Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

Beberapa waktu ke belakang, cukup rama polemik mengenai Landhuis Cimanggis. Rumah peristirahatan abad 18 milik pembesar VOC yang mungkin tinggal tersisa 30-an persen itu ditengarai hendak digusur untuk perluasan kampus sebuah universitas. Perdebatan terjadi tentang signifikansi sejarah bangunan tersebut dan urgensi-urgensi lainnya. Yang ikut urun argumen beragam. Mulai dari komunitas pemerhati sejarah, sampai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pendapat Kalla berkisar pada pandangan bahwa secara histori dan kultural, tidak ada signifikansi dari bangunan tersebut. Terlebih isu yang beredar, bangunan itu adalah milik salah satu istri Gubernur Jenderal paling korup di jaman VOC, Albertus van der Parra. Para pembela bangunan, di sisi lain, berpendapat bahwa bangunan ini penting secara sejarah dan arsitektur untuk diselamatkan karena masuk dalam kategorisasi-kategorisasi benda cagar budaya.

Perdebatan itu singkatnya berlangsung dengan pandangan yang berbeda tentang terminologi “sejarah kita”. Saya sendiri berpandangan bahwa penceritaan kita tentang sejarah haruslah ada dalam kerangka poskolonial. “Kita” harus bisa mengkritisi dan melepaskan diri seutuhnya dari konteks-konteks kolonialisme dalam menulis dan menceritakan ulang sejarah. Menempatkan secara egaliter subjek-subjek sejarah dengan memperhitungkan struktur kemasyarakatan yang berlaku di setiap masa.

Pemikiran itu pula yang mendasari saya dan teman-teman Ngopi Jakarta berusaha untuk membuat penceritaan yang lebih “lokal” dalam sisi sejarah yang kami pelajari bersama. Juga memperhitungkan struktur sosial yang ada sebagai sesuatu yang tidak boleh lepas dari penceritaan masa lalu dan masa kini, juga dalam pemikiran masa depan.

Demikian pula dengan NgoJak Cikini. Kami mencoba memperkenalkan Cikini kepada teman-teman NgoJak sebagai sebuah arena kontestasi politik dan budaya bangsa Indonesia.

Kami berkumpul di Stasiun Cikini dan berjalan bersama ke tujuan pertama, yaitu Gedung Yayasan Perguruan Cikini. Namun di tengah perjalanan kami sempat berhenti di depan rumah Achmad Subarjo. Di rumah bergaya indies inilah, Subarjo, seorang tokoh aliran nasionalis yang sangat supel, pernah berkantor sebagai menteri luar negeri. Perjuangan Subarjo sendiri sudah dimulai sejak usia mahasiswa, saat bersama Hatta mengelola Perhimpunan Indonesia, bahkan sempat mengikuti pula kongres Liga Anti Imperialisme yang bersejarah di Brussels. Pada masa Jepang, Subarjo memutuskan untuk kooperatif dengan Kaigun (Angkatan Laut) Jepang. Subarjo pula banyak berperan dalam program kaderisasi aktivis pergerakan di beberapa asrama mahasiswa. Sampai akhirnya peran terpenting Subarjo hadir pada 15-16 Agustus 1945, dimana ia mampu menengahi konflik ide antara kelompok pemuda dengan Sukarno dan Hatta di Rengasdengklok, dan juga mempersiapkan penerimaan Kaigun Jepang terhadap rencana pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Setelag bercerita tentang Subarjo, kami berjalan dan tiba di Gedung Yayasan Perguruan Cikini. Di sekolah elit jaman dulu ini, kami membahas peristiwa penggranatan terhadap Sukarno pada 30 November 1957. Sukarno yang datang untuk menghadiri acara ulang tahun Perguruan Cikini, mendapat serangan lima buah granat tangan dari empat orang pelaku. Sukarno selamat, namun puluhan orang luka-luka dan beberapa korban tewas. Para pelaku sendiri akhirnya diketahui terlibat dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) besutan karib Sukarno, Kartosuwiryo. Para pelaku, empat orang pemuda asal Bima, dan Kartosuwiryo sendiri, dijatuhi hukuman mati. Sedangkan satu pemuda lagi dikenai hukuman kurung. Peristiwa itu pula yang mengawali upaya serius pemerintah menghabisi gerakan Kartosuwiryo, sampai ia tertangkap di Gunung Rakutak pada 1962 dan dieksekusi di Pulau Ubi, utara Jakarta.

Tujuan kami berikutnya adalah sebuah gedung di Jalan Cidurian 19. Gedung tersebut dulunya merupakan rumah dari kader Partai Komunis Indonesia (PKI) Oey Hay Djoen sebelum direnovasi seperti bentuknya sekarang. Rumah Hay Djoen merupakan basis dari para aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) saat pusat pergerakan PKI berpindah ke Jakarta dari Yogyakarta. Penceritaan ini diawali dengan cerita besar peta persaingan politik di akhir 50-an sampai 1965. Peta tersebut mengerucut pada bidang seni, sastra, dan kebudayaan, di mana Lekra menjadi entitas dominan. Juga sampai saat Lekra dan eksponen-eksponennya dihabisi sekaligus dengan kader, simpatisan, dan para tertuduh PKI.

Perjalanan kami sempat mampir di sebuah bangunan kosong bergaya kolonial. Bangunan ini sampai beberapa tahun lalu difungsikan sebagai restoran yang menyajikan gaya makan Rijstaffel. Gaya makan Eropa dengan beberapa pelayan pribumi membawa berpiring-piring makanan berturut-turut. Sebuah budaya yang hadir dari relasi kuasa yang timpang antara para penjajah dan kaum feodal terhadap mereka yang terjajah. Budaya yang entah kenapa dari masa ke masa, bahkan sampai puluhan tahun setelah kemerdekaan, masih dilanggengkan sebagai suatu budaya yang unik dan jadul. Memuakkan.

Setelah menjauhi bangunan kosong itu, kami lalu mengunjungi bekas rumah Raden Saleh. Rumah yang extravagant ini dibangun Raden Saleh saat pulang berkelana dan melukis untuk khalayak Eropa. Lukisan potret dan romantik Raden Saleh banyak memberi kesempatan baginya untuk sedikit bisa masuk ke pergaulan elit Eropa, meskipun tentu dengan relasi kuasa yang tidak setara. Di rumah yang kini menjadi bagian dari Rumah Sakit PGI Cikini ini, kami berbagi kisah mengenai salah satu lukisan Raden Saleh yang paling terkenal, Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan ini memiliki konteks dan kisah yang sangat menarik, yang membuat kita bisa meraba-raba seberapa takaran “nasionalisme” atau “Jawaisme” Raden Saleh. Setelah bercerita tentang kiprah Raden Saleh, kami diperbolehkan naik ke lantai dua, melihat beberapa furnitur bergaya Barok yang teronggok di salah satu ruangan, naik ke balkon (yang ditambahkan kemudian), dan melihat sendiri kayu-kayu besar yang sudah mulai lelah menyangga bangunan.

Raden Saleh sendiri memiliki darah Timur-Tengah dari ayahnya, Husein bin Alwi bin Awal bin Yahya dari Semarang. Husein bin Alwi menikah dengan Mas Ajeng Sarip, putri dari KyaiAbdullah Bustam Kertoboso dari Terboyo. Abdullah Bustam sendiri merupakan seorang tokoh kontroversial dalam Perang Suksesi Mataram kedua. Ia sebagai pegawai VOC, diminta (dan berhasil) meredakan perang saudara dan berhasil memasukkan juga kepentingan Kompeni di Mataram.

Seusai menjelajah, kami pun beranjak ke luar. Tak lupa menyempatkan diri melihat kapel kecil yang dibangun oleh Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini alias Rumah Sakit Ratu Emma. Setelah wafatnya Raden Saleh pada 1880, mereka membeli tanah dan bangunan dengan dana hibah dari Ratu Emma. Seiring waktu, pengelola rumah sakit pun berganti, sampai pada 1957, pengelolaan diserahkan kepada Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI), yang nantinya berubah nama menjadi Persatuan Gereja Indonesia (PGI).

Kami lanjut berjalan melewati Jalan Sekolah Seni. Melipir Ci Liwung, kami tiba di makam Habib Abdurrahman al Habsyi atau dikenal dengan julukan Habib Cikini. Habib Cikini konon menikah dengan Syarifah Rogayah, adik Raden Saleh, sehingga diberi kepercayaan untuk membangun sebuah surau di tanah Raden Saleh. Salah satu putra beliau, Ali, kelak dikenal sebagai Habib Kwitang. Habib Cikini konon mendirikan sebuah surau yang dinamai Al Ma’mur. Beliau pun dimakamkan di surau tersebut. Al Ma’mur entah dengan alasan apa, dipindahkan ke sebelah selatan, dan nantinya menjadi salah satu basis Sarikat Islam di Jakarta.

Rasa lapar yang mendera akhirnya memaksa kami singgah di sebuah warung makan. Dua puluh sekian manusia kelaparan dan kehausan segera menjadi konsumen Mbak-Mbak pemilik warung yang tak urung terlihat senang sekali.

Setelah menghabiskan setengah jam lebih untuk makan, kami berjalan ke Al Ma’mur lokasi baru. Dimana Mbak Uci bercerita banyak tentang sang masjid, kepindahannya, dan perannya dalam pergerakan. Namun yang menarik perhatian saya adalah beberapa orang yang tinggal di kolong jembatan, persis di bawah Al Ma’mur. Keberadaan Al Ma’mur rupanya belum menjadi pelatuk kemakmuran orang-orang di sekelilingnya. Semoga suatu hari bisa.

Kami berjalan hingga jalan Kramat Raya. Di depan Kantor Pegadaian Pusat, kami berhenti untuk bercerita tentang sebuah gedung kumuh nan terlihat angker di seberang jalan. Gedung itu adalah eks Kantor Commitee Central (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasca hancur-hancuran di 1948, PKI memutuskan pindah ke Jakarta. Menandai era baru di bawah kepemimpinan para tokoh muda seperti Dipa Nusantara Aidit, M. Lukman, dan Njoto. Tulisan Hendi Jo dari Historia menyebutkan kantor pertama CC PKI adalah sebuah rumah sederhana di Gang Lontar, yang sekarang bernama Jalan Kramat Lontar. Waktu berjalan, lewat patungan-patungan kader, PKI berhasil membeli tanah di Kramat Raya tersebut, dan membangun gedung satu lantai. Pada masa kejayaan PKI di 1962, mereka merenovasi gedung menjadi enam lantai. Proyek renovasi dikomandoi oleh Ir.Sakirman, yang merupakan adik dari Mayjen Siswondo Parman, yang tewas saat peristiwa Gerakan Satu Oktober. Setelah Gerakan Satu Oktober, gedung ini diserang oleh massa dari golongan anti Komunis. Bangunan hancur bersama dengan sang pemilik.

Setelah bercerita tentang gerakan Komunis, kami mengimbanginya dengan menyambangi Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kami diterima di Pojok Gus Dur oleh salah satu kawan kami, Hasan Bashori. Pojok Gus Dur sendiri sebelumnya merupakan ruang tamu bagi mereka yang mengunjungi Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang memimpin Nahdlatul Ulama (NU) selama menjadi Ketua Umum Tanfidziyah periode 1984-1999. Ruangan ini bersebelahan persis dengan ruang kerja pribadi Gus Dur. Di Pojok Gus Dur, Bashori bercerita cukup panjang tentang karakteristik NU, serta kisah-kisah unik yang menyertai karir Gus Dur. Kami pun diperkenankan untuk masuk ke ruang kerja Gus Dur, yang sampai saat ini masih dipelihara sebagai kenang-kenangan bagi banyak orang yang mengagumi, menyayangi, dan mencintai Gus Dur. Demikian pula Pojok Gus Dur yang didirikan dengan maksud sebagai sarana untuk melestarikan dan mengapresiasi pemikiran dan aksi-aksi Gus Dur. Pojok ini memiliki cukup banyak koleksi buku, rata-rata adalah buku yang mengambil pemikiran, aksi, sampai kisah hidup Gus Dur sebagai objek bahasan.

Saya meninggalkan perjalanan di titik ini. Kawan-kawan yang lain melanjutkan perjalanan ke tiga titik terakhir, yaitu Museum Muhammad Husni Thamrin, Bangunan bekas Stasiun Salemba, dan Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Catatan di ketiga lokasi tersebut bisa diakses di tulisan Adi Nugraha ini.

Sangat sulit untuk melepaskan diri dari cara pandang kolonial dalam membahas hal-hal intangible. Sejarah, budaya, arsitektur, sampai problem-problem ekonomi masih dikuasai oleh pandangan sisi Barat. Tentunya dengan keunggulan sumber tertulis dan penguasaan metode ilmiah modern, yang bahkan hingga kini masih tergagap-gagap kita menguasainya. Tentunya juga bukan sesuatu yang mengada-ada seperti yang dilakukan Sukarno dan Muhammad Yamin. Tapi semua bisa diperjuangkan untuk mendapatkan sudut pandang yang lokal. Kekayaan pengetahuan, empati, dan keterlibatan aktif dalam memahami sebuah persoalan menurut saya adalah kunci. Biarlah cerita ala Barat menjadi masa lalu, kita buat sesuatu yang kekinian.

Advertisements
Posted in Catatan Perjalanan, NgoJak, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Ruang Tunggu : Zona Nyaman Yang Harus Diakhiri.

Mendengar album ini dan berita-berita yang meliputi pengerjaan dan peluncurannya, saya jadi teringat kondisi diri saya sendiri beberapa bulan lalu. Saat itu saya merasa sangat jenuh, pada jenis dan level pekerjaan yang saya lakoni, hierarki birokrasi yang menghambat, dan gaji yang tak kunjung naik. Semua pekerjaan yang ada di pipeline saya kerjakan. Semua selesai, namun tidak sesuai dengan kualitas yang dituntutkan kepada saya. Berangkat kerja dengan ogah-ogahan, hanya memenuhi kewajiban pada mereka yang menggaji saya. Saya bekerja hanya sebatas profesionalisme, tanpa semangat, tanpa kegembiraan.

Saya tidak tahu sampai level apa kegelisahan Istiqomah Djammad atas kondisi Payung Teduh. Wawancara emosionalnya dengan Rolling Stone Indonesia menyiratkan (dan untuk beberapa hal, menyuratkan) ketidakpuasan atas kondisi berkarya di Payung Teduh. Kelelahan, kejenuhan, kerinduan akan semangat, serta rasa terasing dari orang-orang di sekitarnya. Emosi sebenarnya, tidak ada yang bisa menebak. Apakah Is, panggilan akrabnya, sedang tantrum, ataukah memang benar bahwa sudah lama ia rasakan.

Namun semua emosi Is sebagai komposer tunggal di Payung Teduh, tentunya bisa terasa dalam Ruang Tunggu. Album terbaru Payung Teduh dan konon, album terakhir yang menyertakan Is. Album ini terasa sangat paralel dengan semua yang dikatakan Is kepada Rolling Stone Indonesia (yang juga sudah tidak akan beroperasi per 1 Januari 2018). Menjenuhkan, melelahkan, sangat bisa ditebak, dan nyaris tidak ada perkembangan berarti secara musikal dari album Dunia Batas tiga tahun lalu. 

