Kisah-Kisah Seputar Melemahnya Rupiah (1) : Geopolitik

Tahun 2018 merupakan tahun yang kurang baik bagi ekonomi Indonesia. Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (USD) melorot lebih dari 12% sejak rupiah mencapai nilai tertingginya (Rp 13.265/USD) pada 25 Januari. Rupiah menjadi mata uang negara ASEAN yang paling terpukul oleh menguatnya USD, diikuti oleh Peso Filipina (PHP).

Bank Indonesia sudah mencoba menahan nilai tukar (intervensi) dengan mengucurkan likuiditas dari cadangan devisa. Per akhir Juli 2018, tercatat sudah 118.3 miliar USD cadangan devisa Indonesia dipakai untuk intervensi, namun ternyata belum mampu menahan Rupiah. Kenaikan suku bunga acuan (BI 7 Day Repo Rate) secara bertahap sudah mencapai 125 basis poin, dari 4.25% di awal tahun, sampai 5.50% di 15 Agustus.

Jika diteliti lebih dalam, setidaknya ada tiga faktor mengapa Rupiah menjadi mata uang yang nilainya turun paling dalam; faktor pertama; faktor geopolitik dunia, faktor kedua; terjadinya perang tarif dagang antara Amerika Serikat dan beberapa negara mitra, serta faktor domestik, yaitu faktor karakteristik ekonomi Indonesia.

GEOPOLITIK

Konflik berdarah di Suriah yang sudah berlangsung sekitar tujuh tahun memainkan peranan (tidak langsung) yang besar terhadap melorotnya Rupiah. Perang sipil Suriah pada perkembangannya melibatkan banyak sekali pihak. Kelompok pemerintah Bashar Al-Assad, yang awalnya didukung Hizbullah dan Milisi Syiah dari Pakistan, kini didukung secara materi oleh Iran dan Rusia. Lalu ada pihak oposisi yang didukung Turki, juga Amerika, Saudi Arabia, Qatar, dan Israel (hingga 2018) dan Federasi Demokratik Suriah Utara (DFNS) yang juga didukung Amerika, plus beberapa negara sekutu. Di sisi lain, ancaman Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) juga masih kuat dan berbahaya.

Keterlibatan Iran ditengarai sebagai salah satu agenda Proxy War mereka melawan Israel dan Arab Saudi. Ketegangan Iran-Israel sendiri sudah berlangsung sejak Revolusi Iran sukses dilakukan. Namun baru terwujud menjadi konflik bersenjata saat Iran menjadi sekutu bagi milisi Hizbullah dalam perang Lebanon (2006). Israel merasa penting untuk menduduki Lebanon, karena selama puluhan tahun, Lebanon, yang berbatasan langsung dengan Israel di selatan, tidak kunjung henti menyediakan diri sebagai “markas” bagi gerakan-gerakan kemerdekaan Palestina seperti Hamas dan Fattah (berafiliasi dengan Palestine Liberation Organization). Iran turun tangan dengan memberi bantuan bagi Hizbullah (bermazhab Syiah seperti Iran, menjadi mayoritas di Lebanon), dan Hamas (Sunni) dalam menghadapi Israel.

Ketika krisis Lebanon akhirnya berakhir dengan gencatan senjata, perang pengaruh terus berlanjut. Iran membantu sekutu mereka Bashar Al-Assad, dalam menghadapi perlawanan dari pihak oposisi, yang mengendarai tren perlawanan Arab Spring. Setelah status quo Irak, Libya, Tunisia, dan Mesir tumbang, Iran mau tidak mau harus mengamankan posisi di regional. Suriah, yang berbatasan langsung dengan Israel di sebelah tenggara, tentunya merupakan sekutu yang sangat penting dalam posisi tawar Iran terhadap Israel dan sekutunya.

Israel yang tidak tinggal diam, mengajak Amerika Serikat dan Arab Saudi untuk bertindak membendung Iran dan Bashar. Mereka datang mendukung gerakan-gerakan oposisi. Turki juga akhirnya pada 2016 bergabung dengan gerakan oposisi. Pertempuran demi pertempuran berlangsung sporadis selama tujuh tahun.

Di luar itu, ada satu hal dari Iran yang mengkhawatirkan Israel, Arab Saudi, Amerika, dan bahkan Turki, yaitu proses pengembangan nuklir yang berjalan terus selama lebih dari 40 tahun. Pengembangan teknologi nuklir di Iran sendiri pada awalnya disponsori oleh Amerika. Pemerintahan Shah yang pro barat dan setuju menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) tahun 1968 sebelum pengembangan dimulai. Namun saat kekuasaan Shah Iran digulingkan oleh Revolusi Iran tahun 1979 yang dikomandoi Ayatullah Ruhollah Khomeini, perlahan keberadaan tambang uranium serta fasilitas penelitian dan pengembangan tenaga nuklir pun berbalik menjadi ancaman untuk Amerika dan sekutu-sekutunya. Khomeini memulai kembali pengembangan nuklir di akhir 80-an dengan bekerja sama dengan Pakistan, lalu berkembang lagi lewat perjanjian kerjasama dan transfer pengetahuan dengan China dan Rusia. Berbagai cara dilakukan sekutu untuk menjinakkan bom waktu Iran. Berbagai perjanjian hingga embargo ekonomi dilakukan untuk mencegah Iran melakukan pengayaan uranium dan pengembangan nuklir lebih jauh. Setelah puluhan tahun negosiasi, akhirnya Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebuah perjanjian non-proliferasi (dengan klausul pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran) berhasil disepakati pada Juli 2015. Lima negara penghuni tetap Dewan Keamanan PBB, plus Jerman, mampu membujuk Iran untuk menetapkan proyek pengayaan uranium dan pengembangan nuklir hanya untuk keperluan pembangkit energi.

Namun pada Mei 2018, sebagai hasil pengamatannya atas perkembangan Konflik Suriah, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan bahwa Amerika akan menarik diri dari JCPOA. Trump menyebut bahwa ia mendapat beberapa “laporan” yang salah satunya menyebutkan bahwa Iran kini memiliki kemampuan untuk membuat bom nuklir dalam waktu kurang dari setahun, dan menyebut JCPOA adalah kesepakatan yang buruk. Trump mengisyaratkan akan melalukan langkah yang lebih keras terhadap Iran, termasuk pemberlakuan kembali sanksi ekonomi yang berat.

Mata uang Iran pun hancur ke level terendahnya sejak perjanjian ditandatangani. Pemimpin Iran Ali Khomeini bereaksi keras dengan menyebut Amerika “tidak dapat dipercaya” sejak hari pertama perjanjian. Selang sehari, pihak militer Israel mengklaim bahwa pasukan Iran di Quds, Suriah, meluncurkan roket ke arah mereka. Peristiwa yang -jika benar terjadi- sangat penting bagi Proxy War Iran-Israel, karena ini adalah pertama kali pasukan Iran melancarkan serangan langsung ke pasukan Israel. Konflik diplomasi mencapai titik kritis ketika Presiden Hassan Rouhani akhirnya mengancam bahwa Iran bisa saja menutup Selat Hormuz.

Ancaman penutupan Selat Hormuz membuat banyak pihak tegang. Tak hanya pihak-pihak yang terlibat dan bersekutu, namun juga negara-negara produsen dan konsumen minyak bumi di seluruh dunia. Bagaimana tidak, 20% pasokan minyak bumi dunia (dan 35% dari total yang diangkut via kapal laut), harus melewati Selat Hormuz. Jika Iran menutup Selat Hormuz, pasokan minyak dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab tidak akan bisa mencapai Selat Oman, untuk kemudian beredar ke barat dan timur. Jika pun pengangkutan dilakukan lewat Pantai Barat Arab Saudi, Yaman, atau Jordania, tentunya akan menambah biaya produksi secara masif.

Jika benar terjadi penutupan Selat Hormuz, maka pasokan minyak dunia akan berkurang minimal seperempatnya, dan tentu harga (WTI crude) akan melonjak naik ke level yang tak terbayangkan. Harga sendiri sudah merangkak naik sebelum keputusan Trump dan ancaman Rouhani, sejalan dengan kondisi politik Timur-Tengah yang tak kunjung stabil. Namun seakan mendapat dorongan dari adu ancam Trump dan Rouhani/Khomeini. Sejak harga terendah di Juli 2017 yang sempat menyentuh 44.4 USD per barel, harga merangkak terus sampai ke level 70.21 USD per barel di hari ini (19 September 2018).

Harga minyak yang terus naik tentunya akan berdampak pada Indonesia sebagai salah satu trader minyak terbesar di dunia. Defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) Indonesia di sektor migas makin membesar, sedangkan surplus di impor barang non-migas malah mengalami penurunan. Peningkatan defisit dari sektor migas Indonesia di kuartal II 2018 mencapai 2.7 miliar USD, yang berkontribusi besar (30%) terhadap total kenaikan defisit transaksi berjalan. Selain kenaikan harga minyak, permintaan juga besar karena di kuartal II terdapat libur Idul Fitri yang bertepatan dengan libur sekolah. Alhasil total defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai batas atas, yaitu senilai 3% dari total Produk Domestik Bruto (PDB).

Kondisi ini tentunya berarti kebutuhan akan USD di Indonesia masih besar, dan akan bertambah jika defisit makin melebar akibat harga minyak dunia yang melambung. Fakta ini akan membuat rupiah makin tertekan, bahkan sampai ke level yang (juga) tidak terbayangkan.

Demikian bagaiman faktor geopolitik ini merupakan salah satu faktor utama pelemahan Rupiah. Berbeda dengan faktor lainnya, faktor Timur-Tengah ini sulit untuk diintervensi Pemerintah Indonesia. Selain terlalu riskan secara politis (luar negeri), juga memang terlalu banyak usaha yang harus dikerjakan jika Indonesia mencoba berurusan dengan Iran dan Amerika yang sekarang sangat sulit diprediksi.

Faktor lainnya, faktor Perang Tarif Dagang Amerika dan Faktor karakteristik ekonomi Indonesia, akan dipaparkan di tulisan berikutnya.

Advertisements
Posted in Ekonomi, Politik | Tagged , , , , , | Leave a comment

Review Film : Pengabdi Setan (2017)

Howard Phillips Lovecraft, bapak cerita horor supranatural, pernah mengutarakan sebuah kesimpulan atas esai panjang Supernatural Horror in Literature : “Emosi manusia yang paling tua sekaligus paling kuat adalah rasa takut. Dan rasa takut yang paling tua sekaligus paling kuat adalah rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui (unknown).”. Pada kenyataannya, itulah yang selama ratusan tahun mendasari penceritaan horor supranatural di seluruh dunia.

Namun akan menjadi menarik jika kita, dengan kacamata tersebut, mencoba menganalisis film Pengabdi Setan karya sutradara Joko Anwar. Film ini adalah reinterpretasi Joko atas film bernama sama yang dirilis tahun 1980. Yang paling menarik dari cerita ini, adalah ancaman utama datang bukan dari sesuatu yang tidak dikenal, melainkan sesuatu yang dikenal sangat baik oleh para protagonis.

Marwani Suwono, atau biasa dipanggil Ibu, adalah seorang eks penyanyi yang terbaring sakit di rumahnya. Seluruh keluarga, mertua, suami, dan keempat anaknya, berusaha menghimpun dana untuk kesembuhannya. Mawarni yang sudah kesulitan berkomunikasi secara verbal, menggoyangkan sebuah lonceng setiap hendak memanggil keluarganya. Singkat cerita, Mawarni meninggal. Namun ternyata arwah Mawarni seakan memendam murka kepada keluarganya sendiri. Mawarni membunuh ibu mertuanya dan meneror anak-anak serta suaminya. Urusan bertambah rumit ketika sang ibu mertua yang juga sudah menjadi arwah, juga ikut meneror keluarga tersebut. Sampai akhirnya diketahui bahwa Mawarni semasa hidupnya menggadaikan diri ke sebuah sekte pemuja setan demi mendapatkan keturunan, dan ketika anak bungsunya, Ian, berusia 7 tahun, ia akan diambil oleh sekte.

Sekilas cukup meragukan bahwa seorang ibu dan seorang nenek, setelah menjadi arwah sekalipun, bisa menjadi teror untuk darah dagingnya sendiri. Dari sini bisa disimpulkan bahwa cerita dari film ini sebenarnya cukup lemah untuk menjadi sebuah cerita horor supranatural yang mencekam. Namun inilah kelebihan media film. Ada banyak unsur lain yang bisa memoles cerita yang kurang kuat untuk tetap menjadi produk akhir yang mampu membuat penonton ketakutan.

Pertama, dari segi visual. Pengabdi Setan memilih gaya retro sebagai look utama film. Art director pemenang FFI Allan Sebastian memilih tone sephia untuk visual secara general. Tone ini, meskipun sudah sering dipergunakan, nampaknya tidak pernah gagal untuk mendatangkan suasana yang kelam. Yang mencuri perhatian adalah pemilihan dan tata letak properti dalam set. Gaya sinematografi Ical Tanjung mampu membuat setiap properti dan sudut set menjadi ikonik, dan akhirnya, familiar. Penonton bisa dapat dengan mudah membuat denah rumah keluarga Mawarni, plus mendeskripsikan bagaimana kelambu menjuntai, gelas-gelas dapur, cara kerja pemutar musik, suasana tangga hingga balkon, dan yang paling juara, lonceng yang dipakai Mawarni. Lonceng dan pemutar musik lah yang akhirnya membuat arwah Mawarni yang harusnya well knowned untuk anak-anaknya, menjadi sosok asing yang potensi keberadaannya sangat menakutkan.

Kedua, departemen sound dan musik pun bisa dikatakan punya peran yang sangat baik. Bunyi lonceng, derit lantai dan tangga, dan pemutar musik, juga menjadi sangat kuat terpatri, dan menimbulkan sensasi teror. Scoring yang ditata Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Tony Merle mampu berkelindan dengan sangat baik di puncak-puncak adegan teror, namun tetap terdengar khas mereka, seperti dalam Pintu Terlarang dan Quickie Express. Tak ketinggalan lagu tema “Kelam Malam” ( hasil rombakan dari lagu Keheningan Malam – Anna Manthovani) yang dibawakan The Spouse (Aimee Saras dan Tony Merle) yang seperti sudah disebutkan sebelumnya, menjadi jembatan antara Ibu dengan “Ibu”.

Ketiga, tempo yang dimainkan Joko Anwar terasa pula cukup baik. Eksplorasi karakter dua anak termuda terasa pas saat dipakai Joko untuk mengendurkan tempo. Untung saja porsi dua anak itu cukup besar, karena eksplorasi tokoh-tokoh lain seperti Rini, Hendra, Bapak, Pak Ustad, serta Budiman terasa dangkal dan tipikal.

Performa aspek-aspek tadi memiliki tugas berat untuk menambal aspek lainnya yang terasa lemah. Pengembangan karakter dan kedalaman dialog dalam film horor, apalagi horor supranatural, mungkin banyak diabaikan. Namun jika kita lihat remake Brams Stoker’s Dracula versi Copolla atau contoh kisah Yurei kontemporer Ju-On, pengembangan karakter dan dialog yang efektif bisa baik pula jika dimasukkan. Seperti ditulis sebelumnya, hanya karakter dua anak termuda yang tereksekusi dengan baik, selebihnya tidak.

Konsistensi tata rias dan kostum patut pula dipertanyakan. Terlihat beberapa kali kostum yang keluar dari tema besar visual, serta tentunya, jalan cerita. Tak lupa wig karakter Hendra yang menggelikan. Tata rias tokoh Rini yang masih terlihat over dalam sebagian adegan, tentunya tidaklah cocok dengan jalan cerita. Meskipun untuk karakter-karakter arwah, tata rias dan kostum tereksekusi baik, bahkan bisa menjadi salah satu ikon film.

Kekuatan audio visual pula akhirnya membuat Pengabdi Setan versi Joko Anwar menjadi film horor supranatural yang bisa memenuhi tugas beratnya sebagai penggedor rasa takut akan sesuatu yang familiar.

Posted in Film, Uncategorized | Leave a comment

Selamat Jalan Suka Hardjana

Kemarin, Suka Hardjana wafat. Tokoh ini adalah salah satu tokoh penting musik Indonesia. Suka Hardjana jatuh cinta dengan musik saat sering melewati Kampung Musikanan di Yogya. Kampung yang dihuni pemusik-pemusik keraton ini menjadi gerbang Suka Hardjana belajar musik, dari Sekolah Musik Indonesia di Yogya, sampai ke Deltmold, Jerman. Sempat menjadi dosen di Konservatorium Musik der Freien Hansestadt di Bremen, ia akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia.

Di Indonesia, ia akhirnya dikenal bukan hanya sebagai musisi, namun juga sebagai seorang kritikus, esais, dan nantinya berkembang menjadi seorang budayawan. Pengetahuannya yang sangat luas tentang musik, terutama, dan juga sosial, budaya, ekonomi, hingga politik, menjadikan esai, kritik, dan review musik karyanya terasa sangat dalam, namun sekaligus luas dan multidimensional.

Salah satu kiprah terpenting Suka Hardjana adalah ketika ia memprakarsai Pekan Komponis Muda dan Pekan Komponis Indonesia di Jakarta. Ide itu lahir dari keresahannya setelah bergabung dengan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1979. “Kompetisi” tersebut melahirkan nama-nama besar seperti Harry Roesli, Tony Prabowo, Nano Suratno, Otto Siddharta, sampai Trisutji Kamal. Dalam “Esai & Kritik Musik” dan “Corat-Coret : Musik Kontemporer Dulu dan Kini”, ia “mendokumentasikan” beberapa pagelaran Pekan Komponis yang ia saksikan langsung.

Tulisan-tulisan Suka Hardjana selalu ditulis dalam konteks keterbukaan terhadap ide-ide baru. Tulisannya akan sangat hangat terhadap komponis-komponis, terutama komponis-komponis muda yang berani membuat sebuah komposisi baru. Kepada mereka yang berani mengapresiasi, menginterpretasi ulang, mendekonstruksi, merekonstruksi komposisi-komposisi terdahulu. Juga kepada ensemble atau orkestra muda yang berani mengambil nomor-nomor sulit untuk dibawakan.

Namun ia akan sangat sengit mengomentari karya-karya yang dianggapnya sebagai pengulangan-pengulangan, atau terhadap senioritas yang menimbulkan hierarki di dunia seni, atau bahkan abainya pemerintah dan masyarakat atas mandegnya dunia seni Indonesia. Sesuatu yang monodimensional, nampaknya bukan sesuatu yang menjadi selera Suka Hardjana. Tentunya, selaras dengan hakikat seni itu sendiri. Juga menarik ketika dalam salah satu kritik, ia menyoroti masyarakat Indonesia tahun 80-an yang hanya heboh membahas dan menonton pertunjukkan musik klasik ketika pertunjukkan tersebut menyandang orkestra asal kota terkenal di barat sana serta diberitakan besar-besaran di media. Konser semacam itu dihadiri berbondong-bondong oleh masyarakat kelas elit, dan ditonton dengan terkantuk-kantuk, karena minimnya pengetahuan apresiasi musik di Indonesia.

Ia sadar, bahwa seni musik non industri tentunya tidak mudah untuk memasyarakat, apalagi dengan upaya kembang kempis. Namun ia tetap berusaha, baik dengan mendirikan (dan mempertahankan mati-matian) Ensemble Jakarta yang bertahan 12 tahun sejak awal 70-an. Tak terhitung klinik-klinik musik, kuliah umum, seminar, sampai pagelaran seni berkualitas yang ia usahakan untuk masyarakat Indonesia bisa terpapar pengetahuan dan pengalaman musik yang baik. Ia berpendapat bahwa musik berkualitas tidak harus berkenaan dengan kelas-kelas ekonomi, sepanjang pengetahuan dan pengalaman menikmati seni musik bisa diakses dengan mudah.

Saya sendiri baru “terpapar” upaya Suka Hardjana sekitar tahun 2010, ketika kawan saya Ridwan Hutagalung menyarankan saya untuk membaca “Esai & Kritik Musik”, sepaket dengan “Apresiasi Musik Populer” karya Dieter Mack. Saya yang hanya biasa membaca swag-nya tulisan musik kelas Ripple, Trax, Rolling Stone Indonesia, sampai Denny Sakrie, merasa tersengat ketika membaca tulisan musik yang sama sekali tidak membahas coolness, tapi justru merujuk kepada teknis dan penjiwaan, namun dalam dimensi pembahasan yang sangat kaya seperti halnya saat membaca esai sepakbola dari Sindhunata ataupun Gus Dur.

Selamat jalan, Suka Hardjana.

Posted in Budaya, Musik, Tokoh | Tagged , , | Leave a comment

Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

Beberapa waktu ke belakang, cukup rama polemik mengenai Landhuis Cimanggis. Rumah peristirahatan abad 18 milik pembesar VOC yang mungkin tinggal tersisa 30-an persen itu ditengarai hendak digusur untuk perluasan kampus sebuah universitas. Perdebatan terjadi tentang signifikansi sejarah bangunan tersebut dan urgensi-urgensi lainnya. Yang ikut urun argumen beragam. Mulai dari komunitas pemerhati sejarah, sampai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pendapat Kalla berkisar pada pandangan bahwa secara histori dan kultural, tidak ada signifikansi dari bangunan tersebut. Terlebih isu yang beredar, bangunan itu adalah milik salah satu istri Gubernur Jenderal paling korup di jaman VOC, Albertus van der Parra. Para pembela bangunan, di sisi lain, berpendapat bahwa bangunan ini penting secara sejarah dan arsitektur untuk diselamatkan karena masuk dalam kategorisasi-kategorisasi benda cagar budaya.

Perdebatan itu singkatnya berlangsung dengan pandangan yang berbeda tentang terminologi “sejarah kita”. Saya sendiri berpandangan bahwa penceritaan kita tentang sejarah haruslah ada dalam kerangka poskolonial. “Kita” harus bisa mengkritisi dan melepaskan diri seutuhnya dari konteks-konteks kolonialisme dalam menulis dan menceritakan ulang sejarah. Menempatkan secara egaliter subjek-subjek sejarah dengan memperhitungkan struktur kemasyarakatan yang berlaku di setiap masa.

Pemikiran itu pula yang mendasari saya dan teman-teman Ngopi Jakarta berusaha untuk membuat penceritaan yang lebih “lokal” dalam sisi sejarah yang kami pelajari bersama. Juga memperhitungkan struktur sosial yang ada sebagai sesuatu yang tidak boleh lepas dari penceritaan masa lalu dan masa kini, juga dalam pemikiran masa depan.

Demikian pula dengan NgoJak Cikini. Kami mencoba memperkenalkan Cikini kepada teman-teman NgoJak sebagai sebuah arena kontestasi politik dan budaya bangsa Indonesia.

Kami berkumpul di Stasiun Cikini dan berjalan bersama ke tujuan pertama, yaitu Gedung Yayasan Perguruan Cikini. Namun di tengah perjalanan kami sempat berhenti di depan rumah Achmad Subarjo. Di rumah bergaya indies inilah, Subarjo, seorang tokoh aliran nasionalis yang sangat supel, pernah berkantor sebagai menteri luar negeri. Perjuangan Subarjo sendiri sudah dimulai sejak usia mahasiswa, saat bersama Hatta mengelola Perhimpunan Indonesia, bahkan sempat mengikuti pula kongres Liga Anti Imperialisme yang bersejarah di Brussels. Pada masa Jepang, Subarjo memutuskan untuk kooperatif dengan Kaigun (Angkatan Laut) Jepang. Subarjo pula banyak berperan dalam program kaderisasi aktivis pergerakan di beberapa asrama mahasiswa. Sampai akhirnya peran terpenting Subarjo hadir pada 15-16 Agustus 1945, dimana ia mampu menengahi konflik ide antara kelompok pemuda dengan Sukarno dan Hatta di Rengasdengklok, dan juga mempersiapkan penerimaan Kaigun Jepang terhadap rencana pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Setelag bercerita tentang Subarjo, kami berjalan dan tiba di Gedung Yayasan Perguruan Cikini. Di sekolah elit jaman dulu ini, kami membahas peristiwa penggranatan terhadap Sukarno pada 30 November 1957. Sukarno yang datang untuk menghadiri acara ulang tahun Perguruan Cikini, mendapat serangan lima buah granat tangan dari empat orang pelaku. Sukarno selamat, namun puluhan orang luka-luka dan beberapa korban tewas. Para pelaku sendiri akhirnya diketahui terlibat dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) besutan karib Sukarno, Kartosuwiryo. Para pelaku, empat orang pemuda asal Bima, dan Kartosuwiryo sendiri, dijatuhi hukuman mati. Sedangkan satu pemuda lagi dikenai hukuman kurung. Peristiwa itu pula yang mengawali upaya serius pemerintah menghabisi gerakan Kartosuwiryo, sampai ia tertangkap di Gunung Rakutak pada 1962 dan dieksekusi di Pulau Ubi, utara Jakarta.

Tujuan kami berikutnya adalah sebuah gedung di Jalan Cidurian 19. Gedung tersebut dulunya merupakan rumah dari kader Partai Komunis Indonesia (PKI) Oey Hay Djoen sebelum direnovasi seperti bentuknya sekarang. Rumah Hay Djoen merupakan basis dari para aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) saat pusat pergerakan PKI berpindah ke Jakarta dari Yogyakarta. Penceritaan ini diawali dengan cerita besar peta persaingan politik di akhir 50-an sampai 1965. Peta tersebut mengerucut pada bidang seni, sastra, dan kebudayaan, di mana Lekra menjadi entitas dominan. Juga sampai saat Lekra dan eksponen-eksponennya dihabisi sekaligus dengan kader, simpatisan, dan para tertuduh PKI.

Perjalanan kami sempat mampir di sebuah bangunan kosong bergaya kolonial. Bangunan ini sampai beberapa tahun lalu difungsikan sebagai restoran yang menyajikan gaya makan Rijstaffel. Gaya makan Eropa dengan beberapa pelayan pribumi membawa berpiring-piring makanan berturut-turut. Sebuah budaya yang hadir dari relasi kuasa yang timpang antara para penjajah dan kaum feodal terhadap mereka yang terjajah. Budaya yang entah kenapa dari masa ke masa, bahkan sampai puluhan tahun setelah kemerdekaan, masih dilanggengkan sebagai suatu budaya yang unik dan jadul. Memuakkan.

Setelah menjauhi bangunan kosong itu, kami lalu mengunjungi bekas rumah Raden Saleh. Rumah yang extravagant ini dibangun Raden Saleh saat pulang berkelana dan melukis untuk khalayak Eropa. Lukisan potret dan romantik Raden Saleh banyak memberi kesempatan baginya untuk sedikit bisa masuk ke pergaulan elit Eropa, meskipun tentu dengan relasi kuasa yang tidak setara. Di rumah yang kini menjadi bagian dari Rumah Sakit PGI Cikini ini, kami berbagi kisah mengenai salah satu lukisan Raden Saleh yang paling terkenal, Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan ini memiliki konteks dan kisah yang sangat menarik, yang membuat kita bisa meraba-raba seberapa takaran “nasionalisme” atau “Jawaisme” Raden Saleh. Setelah bercerita tentang kiprah Raden Saleh, kami diperbolehkan naik ke lantai dua, melihat beberapa furnitur bergaya Barok yang teronggok di salah satu ruangan, naik ke balkon (yang ditambahkan kemudian), dan melihat sendiri kayu-kayu besar yang sudah mulai lelah menyangga bangunan.

Raden Saleh sendiri memiliki darah Timur-Tengah dari ayahnya, Husein bin Alwi bin Awal bin Yahya dari Semarang. Husein bin Alwi menikah dengan Mas Ajeng Sarip, putri dari KyaiAbdullah Bustam Kertoboso dari Terboyo. Abdullah Bustam sendiri merupakan seorang tokoh kontroversial dalam Perang Suksesi Mataram kedua. Ia sebagai pegawai VOC, diminta (dan berhasil) meredakan perang saudara dan berhasil memasukkan juga kepentingan Kompeni di Mataram.

Seusai menjelajah, kami pun beranjak ke luar. Tak lupa menyempatkan diri melihat kapel kecil yang dibangun oleh Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini alias Rumah Sakit Ratu Emma. Setelah wafatnya Raden Saleh pada 1880, mereka membeli tanah dan bangunan dengan dana hibah dari Ratu Emma. Seiring waktu, pengelola rumah sakit pun berganti, sampai pada 1957, pengelolaan diserahkan kepada Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI), yang nantinya berubah nama menjadi Persatuan Gereja Indonesia (PGI).

Kami lanjut berjalan melewati Jalan Sekolah Seni. Melipir Ci Liwung, kami tiba di makam Habib Abdurrahman al Habsyi atau dikenal dengan julukan Habib Cikini. Habib Cikini konon menikah dengan Syarifah Rogayah, adik Raden Saleh, sehingga diberi kepercayaan untuk membangun sebuah surau di tanah Raden Saleh. Salah satu putra beliau, Ali, kelak dikenal sebagai Habib Kwitang. Habib Cikini konon mendirikan sebuah surau yang dinamai Al Ma’mur. Beliau pun dimakamkan di surau tersebut. Al Ma’mur entah dengan alasan apa, dipindahkan ke sebelah selatan, dan nantinya menjadi salah satu basis Sarikat Islam di Jakarta.

Rasa lapar yang mendera akhirnya memaksa kami singgah di sebuah warung makan. Dua puluh sekian manusia kelaparan dan kehausan segera menjadi konsumen Mbak-Mbak pemilik warung yang tak urung terlihat senang sekali.

Setelah menghabiskan setengah jam lebih untuk makan, kami berjalan ke Al Ma’mur lokasi baru. Dimana Mbak Uci bercerita banyak tentang sang masjid, kepindahannya, dan perannya dalam pergerakan. Namun yang menarik perhatian saya adalah beberapa orang yang tinggal di kolong jembatan, persis di bawah Al Ma’mur. Keberadaan Al Ma’mur rupanya belum menjadi pelatuk kemakmuran orang-orang di sekelilingnya. Semoga suatu hari bisa.

Kami berjalan hingga jalan Kramat Raya. Di depan Kantor Pegadaian Pusat, kami berhenti untuk bercerita tentang sebuah gedung kumuh nan terlihat angker di seberang jalan. Gedung itu adalah eks Kantor Commitee Central (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasca hancur-hancuran di 1948, PKI memutuskan pindah ke Jakarta. Menandai era baru di bawah kepemimpinan para tokoh muda seperti Dipa Nusantara Aidit, M. Lukman, dan Njoto. Tulisan Hendi Jo dari Historia menyebutkan kantor pertama CC PKI adalah sebuah rumah sederhana di Gang Lontar, yang sekarang bernama Jalan Kramat Lontar. Waktu berjalan, lewat patungan-patungan kader, PKI berhasil membeli tanah di Kramat Raya tersebut, dan membangun gedung satu lantai. Pada masa kejayaan PKI di 1962, mereka merenovasi gedung menjadi enam lantai. Proyek renovasi dikomandoi oleh Ir.Sakirman, yang merupakan adik dari Mayjen Siswondo Parman, yang tewas saat peristiwa Gerakan Satu Oktober. Setelah Gerakan Satu Oktober, gedung ini diserang oleh massa dari golongan anti Komunis. Bangunan hancur bersama dengan sang pemilik.

Setelah bercerita tentang gerakan Komunis, kami mengimbanginya dengan menyambangi Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kami diterima di Pojok Gus Dur oleh salah satu kawan kami, Hasan Bashori. Pojok Gus Dur sendiri sebelumnya merupakan ruang tamu bagi mereka yang mengunjungi Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang memimpin Nahdlatul Ulama (NU) selama menjadi Ketua Umum Tanfidziyah periode 1984-1999. Ruangan ini bersebelahan persis dengan ruang kerja pribadi Gus Dur. Di Pojok Gus Dur, Bashori bercerita cukup panjang tentang karakteristik NU, serta kisah-kisah unik yang menyertai karir Gus Dur. Kami pun diperkenankan untuk masuk ke ruang kerja Gus Dur, yang sampai saat ini masih dipelihara sebagai kenang-kenangan bagi banyak orang yang mengagumi, menyayangi, dan mencintai Gus Dur. Demikian pula Pojok Gus Dur yang didirikan dengan maksud sebagai sarana untuk melestarikan dan mengapresiasi pemikiran dan aksi-aksi Gus Dur. Pojok ini memiliki cukup banyak koleksi buku, rata-rata adalah buku yang mengambil pemikiran, aksi, sampai kisah hidup Gus Dur sebagai objek bahasan.

Saya meninggalkan perjalanan di titik ini. Kawan-kawan yang lain melanjutkan perjalanan ke tiga titik terakhir, yaitu Museum Muhammad Husni Thamrin, Bangunan bekas Stasiun Salemba, dan Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Catatan di ketiga lokasi tersebut bisa diakses di tulisan Adi Nugraha ini.

Sangat sulit untuk melepaskan diri dari cara pandang kolonial dalam membahas hal-hal intangible. Sejarah, budaya, arsitektur, sampai problem-problem ekonomi masih dikuasai oleh pandangan sisi Barat. Tentunya dengan keunggulan sumber tertulis dan penguasaan metode ilmiah modern, yang bahkan hingga kini masih tergagap-gagap kita menguasainya. Tentunya juga bukan sesuatu yang mengada-ada seperti yang dilakukan Sukarno dan Muhammad Yamin. Tapi semua bisa diperjuangkan untuk mendapatkan sudut pandang yang lokal. Kekayaan pengetahuan, empati, dan keterlibatan aktif dalam memahami sebuah persoalan menurut saya adalah kunci. Biarlah cerita ala Barat menjadi masa lalu, kita buat sesuatu yang kekinian.

Posted in Catatan Perjalanan, NgoJak, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Ruang Tunggu : Zona Nyaman Yang Harus Diakhiri.

Mendengar album ini dan berita-berita yang meliputi pengerjaan dan peluncurannya, saya jadi teringat kondisi diri saya sendiri beberapa bulan lalu. Saat itu saya merasa sangat jenuh, pada jenis dan level pekerjaan yang saya lakoni, hierarki birokrasi yang menghambat, dan gaji yang tak kunjung naik. Semua pekerjaan yang ada di pipeline saya kerjakan. Semua selesai, namun tidak sesuai dengan kualitas yang dituntutkan kepada saya. Berangkat kerja dengan ogah-ogahan, hanya memenuhi kewajiban pada mereka yang menggaji saya. Saya bekerja hanya sebatas profesionalisme, tanpa semangat, tanpa kegembiraan.

Saya tidak tahu sampai level apa kegelisahan Istiqomah Djammad atas kondisi Payung Teduh. Wawancara emosionalnya dengan Rolling Stone Indonesia menyiratkan (dan untuk beberapa hal, menyuratkan) ketidakpuasan atas kondisi berkarya di Payung Teduh. Kelelahan, kejenuhan, kerinduan akan semangat, serta rasa terasing dari orang-orang di sekitarnya. Emosi sebenarnya, tidak ada yang bisa menebak. Apakah Is, panggilan akrabnya, sedang tantrum, ataukah memang benar bahwa sudah lama ia rasakan.

Namun semua emosi Is sebagai komposer tunggal di Payung Teduh, tentunya bisa terasa dalam Ruang Tunggu. Album terbaru Payung Teduh dan konon, album terakhir yang menyertakan Is. Album ini terasa sangat paralel dengan semua yang dikatakan Is kepada Rolling Stone Indonesia (yang juga sudah tidak akan beroperasi per 1 Januari 2018). Menjenuhkan, melelahkan, sangat bisa ditebak, dan nyaris tidak ada perkembangan berarti secara musikal dari album Dunia Batas tiga tahun lalu. 

Album ini sebenarnya dibuka dengan cukup baik oleh “Akad”. Seakan kita dibawa menuju Payung Teduh yang lebih bertenaga seperti pada “Live at Yamaha Live and Loud”. Setelah sekian banyak lagu mereka coba untuk menjadi seperti Sore, akhirnya di lagu inilah Payung Teduh mampu menjadi murid Sore (era Mondo) yang baik. Masih jadi pertanyaan saya juga mengapa Is sepertinya punya rasa hormat yang berlebihan kepada Mondo dan Sore. Seksi alat tiup dan alat gesek menempati ruang-ruang yang tepat, tempo yang menggairahkan, membuat kita bisa membayangkan sepasang manusia yang sedang dimabuk cinta. Berlari ke sana kemari dan tertawa, ada sedikit keraguan untuk menikah, tapi yo wis ben. Mari bercinta!.

Ekspektasi tinggi itu sayangnya tidak terbukti. “Di Atas Meja”  adalah Payung Teduh seperti biasanya. Tempo lambat diiringi petikan nilon, lalu sedikit naik tempo di reffrain, untuk kemudian meratap lagi. Meskipun ada hook yang cukup menarik di bagian “..tak bisa lagi bercerita apa adanya..”. “Selalu Muda” adalah pemberi harapan palsu. Dibuka dengan cukup groovy, malah berlanjut ke tempo dan pilihan mood yang harus dipertanyakan, karena sangat kontradiktif dengan judul lagu. “Mari Bercerita” dengan vokalis tamu Ichamalia juga tidak menawarkan sesuatu yang baru, kecuali bagi mereka yang sangat asing dengan pop Amerika 40-60 an atau dikenal dengan”Adult Contemporary”. 

“Muram” lagi-lagi adalah Centralismo dosis rendah. Bunyi isian gitar, dekorasi elektronik, sampai sound drum yang dipakai sangat sulit untuk didengar secara independen. “Puan Bermain Hujan” seharusnya bisa menjadi basis yang baik untuk eksplorasi musikal. Pendekatan pop keroncong dengan flute yang dimainkan secara pas. Sebagian bunyi dan tekstur memang sudah lebih dulu dieksplorasi oleh Cozy Street Corner, tapi Payung Teduh terdengar lebih segar di track ini. Namun kesegaran dari “Puan Bermain Hujan” segera dikeringkan lagi oleh “Sisa Kebahagiaan” yang amat mudah ditebak, tidak ada sama sekali kejutan ataupun detail menarik. “Kita Hanya Sebentar” menawarkan gaya Show Tunes era Perang Dunia II, namun Is menampilkan performa vokal yang kurang baik di lagu ini. Beberapa bagian terdengar terlalu rendah untuk suaranya. Album ini pun ditutup oleh nomor yang tidak istimewa. “Kerinduan” tidak memiliki sesuatu yang menarik. 

Namun secara komersial, Payung Teduh yang mellow, easy listening, dan menenangkan tentu masih sangat bisa untuk dijual sebagai musik industri. Plus, diluar musik, kekuatan komersial Payung Teduh juga ada di lirik. Lirik-lirik Is mungkin bisa menjadi pengganti puisi-puisi Sapardi atau cuplikan-cuplikan Tere Liye. Seperti nama band, album ini terdengar menyukai berada di zona nyaman. 

Menarik melihat keluarnya Is. Baik Is dan Payung Teduh untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir akan dipaksa keluar dari zona nyaman. Semoga tidak ada lagi yang terlalu teduh..

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Arief Budiman : Setia Melawan “Bebas Nilai”

Ilmu sosial di Indonesia bersifat ahistoris, karena ia mengabaikan konteks kesejarahan di mana masyarakat Indonesia hidup. Para ilmuwan sosial kita cenderung mengimpor begitu saja teori-teori sosial yang mereka dapat dari Barat tanpa mempertanyakan keabsahannya ketika diterapkan dalam konteks lokal. Padahal, “ilmu-ilmu sosial tidak bebas nilai” dan “ilmu sosial itu sebelumnya merupakan satu ideologi imperialisme ekonomi.

18888804_1892696994318917_7584118079513165824_n

Arief Budiman

Pernyataan tersebut sampai sekarang masih terdengar kurang nyaman bagi para akademisi ilmu sosial. Bukankah jauh lebih mudah membaca kebijakan Jokowi melalui kacamata Simon Kuznet, atau mengimajinasikan negara persis seperti apa yang dipaparkan Taqiyuddin Al-Nabhani?. Mengapa harus mempersulit diri dengan menambahkan pengetahuan struktur sejarah, politik, budaya, dan ekonomi lokal Indonesia yang minim sumber dan data yang rawan terdistorsi?.  Namun bagi seorang Arief Budiman, salah besar jika seorang akademisi, atau praktisi ilmu sosial, menutup mata akan banyaknya faktor subjektif. Konsep Bebas Nilai, yang pada dasarnya justru menjadi nilai tunggal, tentu tidaklah tepat. Ketika hanya ada satu jenis “nilai” yang dipergunakan di seluruh dunia, seperti yang dipromosikan modernis-modernis Barat, tentunya akan terbentuk hierarki nilai. Padahal manusia dan pola interaksinya sebagai bahasan utama dalam ilmu-ilmu sosial, tentunya memiliki nilai-nilai yang unik dan struktur-struktur yang membentuk karakteristik suatu sampel.

Arief, yang hari ini genap berusia tujuh puluh tujuh tahun, mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk menentang hierarki. Masa demi masa ia aktif membaca situasi, melakukan dialektika, dan mengkritisi serta menentang apapun yang ia anggap mempromosikan pemikiran dan tindakan monodimensional. Soekarno, Soeharto, hingga rezim-rezim singkat pasca Reformasi tak luput dari kritik Arief.

Arief lahir sebagai anak ke-tiga dari pasangan Soe Li Pit (Salam Sutrawan) dan Nio Hoe An. Salam Sutrawan adalah seorang novelis yang memiliki beberapa karya yang bergenre Sastra Peranakan. Hoe An, yang jauh lebih dekat dengan anak-anaknya, adalah sosok yang pertama kali mengenalkan dunia literasi pada Arief. Sejak menginjak bangku sekolah dasar, Arief dan saudara-saudaranya sudah menjadi langganan tetap di beberapa perpustakaan besar di Jakarta Pusat. Arief muda, menurut Goenawan Mohammad, adalah salah satu pembaca yang sangat tekun, terutama untuk buku-buku filsafat.

Lulus dari sekolah Jesuit paling top di Jakarta saat itu, Kolese Kanisius, Arief masuk ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Nama Arief mulai dikenal karena tulisan-tulisannya yang naik ke beberapa media cetak, baik dalam kajian pergerakan mahasiswa, budaya, maupun sastra. Di saat itu pula, dunia sastra, seni dan budaya Indonesia mulai terbelah akibat agitasi-agitasi yang dilakukan segelintir tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Pramudya Ananta Toer, rajin melakukan serangan keras di media terhadap seniman, sastrawan, dan siapapun yang tidak berhaluan Realisme Sosial ala Stalin. Tahun-tahun pertama dekade 60-an, riuh dengan argumen “Politik adalah Panglima” dengan mereka yang berhaluan lain (yang tidak tepat pula digeneralisir sebagai “humanis universal”). Tak hanya di media, beberapa sastrawan dan seniman juga mendapatkan represi di lapangan. Agustus 1963, Arief bersama Goenawan, rekannya di Fakultas Psikologi, mencoba mengorganisir rekan-rekan senior yang menjadi “sasaran dan korban” Pramudya dan kawan-kawan, untuk membuat sebuah pernyataan sikap bersama. Upaya itu akhirnya berbuah Manifesto kebudayaan, yang disusun Wiratmo Soekito, serta Arief dan Goenawan sebagai editor. Manifesto tersebut didukung oleh nama-nama seperti H.B Jassin, Trisno Sumarjo, Gerson Poyk, Taufiq Ismail, hingga maestro lukis Nashar. Manifesto menyatakan keengganan mereka untuk menumpang berkarya pada satu sektor kebudayaan saja (baca : politik ala Stalin).

Goenawan dalam sesi “Sastra, Politik, dan Manikebu” di Teater Utan Kayu tanggal 16 Juni 2016, mengenang Arief sebagai seorang yang cocok dengan pemikiran Asbsurdisme Albert Camus. Politik seni ala Uni Soviet mendahulukan seni sebagai bagian dari kampanye mewujudkan kehidupan satu kelas sebagai idealisme, dianggap tidaklah mungkin terjadi, setidaknya pada saat itu. Kondisi ideal, menurut Camus, adalah mustahil secara manusiawi (Humanly Impossible). Manusia hanya bisa seperti Sisyphus, yang tidak akan pernah mencapai idealisme atau objective miliknya, dan hanya bisa menyiasati hidup semaksimal mungkin dengan kondisi tersebut. Hingga kehidupan satu kelas terwujud, apakah seniman dan sastrawan dilarang untuk berkarya dengan kemanusiaannya?. Pertanyaan itu yang melatari keterlibatan Arief di Manifesto Kebudayaan, meskipun nama Arief, sebagaimana eksponen Manifesto Kebudayaan lain, masuk dalam daftar orang-orang yang dicekal dari aktivitas berkaryanya di ruang publik.

Arief pun akhirnya memilih untuk kembali belajar. Ia sempat memperoleh kesempatan mengikuti course bidang pendidikan di Brugge, Belgia, tahun 1964. Arief kembali ke tanah air dan mendapati peta politik Indonesia makin panas. Krisis ekonomi, pertentangan kubu Komunis, Agamis, Militer, dan Nasionalis makin meruncing. Kasus pembunuhan perwira-perwira tinggi Angkatan Darat pada 30 September dan 1 Oktober 1965 bagaikan bom waktu pertama yang meledak bagi Soekarno. Arief turut dalam gerakan mahasiswa 1966. Ia aktif mengorganisir mahasiswa Fakultas Psikologi untuk turut aktif dalam gerakan menggulingkan rezim Soekarno. Sejarah mencatat, Mahasiswa Psikologi dan Fakultas Sastra (yang salah satu motornya adalah Soe Hok Gie, adik Arief), merupakan salah satu yang diperhitungkan dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).  Gerakan ini akhirnya mempermulus Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan dari Soekarno.

Namun bulan madu Arief dengan Soeharto tak berlangsung lama. Genosida atas mereka yang dituduh terlibat dengan Komunisme maupun Soekarno segera menjadi episode baru yang mengerikan. Rekan-rekan Angkatan 66 seperti Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, Cosmas Batubara, hingga Akbar Tanjung, hanya duduk manis menikmati rezim baru yang memanjakan posisi mereka. Berbagai kritik dilancarkan Arief, terutama lewat Majalah Horison, dimana ia menjadi redaktur sejak 1968. Arief kembali ke posisinya sebagai seorang oposan. Namun di masa ini pula, Arief melakukan kompromi langka dengan hierarki dengan mengganti namanya dari Soe Hok Djin menjadi Arief Budiman. Sesuai dengan “arahan” asimilasi dari rezim untuk warga keturunan Cina. Kompromi tersebut hanya dilakukan Arief setelah desakan keras dari istrinya, Leila Chairani, yang tak ingin terus dipersulit untuk urusan tetek-bengek  administrasi.

Tahun 1968, duet Arief dan Goenawan kembali berulah. Mereka mengacak-acak tatanan dunia sastra dan seni, yang saat itu dilanggengkan oleh banyak rekan-rekan mereka di Manifesto Kebudayaan. Mereka mempromosikan Metode Ganzheit sebagai metode kritik sastra. Goenawan memperoleh inspirasi atas Metode Ganzheit dari teori psikologi Gestalt, yang menganggap bahwa persepsi manusia atas end product adalah lebih dari sekedar penambahan (dan susunan) dari bagian-bagian yang membentuknya. Meaning dari sebuah karya sastra secara keseluruhan, menurut pandangan ini, adalah lebih dari kesatuan hasil analisis atas pilihan kata, fonem, dan unsur-unsur lain. Ketika analis melakukan banyak faktor lain ekstrinsik, termasuk idiosinkratik sang analis (dan tentu, penulis) yang mempengaruhi, yang tidak bisa terdifinisikan secara indrawi dan teknis. Goenawan pertama kali memperkenalkan teori ini pada tulisan “Pengertian yang Salah terhadap Metode Analitik dalam Kritik Puisi” tahun 1965, disusul oleh Arief yang menegaskan dalam “Metode Ganzheit dalam Kritik Seni” yang dimuat majalah Horison No.4 Th.III, April 1968.

Teori pos-positivistik inilah yang membuat para akademisi sastra yang menganut teori sastra modern, dimana terdapat standar-standar nilai tertentu yang mengikat interaksi penikmat/analis/kritikus dengan karya yang dihadapi, merasa tersengat. Salah satu kritikus yang paling keras menyatakan ketidaksetujuannya adalah Mangasa Sotarduga Hutagalung. Polemik antara Arief plus Goenawan dan Mangasa serta Kelompok Rawamangun, berlanjut hingga pertengahan dekade 1970-an. Polemik tersebut dibukukan dalam “Kritik atas Kritik atas Kritik” yang terbit tahun 1975. Arief sendiri sebenarnya sudah mempraktikkan metode Ganzheit pada skripsinya yang berjudul Chairil Anwar : Sebuah Pertemuan. Ia mendekati karya Chairil tak melulu dengan metode teknis puisi. Namun justru menitikberatkan analisis tentang Chairil sebagai manusia pencipta; pandangan Chairil tentang agama, sosial, dan tentang dirinya sendiri,  disangkutkan dengan filsafat eksistensialisme, yang baru kemudian campuran tersebut dilimpahkan dalam memandang karya-karyanya.

Periode awal 70-an, Arief tercatat juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta dan Badan Sensor Film. Namun di dekade ini pula lahir dua “karya” Arief yang paling diingat publik. Pertama adalah saat pada 3 Juni 1971, Arief menjadi salah satu konseptor sebuah gerakan moral yang diberi nama Golongan Putih, atau disingkat menjadi Golput. Arief, Imam Waluyo, Julius Usman, Husin Umar, Marsilam Simanjuntak, dan Asmara Nababan dan beberapa aktivis lain merasa Orde Baru tidak bisa membuat sebuah pesta demokrasi yang ideal pada Pemilu 1971. Karena mereka berkeyakinan, apapun hasil pemilihan, yang memegang kendali politik atas Indonesia adalah ABRI. Pada minggu tenang sebelum pemilihan umum, mereka menyebarkan memorandum yang menghimbau masyarakat memilih dengan keyakinan mereka, bukan atas dasar paksaan atau rasa takut. “Kalau ada jang merasa lebih baik tidak memilih daripada memilih,bertindaklah atas dasar kejakinan itu pula”, demikian satu kalimat dari memorandum tersebut. Nama Golongan Putih sendiri hadir dari prosedur teknis untuk mereka yang memilih untuk tidak memilih, yatu dengan mencoblos bagian putih dari surat suara. Tentu embel-embel “golongan” untuk menjadi ironi atas hegemoni Golongan Karya yang menjadi mesin politik utama Orde Baru. Arief sendiri berpendapat bahwa Golput tidaklah memiliki tujuan kemenangan politik apapun, melainkan hanya untuk “melahirkan tradisi dimana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apa pun”. Para eksponen Golput membuat pamflet kampanye dengan logo segi lima berwarna putih polos sebagai simbol dan menempelkan pamflet tersebut di banyak tempat. Tak urung, aksi itu membuat gusar pemerintah. Kegiatan-kegiatan yang berbau Golput dilarang. Adam Malik bahkan sempat menyebut Golput sebagai “Golongan Setan”. Kampanye Golput 1971 menghasilkan angka 6.67% pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Sebuah persentasi yang “buruk” dibandingkan dengan angka “golput” pada Pemilihan Umum 1955 yang mencapai 12.34%. Namun merupakan prestasi sendiri di tengah iklim politik yang “terkonsolidasi” dan kekuatan oposisi yang lemah.

Dalam selang beberapa bulan, Arief kembali menyerang Orde Baru. Kali ini ia menyatakan penentangannya atas rencana pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Berbagai demonstrasi digelar untuk menentang pembebasan lahan secara sewenang-wenang demi “proyek pembangunan mental-spiritual” yang digagas Siti Hartinah, istri Soeharto. Pada 21 Januari 1972, Arief ditangkap, bersama dengan aktivis lain, di antaranya Poncke Princen. Statusnya adalah tahanan polisi hingga 10 Februari, namun ia ternyata ditahan lebih lanjut untuk pemeriksaan di kejaksaan hingga dibebaskan tanggal 16 Februari 1972. Penangkapan Arief terjadi setelah pada 6 Januari 1972, Soeharto yang gusar berpidato di acara peresmian Rumah Sakit Pusat Pertamina. Soeharto berpendapat bahwa isu Taman Mini Indonesia Indah telah dipolitisir. Aksi itu disebut Soeharto memiliki tujuan jangka pendek mendeskreditkan pemerintah, dan tujuan jangka panjang menggulingkan ABRI dari posisi-posisi eksekutif. Soeharto mengancam siapapun yang mengganggu ketertiban umum, dengan menggunakan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) sebagai legitimasi aksi “penertiban”. Selama beberapa minggu ditahan, Arief ditahan di Markas Polisi Air dan Udara Tanjung Priok, dimana ia mengenal petugas-petugas yang mengaku mengagumi dan bersimpati pada perjuangannya. Para petugas itu pula yang memperlakukan Arief dengan baik saat masa tahanan. Arief pun menduga bahwa Soeharto masih segan untuk menghukum berat para aktivis, karena sebagian besar mereka memiliki jasa dalam menaikkan Soeharto ke puncak kekuasaan.

Tahun 1973, mereka yang terlibat di baris atas hierarki negara ini boleh bernafas lega. Arief pergi belajar ke Universitas Harvard di Amerika Serikat. Ia mengambil program sosiologi, dengan bantuan sosiolog sosialis Seymour Martin Lipset. Meskipun dengan kondisi ekonomi yang konon cukup sulit dan beasiswa yang terhenti, Arief akhirnya bisa menggenggam gelar Doktor Sosiologi. Pulang ke Indonesia, Arief bergabung dengan universitas yang baru berdiri, Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga. Di universitas muda yang masih idealis ini, Arief menemukan iklim belajar mengajar, dan aktivisme yang cocok dengan dirinya. Andreas Harsono, eks jurnalis Jakarta Post yang kini dikenal sebagai penulis jurnalisme sastrawi dan pegiat Hak Asasi Manusia, serta “Stanley” Adi Prasetyo, pendiri Asosiasi Jurnalis Independen (AJI), aktivis Institut Studi Arus Informasi (ISAI), juga eks anggota Dewan Pers Indonesia, adalah dua nama yang sempat mengecap bimbingan dari Arief di Salatiga.

Namun bukan Arief namanya jika anteng-anteng dalam melihat ketidak adilan. Arief bersama beberapa mahasiswanya sempat menggelar aksi menentang kebijakan Pemerintah Kota Salatiga yang melarang dokar dan becak masuk dan mengambil penumpang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman Salatiga. Juga saat Arief mengambil sebuah posisi di polemik perebutan posisi rektor di Satya Wacana. Arief merasa Liek Wiharjo, yang mendapat suara terbanyak, secara tradisi harusnya dipilih oleh Yayasan Satya Wacana. Namun ahli fisika yang juga peminat isu-isu agama dan sosial itu ternyata tidak dipilih oleh yayasan, yang lebih memilih John Ihalaw dari Fakultas Ekonomi. Pendapat Arief ini naik cetak di Tempo, Kompas, Sinar Harapan, dan beberapa media skala nasional lain. Arief yang dianggap provokator akhirnya dipecat oleh Ihalaw tahun 1994. Menganggur, Arief mencari pekerjaan lain, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tertarik dengan Arief, namun tak lama, Sanata Dharma yang sedang dalam proses menjadi universitas nasional merasa tidak bisa mengambil risiko dengan mengambil Arief yang oposan Orde Baru sebagai pegawai.

Arief akhirnya berangkat mengajar di Universitas Melbourne, Australia. Di sana Arief menjadi pengajar sekaligus langsung diangkat menjadi guru besar. Mulai 1997 hingga pensiunnya tahun 2008, Arief menjalani kehidupan bolak-balik Salatiga – Melbourne. Di Salatiga Arief tinggal di rumahnya yang didesain khusus oleh Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, arsitek cum-budayawan dan agamawan dari Yogyakarta. Berbagai tulisan dan ceramah Arief hingga awal dekade 2010-an masih menghiasi media massa dan seminar-seminar di Indonesia, Australia, dan beberapa negara lain. Tulisan-tulisan yang dianggapnya terbaik dan masih relevan ia kumpulkan dan bukukan. Terbit tahun 2006, kumpulan tulisan tersebut ia beri judul Kebebasan, Negara, Pembangunan : Kumpulan Tulisan 1965-2005. Buku tersebut memudahkan para pembaca untuk mengenal pemikiran-pemikiran Arief yang multidimensi, kukuh pada fleksibilitas dan subjektivitas, dan selalu anti hierarki.

Kini Arief sedang dalam kondisi sakit di Salatiga. Entah apakah masih banyak kini yang akan mengingat kiprah Arief membangkang selama lima dekade. Tapi saya rasa tulisan ini akan sangat baik dituliskan sebagai pengingat siapa Arief Budiman. Sebagai seorang yang tak pernah ingin bebas nilai.

Sumber

Buku :

  1. Budiman, Arief. 2006. Kebebasan, Negara, Pembangunan : Kumpulan Tulisan 1965-2005. Pustaka Alvabet. Halaman 22, 45, 68, 125, 146.
  2. Schultz, Duane. 2013. A History of Modern Psychology. Burlington: Elsevier Science. halaman. 291.
  3. Suryadinata, Leo.1995. Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (3rd Edition) Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.

Jurnal :

  1. Budiman, Arief. 1968. Metode Ganzheit dalam Kritik Seni. Horison, 4 (April, III).

Artikel :

  1. 19 Februari 1972. Pemrotes Taman Mini Dibebaskan.
  2. Mohamad Taufik. 25 Januari 2014. Ibu Tien Bikin Taman Mini, Pak Harto Menindak Para Penentangnya. Merdeka.com (online) (https://www.merdeka.com/peristiwa/ibu-tien-bikin-taman-mini-pak-harto-menindak-para-penentangnya.html . Diakses pada 29 Desember 2017, 19:36).
  3. Triyono, Bambang. 2009. Inspirator Tiga Zaman. Scientarium. (Online) (http://scientiarum.com/2009/02/06/inspirator-tiga-zaman/ diakses 29 Desember 2017, 16:30).

Statistik :

  1. Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia. 2008. Pemilu 1971. Jakarta : KPU Republik Indonesia.

Ensiklopedia :

  1. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun tidak diketahui. Kritik Ganzheit. Ensiklopedia Sastra Indonesia (online)(http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Kritik_Ganzheit . Diakses 29 Desember 2017, 14:30).

Gambar :

  1. Arief Budiman, diunggah oleh @tokohsastra

 

Posted in Politik, Tokoh | Leave a comment

Adam

Apakah kau ingat orang pertama yang berani melawan ketidakmungkinan?
Ia yang tukar nikmat surga demi derita cinta
Ia yang berjalan terpincang di muka bumi
Ia yang cinta dan pincangnya menjadi sinonim bagi manusia

Namanya Adam.

Posted in Puisi, Uncategorized | Tagged | Leave a comment