Ulasan Musik : Polka Wars – Bani Bumi

images (21)

Saya malamĀ ini akhirnya berhasilĀ mendengarkan satu album penuh secara serius di Spotify. Album tersebut adalah Bani Bumi milik Polka Wars. Berikut apresiasi saya tentang album tersebut, tentunya disertai subjektivitas.

Intro “Bani” mengedepankan musik Barok. Pilihan yang nantinya setelah selesai mendengarkan, mengundang tanda tanya, karena nggak nyambung sama sound album secara general (kecuali outro “Bumi”). Beda halnya dengan “Mukadimah” di album Bintang Lima karya Dewa yang serupa, tapi tidak “belang” dengan sound album secara general, dan justru menjadi pemanasan yang baik untuk memulai mendengar album.

Sejak “Fatamorgana” mulai, langsung terasa bahwa track ini di mix dan balancing dengan sangat baik. Pilihan sound dan progresi bisa mengekspresikan tema dengan sangat baik. Tapi di track nomor dua ini, kelemahan terdengar di vokal. Terasa sebenarnya rancangan nada, aksen, dan teknik vokal sangat pas untuk mengekspresikan emosi lagu, tapi tereksekusi dengan tidak sebaik itu karena keterbatasan range si vokalis. Jika saja mendapat vokalis yang bagus, pasti track ini akan menonjol sekali.

“Avatar” tidak menojol secara komposisi. Namun memiliki sound-sound menarik yang masuk sebagai dekorasi, seperti lead gitar berdistorsi yang keluar masuk lagu, dan beberapa ketuk timpani. Menurut saya mungkin, jika sound lead gitar (dan katakanlah, timpani) tersebut menjadi pondasi lagu, mungkin lagu ini setidaknya akan terdengar unik secara tekstur.

Secara musikal, “Suar” memiliki salah satu komposisi dan sound yang paling pas di album ini. Meskipun suara piano akan jauh lebih baik jika ditaruh lebih depan, tidak balapan dengan bassline. Disayangkan, mungkin di 90% kesempatan, kedua vokalis tidak memecah suara. Buat apa dua suara dengan frekuensi yang tidak jauh beda, bernyanyi dengan nada yang sama?. Sungguh mubazir seperti halnya Barasuara. Di “Suar” performa vokalis utama jauh lebih baik. Tapi perlu diingat juga bahwa teknik dan gaya tersebut bisa mengingatkan orang dengan teknik dan gaya Ade Firza dari Sore.

Terdengar Grunge dan/atau Stoner atau apapun itu namanya di “Bunga” dan “Alkisah”. Dengan sound yang lebih lembut seperti formula Silverchair di album “Diorama”, yang ditiru Ahmad Dhani di “Bintang Lima”. Progresi memang meliuk, namun tidak berjauhan antar akor. Vokal terdengar jauh lebih nyaman di progresi seperti ini meskipun pemotongan kata beberapa kali terasa tanggung secara fonem. Tidak ada sound menonjol di kedua track ini, namun semua terasa pas, lagi-lagi mixing bagus di dua track ini.

“Mapan” mungkin tidak terlalu menonjol kecuali beberapa detail gitar yang menarik (muted-reverb-ed). Tema lagu yang sebenarnya sangat baik tidak tereksekusi dengan baik lewat komposisi. Vokal yang harusnya bisa menolong, lagi-lagi terkendala keterbatasan si vokalis (beberapa kali kehabisan nafas).

Sound vintage dan solo piano menjadi highlight dari “Terai”. Lagu yang entah apa temanya ini, memiliki komposisi sederhana namun semua terasa pas dan tidak berlebihan. Maaf harus berkomentar begini, tapi sound lagu ini mengingatkan saya pada Bragi, sebagai band yang pertama kali mengadopsi kembali sound begini.

“Mandiri”, seperti halnya “Mapan”, memiliki tema yang kuat. Sebagaimana rumus yang kita peroleh dari gerakan Folk Revival, musik minimalis bisa memberi jalan lebar bagi vokal untuk menyampaikan pesan. Gaya bernyanyi nada rendah yang dipakai di awal sekarang sering sekali kita dengar di scene Folk (revival) lokal. Namun begitu masuk ke nada-nada tinggi, barulah komposisi ini berjiwa. Soulful sekali terdengar. Range seperti ini harusnya bisa jadi pijakan bagi Polka Wars untuk bisa memaksimalkan penyampaian pesan (jika itu tujuannya, yang sayang sekali jika tidak, karena temanya relevan sekali).

“Rimba” merupakan track dengan komposisi terbaik di album ini. Progresi ditandai dengan sound yang pas dan dinamika yang seru. Drumming menjadi highlight di “Rimba”. Tight sekali. Keren. Solo gitar di akhir juga memberikan warna yang baik. Keren pokoknya track ini.

Sound gitar dan synth membentengi “Rekam Jejak” dengan unik. Dinamika yang minim bisa juga terasa seru, terutama saat koor masuk dan gitar berubah lebih jangly. Penerjemahan yang sangat baik untuk tema yang diangkat.

Untuk “Temaram” apakah vokalisnya berbeda dengan lagu lain?. Performa vokal di track ini mungkin yang terbaik di album ini. Mungkin vokalis Polka Wars adalah tipe orang yang “perform under pressure“. Di track minimalis, bisa dibayangkan tekanan kepada seorang vokalis. Tapi di track ini, saya sampai mengira ini vokalis lain. Maklum saya belum lihat sleeve albumnya.

Outro “Bumi” sudahlah tidak usah dibahas lagi. Terasa tidak nyambung sama sekali.

Sebagai sebuah album, “Bani Bumi” terdengar sangat belang. Saya tidak mendengar ada benang merah secara sound, gaya komposisi, atau hal lain yang menyatukan semua track di lagu ini. Beda hal jika yang dimaksudkan menjadi benang merah adalah tema. Continue reading

Advertisements
Posted in Musik, Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Ulasan Film Kucumbu Tubuh Indahku

Kalau kita disuguhkan pertanyaan mendadak : “tubuhmu punya siapa?”. Niscaya kebanyakan orang akan menjawab tegas bahwa tubuhnya adalah milik dirinya. Jelas, tubuh dibawa sehari-hari, diberi nutrisi, dipakaikan (dan dibukakan) baju, dibentuk di tempat kebugaran, dirawat dengan aneka produk, dan dihias lagi dengan aneka kosmetik.

Tetapi apakah betul seperti itu?. Di bangku kuliah tingkat tiga, di mata kuliah Gender dan Seksualitas (dalam Hubungan Internasional) barulah mata seperti dibuka lebar. Tubuh, gender, dan seksualitas, meskipun 24 jam kita akrabi, belum tentu ada dalam otoritas kita. Budaya patriarki, yang dipelihara manusia sejak jaman purba, tentunya mengklaim bahwa tubuh, fungsi sosial, dan seksualitas perempuan, ada di bawah otoritas wali, atau suami, atau pemimpin kelompok yang memiliki fisik lebih kuat (dan/atau efektif) dalam proses berburu, mengumpulkan makanan, dan sekarang, mengumpulkan uang.