Album ini sebenarnya dibuka dengan cukup baik oleh “Akad”. Seakan kita dibawa menuju Payung Teduh yang lebih bertenaga seperti pada “Live at Yamaha Live and Loud”. Setelah sekian banyak lagu mereka coba untuk menjadi seperti Sore, akhirnya di lagu inilah Payung Teduh mampu menjadi murid Sore (era Mondo) yang baik. Masih jadi pertanyaan saya juga mengapa Is sepertinya punya rasa hormat yang berlebihan kepada Mondo dan Sore. Seksi alat tiup dan alat gesek menempati ruang-ruang yang tepat, tempo yang menggairahkan, membuat kita bisa membayangkan sepasang manusia yang sedang dimabuk cinta. Berlari ke sana kemari dan tertawa, ada sedikit keraguan untuk menikah, tapi yo wis ben. Mari bercinta!.

Ekspektasi tinggi itu sayangnya tidak terbukti. “Di Atas Meja”  adalah Payung Teduh seperti biasanya. Tempo lambat diiringi petikan nilon, lalu sedikit naik tempo di reffrain, untuk kemudian meratap lagi. Meskipun ada hook yang cukup menarik di bagian “..tak bisa lagi bercerita apa adanya..”. “Selalu Muda” adalah pemberi harapan palsu. Dibuka dengan cukup groovy, malah berlanjut ke tempo dan pilihan mood yang harus dipertanyakan, karena sangat kontradiktif dengan judul lagu. “Mari Bercerita” dengan vokalis tamu Ichamalia juga tidak menawarkan sesuatu yang baru, kecuali bagi mereka yang sangat asing dengan pop Amerika 40-60 an atau dikenal dengan”Adult Contemporary”. 

“Muram” lagi-lagi adalah Centralismo dosis rendah. Bunyi isian gitar, dekorasi elektronik, sampai sound drum yang dipakai sangat sulit untuk didengar secara independen. “Puan Bermain Hujan” seharusnya bisa menjadi basis yang baik untuk eksplorasi musikal. Pendekatan pop keroncong dengan flute yang dimainkan secara pas. Sebagian bunyi dan tekstur memang sudah lebih dulu dieksplorasi oleh Cozy Street Corner, tapi Payung Teduh terdengar lebih segar di track ini. Namun kesegaran dari “Puan Bermain Hujan” segera dikeringkan lagi oleh “Sisa Kebahagiaan” yang amat mudah ditebak, tidak ada sama sekali kejutan ataupun detail menarik. “Kita Hanya Sebentar” menawarkan gaya Show Tunes era Perang Dunia II, namun Is menampilkan performa vokal yang kurang baik di lagu ini. Beberapa bagian terdengar terlalu rendah untuk suaranya. Album ini pun ditutup oleh nomor yang tidak istimewa. “Kerinduan” tidak memiliki sesuatu yang menarik. 

Namun secara komersial, Payung Teduh yang mellow, easy listening, dan menenangkan tentu masih sangat bisa untuk dijual sebagai musik industri. Plus, diluar musik, kekuatan komersial Payung Teduh juga ada di lirik. Lirik-lirik Is mungkin bisa menjadi pengganti puisi-puisi Sapardi atau cuplikan-cuplikan Tere Liye. Seperti nama band, album ini terdengar menyukai berada di zona nyaman. 

Menarik melihat keluarnya Is. Baik Is dan Payung Teduh untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir akan dipaksa keluar dari zona nyaman. Semoga tidak ada lagi yang terlalu teduh..

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Arief Budiman : Setia Melawan “Bebas Nilai”

Ilmu sosial di Indonesia bersifat ahistoris, karena ia mengabaikan konteks kesejarahan di mana masyarakat Indonesia hidup. Para ilmuwan sosial kita cenderung mengimpor begitu saja teori-teori sosial yang mereka dapat dari Barat tanpa mempertanyakan keabsahannya ketika diterapkan dalam konteks lokal. Padahal, “ilmu-ilmu sosial tidak bebas nilai” dan “ilmu sosial itu sebelumnya merupakan satu ideologi imperialisme ekonomi.

18888804_1892696994318917_7584118079513165824_n

Arief Budiman

Pernyataan tersebut sampai sekarang masih terdengar kurang nyaman bagi para akademisi ilmu sosial. Bukankah jauh lebih mudah membaca kebijakan Jokowi melalui kacamata Simon Kuznet, atau mengimajinasikan negara persis seperti apa yang dipaparkan Taqiyuddin Al-Nabhani?. Mengapa harus mempersulit diri dengan menambahkan pengetahuan struktur sejarah, politik, budaya, dan ekonomi lokal Indonesia yang minim sumber dan data yang rawan terdistorsi?.  Namun bagi seorang Arief Budiman, salah besar jika seorang akademisi, atau praktisi ilmu sosial, menutup mata akan banyaknya faktor subjektif. Konsep Bebas Nilai, yang pada dasarnya justru menjadi nilai tunggal, tentu tidaklah tepat. Ketika hanya ada satu jenis “nilai” yang dipergunakan di seluruh dunia, seperti yang dipromosikan modernis-modernis Barat, tentunya akan terbentuk hierarki nilai. Padahal manusia dan pola interaksinya sebagai bahasan utama dalam ilmu-ilmu sosial, tentunya memiliki nilai-nilai yang unik dan struktur-struktur yang membentuk karakteristik suatu sampel.

Arief, yang hari ini genap berusia tujuh puluh tujuh tahun, mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk menentang hierarki. Masa demi masa ia aktif membaca situasi, melakukan dialektika, dan mengkritisi serta menentang apapun yang ia anggap mempromosikan pemikiran dan tindakan monodimensional. Soekarno, Soeharto, hingga rezim-rezim singkat pasca Reformasi tak luput dari kritik Arief.

Arief lahir sebagai anak ke-tiga dari pasangan Soe Li Pit (Salam Sutrawan) dan Nio Hoe An. Salam Sutrawan adalah seorang novelis yang memiliki beberapa karya yang bergenre Sastra Peranakan. Hoe An, yang jauh lebih dekat dengan anak-anaknya, adalah sosok yang pertama kali mengenalkan dunia literasi pada Arief. Sejak menginjak bangku sekolah dasar, Arief dan saudara-saudaranya sudah menjadi langganan tetap di beberapa perpustakaan besar di Jakarta Pusat. Arief muda, menurut Goenawan Mohammad, adalah salah satu pembaca yang sangat tekun, terutama untuk buku-buku filsafat.

Lulus dari sekolah Jesuit paling top di Jakarta saat itu, Kolese Kanisius, Arief masuk ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Nama Arief mulai dikenal karena tulisan-tulisannya yang naik ke beberapa media cetak, baik dalam kajian pergerakan mahasiswa, budaya, maupun sastra. Di saat itu pula, dunia sastra, seni dan budaya Indonesia mulai terbelah akibat agitasi-agitasi yang dilakukan segelintir tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Pramudya Ananta Toer, rajin melakukan serangan keras di media terhadap seniman, sastrawan, dan siapapun yang tidak berhaluan Realisme Sosial ala Stalin. Tahun-tahun pertama dekade 60-an, riuh dengan argumen “Politik adalah Panglima” dengan mereka yang berhaluan lain (yang tidak tepat pula digeneralisir sebagai “humanis universal”). Tak hanya di media, beberapa sastrawan dan seniman juga mendapatkan represi di lapangan. Agustus 1963, Arief bersama Goenawan, rekannya di Fakultas Psikologi, mencoba mengorganisir rekan-rekan senior yang menjadi “sasaran dan korban” Pramudya dan kawan-kawan, untuk membuat sebuah pernyataan sikap bersama. Upaya itu akhirnya berbuah Manifesto kebudayaan, yang disusun Wiratmo Soekito, serta Arief dan Goenawan sebagai editor. Manifesto tersebut didukung oleh nama-nama seperti H.B Jassin, Trisno Sumarjo, Gerson Poyk, Taufiq Ismail, hingga maestro lukis Nashar. Manifesto menyatakan keengganan mereka untuk menumpang berkarya pada satu sektor kebudayaan saja (baca : politik ala Stalin).

Goenawan dalam sesi “Sastra, Politik, dan Manikebu” di Teater Utan Kayu tanggal 16 Juni 2016, mengenang Arief sebagai seorang yang cocok dengan pemikiran Asbsurdisme Albert Camus. Politik seni ala Uni Soviet mendahulukan seni sebagai bagian dari kampanye mewujudkan kehidupan satu kelas sebagai idealisme, dianggap tidaklah mungkin terjadi, setidaknya pada saat itu. Kondisi ideal, menurut Camus, adalah mustahil secara manusiawi (Humanly Impossible). Manusia hanya bisa seperti Sisyphus, yang tidak akan pernah mencapai idealisme atau objective miliknya, dan hanya bisa menyiasati hidup semaksimal mungkin dengan kondisi tersebut. Hingga kehidupan satu kelas terwujud, apakah seniman dan sastrawan dilarang untuk berkarya dengan kemanusiaannya?. Pertanyaan itu yang melatari keterlibatan Arief di Manifesto Kebudayaan, meskipun nama Arief, sebagaimana eksponen Manifesto Kebudayaan lain, masuk dalam daftar orang-orang yang dicekal dari aktivitas berkaryanya di ruang publik.

Arief pun akhirnya memilih untuk kembali belajar. Ia sempat memperoleh kesempatan mengikuti course bidang pendidikan di Brugge, Belgia, tahun 1964. Arief kembali ke tanah air dan mendapati peta politik Indonesia makin panas. Krisis ekonomi, pertentangan kubu Komunis, Agamis, Militer, dan Nasionalis makin meruncing. Kasus pembunuhan perwira-perwira tinggi Angkatan Darat pada 30 September dan 1 Oktober 1965 bagaikan bom waktu pertama yang meledak bagi Soekarno. Arief turut dalam gerakan mahasiswa 1966. Ia aktif mengorganisir mahasiswa Fakultas Psikologi untuk turut aktif dalam gerakan menggulingkan rezim Soekarno. Sejarah mencatat, Mahasiswa Psikologi dan Fakultas Sastra (yang salah satu motornya adalah Soe Hok Gie, adik Arief), merupakan salah satu yang diperhitungkan dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).  Gerakan ini akhirnya mempermulus Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan dari Soekarno.

Namun bulan madu Arief dengan Soeharto tak berlangsung lama. Genosida atas mereka yang dituduh terlibat dengan Komunisme maupun Soekarno segera menjadi episode baru yang mengerikan. Rekan-rekan Angkatan 66 seperti Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, Cosmas Batubara, hingga Akbar Tanjung, hanya duduk manis menikmati rezim baru yang memanjakan posisi mereka. Berbagai kritik dilancarkan Arief, terutama lewat Majalah Horison, dimana ia menjadi redaktur sejak 1968. Arief kembali ke posisinya sebagai seorang oposan. Namun di masa ini pula, Arief melakukan kompromi langka dengan hierarki dengan mengganti namanya dari Soe Hok Djin menjadi Arief Budiman. Sesuai dengan “arahan” asimilasi dari rezim untuk warga keturunan Cina. Kompromi tersebut hanya dilakukan Arief setelah desakan keras dari istrinya, Leila Chairani, yang tak ingin terus dipersulit untuk urusan tetek-bengek  administrasi.

Tahun 1968, duet Arief dan Goenawan kembali berulah. Mereka mengacak-acak tatanan dunia sastra dan seni, yang saat itu dilanggengkan oleh banyak rekan-rekan mereka di Manifesto Kebudayaan. Mereka mempromosikan Metode Ganzheit sebagai metode kritik sastra. Goenawan memperoleh inspirasi atas Metode Ganzheit dari teori psikologi Gestalt, yang menganggap bahwa persepsi manusia atas end product adalah lebih dari sekedar penambahan (dan susunan) dari bagian-bagian yang membentuknya. Meaning dari sebuah karya sastra secara keseluruhan, menurut pandangan ini, adalah lebih dari kesatuan hasil analisis atas pilihan kata, fonem, dan unsur-unsur lain. Ketika analis melakukan banyak faktor lain ekstrinsik, termasuk idiosinkratik sang analis (dan tentu, penulis) yang mempengaruhi, yang tidak bisa terdifinisikan secara indrawi dan teknis. Goenawan pertama kali memperkenalkan teori ini pada tulisan “Pengertian yang Salah terhadap Metode Analitik dalam Kritik Puisi” tahun 1965, disusul oleh Arief yang menegaskan dalam “Metode Ganzheit dalam Kritik Seni” yang dimuat majalah Horison No.4 Th.III, April 1968.

Teori pos-positivistik inilah yang membuat para akademisi sastra yang menganut teori sastra modern, dimana terdapat standar-standar nilai tertentu yang mengikat interaksi penikmat/analis/kritikus dengan karya yang dihadapi, merasa tersengat. Salah satu kritikus yang paling keras menyatakan ketidaksetujuannya adalah Mangasa Sotarduga Hutagalung. Polemik antara Arief plus Goenawan dan Mangasa serta Kelompok Rawamangun, berlanjut hingga pertengahan dekade 1970-an. Polemik tersebut dibukukan dalam “Kritik atas Kritik atas Kritik” yang terbit tahun 1975. Arief sendiri sebenarnya sudah mempraktikkan metode Ganzheit pada skripsinya yang berjudul Chairil Anwar : Sebuah Pertemuan. Ia mendekati karya Chairil tak melulu dengan metode teknis puisi. Namun justru menitikberatkan analisis tentang Chairil sebagai manusia pencipta; pandangan Chairil tentang agama, sosial, dan tentang dirinya sendiri,  disangkutkan dengan filsafat eksistensialisme, yang baru kemudian campuran tersebut dilimpahkan dalam memandang karya-karyanya.

Periode awal 70-an, Arief tercatat juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta dan Badan Sensor Film. Namun di dekade ini pula lahir dua “karya” Arief yang paling diingat publik. Pertama adalah saat pada 3 Juni 1971, Arief menjadi salah satu konseptor sebuah gerakan moral yang diberi nama Golongan Putih, atau disingkat menjadi Golput. Arief, Imam Waluyo, Julius Usman, Husin Umar, Marsilam Simanjuntak, dan Asmara Nababan dan beberapa aktivis lain merasa Orde Baru tidak bisa membuat sebuah pesta demokrasi yang ideal pada Pemilu 1971. Karena mereka berkeyakinan, apapun hasil pemilihan, yang memegang kendali politik atas Indonesia adalah ABRI. Pada minggu tenang sebelum pemilihan umum, mereka menyebarkan memorandum yang menghimbau masyarakat memilih dengan keyakinan mereka, bukan atas dasar paksaan atau rasa takut. “Kalau ada jang merasa lebih baik tidak memilih daripada memilih,bertindaklah atas dasar kejakinan itu pula”, demikian satu kalimat dari memorandum tersebut. Nama Golongan Putih sendiri hadir dari prosedur teknis untuk mereka yang memilih untuk tidak memilih, yatu dengan mencoblos bagian putih dari surat suara. Tentu embel-embel “golongan” untuk menjadi ironi atas hegemoni Golongan Karya yang menjadi mesin politik utama Orde Baru. Arief sendiri berpendapat bahwa Golput tidaklah memiliki tujuan kemenangan politik apapun, melainkan hanya untuk “melahirkan tradisi dimana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apa pun”. Para eksponen Golput membuat pamflet kampanye dengan logo segi lima berwarna putih polos sebagai simbol dan menempelkan pamflet tersebut di banyak tempat. Tak urung, aksi itu membuat gusar pemerintah. Kegiatan-kegiatan yang berbau Golput dilarang. Adam Malik bahkan sempat menyebut Golput sebagai “Golongan Setan”. Kampanye Golput 1971 menghasilkan angka 6.67% pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Sebuah persentasi yang “buruk” dibandingkan dengan angka “golput” pada Pemilihan Umum 1955 yang mencapai 12.34%. Namun merupakan prestasi sendiri di tengah iklim politik yang “terkonsolidasi” dan kekuatan oposisi yang lemah.

Dalam selang beberapa bulan, Arief kembali menyerang Orde Baru. Kali ini ia menyatakan penentangannya atas rencana pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Berbagai demonstrasi digelar untuk menentang pembebasan lahan secara sewenang-wenang demi “proyek pembangunan mental-spiritual” yang digagas Siti Hartinah, istri Soeharto. Pada 21 Januari 1972, Arief ditangkap, bersama dengan aktivis lain, di antaranya Poncke Princen. Statusnya adalah tahanan polisi hingga 10 Februari, namun ia ternyata ditahan lebih lanjut untuk pemeriksaan di kejaksaan hingga dibebaskan tanggal 16 Februari 1972. Penangkapan Arief terjadi setelah pada 6 Januari 1972, Soeharto yang gusar berpidato di acara peresmian Rumah Sakit Pusat Pertamina. Soeharto berpendapat bahwa isu Taman Mini Indonesia Indah telah dipolitisir. Aksi itu disebut Soeharto memiliki tujuan jangka pendek mendeskreditkan pemerintah, dan tujuan jangka panjang menggulingkan ABRI dari posisi-posisi eksekutif. Soeharto mengancam siapapun yang mengganggu ketertiban umum, dengan menggunakan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) sebagai legitimasi aksi “penertiban”. Selama beberapa minggu ditahan, Arief ditahan di Markas Polisi Air dan Udara Tanjung Priok, dimana ia mengenal petugas-petugas yang mengaku mengagumi dan bersimpati pada perjuangannya. Para petugas itu pula yang memperlakukan Arief dengan baik saat masa tahanan. Arief pun menduga bahwa Soeharto masih segan untuk menghukum berat para aktivis, karena sebagian besar mereka memiliki jasa dalam menaikkan Soeharto ke puncak kekuasaan.

Tahun 1973, mereka yang terlibat di baris atas hierarki negara ini boleh bernafas lega. Arief pergi belajar ke Universitas Harvard di Amerika Serikat. Ia mengambil program sosiologi, dengan bantuan sosiolog sosialis Seymour Martin Lipset. Meskipun dengan kondisi ekonomi yang konon cukup sulit dan beasiswa yang terhenti, Arief akhirnya bisa menggenggam gelar Doktor Sosiologi. Pulang ke Indonesia, Arief bergabung dengan universitas yang baru berdiri, Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga. Di universitas muda yang masih idealis ini, Arief menemukan iklim belajar mengajar, dan aktivisme yang cocok dengan dirinya. Andreas Harsono, eks jurnalis Jakarta Post yang kini dikenal sebagai penulis jurnalisme sastrawi dan pegiat Hak Asasi Manusia, serta “Stanley” Adi Prasetyo, pendiri Asosiasi Jurnalis Independen (AJI), aktivis Institut Studi Arus Informasi (ISAI), juga eks anggota Dewan Pers Indonesia, adalah dua nama yang sempat mengecap bimbingan dari Arief di Salatiga.

Namun bukan Arief namanya jika anteng-anteng dalam melihat ketidak adilan. Arief bersama beberapa mahasiswanya sempat menggelar aksi menentang kebijakan Pemerintah Kota Salatiga yang melarang dokar dan becak masuk dan mengambil penumpang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman Salatiga. Juga saat Arief mengambil sebuah posisi di polemik perebutan posisi rektor di Satya Wacana. Arief merasa Liek Wiharjo, yang mendapat suara terbanyak, secara tradisi harusnya dipilih oleh Yayasan Satya Wacana. Namun ahli fisika yang juga peminat isu-isu agama dan sosial itu ternyata tidak dipilih oleh yayasan, yang lebih memilih John Ihalaw dari Fakultas Ekonomi. Pendapat Arief ini naik cetak di Tempo, Kompas, Sinar Harapan, dan beberapa media skala nasional lain. Arief yang dianggap provokator akhirnya dipecat oleh Ihalaw tahun 1994. Menganggur, Arief mencari pekerjaan lain, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tertarik dengan Arief, namun tak lama, Sanata Dharma yang sedang dalam proses menjadi universitas nasional merasa tidak bisa mengambil risiko dengan mengambil Arief yang oposan Orde Baru sebagai pegawai.

Arief akhirnya berangkat mengajar di Universitas Melbourne, Australia. Di sana Arief menjadi pengajar sekaligus langsung diangkat menjadi guru besar. Mulai 1997 hingga pensiunnya tahun 2008, Arief menjalani kehidupan bolak-balik Salatiga – Melbourne. Di Salatiga Arief tinggal di rumahnya yang didesain khusus oleh Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, arsitek cum-budayawan dan agamawan dari Yogyakarta. Berbagai tulisan dan ceramah Arief hingga awal dekade 2010-an masih menghiasi media massa dan seminar-seminar di Indonesia, Australia, dan beberapa negara lain. Tulisan-tulisan yang dianggapnya terbaik dan masih relevan ia kumpulkan dan bukukan. Terbit tahun 2006, kumpulan tulisan tersebut ia beri judul Kebebasan, Negara, Pembangunan : Kumpulan Tulisan 1965-2005. Buku tersebut memudahkan para pembaca untuk mengenal pemikiran-pemikiran Arief yang multidimensi, kukuh pada fleksibilitas dan subjektivitas, dan selalu anti hierarki.

Kini Arief sedang dalam kondisi sakit di Salatiga. Entah apakah masih banyak kini yang akan mengingat kiprah Arief membangkang selama lima dekade. Tapi saya rasa tulisan ini akan sangat baik dituliskan sebagai pengingat siapa Arief Budiman. Sebagai seorang yang tak pernah ingin bebas nilai.

Sumber

Buku :

  1. Budiman, Arief. 2006. Kebebasan, Negara, Pembangunan : Kumpulan Tulisan 1965-2005. Pustaka Alvabet. Halaman 22, 45, 68, 125, 146.
  2. Schultz, Duane. 2013. A History of Modern Psychology. Burlington: Elsevier Science. halaman. 291.
  3. Suryadinata, Leo.1995. Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (3rd Edition) Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.

Jurnal :

  1. Budiman, Arief. 1968. Metode Ganzheit dalam Kritik Seni. Horison, 4 (April, III).

Artikel :

  1. 19 Februari 1972. Pemrotes Taman Mini Dibebaskan.
  2. Mohamad Taufik. 25 Januari 2014. Ibu Tien Bikin Taman Mini, Pak Harto Menindak Para Penentangnya. Merdeka.com (online) (https://www.merdeka.com/peristiwa/ibu-tien-bikin-taman-mini-pak-harto-menindak-para-penentangnya.html . Diakses pada 29 Desember 2017, 19:36).
  3. Triyono, Bambang. 2009. Inspirator Tiga Zaman. Scientarium. (Online) (http://scientiarum.com/2009/02/06/inspirator-tiga-zaman/ diakses 29 Desember 2017, 16:30).

Statistik :

  1. Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia. 2008. Pemilu 1971. Jakarta : KPU Republik Indonesia.

Ensiklopedia :

  1. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun tidak diketahui. Kritik Ganzheit. Ensiklopedia Sastra Indonesia (online)(http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Kritik_Ganzheit . Diakses 29 Desember 2017, 14:30).

Gambar :

  1. Arief Budiman, diunggah oleh @tokohsastra

 

Posted in Politik, Tokoh | Leave a comment

Adam

Apakah kau ingat orang pertama yang berani melawan ketidakmungkinan?
Ia yang tukar nikmat surga demi derita cinta
Ia yang berjalan terpincang di muka bumi
Ia yang cinta dan pincangnya menjadi sinonim bagi manusia

Namanya Adam.

Posted in Puisi, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Ujung-Ujungnya Jualan

Indonesia pecah. Indonesia pecah menjadi Jokowi-Anti Jokowi, Wahabi-Tradisional-Liberal, Pribumi-Non Pribumi, Zaman Now-Zaman Old, Traveler -Wisatawan -Flaneur, Musik Indie-Mainstream, Ahok-Anies, Tere Liye-Mojok, Bobotoh-The Jak, Stand Up Comedy -OVJ, Ika Natassa-@Infotwitwor, KPK-PKS bahkan Perokok-Anti Rokok.

Ketika memilih kubu, seseorang secara natural menyesuaikan dengan selera-selera yang ada pada dirinya. Selera, atau bisa kita sebut sebagai nilai, konon terbentuk dari paparan-paparan informasi dan (terkadang) interaksinya dengan pengalaman. Kata terbentuk, menyimbolkan bahwa selera atau nilai yang dianut manusia itu hadir secara natural. Paparan informasi dan pengalaman, datang sesuai arus takdir dan ketentuan semesta ke hadapan manusia.

Tapi apakah betul bahwa takdir (atau bagi yang tidak percaya, randomness) yang membawa informasi dan pengalaman itu kepada manusia?. Apakah juga takdir yang menghendaki manusia pada akhirnya memilih kubu-kubu yang sesuai dengan selera?. Saya termasuk yang tidak percaya dengan itu semua. Kelindan antara nilai, informasi dan pengalaman (yang siklikal, terus begitu) pasti memiliki distorsi.

Ketika bayi, manusia mendasarkan pilihannya pada pengalaman-pengalaman fisik. Secara natural, manusia hanya dibekali kemampuan fisik dasar seperti menangis dan meronta. Perlahan, manusia mengetahui bahwa susu, yang bisa menuntaskan rasa lapar, ada di payudara ibu, dan untuk mengeluarkannya, mulut harus menghisap. Tenggorokan lalu belajar menelan, usus belajar mencerna, dan saluran pembuangan belajar mengeluarkan sisa. Natural. Ketika sudah ada kesadaran, bayi mulai mengenal banyak informasi dari manusia lain lewat cinta, obrolan, dan nyanyian. Ia pun melihat manusia dewasa untuk tahu cara berjalan, cara menyanyi, cara bertepuk tangan.

Ketika si bayi menjadi anak-anak, banyak informasi lain yang masuk dari orang tua, nilai-nilai seperti makanan yang harus dihabiskan, tidak berlari di ruang sempit, tidak berteriak di depan umum, sampai kewajiban untuk beribadah. Ketika itu kelindan antara informasi dan pengalaman mulai menjadi rumit. Beruntung anak-anak memiliki masa emas, tahun-tahun di mana kemampuan otak mereka sangat tinggi dan terus berkembang. Dipuji, dimarahi, dipeluk, bahkan dikasari, menjadi pengalaman yang diterima dengan sangat baik untuk dikolaborasikan dengan informasi-informasi nilai yang diajarkan sebelumnya.

Sang bayi masuk sekolah, interaksi dengan kawan-kawan, guru, dan materi (serta media) belajar, berarti informasi dan pengalaman yang didapat semakin deras dan kadang arusnya tidak searah dengan informasi “rumah”. Perbenturan-perbenturan juga makin rumit dengan interaksi anak dengan media seperti televisi, buku, game dan internet. Anak pun mulai menjadi target pasar dari para pebisnis. Pariwara mainan, mainan edukatif, serial kartun, pertunjukkan boneka, tempat rekreasi, sampai makanan manis mulai menjamah mereka. Tak cukup dari situ, para orang tua pun menjadi target pasar dari pebisnis pakaian anak, kereta dorong, biskuit, psikolog anak, dokter anak, popok, dan sekolah.

Pubertas menambah nelangsa anak dalam mengelaborasikan dirinya dengan dunia. Keresahan seksual, pintu pengalaman yang makin terbuka, serta kedalaman yang makin hebat akan informasi. Jarak yang sudah mulai cukup jauh dengan nilai rumah menjadikan rentang usia ini menjadi medan pertempuran nilai, informasi dan pengalaman yang hebat. Sehingga tak jarang terjadi masalah psikologis yang cukup ekstrim di usia-usia ini. Media remaja, fesyen, teknologi, restoran, gaya hidup, musik pop, sampai puisi-puisi romantis merongrong lagi agar dibeli.

Di usia dewasa muda, puncak keresahan terjadi. Tuntutan berkarya (uang), paparan metode belajar pendidikan tinggi, aktivisme, menjadi input-input bagi pemikiran dan preferensi. Namun perbenturan dengan gaji pertama, keinginan untuk mandiri secara finansial, kebutuhan sandaran kepercayaan, menjadi celah masuk untuk fatwa-fatwa bijak tenaga pemasar asuransi, investasi, properti, sampai voucher-voucher belanja di gerai-gerai Mitra Adi Perkasa.

Begitu seterusnya selera, atau nilai, atau preferensi manusia terbentuk. Tidak banyak faktor yang bersifat takdir, kebetulan, atau natural di proses panjang itu. Kebanyakan bahkan berupa informasi-informasi pemasaran yang dijejalkan secara halus melalui media. Pemasaran dalam hal ini tentu bukan hanya dari pebisnis berbadan hukum resmi, namun juga dari para tokoh-tokoh bidang tertentu seperti sastrawan, musisi, pemuka agama, politisi, budayawan, seniman, sejarawan, sampai para influencer.

Karena banyak dipahami sebagai sesuatu yang natural, akhirnya secara “natural” pula manusia akhirnya mengikuti semua arus ini dengan sukarela dan pasrah. Apa pun yang datang di depan muka, itu lah yang diserap. Manusia menjadi yakin terhadap selera yang dianut, terhadap dirinya sendiri, dan pada titik tertentu, akhirnya merasa puas dan cukup. Merasa ajeg. Padahal jika merujuk tahapan-tahapan di atas, pasrah pada arus sebenarnya bukan karakteristik manusia. Manusia dibekali kapasitas otak yang besar, terlalu besar jika hanya dibutuhkan untuk mengelaborasikan apa yang datang saja.

Ada manusia seperti Socrates. Dia tidak terlena dengan arus utama Yunani Kuno yang mencintai “suara rakyat” dan kedamaian semu. Ia mengajak puluhan anak muda ke suatu tempat, bercerita tentang kemungkinan-kemungkinan lain. Yang harus didapat dari sebuah rangkaian sikap kritis, pertanyaan, rasa ingin tahu, pencarian, perenungan, dan berujung pada pendobrakan arus selera utama. Rangkaian yang tidak akan disukai orang-orang status quo seperti para penguasa dan pemuka agama yang mengagungkan ketenteraman dan kedamaian. Socrates pun mati mengenaskan.

Kubu-kubu dalam pertentangan horizontal dan vertikal di Indonesia, masing-masing memiliki orang-orang yang akan paling diuntungkan atau dirugikan dalam menang-kalah. Mereka harus memiliki basis massa untuk bisa menyokong. Maka dari itu, mereka membuat strategi pemasaran. Membuat doktrin, menyampaikannya secara halus sehingga diterima tanpa sadar sebagai si “takdir” tadi, membuat dan merawat basis massa fanatik, lalu mempertentangkannya dengan kubu lawan. Mereka membuat orang seakan memiliki kepentingan yang sangat dengan kubu-kubu itu. Strategi itu akhirnya membentuk pola pemikiran manusia Indonesia selalu terpaku pada pemikiran kolektif, yang tidak jarang justru elitis (kultus tokoh).

Hanya dengan berpikir kritis lah, kita tahu bahwa semua pertentangan ini, adalah UUJ. Ujungujungnya Jualan.

Posted in Agama, Budaya, Pemikiran, Politik, Uncategorized | Leave a comment

Mengapa Buzzer Adalah Pengabdi Setan

Menjelang Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 1940, Franklin Delano Roosevelt dan kubu Demokrat ketar-ketir. Roosevelt, di periode kedua memimpin Amerika Serikat, dianggap gagal dalam mengangkat kembali Amerika dari Great Depression. Harapan untuk kali ketiga menduduki kursi ruang oval Gedung Putih nampaknya semakin tipis. Apalagi dengan lawan Wendell Wilkie, seorang Republikan konservatif yang punya banyak sponsor dari kalangan konglomerat, terutama konglomerat media. Sementara Roosevelt, yang lebih melirik dampak Great Depression yang terjadi pada kelas pekerja, tentu tidak seksi di mata para taipan media.

Namun kemenangan 9.9% Roosevelt atas Wilkie pun terjadi. Roosevelt, yang tidak punya banyak media massa besar untuk mencorongkan namanya, bisa terpilih. Paul Lazarsfield, Bernard Berelson, dan Hazel Gaudet, sebuah tim yang didanai Rockefeller Foundation, menemukan sebuah pola komunikasi politik yang dianggap berhasil memenangkan Roosevelt. Dari 2400 responden, mereka menemukan fakta bahwa tim media Roosevelt, selain berkampanye langsung, juga berkampanye melalui tokoh-tokoh yang nantinya disebut “opinion leaders”. Mereka adalah orang-orang yang dianggap lebih “mumpuni” secara pengetahuan (terutama politik) dan dipercaya oleh masyarakat. Mereka inilah yang menyebarkan kampanye politik kepada masyarakat yang lebih rendah tingkat pengetahuannya. Hasil dari studi ini kemudian melahirkan sebuah teori yang dikenal dengan nama the Two-Step Flow of Communications. 

Elihu Katz, salah satu pengembang teori ini, dalam Personal Influence (1957), mendefinisikan tiga faktor yang membuat seseorang bisa menjadi, atau dijadikan, opinion leaders. Pertama, dia memiliki ekspresi “baik” atas nilai-nilai yang dianut masyarakat luas yang menjadi target pengaruh. Kedua, ia memiliki (atau setidaknya dianggap memiliki) kompetensi atas bidang yang akan dikampanyekan. Yang terakhir adalah memiliki pola hubungan sosial yang cocok dengan masyarakat target pengaruh. 

Teori ini terbukti bisa bertahan lama, bahkan hingga era keterbukaan informasi pasca internet. Meningkatnya level pengetahuan masyarakat membuat komunikasi massa tidak lagi menjadi sesuatu yang efektif. Mudahnya menelanjangi proses kerja media massa, membuat masyarakat tidak lagi mudah dikibuli seperti jaman kejayaan Goebbels. Opinion Leaders, atau kini dikenal dengan julukan Buzzer atau Influencer, adalah “dewa-dewa” dalam pola komunikasi Gen Y dan Millenial, generasi mayoritas dalam demografi usia masyarakat dunia. Banjir informasi yang terus mendesak masuk ke ponsel dan komputer, membuat mereka merindukan sosok yang mampu “menyelamatkan” mereka agar tidak hanyut dalam “kesesatan”. 

Sebagai pengembangan dari Katz, Ed Keller dan John Barry pada The Influentials (2003), mengidentifikasi atribut-atribut utama yang dibutuhkan seorang Buzzer/Influencer untuk masyarakat “melek internet” ini; pertama, ia dikenal sebelumnya sebagai seorang aktivis swadaya, terutama dalam aksi-aksi sosial dan amal. Kedua, dia memiliki pergaulan sosial yang luas. Lalu dia haruslah orang yang memiliki pengikut (otoritatif) dan “umat pengiman”, yang mungkin bisa hadir dari kiprahnya sebagai aktivis yang “independen”. Keempat, dia baiknya adalah seorang yang dikenal aktif dan memiliki pengetahuan yang luas (meskipun hanya di permukaan). Yang terakhir, dan mungkin yang terpenting, dia haruslah seorang trendsetter, mengadaptasi dan meninggalkan semua hal lebih cepat dari masyarakat.

Secara tingkatan ekonomi di dekade ini, Gen Y dan Millenial sebagai mayoritas di dunia, dan juga Indonesia, hadir dari kelas menengah bawah dan kelas pekerja. William Thompson dan Joseph Hickey (2005) menggambarkan kelas menengah bawah sebagai kelas yang menghidupi diri dengan bisnis/pekerjaan yang cukup otonomus dan mampu membiayai rata-rata kebutuhan mendasar, serta mendapat pendidikan tinggi. Sedangkan kelas pekerja didefinisikan sebagai kelas yang belum mendapat keamanan dan kenyamanan posisi kerja, serta berpendidikan sekolah menengah atas. Keadaan ekonomi yang serba terbatas bagi kedua kelas ini, tentunya membuat kehidupan kelas atas (yang dapat terakses via internet), menjadi kondisi ideal, mungkin cenderung utopis.

Dengan kondisi inilah, masuk para Buzzer, (dengan karakteristik hasil definisi Keller dan Barry di atas) sebagai sosok penyambung lidah antar kelas-kelas mayoritas dengan mereka yang selected few. Di beberapa tahun terakhir, baik di dunia, khususnya di Indonesia, kita mengenal julukan Brand Ambassador, selebtwit, seleb IG dan Youtubers. Mereka secara konsisten : memotivasi dengan biografi pebisnis-pebisnis besar masa lalu, menceritakan transformasi hidupnya (menjadi lebih baik), berjalan-jalan ke tempat-tempat eksotis di penjuru-penjuru dunia (dan mengambil foto yang bagus), makan makanan-makanan eklektik, membuat snob review atas sebuah karya seni, menganalisis ketahanan sebuah produk makeup, berpose dengan itemitem busana terdepan (yang bahkan belum, dan belum tentu menjadi tren), mengutip kata-kata penuh pembebasan diri dari filsuf dan sastrawan jaman Beatnik, serta membuat statementstatement yang menunjukkan (secara amat sangat gamblang) preferensi politik tertentu.

Konten-konten tersebut tentunya akan sangat menarik bagi orang-orang yang sedang berhimpitan di gerbong kereta, dengan kemeja lusuh setelah 8-10 jam di depan komputer. Atau bagi para petugas pembersih ruangan yang sedang menikmati kopi sachet dalam gelas plastik di istirahat sore. Orang-orang ini bagaikan menemukan tujuan, atau setidaknya pedoman, hidup mereka dalam konten para Buzzer. Mereka tidak punya waktu untuk membaca, mencerna, dan mengkritisi sebuah pesan dari sumber pertama. Maka dengan pasrah mereka mempercayakan pengetahuan mana yang akan mereka pakai pada konten-konten itu. Mereka juga kekurangan waktu untuk menyadari bahwa tak satu konten pun dari para Buzzer yang tidak dimaksudkan untuk “berjualan”. Terjebak kamuflase dengan pencitraan rutin bahwa dia (Buzzer) adalah anggota masyarakat biasa yang kebetulan lebih aktif, lebih cool, lebih punya akses ke level atas, dan lebih berpengetahuan.

Maka tak heran banyak orang biasa berlomba menjadi Buzzer, yang tidak hanya menawarkan pendapatan, namun juga kenaikan status sosial di masyarakat. Mereka berlomba menjadi penyampai pesan, baik politik, kultural, maupun komersial. Persis dengan pola Roosevelt di 1940, pesan asli dari klien dikemas ulang, lalu disebarkan ke pengikut dalam kemasan yang less hard selling, seringkali berupa pengalaman atau pemikiran yang palsu, yang meyakinkan pengikutnya bahwa pesan itu datang langsung darinya. Yang sebagaimana disampaikan sebelumnya, berupa foto objek wisata, makanan, sampai kiprah politik seorang politisi. 

Buzzer adalah seorang tenaga penjual yang tidak jujur bahwa ia berjualan. Ia datang berlagak seperti teman yang sudah lebih berhasil. Ia datang ke kantor kita dengan baju santai. Mentraktir makan siang sambil bercerita ini-itu tentang sesuatu yang indah, intelek, dan eksotis. Ia tahu betul kejenuhan kita. Meyakinkan kita bahwa hidup kita tidaklah indah. Bahwa kita butuh perubahan, butuh sesuatu yang baru. Ketika kita sudah yakin bahwa kita perlu sesuatu yang baru, dikeluarkanlah dagangan-dagangan dari tasnya. Kita pun mengeluarkan dompet. Jualan cara setan. Buzzer tak ubahnya pengabdi setan!.

Posted in Budaya, Ekonomi, Pemikiran, Politik, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Pengalaman Menjadi Anak Vintage

Diambil dari Lauren Apfel : Confession of a Name Snob


Tahun-tahun pertama bersentuhan dengan dunia komunitas adalah masa-masa yang paling menarik sepanjang hidup saya. Saya menyaksikan banyak orang-orang berusia muda yang aktif dengan kegiatan-kegiatan dengan sudut pandang yang berbeda dengan kehidupan kompetitif khas kapitalisme yang menjadi dasar kehidupan di sebagian besar Indonesia. Kepala saya yang terbiasa dengan dogma kapitalis bertemu dengan hal-hal aneh yang dilakukan banyak sekali orang lain. 
Diantara seabrek hal aneh itu, yang paling berkesan adalah ketika di Bandung saya bertemu dengan komunitas-komunitas penggemar sejarah dan bangunan tua, komunitas cosplay (costume playing), busana jaman dulu (jadul), komunitas pecinta sepeda onthel, komunitas belajar membaca huruf Sunda dan Jawa Kuno, dan komunitas musik yang bergaya dan berbunyi seperti musik-musik populer di masa lalu. Saya pun tak urung mengenal kata kunci yang beratus kali terdengar : vintage. Bagi saya yang belum terpikir untuk mencari tahu lebih lanjut, kedua kata itu adalah perlambang untuk melihat, mengambil, dan memuja hal-hal dari masa lalu. 

Saya mulai bergaya vintage, dimulai dengan cerita indah Jalan Braga tahun 1920-an, menikmati es krim yang konon tidak pernah berubah resep sejak hampir seratus tahun lalu di Restoran Sumber Hidangan, memandangi relief ala Amerika Tengah di lobi Hotel Grand Preanger sambil berucap “art deco!”, bersepeda onthel dengan baju ala inspektur perkebunan Belanda di foto-foto Tropenmuseum, sampai mendengarkan sebuah kelompok keroncong yang menyajikan lagu “Als de Orchideen Bloeien” yang konon adalah gubahan Ismail Marzuki saat masih bermain band bersama Lief Java. Dengan melakukan semua hal itu, dan membaca beberapa literatur singkat, saya merasa sudah sebagai “buaya sejarah”. 

Namun pemahaman baru saya akan terminologi vintage kini membawakan saya perasaan geli sendiri pada diri saya yang ada di masa-masa itu. Masa-masa itu ketika saya refleksikan kembali, adalah masa-masa yang sangat norak. Saya merasa berbeda dengan orang lain yang seragam dalam berpakaian, berpengetahuan, menyantap makanan, dan menikmati seni. Saya mengambil jenis pakaian, mengambil foto-foto, memandangi gedung, mencuri bunyi, dan mengkoleksi pengetahuan, tanpa merasa perlu tahu konteks, urgensi, baik-buruk, relevansi. 

Ide vintage sendiri berasal dari satu istilah pada proses pemilihan dan pembuatan wine. Konteks umum vintage yang paling terkenal (meskipun kaprah) adalah kepercayaan bahwa wine yang berumur tua, adalah wine dengan kualitas yang tinggi. Terminologi tersebut dimasukkan ke kajian humaniora, dan memiliki makna percaya bahwa sesuatu yang terjadi di masa lalu, atau tua, lebih baik dari hal serupa di masa kini.

Saya sadar, bahwa saya dulu hanya seorang pemulung. Bukan pemulung mulia yang menghidupi dengan memulung, tapi pemulung yang sombong dengan hanya memulung barang bekas yang belum tentu punya harga di pengepul. Saya memulung unsur budaya dan informasi dari masa lalu, dan memandangnya dengan sudut pandang terbaru saat itu. Saya memuja barang-barang bekas itu, menempatkannya sebagai pujaan yang bisa mengangkat kekerenan saya sebagai seorang anak muda “hipster”. 

Akhirnya barang-barang (budaya-budaya) bekas pakai itu hanya seperti pajangan museum yang tidak ada label informasi di bawahnya. Tidak dikenali, dipahami, direvitalisasi, apalagi dikembangkan. Singkatnya, saya penggemar “sejarah” yang ahistoris. Semua yang saya lakukan adalah bentuk derivatif dari snobbery. Saya tetap menjadi salah satu dari mereka yang dicuci otak oleh tren. Tidak berbeda dengan orang-orang yang saya pandang rendah karena tetap makan di gerai makanan cepat saji, berwisata ke Bali dan Borobudur, dan memakai pakaian distro. Saya merayakan itu semua sebagai turis yang berlibur sejenak dari keseragaman dan ketatnya kompetisi dalam bertahan hidup. 

Terdengar menyedihkan. Tapi tanpa berusaha membela diri dan mengarang-ngarang, apa yang saya lakukan saat itu adalah cerminan dari sudut pandang umum generasi muda bangsa ini tentang masa lalu. Tidak perlu strategi metode penelitian sejarah, bahkan yang sederhana, tak perlu tahu asbabun nuzul. Yang penting saya konsumsi, dan voila! : I am cooler than you. 

Semoga tidak banyak lagi kawan-kawan yang harus mengalami masa-masa itu.


Posted in Pemikiran, Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment