Dari basis benteng ini pula, Coen merenovasinya menjadi sebuah benteng besar pada 1621 yang dinamai Benteng Kota Batavia, sesuai dengan keputusan De Heeren Zeventien, kelompok aristokrat Belanda yang memegang saham VOC. Wilayah ini pula yang menjadi medan pertarungan antara VOC dan Mataram beberapa tahun setelahnya.

Hujan tak menghalangi kami untuk menuju objek berikutnya, bangunan tertua yang masih bertahan di Jakarta, sebuah kompleks pergudangan yang kini difungsikan sebagai Museum Bahari. Kami pun kembali duduk-duduk dan bercerita di gedung yang mulai dibangun tahun 1650 ini. Kami pun sambung menyambung mengaitkan Kalapa dengan peristiwa-peristiwa dan konstelasi politik di Jawa. Mulai dari masa Hindu-Buddha, pergeseran kekuatan ke arah Demak, bubarnya Demak, munculnya VOC, munculnya kekuatan lokal baru di Mataram dan Banten, Geger Pecinan, sampai reformasi di masa Daendels dan Raffles. Obrolan dengan tema ini tidak terasa begitu berat karena disampaikan dalam situasi yang tidak formal, bahasa yang santai, serta mood yang mendukung karena penceritaan-penceritaan di objek-objek sebelumnya.

Tak terasa lebih dari satu jam kami berteduh di Museum Bahari. Setelah foto keluarga, kami pun berjalan menuju titik terakhir  perjalanan kali ini, sebuah kompleks gudang yang berada di sebelah selatan Kampung Tongkol. Langkah kami yang mulai lelah terseok saat melewati jalan inspeksi Ci Liwung di Kampung Tongkol. Jalan ini terbentuk atas kesadaran warga yang memundurkan hunian mereka 2-3 meter ke arah selatan sungai. Sebenarnya kesadaran yang dibayangi oleh ketakutan akan penggusuran. Senja ini terasa cukup ramai di Tongkol, karena teman-teman pegiat komunitas-komunitas peduli Ci Liwung akan menggelar layar tancap di kampung. Terlihat anak-anak kecil berbedak harum setelah mandi. Beberapa bapak menuju ke masjid sebelum adzan berkumandang.

Kami jalan ke arah selatan kampung, berkumpul lagi di depan sebuah gudang yang terlihat sangat tua, yang dijadikan tempat penyimpanan pasir yang entah milik siapa. Gudang ini seharusnya berusia lebih muda dari Museum Bahari. Namun tak seperti Museum Bahari yang terus mengoleskan gincu, gudang ini memilih untuk menyerah pada usia dan perkembangan lingkungannya. Gudang ini adalah salah satu gudang awal Batavia. Mengingat lokasinya yang berada lebih dekat ke laut, bisa jadi gudang ini dulu berisi komoditas-komoditas utama perdagangan Batavia dengan volume besar.

Didera lelah dan dikejar beberapa acara lain, perjalanan pun kami sudahi dengan tak banyak seremoni. Seorang pegiat Ci Liwung sempat menyambut kami, dan berbagi perspektif terkini tentang relasi manusia dan sungai. Dimana manusia dan sungai kini seakan-akan didesain sebagai musuh. Yang tak bisa lagi saling memakmurkan satu sama lain dan harus mengorbankan salah satu agar tak terjadi bencana.

Perspektif ini tentu menjadi ending yang ironis bagi cerita sejarah panjang Jakarta yang kami dapatkan sebelumnya. 5 abad Ci Liwung adalah sekutu utama manusia dalam upayanya mendapatkan kekuasaan dan kemakmuran di Jakarta. Ia disayang, dirias, dan arusnya disenangi. Diakui sebagai Ibu dari beberapa peradaban agung dan hulu dari kisah-kisah besar di tanah Jawa. Kini dia hanya selokan besar, mengalir sendu dalam kekeruhan, dipasung beton, dan dimusuhi oleh manusia Jakarta yang banal dan selalu tak punya waktu itu.

Dasar manusia Jakarta!.

Posted in Budaya, Catatan Perjalanan, Jakarta, Museum, NgoJak, Sejarah | Leave a comment

Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya. 

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja.

Manusia Jakarta (termasuk yang bersiang-hari di Jakarta) memiliki segalanya; gaji yang bagus, apartemen berkamar dua, mobil Jepang keluaran baru, dan akun toko daring. Namun minim waktu. Agresi yang tak tersalurkan membuat klub-klub malam, komunitas futsal kantor, pusat kebugaran, dan spa esek-esek tak pernah kekurangan peserta. Juga wisata rohani seperti ceramah keagamaan di Youtube, belanja di toko daring, menyukai foto wisata kawan di Instagram, sampai menyimak, dan lalu berpartisipasi, di perdebatan politik di Twitter dan Facebook.

Jika yang menanti pertanggungjawaban manusia di alam nanti adalah Locke, David Ricardo, Keynes, Fukuyama, Soros, sampai Janet Yellen dan geng Harvard di Wall Street, niscaya mereka pasti akan puas ketika manusia Jakarta menyampaikan hasil penjualan yang mencapai target, sertifikat pelatihan motivasi, persentase kenaikan gaji yang meningkat sejalan dengan inflasi, dan beberapa blok properti dalam portfolio aset. 

Lalu terdapat pertanyaan mendasar. Bagaimana manusia Jakarta nantinya harus bertanggung jawab di hadapan Ibrahim, Muhammad, Nietzsche dan Sartre?. Bagaimana mereka menghadapi pertanyaan; “apa saja yang sudah kamu lakukan sepanjang hidupmu?”. Dengan waktu yang sulit diperoleh, sulit pula manusia Jakarta belajar untuk merumuskan, dan lalu menjalani, esensi dari eksistensinya. Apakah bangun pagi, mandi, berkendara satu jam, bekerja empat jam, makan siang satu jam, bekerja kembali empat jam, berkendara satu-dua jam untuk pulang, dan kemudian mandi dan tidur kembali, cukup?. Bahkan untuk mengenali dirinya sendiri?.

Proses tarik menarik atas kondisi-kondisi dan ide-ide di atas akhirnya berujung pada budaya tekstual. Waktu yang sempit tidaklah cocok untuk menggali makna-makna di balik kata-kata yang terpampang di running texts televisi, status Facebook tokoh idola, satu bingkai foto Instagram dengan puluhan tagar, cuplikan video pidato seorang tokoh politik, unggahan berbayar selebtwit, ayat atau ceramah pemuka agama. Sempitnya peluang untuk menggapai konteks, membuat mereka akhirnya membuat ketetapan sendiri hanya melalui teks. Satu teks, bukan interteks. Satu teks dibaca, dipercaya literal, dan dipertunjukkan. Terlalu sempit pula waktu untuk berdialektika ketika ditemukan teks dengan tone yang berbeda. Maka lebih baik disingkirkan dari konsiderasi. 

Padahal konteks adalah manusiawi, konteks adalah natural, konteks butuh pembacaan yang lebih. Teks bisa dilahirkan oleh sistem komputer atau artificial intellegence lain. Tapi konteks hanya bisa lahir dari manusia; sifat-sifat, relasi interpersonal, persentuhan dengan jaman dan alam. Ketika konteks sudah tercerabut oleh eight to five, ketika itu pula kemanusiaan tercerabut dan manusia hanya tinggal statistik. 

Padahal Jakarta adalah ibukota. Manusia-manusia Jakarta sejatinya (masih) menjadi penanggung beban sebagai pelontar program-program untuk setiap jengkal Indonesia. Ekonomi, sosial, politik, hukum, dan budaya Indonesia ditentukan oleh manusia Jakarta. Apa jadinya Indonesia ketika dipandu oleh manusia-manusia yang sudah tercerabut dari akan kemanusiaannya?. Jangan sampai ide dari Jakarta adalah melulu bel kematian bagi lokalitas, karifan manajemen alam, budaya, dan hal-hal manusiawi lain.

Posted in Budaya, Ekonomi, Pemikiran, Politik | Tagged , , | Leave a comment

Subuh Terakhir Sebelum Syawal

Aku terseok
Kedinginan
Aku sesat
Keinginan
Aku sesal
Kegagalan

Adakah dia berulang
Atau dia hanya awal
Dari jalan panjang
Menuju Dia

Posted in Agama, Puisi | Leave a comment