Belum lagi patriarki terhapus, datang lagi kapitalisme. Kapitalisme punya sebuah senjata bernama fesyen (fashion). Fesyen pada banyak kasus, mendominasi pemikiran dan perlakuan kita pada tubuh, gender, dan seksualitas dengan membuat standar-standar ideal palsu tentang kecantikan, kesehatan, bentuk tubuh, tata busana, tata boga, perilaku, bahkan sampai urusan standar seksualitas. “Standar-standar” tersebut membuat banyak kita mengabaikan faktor kenyamanan, kesehatan, dan faktor subjektif diri (hati/jiwa, pengalaman, lingkungan dan otak) kita dalam membawa diri ke ruang publik.

Perjalanan panjang untuk membebaskan tubuh, peran gender, dan seksualitas itu dijalani Wahyu Juno, tokoh utama dalam Film Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body) karya sutradara kawakan Garin Nugroho. Sebagai langganan tema-tema yang tabu (menurut standar konservatif moralis), Garin selalu berupaya membawa penonton ke pergulatan ironis antara individu “menyimpang” dengan dunia “seharusnya”, yang mana juga sebenarnya banyak borok dan kepalsuan.

Juno kecil sudah menjalani peran lintas gender. Tanpa kehadiran seorang Ibu, Juno memiliki tugas mencari bahan makanan dan memasak. Namun juga menjual jangkrik goreng hasil tangkapannya. Di awal kehidupannya, ia juga menyaksikan bukti pertama bahwa tubuh, dalam hal ini seorang perempuan istri guru tari, bukanlah miliknya. Juno menyaksikan untuk pertama kali, bahwa keinginan si perempuan untuk disetubuhi oleh murid tari suaminya, bisa berujung sangat fatal. Tubuh si perempuan, milik suaminya, tanpa perlu mendengar apa keinginan si perempuan. Fase ini, seperti dikatakan narator Rianto

Bagian kedua dibuka dengan tema tubuh adalah cerminan hasrat. Otoritas atas Juno berganti. Ayahnya pergi ke pulau lain dan membuatnya diasuh Bu Lik (bibi), adik ayahnya. Keahlian Juno menerka masa bertelur ayam dengan memasukkan jari ke dubur ayam, membuat Bu Lik, teman sekolah, dan gurunya tidak senang. Kemampuan jari andalannya, yang ia banggakan (karena akhirnya membuatnya dipercaya dan diperhatikan orang) dilukai, dilecehkan dan dinafikkan. Sampai ketika ada seorang guru tari perempuan yang meminta Juno menyentuh tubuhnya, segerombolan laki-laki tanpa ampun mengeksekusinya.

Juno yang tumbuh dewasa menjadi sosok yang feminin, oleh Garin ditabrakkan dengan tokoh petarung bayaran yang sangat alpha male. Interaksi dua tokoh ini sangat menarik, dan termaktubkan secara baik dalam adegan di mana Juno dan si petarung “bertarung” dengan dua gaya yang berlainan kutub, namun berujung dengan perasaan saling menyayangi. Keduanya memiliki latar belakang yang sepi, dan seperti kata si petarung : tak pernah merasakan dipeluk seseorang. Namun lagi-lagi penonton ditumbukkan pada fakta bahwa tubuh, sekuat apapun penghuninya, masih bisa kalah, kali ini oleh kebutuhan materi.

Di bagian berikutnya, Rianto menarasikan bahwa di dalam tubuh bisa pula terjadi pergulatan besar seperti di Kurusetra. Juno kini dihadapkan pada kondisi di mana tubuhnya diinginkan oleh sebuah kekuatan politik. Beda kali ini, Juno melakukan aksi subversif, yang seperti banyak aksi revolusioner, berujung pada rasa bersalah akibat nasib buruk orang-orang sekitarnya yang menjadi martir. Lalu ketika ia berpikir semuanya akan mulai indah, ia lagi-lagi harus pergi demi menghindari pertumpahan darah orang yang disayanginya.

Selain narasi tentang otoritas atas tubuh, yang tanpa perlu kemampuan semiotika pun bisa terbaca jelas, ada dua hal yang menonjol di film ini. Kedua, visual Juno menaiki kendaraan berpindah tempat tinggal, dan yang ketiga, penggunaan simbol “lubang”.

Visual perpindahan Juno dari satu tempat ke tempat lain, selalu menampilkan wajah Juno yang nampak cemas. Visual ini menggambarkan dengan sangat soulful perjalanan hidup seorang manusia. Dari satu fase hidup ke fase lain, manusia tidak pernah bisa mendapatkan kepastian, dan kecemasan pada perpindahan antar fase, sangatlah manusiawi. Sampai adegan naik kendaraan yang terakhir, digambarkan Juno akhirnya tersenyum, seakan menerima bahwa ia mendapat lagi otoritas atas tubuhnya, sekaligus menandakan bahwa akhirnya ia memutuskan menerima ke mana takdir membawanya (amor fati).

Tiap bagian hidup Juno selalu dihantui soal “lubang”. Mulai dari lubang rumah tari, lubang vagina istri guru tari (yang disebutnya “lubang kehidupan”), lubang dubur ayam, lubang luka peniti, lubang luka jari, sampai lubang luka Warok. Rianto dalam narasi mengisahkan bahwa ia bisa hidup dari “mengintip lubang”. Lubang bisa jadi merupakan perlambang dari kesempatan-kesempatan, pandangan atas tempat lain di luar tempat kita berpijak.

Dari narasi soal otoritas tubuh, perpindahan, dan “lubang”, bisa terbaca bahwa dalam pergulatan manusia untuk memperoleh kedaulatan atas tubuhnya, hasratnya, termasuk seksualitasnya, seringkali diperlukan fase-fase pengalaman hidup, bahkan bentrokan-bentrokan antara diri dengan dunia, dan dalam tiap fase, manusia bisa selalu melihat ke luar dirinya, ke tempat lain, atau ke kesempatan-kesempatan lain.

Dari segi akting dan visual, film ini memperlihatkan ciri khas Garin. Pemilihan kata dalam dialog/monolog yang puitik (namun relevan), kombinasi akting dan gerak tubuh yang ekspresif (pada film ini, mungkin yang terbaik dari film-film Garin sebelumnya), dan masuk-keluarnya adegan-adegan surealis. Tone warna yang digunakan juga sangat jitu dalam menggambarkan kondisi desa-desa Jawa Tengah dan Jawa Timur yang kebetulan gersang dan miskin. Tone yang mirip dengan tone mayoritas film Sang Penari karya Ifa Isfansyah (yang di bawah nanti bisa kita temukan benang merahnya dengan Kucumbu Tubuh Indahku).

Kritik politik juga kembali muncul, dengan penceritaan Kakek Juno, seorang seniman Lengger yang dihabisi di tahun 1965 karena dituduh simpatisan PKI (yang memang terjadi ke banyak seniman Lengger saat itu) dan keluhan tokoh Bupati atas kondisi “jaman bebas” (reformasi) yang menyulitkannya meneruskan kiprah keluarga sebagai bupati.

Aktor Muhammad Khan dan Raditya Evandra bermain dengan kualitas brilian. Semua peran pendukung juga menampilkan akting yang prima. Namun lampu sorot layak diarahkan pada Rianto. Rianto mampu menarasikan kisah (yang sebagian besar diambil dari kisah hidupnya) dengan gerak tari, intonasi, dan mimik yang sempurna.

Pemilihan seni Lengger dan Reog sebagai “medium” pergulatan gender dan seksualitas Juno juga sangat tepat. Lengger, tari asal Banyumas memiliki “cabang” yang bernama Lengger Lanang. Tari Lengger yang ditarikan oleh pria yang berpakaian sama seperti penari perempuan. Lengger Lanang sendiri pertama kali dicatat dalam Serat Centhini, yang terbit tahun 1814. Lengger, setelah masa pembantaian 1965-1969 yang dilakukan militer dan Orde Baru, kehilangan banyak sekali senimannya (seperti dikisahkan dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, yang kemudian dibuat versi filmnya oleh sutradara Ifa Isfansyah -produser Kucumbu Tubuh Indahku-). Sedangkan di tradisi Reog, sudah banyak dibahas fungsi Gemblak sebagai partner seks bagi Warok untuk mencapai kualitas kesaktian dan showmanship yang tinggi. Dua kesenian dengan sifat toleran terhadap crossgender dan biseksualitas ini tentunya menjadi medium yang kuat bagi tema besar dalam film ini.

Secara keseluruhan, film ini tentunya ada di kualitas yang diharapkan dari seorang Garin Nugroho, bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu yang terbaik dari Garin.

Posted in Film, Pemikiran | Tagged , , , | Leave a comment

Review : Pangalo! – Hurje! Maka Merapallah Zarathustra

Hampir setahun lalu membeli CD @_pangalo_ dari Abang @senartogok . Sampai sekarang album ini terasa sangat nyaman di telinga saya. Mungkin subjektif juga karena nyaris seluruh lirik dalam album MC asal Parapat ini masuk dalam bahasan eksistensialisme dan fenomenologi yang dibingkai dalam sosialisme (semua dalam definisi yang paling longgar). Bertebaran derivatif dari buku-buku dan quotes Nietzsche, Kierkegaard, Camus, Sartre, De Beauvoir, juga beberapa dari Husserl dan Heidegger.

Namun yang mau saya bahas adalah musik yang dirangkai Pangalo, yang beberapa dibantu oleh teman-teman dari circle Hip-hop independen yang sekarang terasa makin hidup dan berkualitas. Sample-sample yang dirangkai bervariasi, mulai dari funk, folk, folk rock, sampai southern rock. Sebagian besar dijahit dengan cara yang predictable, dan otomatis tidak banyak kejutan.

“Anthem” mengambil “Blowing In The Wind” sebagai pembuka. Meskipun terasa ada jarak ritmik asli dan soul lagu Dylan tersebut dengan beat utama sehingga terasa seperti step yang “ngagiclek” saat transisi di awal dan akhir lagu. Beat utama mampu menopang Pangalo untuk bercerita tentang penghormatan kepada Senartogok, Morgue Vanguard, dan Doyz sekaligus kawan-kawan Maraton Mikrofon, sekaligus perkenalan awal tentang betapa melodiusnya Pangalo.

Pada “Berperanglah Kata-Kata”, kita harus memuji bagaimana beatmaking dilakukan dengan sangat baik. Mood sepanjang lagu sangatlah terjaga, dan berakhir di atas via bunyi solo gitar elektrik. Di sisi lain, Flow Pangalo terasa predictable, disiplin ketat dengan ritme. Andaikata tidak ada pembacaan dengan meniru gaya pelo Wiji Thukul, akan lebih baik lagi.

“Gejolak” menawarkan flow dan delivery yang lebih laid back, namun masih terasa terlalu ketat. Dalam penyusunan beat, ada beberapa break kecil yang menarik. Break-break itu membuat emosi yang disampaikan lewat lirik, tercekat-cekat, sehingga justru terasa lebih emosional.

Bagi saya, “Majenun” adalah salah satu track terbaik di album ini. Perkawinan beat dan delivery di lagu ini sangat baik. Suasana yang terbangun mungkin sudah ada di puluhan rilisan Homicide, namun delivery Pangalo membuat “Majenun” terasa baru, apalagi ketika sample dialog berhasil dimasukkan dengan baik.

Gaya golden age akhirnya muncul di “Kami Adalah Tuhan”. Gaya rapping melodius bercampur manis dengan gaya beat semacam ini.

Delivery dan flow Pangalo dalam “Malapetaka” mungkin muncul dengan manifestasi terbaiknya. Banyak off bar yang bertebaran dalam tempo tinggi. Sesuatu yang mungkin harus banyak layi ditampilkan Pangalo kedepannya. Sample di akhir lagu adalah kekuatan lain yang mengangkat lagu ini lebih tinggi lagi.

Penggunaan sound hi-hat yang terlalu banyak menodai “Mimpimu Terlalu Gila” yang sebenarnya sangat emosional. Should be reminded that less is more, mengingat lirik yang disusun sudah sangat kawin. Flow Pangalo baik sekali di lagu ini.

“Sekolah” adalah reinterpretasi yang sangat-sangat baik dari “Another Brick In The Wall”. Jika Roger Waters bisa berbahasa Indonesia, mungkin dia akan bangga bagaimana Pangalo menafsir dengan baik apa yang dikampanyekannya dan menempatkannya dalam perspektif yang sangat lokal (tercermin dengan sound beat di paruh kedua lagu).

Jika chorus “Fight Club” diperdengarkan kepada penikmat musik arus utama Indonesia, mungkin mereka akan bisa ikut menikmati dan berjoget. Chorus ini, ditambah dengan liriknya, terdengar sangat kuat. Sementara bagian verse tidaklah terlalu istimewa dan cenderung tertebak.

Buat saya (subjectively), album ini ciamik!.

#pangalo #maratonmikrofon #hurje

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kisah-Kisah Seputar Melemahnya Rupiah (1) : Geopolitik

Tahun 2018 merupakan tahun yang kurang baik bagi ekonomi Indonesia. Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (USD) melorot lebih dari 12% sejak rupiah mencapai nilai tertingginya (Rp 13.265/USD) pada 25 Januari. Rupiah menjadi mata uang negara ASEAN yang paling terpukul oleh menguatnya USD, diikuti oleh Peso Filipina (PHP).

Bank Indonesia sudah mencoba menahan nilai tukar (intervensi) dengan mengucurkan likuiditas dari cadangan devisa. Per akhir Juli 2018, tercatat sudah 118.3 miliar USD cadangan devisa Indonesia dipakai untuk intervensi, namun ternyata belum mampu menahan Rupiah. Kenaikan suku bunga acuan (BI 7 Day Repo Rate) secara bertahap sudah mencapai 125 basis poin, dari 4.25% di awal tahun, sampai 5.50% di 15 Agustus.

Jika diteliti lebih dalam, setidaknya ada tiga faktor mengapa Rupiah menjadi mata uang yang nilainya turun paling dalam; faktor pertama; faktor geopolitik dunia, faktor kedua; terjadinya perang tarif dagang antara Amerika Serikat dan beberapa negara mitra, serta faktor domestik, yaitu faktor karakteristik ekonomi Indonesia.

GEOPOLITIK

Konflik berdarah di Suriah yang sudah berlangsung sekitar tujuh tahun memainkan peranan (tidak langsung) yang besar terhadap melorotnya Rupiah. Perang sipil Suriah pada perkembangannya melibatkan banyak sekali pihak. Kelompok pemerintah Bashar Al-Assad, yang awalnya didukung Hizbullah dan Milisi Syiah dari Pakistan, kini didukung secara materi oleh Iran dan Rusia. Lalu ada pihak oposisi yang didukung Turki, juga Amerika, Saudi Arabia, Qatar, dan Israel (hingga 2018) dan Federasi Demokratik Suriah Utara (DFNS) yang juga didukung Amerika, plus beberapa negara sekutu. Di sisi lain, ancaman Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) juga masih kuat dan berbahaya.

Keterlibatan Iran ditengarai sebagai salah satu agenda Proxy War mereka melawan Israel dan Arab Saudi. Ketegangan Iran-Israel sendiri sudah berlangsung sejak Revolusi Iran sukses dilakukan. Namun baru terwujud menjadi konflik bersenjata saat Iran menjadi sekutu bagi milisi Hizbullah dalam perang Lebanon (2006). Israel merasa penting untuk menduduki Lebanon, karena selama puluhan tahun, Lebanon, yang berbatasan langsung dengan Israel di selatan, tidak kunjung henti menyediakan diri sebagai “markas” bagi gerakan-gerakan kemerdekaan Palestina seperti Hamas dan Fattah (berafiliasi dengan Palestine Liberation Organization). Iran turun tangan dengan memberi bantuan bagi Hizbullah (bermazhab Syiah seperti Iran, menjadi mayoritas di Lebanon), dan Hamas (Sunni) dalam menghadapi Israel.

Ketika krisis Lebanon akhirnya berakhir dengan gencatan senjata, perang pengaruh terus berlanjut. Iran membantu sekutu mereka Bashar Al-Assad, dalam menghadapi perlawanan dari pihak oposisi, yang mengendarai tren perlawanan Arab Spring. Setelah status quo Irak, Libya, Tunisia, dan Mesir tumbang, Iran mau tidak mau harus mengamankan posisi di regional. Suriah, yang berbatasan langsung dengan Israel di sebelah tenggara, tentunya merupakan sekutu yang sangat penting dalam posisi tawar Iran terhadap Israel dan sekutunya.

Israel yang tidak tinggal diam, mengajak Amerika Serikat dan Arab Saudi untuk bertindak membendung Iran dan Bashar. Mereka datang mendukung gerakan-gerakan oposisi. Turki juga akhirnya pada 2016 bergabung dengan gerakan oposisi. Pertempuran demi pertempuran berlangsung sporadis selama tujuh tahun.

Di luar itu, ada satu hal dari Iran yang mengkhawatirkan Israel, Arab Saudi, Amerika, dan bahkan Turki, yaitu proses pengembangan nuklir yang berjalan terus selama lebih dari 40 tahun. Pengembangan teknologi nuklir di Iran sendiri pada awalnya disponsori oleh Amerika. Pemerintahan Shah yang pro barat dan setuju menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) tahun 1968 sebelum pengembangan dimulai. Namun saat kekuasaan Shah Iran digulingkan oleh Revolusi Iran tahun 1979 yang dikomandoi Ayatullah Ruhollah Khomeini, perlahan keberadaan tambang uranium serta fasilitas penelitian dan pengembangan tenaga nuklir pun berbalik menjadi ancaman untuk Amerika dan sekutu-sekutunya. Khomeini memulai kembali pengembangan nuklir di akhir 80-an dengan bekerja sama dengan Pakistan, lalu berkembang lagi lewat perjanjian kerjasama dan transfer pengetahuan dengan China dan Rusia. Berbagai cara dilakukan sekutu untuk menjinakkan bom waktu Iran. Berbagai perjanjian hingga embargo ekonomi dilakukan untuk mencegah Iran melakukan pengayaan uranium dan pengembangan nuklir lebih jauh. Setelah puluhan tahun negosiasi, akhirnya Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebuah perjanjian non-proliferasi (dengan klausul pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran) berhasil disepakati pada Juli 2015. Lima negara penghuni tetap Dewan Keamanan PBB, plus Jerman, mampu membujuk Iran untuk menetapkan proyek pengayaan uranium dan pengembangan nuklir hanya untuk keperluan pembangkit energi.

Namun pada Mei 2018, sebagai hasil pengamatannya atas perkembangan Konflik Suriah, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan bahwa Amerika akan menarik diri dari JCPOA. Trump menyebut bahwa ia mendapat beberapa “laporan” yang salah satunya menyebutkan bahwa Iran kini memiliki kemampuan untuk membuat bom nuklir dalam waktu kurang dari setahun, dan menyebut JCPOA adalah kesepakatan yang buruk. Trump mengisyaratkan akan melalukan langkah yang lebih keras terhadap Iran, termasuk pemberlakuan kembali sanksi ekonomi yang berat.

Mata uang Iran pun hancur ke level terendahnya sejak perjanjian ditandatangani. Pemimpin Iran Ali Khomeini bereaksi keras dengan menyebut Amerika “tidak dapat dipercaya” sejak hari pertama perjanjian. Selang sehari, pihak militer Israel mengklaim bahwa pasukan Iran di Quds, Suriah, meluncurkan roket ke arah mereka. Peristiwa yang -jika benar terjadi- sangat penting bagi Proxy War Iran-Israel, karena ini adalah pertama kali pasukan Iran melancarkan serangan langsung ke pasukan Israel. Konflik diplomasi mencapai titik kritis ketika Presiden Hassan Rouhani akhirnya mengancam bahwa Iran bisa saja menutup Selat Hormuz.

Ancaman penutupan Selat Hormuz membuat banyak pihak tegang. Tak hanya pihak-pihak yang terlibat dan bersekutu, namun juga negara-negara produsen dan konsumen minyak bumi di seluruh dunia. Bagaimana tidak, 20% pasokan minyak bumi dunia (dan 35% dari total yang diangkut via kapal laut), harus melewati Selat Hormuz. Jika Iran menutup Selat Hormuz, pasokan minyak dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab tidak akan bisa mencapai Selat Oman, untuk kemudian beredar ke barat dan timur. Jika pun pengangkutan dilakukan lewat Pantai Barat Arab Saudi, Yaman, atau Jordania, tentunya akan menambah biaya produksi secara masif.

Jika benar terjadi penutupan Selat Hormuz, maka pasokan minyak dunia akan berkurang minimal seperempatnya, dan tentu harga (WTI crude) akan melonjak naik ke level yang tak terbayangkan. Harga sendiri sudah merangkak naik sebelum keputusan Trump dan ancaman Rouhani, sejalan dengan kondisi politik Timur-Tengah yang tak kunjung stabil. Namun seakan mendapat dorongan dari adu ancam Trump dan Rouhani/Khomeini. Sejak harga terendah di Juli 2017 yang sempat menyentuh 44.4 USD per barel, harga merangkak terus sampai ke level 70.21 USD per barel di hari ini (19 September 2018).

Harga minyak yang terus naik tentunya akan berdampak pada Indonesia sebagai salah satu trader minyak terbesar di dunia. Defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) Indonesia di sektor migas makin membesar, sedangkan surplus di impor barang non-migas malah mengalami penurunan. Peningkatan defisit dari sektor migas Indonesia di kuartal II 2018 mencapai 2.7 miliar USD, yang berkontribusi besar (30%) terhadap total kenaikan defisit transaksi berjalan. Selain kenaikan harga minyak, permintaan juga besar karena di kuartal II terdapat libur Idul Fitri yang bertepatan dengan libur sekolah. Alhasil total defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai batas atas, yaitu senilai 3% dari total Produk Domestik Bruto (PDB).

Kondisi ini tentunya berarti kebutuhan akan USD di Indonesia masih besar, dan akan bertambah jika defisit makin melebar akibat harga minyak dunia yang melambung. Fakta ini akan membuat rupiah makin tertekan, bahkan sampai ke level yang (juga) tidak terbayangkan.

Demikian bagaiman faktor geopolitik ini merupakan salah satu faktor utama pelemahan Rupiah. Berbeda dengan faktor lainnya, faktor Timur-Tengah ini sulit untuk diintervensi Pemerintah Indonesia. Selain terlalu riskan secara politis (luar negeri), juga memang terlalu banyak usaha yang harus dikerjakan jika Indonesia mencoba berurusan dengan Iran dan Amerika yang sekarang sangat sulit diprediksi.

Faktor lainnya, faktor Perang Tarif Dagang Amerika dan Faktor karakteristik ekonomi Indonesia, akan dipaparkan di tulisan berikutnya.

Posted in Ekonomi, Politik | Tagged , , , , , | Leave a comment

Review Film : Pengabdi Setan (2017)

Howard Phillips Lovecraft, bapak cerita horor supranatural, pernah mengutarakan sebuah kesimpulan atas esai panjang Supernatural Horror in Literature : “Emosi manusia yang paling tua sekaligus paling kuat adalah rasa takut. Dan rasa takut yang paling tua sekaligus paling kuat adalah rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui (unknown).”. Pada kenyataannya, itulah yang selama ratusan tahun mendasari penceritaan horor supranatural di seluruh dunia.

Namun akan menjadi menarik jika kita, dengan kacamata tersebut, mencoba menganalisis film Pengabdi Setan karya sutradara Joko Anwar. Film ini adalah reinterpretasi Joko atas film bernama sama yang dirilis tahun 1980. Yang paling menarik dari cerita ini, adalah ancaman utama datang bukan dari sesuatu yang tidak dikenal, melainkan sesuatu yang dikenal sangat baik oleh para protagonis.

Marwani Suwono, atau biasa dipanggil Ibu, adalah seorang eks penyanyi yang terbaring sakit di rumahnya. Seluruh keluarga, mertua, suami, dan keempat anaknya, berusaha menghimpun dana untuk kesembuhannya. Mawarni yang sudah kesulitan berkomunikasi secara verbal, menggoyangkan sebuah lonceng setiap hendak memanggil keluarganya. Singkat cerita, Mawarni meninggal. Namun ternyata arwah Mawarni seakan memendam murka kepada keluarganya sendiri. Mawarni membunuh ibu mertuanya dan meneror anak-anak serta suaminya. Urusan bertambah rumit ketika sang ibu mertua yang juga sudah menjadi arwah, juga ikut meneror keluarga tersebut. Sampai akhirnya diketahui bahwa Mawarni semasa hidupnya menggadaikan diri ke sebuah sekte pemuja setan demi mendapatkan keturunan, dan ketika anak bungsunya, Ian, berusia 7 tahun, ia akan diambil oleh sekte.

Sekilas cukup meragukan bahwa seorang ibu dan seorang nenek, setelah menjadi arwah sekalipun, bisa menjadi teror untuk darah dagingnya sendiri. Dari sini bisa disimpulkan bahwa cerita dari film ini sebenarnya cukup lemah untuk menjadi sebuah cerita horor supranatural yang mencekam. Namun inilah kelebihan media film. Ada banyak unsur lain yang bisa memoles cerita yang kurang kuat untuk tetap menjadi produk akhir yang mampu membuat penonton ketakutan.

Pertama, dari segi visual. Pengabdi Setan memilih gaya retro sebagai look utama film. Art director pemenang FFI Allan Sebastian memilih tone sephia untuk visual secara general. Tone ini, meskipun sudah sering dipergunakan, nampaknya tidak pernah gagal untuk mendatangkan suasana yang kelam. Yang mencuri perhatian adalah pemilihan dan tata letak properti dalam set. Gaya sinematografi Ical Tanjung mampu membuat setiap properti dan sudut set menjadi ikonik, dan akhirnya, familiar. Penonton bisa dapat dengan mudah membuat denah rumah keluarga Mawarni, plus mendeskripsikan bagaimana kelambu menjuntai, gelas-gelas dapur, cara kerja pemutar musik, suasana tangga hingga balkon, dan yang paling juara, lonceng yang dipakai Mawarni. Lonceng dan pemutar musik lah yang akhirnya membuat arwah Mawarni yang harusnya well knowned untuk anak-anaknya, menjadi sosok asing yang potensi keberadaannya sangat menakutkan.

Kedua, departemen sound dan musik pun bisa dikatakan punya peran yang sangat baik. Bunyi lonceng, derit lantai dan tangga, dan pemutar musik, juga menjadi sangat kuat terpatri, dan menimbulkan sensasi teror. Scoring yang ditata Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Tony Merle mampu berkelindan dengan sangat baik di puncak-puncak adegan teror, namun tetap terdengar khas mereka, seperti dalam Pintu Terlarang dan Quickie Express. Tak ketinggalan lagu tema “Kelam Malam” ( hasil rombakan dari lagu Keheningan Malam – Anna Manthovani) yang dibawakan The Spouse (Aimee Saras dan Tony Merle) yang seperti sudah disebutkan sebelumnya, menjadi jembatan antara Ibu dengan “Ibu”.

Ketiga, tempo yang dimainkan Joko Anwar terasa pula cukup baik. Eksplorasi karakter dua anak termuda terasa pas saat dipakai Joko untuk mengendurkan tempo. Untung saja porsi dua anak itu cukup besar, karena eksplorasi tokoh-tokoh lain seperti Rini, Hendra, Bapak, Pak Ustad, serta Budiman terasa dangkal dan tipikal.

Performa aspek-aspek tadi memiliki tugas berat untuk menambal aspek lainnya yang terasa lemah. Pengembangan karakter dan kedalaman dialog dalam film horor, apalagi horor supranatural, mungkin banyak diabaikan. Namun jika kita lihat remake Brams Stoker’s Dracula versi Copolla atau contoh kisah Yurei kontemporer Ju-On, pengembangan karakter dan dialog yang efektif bisa baik pula jika dimasukkan. Seperti ditulis sebelumnya, hanya karakter dua anak termuda yang tereksekusi dengan baik, selebihnya tidak.

Konsistensi tata rias dan kostum patut pula dipertanyakan. Terlihat beberapa kali kostum yang keluar dari tema besar visual, serta tentunya, jalan cerita. Tak lupa wig karakter Hendra yang menggelikan. Tata rias tokoh Rini yang masih terlihat over dalam sebagian adegan, tentunya tidaklah cocok dengan jalan cerita. Meskipun untuk karakter-karakter arwah, tata rias dan kostum tereksekusi baik, bahkan bisa menjadi salah satu ikon film.

Kekuatan audio visual pula akhirnya membuat Pengabdi Setan versi Joko Anwar menjadi film horor supranatural yang bisa memenuhi tugas beratnya sebagai penggedor rasa takut akan sesuatu yang familiar.

Posted in Film, Uncategorized | Leave a comment

Selamat Jalan Suka Hardjana

Kemarin, Suka Hardjana wafat. Tokoh ini adalah salah satu tokoh penting musik Indonesia. Suka Hardjana jatuh cinta dengan musik saat sering melewati Kampung Musikanan di Yogya. Kampung yang dihuni pemusik-pemusik keraton ini menjadi gerbang Suka Hardjana belajar musik, dari Sekolah Musik Indonesia di Yogya, sampai ke Deltmold, Jerman. Sempat menjadi dosen di Konservatorium Musik der Freien Hansestadt di Bremen, ia akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia.

Di Indonesia, ia akhirnya dikenal bukan hanya sebagai musisi, namun juga sebagai seorang kritikus, esais, dan nantinya berkembang menjadi seorang budayawan. Pengetahuannya yang sangat luas tentang musik, terutama, dan juga sosial, budaya, ekonomi, hingga politik, menjadikan esai, kritik, dan review musik karyanya terasa sangat dalam, namun sekaligus luas dan multidimensional.

Salah satu kiprah terpenting Suka Hardjana adalah ketika ia memprakarsai Pekan Komponis Muda dan Pekan Komponis Indonesia di Jakarta. Ide itu lahir dari keresahannya setelah bergabung dengan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1979. “Kompetisi” tersebut melahirkan nama-nama besar seperti Harry Roesli, Tony Prabowo, Nano Suratno, Otto Siddharta, sampai Trisutji Kamal. Dalam “Esai & Kritik Musik” dan “Corat-Coret : Musik Kontemporer Dulu dan Kini”, ia “mendokumentasikan” beberapa pagelaran Pekan Komponis yang ia saksikan langsung.

Tulisan-tulisan Suka Hardjana selalu ditulis dalam konteks keterbukaan terhadap ide-ide baru. Tulisannya akan sangat hangat terhadap komponis-komponis, terutama komponis-komponis muda yang berani membuat sebuah komposisi baru. Kepada mereka yang berani mengapresiasi, menginterpretasi ulang, mendekonstruksi, merekonstruksi komposisi-komposisi terdahulu. Juga kepada ensemble atau orkestra muda yang berani mengambil nomor-nomor sulit untuk dibawakan.

Namun ia akan sangat sengit mengomentari karya-karya yang dianggapnya sebagai pengulangan-pengulangan, atau terhadap senioritas yang menimbulkan hierarki di dunia seni, atau bahkan abainya pemerintah dan masyarakat atas mandegnya dunia seni Indonesia. Sesuatu yang monodimensional, nampaknya bukan sesuatu yang menjadi selera Suka Hardjana. Tentunya, selaras dengan hakikat seni itu sendiri. Juga menarik ketika dalam salah satu kritik, ia menyoroti masyarakat Indonesia tahun 80-an yang hanya heboh membahas dan menonton pertunjukkan musik klasik ketika pertunjukkan tersebut menyandang orkestra asal kota terkenal di barat sana serta diberitakan besar-besaran di media. Konser semacam itu dihadiri berbondong-bondong oleh masyarakat kelas elit, dan ditonton dengan terkantuk-kantuk, karena minimnya pengetahuan apresiasi musik di Indonesia.

Ia sadar, bahwa seni musik non industri tentunya tidak mudah untuk memasyarakat, apalagi dengan upaya kembang kempis. Namun ia tetap berusaha, baik dengan mendirikan (dan mempertahankan mati-matian) Ensemble Jakarta yang bertahan 12 tahun sejak awal 70-an. Tak terhitung klinik-klinik musik, kuliah umum, seminar, sampai pagelaran seni berkualitas yang ia usahakan untuk masyarakat Indonesia bisa terpapar pengetahuan dan pengalaman musik yang baik. Ia berpendapat bahwa musik berkualitas tidak harus berkenaan dengan kelas-kelas ekonomi, sepanjang pengetahuan dan pengalaman menikmati seni musik bisa diakses dengan mudah.

Saya sendiri baru “terpapar” upaya Suka Hardjana sekitar tahun 2010, ketika kawan saya Ridwan Hutagalung menyarankan saya untuk membaca “Esai & Kritik Musik”, sepaket dengan “Apresiasi Musik Populer” karya Dieter Mack. Saya yang hanya biasa membaca swag-nya tulisan musik kelas Ripple, Trax, Rolling Stone Indonesia, sampai Denny Sakrie, merasa tersengat ketika membaca tulisan musik yang sama sekali tidak membahas coolness, tapi justru merujuk kepada teknis dan penjiwaan, namun dalam dimensi pembahasan yang sangat kaya seperti halnya saat membaca esai sepakbola dari Sindhunata ataupun Gus Dur.

Selamat jalan, Suka Hardjana.

Posted in Budaya, Musik, Tokoh | Tagged , , | Leave a comment

Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

Beberapa waktu ke belakang, cukup rama polemik mengenai Landhuis Cimanggis. Rumah peristirahatan abad 18 milik pembesar VOC yang mungkin tinggal tersisa 30-an persen itu ditengarai hendak digusur untuk perluasan kampus sebuah universitas. Perdebatan terjadi tentang signifikansi sejarah bangunan tersebut dan urgensi-urgensi lainnya. Yang ikut urun argumen beragam. Mulai dari komunitas pemerhati sejarah, sampai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pendapat Kalla berkisar pada pandangan bahwa secara histori dan kultural, tidak ada signifikansi dari bangunan tersebut. Terlebih isu yang beredar, bangunan itu adalah milik salah satu istri Gubernur Jenderal paling korup di jaman VOC, Albertus van der Parra. Para pembela bangunan, di sisi lain, berpendapat bahwa bangunan ini penting secara sejarah dan arsitektur untuk diselamatkan karena masuk dalam kategorisasi-kategorisasi benda cagar budaya.

Perdebatan itu singkatnya berlangsung dengan pandangan yang berbeda tentang terminologi “sejarah kita”. Saya sendiri berpandangan bahwa penceritaan kita tentang sejarah haruslah ada dalam kerangka poskolonial. “Kita” harus bisa mengkritisi dan melepaskan diri seutuhnya dari konteks-konteks kolonialisme dalam menulis dan menceritakan ulang sejarah. Menempatkan secara egaliter subjek-subjek sejarah dengan memperhitungkan struktur kemasyarakatan yang berlaku di setiap masa.

Pemikiran itu pula yang mendasari saya dan teman-teman Ngopi Jakarta berusaha untuk membuat penceritaan yang lebih “lokal” dalam sisi sejarah yang kami pelajari bersama. Juga memperhitungkan struktur sosial yang ada sebagai sesuatu yang tidak boleh lepas dari penceritaan masa lalu dan masa kini, juga dalam pemikiran masa depan.

Demikian pula dengan NgoJak Cikini. Kami mencoba memperkenalkan Cikini kepada teman-teman NgoJak sebagai sebuah arena kontestasi politik dan budaya bangsa Indonesia.

Kami berkumpul di Stasiun Cikini dan berjalan bersama ke tujuan pertama, yaitu Gedung Yayasan Perguruan Cikini. Namun di tengah perjalanan kami sempat berhenti di depan rumah Achmad Subarjo. Di rumah bergaya indies inilah, Subarjo, seorang tokoh aliran nasionalis yang sangat supel, pernah berkantor sebagai menteri luar negeri. Perjuangan Subarjo sendiri sudah dimulai sejak usia mahasiswa, saat bersama Hatta mengelola Perhimpunan Indonesia, bahkan sempat mengikuti pula kongres Liga Anti Imperialisme yang bersejarah di Brussels. Pada masa Jepang, Subarjo memutuskan untuk kooperatif dengan Kaigun (Angkatan Laut) Jepang. Subarjo pula banyak berperan dalam program kaderisasi aktivis pergerakan di beberapa asrama mahasiswa. Sampai akhirnya peran terpenting Subarjo hadir pada 15-16 Agustus 1945, dimana ia mampu menengahi konflik ide antara kelompok pemuda dengan Sukarno dan Hatta di Rengasdengklok, dan juga mempersiapkan penerimaan Kaigun Jepang terhadap rencana pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Setelag bercerita tentang Subarjo, kami berjalan dan tiba di Gedung Yayasan Perguruan Cikini. Di sekolah elit jaman dulu ini, kami membahas peristiwa penggranatan terhadap Sukarno pada 30 November 1957. Sukarno yang datang untuk menghadiri acara ulang tahun Perguruan Cikini, mendapat serangan lima buah granat tangan dari empat orang pelaku. Sukarno selamat, namun puluhan orang luka-luka dan beberapa korban tewas. Para pelaku sendiri akhirnya diketahui terlibat dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) besutan karib Sukarno, Kartosuwiryo. Para pelaku, empat orang pemuda asal Bima, dan Kartosuwiryo sendiri, dijatuhi hukuman mati. Sedangkan satu pemuda lagi dikenai hukuman kurung. Peristiwa itu pula yang mengawali upaya serius pemerintah menghabisi gerakan Kartosuwiryo, sampai ia tertangkap di Gunung Rakutak pada 1962 dan dieksekusi di Pulau Ubi, utara Jakarta.

Tujuan kami berikutnya adalah sebuah gedung di Jalan Cidurian 19. Gedung tersebut dulunya merupakan rumah dari kader Partai Komunis Indonesia (PKI) Oey Hay Djoen sebelum direnovasi seperti bentuknya sekarang. Rumah Hay Djoen merupakan basis dari para aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) saat pusat pergerakan PKI berpindah ke Jakarta dari Yogyakarta. Penceritaan ini diawali dengan cerita besar peta persaingan politik di akhir 50-an sampai 1965. Peta tersebut mengerucut pada bidang seni, sastra, dan kebudayaan, di mana Lekra menjadi entitas dominan. Juga sampai saat Lekra dan eksponen-eksponennya dihabisi sekaligus dengan kader, simpatisan, dan para tertuduh PKI.

Perjalanan kami sempat mampir di sebuah bangunan kosong bergaya kolonial. Bangunan ini sampai beberapa tahun lalu difungsikan sebagai restoran yang menyajikan gaya makan Rijstaffel. Gaya makan Eropa dengan beberapa pelayan pribumi membawa berpiring-piring makanan berturut-turut. Sebuah budaya yang hadir dari relasi kuasa yang timpang antara para penjajah dan kaum feodal terhadap mereka yang terjajah. Budaya yang entah kenapa dari masa ke masa, bahkan sampai puluhan tahun setelah kemerdekaan, masih dilanggengkan sebagai suatu budaya yang unik dan jadul. Memuakkan.

Setelah menjauhi bangunan kosong itu, kami lalu mengunjungi bekas rumah Raden Saleh. Rumah yang extravagant ini dibangun Raden Saleh saat pulang berkelana dan melukis untuk khalayak Eropa. Lukisan potret dan romantik Raden Saleh banyak memberi kesempatan baginya untuk sedikit bisa masuk ke pergaulan elit Eropa, meskipun tentu dengan relasi kuasa yang tidak setara. Di rumah yang kini menjadi bagian dari Rumah Sakit PGI Cikini ini, kami berbagi kisah mengenai salah satu lukisan Raden Saleh yang paling terkenal, Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan ini memiliki konteks dan kisah yang sangat menarik, yang membuat kita bisa meraba-raba seberapa takaran “nasionalisme” atau “Jawaisme” Raden Saleh. Setelah bercerita tentang kiprah Raden Saleh, kami diperbolehkan naik ke lantai dua, melihat beberapa furnitur bergaya Barok yang teronggok di salah satu ruangan, naik ke balkon (yang ditambahkan kemudian), dan melihat sendiri kayu-kayu besar yang sudah mulai lelah menyangga bangunan.

Raden Saleh sendiri memiliki darah Timur-Tengah dari ayahnya, Husein bin Alwi bin Awal bin Yahya dari Semarang. Husein bin Alwi menikah dengan Mas Ajeng Sarip, putri dari KyaiAbdullah Bustam Kertoboso dari Terboyo. Abdullah Bustam sendiri merupakan seorang tokoh kontroversial dalam Perang Suksesi Mataram kedua. Ia sebagai pegawai VOC, diminta (dan berhasil) meredakan perang saudara dan berhasil memasukkan juga kepentingan Kompeni di Mataram.

Seusai menjelajah, kami pun beranjak ke luar. Tak lupa menyempatkan diri melihat kapel kecil yang dibangun oleh Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini alias Rumah Sakit Ratu Emma. Setelah wafatnya Raden Saleh pada 1880, mereka membeli tanah dan bangunan dengan dana hibah dari Ratu Emma. Seiring waktu, pengelola rumah sakit pun berganti, sampai pada 1957, pengelolaan diserahkan kepada Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI), yang nantinya berubah nama menjadi Persatuan Gereja Indonesia (PGI).

Kami lanjut berjalan melewati Jalan Sekolah Seni. Melipir Ci Liwung, kami tiba di makam Habib Abdurrahman al Habsyi atau dikenal dengan julukan Habib Cikini. Habib Cikini konon menikah dengan Syarifah Rogayah, adik Raden Saleh, sehingga diberi kepercayaan untuk membangun sebuah surau di tanah Raden Saleh. Salah satu putra beliau, Ali, kelak dikenal sebagai Habib Kwitang. Habib Cikini konon mendirikan sebuah surau yang dinamai Al Ma’mur. Beliau pun dimakamkan di surau tersebut. Al Ma’mur entah dengan alasan apa, dipindahkan ke sebelah selatan, dan nantinya menjadi salah satu basis Sarikat Islam di Jakarta.

Rasa lapar yang mendera akhirnya memaksa kami singgah di sebuah warung makan. Dua puluh sekian manusia kelaparan dan kehausan segera menjadi konsumen Mbak-Mbak pemilik warung yang tak urung terlihat senang sekali.

Setelah menghabiskan setengah jam lebih untuk makan, kami berjalan ke Al Ma’mur lokasi baru. Dimana Mbak Uci bercerita banyak tentang sang masjid, kepindahannya, dan perannya dalam pergerakan. Namun yang menarik perhatian saya adalah beberapa orang yang tinggal di kolong jembatan, persis di bawah Al Ma’mur. Keberadaan Al Ma’mur rupanya belum menjadi pelatuk kemakmuran orang-orang di sekelilingnya. Semoga suatu hari bisa.

Kami berjalan hingga jalan Kramat Raya. Di depan Kantor Pegadaian Pusat, kami berhenti untuk bercerita tentang sebuah gedung kumuh nan terlihat angker di seberang jalan. Gedung itu adalah eks Kantor Commitee Central (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasca hancur-hancuran di 1948, PKI memutuskan pindah ke Jakarta. Menandai era baru di bawah kepemimpinan para tokoh muda seperti Dipa Nusantara Aidit, M. Lukman, dan Njoto. Tulisan Hendi Jo dari Historia menyebutkan kantor pertama CC PKI adalah sebuah rumah sederhana di Gang Lontar, yang sekarang bernama Jalan Kramat Lontar. Waktu berjalan, lewat patungan-patungan kader, PKI berhasil membeli tanah di Kramat Raya tersebut, dan membangun gedung satu lantai. Pada masa kejayaan PKI di 1962, mereka merenovasi gedung menjadi enam lantai. Proyek renovasi dikomandoi oleh Ir.Sakirman, yang merupakan adik dari Mayjen Siswondo Parman, yang tewas saat peristiwa Gerakan Satu Oktober. Setelah Gerakan Satu Oktober, gedung ini diserang oleh massa dari golongan anti Komunis. Bangunan hancur bersama dengan sang pemilik.

Setelah bercerita tentang gerakan Komunis, kami mengimbanginya dengan menyambangi Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kami diterima di Pojok Gus Dur oleh salah satu kawan kami, Hasan Bashori. Pojok Gus Dur sendiri sebelumnya merupakan ruang tamu bagi mereka yang mengunjungi Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang memimpin Nahdlatul Ulama (NU) selama menjadi Ketua Umum Tanfidziyah periode 1984-1999. Ruangan ini bersebelahan persis dengan ruang kerja pribadi Gus Dur. Di Pojok Gus Dur, Bashori bercerita cukup panjang tentang karakteristik NU, serta kisah-kisah unik yang menyertai karir Gus Dur. Kami pun diperkenankan untuk masuk ke ruang kerja Gus Dur, yang sampai saat ini masih dipelihara sebagai kenang-kenangan bagi banyak orang yang mengagumi, menyayangi, dan mencintai Gus Dur. Demikian pula Pojok Gus Dur yang didirikan dengan maksud sebagai sarana untuk melestarikan dan mengapresiasi pemikiran dan aksi-aksi Gus Dur. Pojok ini memiliki cukup banyak koleksi buku, rata-rata adalah buku yang mengambil pemikiran, aksi, sampai kisah hidup Gus Dur sebagai objek bahasan.

Saya meninggalkan perjalanan di titik ini. Kawan-kawan yang lain melanjutkan perjalanan ke tiga titik terakhir, yaitu Museum Muhammad Husni Thamrin, Bangunan bekas Stasiun Salemba, dan Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Catatan di ketiga lokasi tersebut bisa diakses di tulisan Adi Nugraha ini.

Sangat sulit untuk melepaskan diri dari cara pandang kolonial dalam membahas hal-hal intangible. Sejarah, budaya, arsitektur, sampai problem-problem ekonomi masih dikuasai oleh pandangan sisi Barat. Tentunya dengan keunggulan sumber tertulis dan penguasaan metode ilmiah modern, yang bahkan hingga kini masih tergagap-gagap kita menguasainya. Tentunya juga bukan sesuatu yang mengada-ada seperti yang dilakukan Sukarno dan Muhammad Yamin. Tapi semua bisa diperjuangkan untuk mendapatkan sudut pandang yang lokal. Kekayaan pengetahuan, empati, dan keterlibatan aktif dalam memahami sebuah persoalan menurut saya adalah kunci. Biarlah cerita ala Barat menjadi masa lalu, kita buat sesuatu yang kekinian.

Posted in Catatan Perjalanan, NgoJak, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment